Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Kembalilah dengan Selamat, Aku akan menunggumu, Love You


__ADS_3

Mega beralih menatap ponsel miliknya, Arya Satriadi Wahyu memanggil...


***


Mega dan Yaris duduk di kursi panjang depan ruang operasi, mereka tidak bicara dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Mega memutuskan memberitahu Arya tentang keadaan Ralin saat saudara sahabatnya itu menelpon tadi. Dia tidak mungkin menyembunyikannya lagi. Bukan hanya karena takut di semprot Arya, Mega juga tidak tega Ralin melewatu masa sulit tanoa satu pun dukungah keluarganya. Saat ini Arya dalam perjalanan menuju rumah sakit. Begitu mengetahui apa yang menimpa adiknya, ia meninggalkan segala kesibukan yang sedang menggelutnya.


Sudah hampir satu jam Ralin ada di dalam ruang operasi dan tidak ada tanda-tanda akan keluar. Tiba-tiba pintu terbuka, seorang petugas keluar dengan langkah terburu-buru melewati Yaris dan Mega menuju sebuah ruangan. Wajah Yaris menegang.


Apa yang terjadi? Tuhan semoga Ralin baik-baik saja. Baik Mega atau Yaris tentu memiliki tanya yang sama jika melihat petugas berlari seperti itu dari ruang tindakan.


Tanpa aba-aba, Yaris mengambil ponsel miliknya mencari kontak seseorang. Dia tidak sanggup menahan rasa penasaran brengsek yang datang begitu saja.


"Hallo, Rey! Lo dimana?"


"Gue baru dateng di rumah sakit, ini di par..."


"Cepet masuk, Gue perlu batuan lo!" Yaris memotong ucapan Rey, "gue di depan ruang operasi."


Yaris menutup telpon. Wajahnya menegang apalagi setelah melihat petugas yang tadi keluar berlari kembali melewati mereka dengan membawa sekantong darah.


Mega tidak kalah paniknya, bibirnya tak henti-henti berkomat-kamit mengucap do'a untuk Ralin. Rey datang dan langsung menghampiri mereka dengan napas ngos-ngosan.


"Apa yang terjadi?" tanya Rey dengan napas masih terengah-engah.


"Gue juga belum tahu, tadi ada petugas yang keluar masuk bawa kantong darah, makanya gue telpon lo."


Mega mendengarkan dengan seksama percakapan dua orang itu.


"Gue akan coba cari tahu, lo tenang dulu."


Rey meninggalkan Yaris dan Mega hendak mencari tahu keadaan Ralin di dalam sana. Menjadi salah satu staf dokter di rumah sakit itu memudahkannya mencari tahu apa yang terjadi di ruangan steril itu. Yaris terlihat mondar-mandir, sesekali dia mengusap wajah dengan kedua tangannya tampak frustasi. Peritnya melilit tanpa alasan saat kondisi seperti ini.


Tiba-tiba Rey kembali dengan baju seragam operasi, di terlihat sangat berbeda dari kedatangan awalnya tadi. "Gue masuk dulu, lo tunggin di sini, gue akan coba cari tahu sebisa gue!" ucap Rey kepada Yaris. Yaris hanya mengangguk menyanggupi saran Rey.


"Maaf, siapa orang yang tadi?" Mega tiba-tiba bertanya pada Yaris. Rasa penasarannya tidak bisa ia bendung lagi. Apa kepentingan orang asing itu terhadao sahabatnya? Kenapa tiba-tiba muncul orang-orang ini di sekelilung mereka? Tadinya dalam hidup Ralin hanya terdiri dari dua orang, dia dan Bunda Diah.


"Yang tadi itu dokter Reyhan, teman saya, dia kerja di sini."


"Oh..." Mega menangkap gurat kekhawatiran pada Yaris yang menurutnya sedikit berlebihan. Mungkin akan wajar jika Yaris berstatus kekasih Ralin, tapi satahu dia, mereka tidak menjalin hubungan apapun. 'apaa mungkin Yaris menyukai Ralin, semoga saja.' batin Mega.


Di tengah-tengah obrolan mereka, Arya tiba-tiba muncul dengan wajah tidak kalah cemas.


"Mega! Gimana kondisi Ralin?"


"Kak Arya, maaf Mega ga ngasih tau dari awal. Ini karena Ralin yang minta, sekarang masih di ruang operasi, kita belum dapat kabar apapun."


"Anak itu masih saja keras kepala, sudah berapa lama dia opname?"


"Tiga hari kak, dokter menyarankam operasi karena sudah akut."


"Dia pasti sangat takut karena masih trauma." Mega mengangguk membenarkan kalimat Arya.


"Terus Mamak sama Bapak udah di kasih tau?"


"Belum juga kak, Ralin juga yang minta."


" Ya sudah, nanti saja saya yang kabari kakau kita sudah tau kondisi Ralin."


Yaris yang sedari tadi menatap wajah Arya, bisa menebak kalau Arya adalah saudara Ralin, sekilas wajah mereka memang mirip. Yaris menegakkan badannya ketika Arya melangkah mendekatinya.

__ADS_1


"Anda siapa?" pertanyaan Arya menyadarkan Yaris, kemudian Yaris mengulurkan tangannya.


"Saya Yaris, temannya Ralin?"


"Hah, teman Ralin? Ralin adik saya?" tanya Arya heran. Setahu Arya, Ralin paling anti memiliki hubungan dengan laki-laki biarpun hanya sekedar pertemanan. Laki-laki dalam hidup Ralin hanya ia dan bapaknya.


"Anda yakin?" tanya Arya penuh selidik, namun begitu Arya pun membalas jabat tangan Yaris. Situasi ini sangat awkward untuk Yaris, entah kenapa Arya tidak percaya dengan ucapannya, "saya Arya, kakaknya Ralin."


Jabat tangan yang berlangsung sekian detik itu bisa sedikit mencairkan suasana canggung yang sesaat lalu. Arya menyambut baik kemajuan yang di buat adiknya. Itupun kalau benar Yaris diakui sebagai teman oleh Ralin.


"Maaf kalau saya bicara seperti itu, karena satahu saya Ralin tidak pernah menjalin pertemanan dengan laki-laki, ini pertama kalinya saya berkenalan dengan teman lelakinya."


"Gak apa-apa kak, kami pernah menginap, maksudnya membantu seorang bayi yang sakit, saya juga yang membawa Ralin ke sini waktu sakitnya kumat," terang Yaris pada Arya, nada bicaranya terdengar santai, "kalau boleh tahu kenapa Ralin enggan memiliki teman laki-laki?"


"Kalau soal itu..." Arya menghentikan kalimatnya dan memandang ke arah Mega, Mega memberi kode dengan menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak boleh memberi tahu Yaris alasan Ralin antipati dengan kaum Adam.


"Tidak apa-apa kak, saya bisa maklum kalau anda tidak memberi tahu, mungkin alasannya privasi , kami sama-sama menjadi relawan di panti asuhan Permata Hati, saya bertemu Ralin di sana." Dalam hati Yaris semakin membulatkan tekadnya untuk mencari tahu kenapa Ralin antipati dengan laki-laki.


"Oh, jadi anda juga relawan panti." Jika benar hanya sekedar teman relawan kenapa sampai menunggui Ralin operasi hari ini gumam Arya dalam hati. Apa mungkin laki-laki ini memiliki tujuan terselubung? Jiwanya sebagai saudara tentu saja ingin mengetahui sedalam mungkin informasi mengenai adik satu-satunya.


Obrolan mereka terhenti ketika Reyhan keluar dari ruang operasi. Reyhan melangkahkan kakinya mendekati Yaris dan Arya. "Rey, gimana Ralin? sebenarnya apa yang terjadi?" cecar Yaris tanpa ragu, sedikit membuat Arya terperangah dengan nada khawatir teman adiknya.


Sebelum Reyhan membuka suaranya, dia memandang ke arah Arya yang segera ditanggapi Yaris, "gak apa-apa, ngomong aja, ini kakaknya Ralin!"


"Oh," Rey mengangguk mengerti, "Ralin tadi sempat pendarahan, tubuhnya menolak obat yang masuk, kami belum tahu penyebabnya, tapi semua sudah bisa di atasi, sekarang kita tinggal menunggu Ralin melewati masa krisisnya. Mungkin nanti dokter yang menangani Ralin akan memberi penjelasan lebih detil."


Arya hanya diam mendengarkan penjelasan Reyhan, sedikit tidak dia tahu kenapa Ralin menolak obat yang masuk ke tubuhnya, tapi dia tidak mungkin membeberkannya di depan Reyhan dan Yaris. Mega terlihat menghembuskan nafas lega, berharap temannya bisa melewati masa sulitnya.


"Maaf, Ris bisa ikut gue ke ruangan?" Kali ini Yaris menangkap sesuatu tmyang serius dari nada bicara Rey. Ia paham kalau Rey tidak bisa memberitahunya di depan Arya atau Mega.


Reyhan dan Yaris memohon diri pada Arya. Mereka berdua melangkah menuju ruangan Reyhan.


***


"Tidak mungkin kamu enggak tahu keberadaan Bos kamu, Intan. Jangan bohongi saya!"


"Aduh pak, kalau saya bohong saya rela deh di kasih nilai A sama bapak. Ingat lo pak, saya cuma karyawan, mana bisa tahu segalanya tentang Bos."


"Lalu apa alasan bos kamu meliburkan kalian selama tiga hari ini?"


Nih dosen ga ngerti-ngerti.


"Itu dia pak, saya juga bingung, terakhir saya tahu waktu itu mba Ralin ada acara di panti asuhan, setelah itu semua panitia di ajak makan-makan selesai acara, tapi mba Ralin dan mba Mega ga ikut. Mba Mega cuma telpon saya untuk melayani panitia yang datang, memberikan apapun yang mereka mau, dan besoknya saya dan Riko diliburkan sampai hari ini." jelas Intan pada dosennya panjang lebar.


"Saya juga mau kasih tahu pak, mba Ralin itu orangnya introvert, super introvert, jadi ga banyak yang bisa diketahui tentang dia, tau nama lengkapnya aja udah hebat lho pak, ngobrol sama kita di kedai juga jarang. Jadi maaf-maaf saja saya ga bisa banyak cerita tentang mba Ralin." Jelas Intan lagi pada dosennya yang masih di rundung akan rasa penasaran tentang bosnya.


"Menarik, Bos kamu manarik Intan." ucap Daning sambil tersenyum misterius.


"Hah? Kok gitu? Menarik bagaimana maksudnya?" tanya intan tidak mengerti.


"Justru karena dia memiliki pribadi yang tertutup, saya jadi tambah penasaran sama bos kamu. Ya sudah, sekarang kamu boleh pergi!"


"Baik pak, permisi." Intan segera beranjak dari tempat duduknya dengan perasaan lega.


"Tunggu!" Intan menghentikan langkahnya sebelum meraih pintu. "Kamu tahu alamat panti tempat bos kamu menjadi relawan?"


"Taulah pak."


"Tuliskan saya alamatnya!" titah Daning pada mahasiswanya itu.

__ADS_1


Intan menuliskan alamat panti asuhan yang dimaksud di selembar kertas.


"Pak, mau tanya"


"Hmm."


"Saya jadi gak di kasih nilai A?" Dengan wajah yang dibuat-buat sepolos mungkin Intan menggoda sang dosen. Bisa saja, iseng-iseng berhadiah, siapa yang tahu.


"Ishhh kamu ini, sudah sana keluar!


"Jadi ya pak, kalo enggak saya ga jadi comblangin sama mba Ralin!"


"Hei, jangan betingkah, saya dosen kamu, ngomong lagi saya kasih E+, mau?!"


"Iya iya saya keluar, ampun pak!"


***


"Sekarang jelasin ke gue sejauh mana hubungan lo dengan cewek itu!" Rey tiba-tiba menanyakan status hubungan Yaris dan Ralin.


Yaris kebingungan juga heran kenapa Reyhan tiba-tiba menanyakan hal itu "Maksud lo hubungan gue sama Ralin?"


"Jangan pura-pura ****, Yaris!"


"Gue sama Ralin ga da hubungan apapun, kita murni teman Rey. Gue baru kenal beberapa hari lalu di panti tempat perusahaan gue jadi donatur," jelas Yaris, agak tidak suka dengan instingnya kali ni, apa maksudnya Reyhan bertanya perihal kejelasan hubungan mereka.


"Lo yakin sekedar teman? Ga lebih kan, Ris?"


"Maksud lo apa sih, Rey?"


"Lo ga masuk akal tau ga Ris, kalu cuma sekedar teman kenapa lo harus terlibat sejauh ini dengan kehidupan cewek itu? Kenapa lo minta gue nyari rekam medis cewek itu? Jawab!"


Astaga, apa yang terjadi pada sahabatnya ini?


Yaris terdiam, memang tidak logis jika ia menjawab kalau hubungannya hanya sekedar teman untuk sampai mengetahui masa lalu Ralin, tapi dia tidak siap jika harus menceritakan semua yang ia tahu tentang Ralin pada Rey karena yang ia ketahui masih setengah-setengah, masih mentah.


"Untuk saat ini kami hanya berteman Rey, tapi gue ga tau juga ke depannya gimana, gue ga bisa meramal masa depan." Jawab Yaris datar.


"Ris, gue ingetin lo jangan sekali-kali mempermainkan Ralin atau memberi harapan apapun sama dia, cukup lo jadi temannya ga lebih!" nada bicara Rey kini penuh tekanan, dan Yaris tidaj suka itu. Mereka memang bersahabat, tapi tetap saja Rey tidak punya hak memerintah apalagi mengaturnya.


"Lo kenapa tiba-tiba ngomong gini, Rey?" Yaris sedikit emosi menerima ucapan Reyhan yang menurutnya sudah di luar batas.


"Yang penting gue sudah ngingetin lo, ke depannya jangan sampai Ralin menaruh harapannya sama lo."


Satu lagi, yaris tidak suka teka-teki yang bisa membuatnya penasaran.


"REYHAN!!! sekarang jawab gue apa yang lo ketahui tentang Ralin yang gue ga tahu, jawab!" Yaris menatap mata Reyhan dengan rasa marah, dia tidak tahan dengan ucapan-ucapan Reyhan yang terus saja memintanya menjauhi Ralin jika ia tidak salah menerjemahkan maksud temannya itu.


"Gue ga bisa kasih tahu, ini rahas..."


Yaris dengan cepat meraih kerah baju Reyhan, dia kini dipenuhi dengan emosi. Tatapannya pada Reyhan kian tajam. Demi Tuhan, Yaris tidak suka rahasia, teka-teki atau apapun apalagi orang yang jelas tahu tidak mau memberi tahunya, celakalah otang itu.


"Sekali kagi gue minta jawab pertanyaan gue!"


"Ralin ga punya rahim Yaris, dia enggak punya rahim, ngerti lo sekarang?"


Booom


Yaris melepaskan pegangannya, kalimat Reyhan ampuh menjinakkannya dari ledakan emosi gila. Yaris melunak, tatapannya nanar, kakinya terasa lemas, teringat kembali apa yang ia bisikkan pada telinga Ralin sebelum dia masuk ruang operasi.

__ADS_1


'Kembalilah dengan selamat, aku akan menunggu, love you.'


__ADS_2