
Lima belas hari telah berlalu setelah meninggalnya sang ayah, Ralin sudah kembali ke Bandung. Ralin menetap sembilan hari di Lombok sampai tahlilan hari ke sembilan ayahnya selesai dilaksanakan. Keesokan harinya Ralin meminta Yaris mengajaknya pulang ke Bandung agar tidak terus menerus larut dalam kesedihan jika melihat benda milik sang ayah yang ada di rumahnya. Dia juga sadar suaminya harus bekerja, meski Yaris membolehkan ia tinggal lebih lama di rumahnya.
Kenyataan bahwa dia sudah jauh dari kampung halamannya, Ralin masih saja menangis jika teringat kenangan semasa ayahnya masih hidup. Pernah suatu ketika Ralin ingin dibelikan sepeda motor matic seperti kepunyaan teman-teman kuliahnya. Tapi sang ayah tidak mau membelikan dan lebih tenang jika Ralin mengendarai mobil saja. Lebih aman menurut sang ayah. Ralin yang keras kepala menjalankan aksi mogok makan dan kuliah sampai akhirnya Tamrin luluh dan membelikan Ralin motor yang diinginkannya.
Ketika mengingat kejadian itu penyesalan melanda hatinya. Mungkin karena tidak mau mendengar kata-kata orang tuanya, akhirnya motor itu juga yang membuatnya mengalami kecelakaan dengan tuan Sa'id, yang menjadi mertuanya sekarang.
Sama seperti hari sebelumnya, setiap pagi menjelang, Ralin masih enggan bangun dari tempat tidur. Kesibukan yang dulu rutin ia lakukan belum pernah lagi ia kerjakan sekembalinya dari Lombok. Ralin lebih banyak menghabiskan waktu di atas tempat tidur, Yaris pun memaklumi jika sang istri masih di rundung duka. Ia kadang mengambil alih tugas rumah yang biasanya Ralin lakukan seperti mencuci baju atau membuat sarapan untuk mereka. Untuk makan siang dan makan malam kadang mama Ayu yang mengantarkan makanan ke apartemen Yaris, kadang pula Yaris membelinya saat perjalanan pulang kantor.
"Aku bikin sandwich ni, kita sarapan dulu ya!"
Yaris mengajak Ralin menuju meja makan yang di atasnya telah tersedia dua piring berisi sandwich buatan Yaris dan dua gelas susu coklat kesukaan Ralin.
"Gimana, enak ga?" tanya Yaris antusias.
Ralin cepat mengangguk sambil tersenyum, "Enak", katanya memuji makanan buatan sang suami.
'Akhirnya senyum itu keluar. Senyum yang aku rindukan, guman Yaris dalam hati.
Yaris tidak bisa memungkiri, dia merindukan Ralin yang dulu cerewet memarahinya jika tidak menghabiskan sarapan, marah jika ia membuang handuk basah ke atas tempat tidur, marah jika Yaris menjahilinya dengan lelucon-lelucon receh yang ia buat. Dia berharap duka yang dirasakan sang istri cepat berlalu.
"Nanti siang aku ke kantor kamu ya, kita makan siang di luar, mau ga?" tanya Ralin tiba-tiba.
Sontak saja Yaris terkejut. Pasalnya selama seminggu ini Ralin selalu menolak jika Yaris mengajaknya keluar sekedar jalan-jalan atau makan di restoran kesukaan Ralin. Buru-buru Yaris menganggukkan kepala.
"Beneran ya, nanti kamu nyusul ke kantor?!"
"Iya." Ralin kembali tersenyum. Sebenarnya ia merasa bersalah pada Yaris karena selama masa berkabung dia tidak bisa melayani Yaris dengan baik. Di samping itu ada wasiat dari almarhum Bapaknya yang meminta jika mereka ingin mengadopsi anak, sebaiknya mengadopsi anak dari keluarga, entah dari pihak Ralin atau Yaris, keluarga jauh atau dekat, yang penting masih ada ikatan darah keluarga agar nanti jelas nasabnya.
Wal hasil mereka harus mengubur niat adopsi untuk sementara waktu karena dari keluarga Ralin atau Yaris belum ada yang sedang mengandung atau memberikan mereka mengadopsi anak.
Yaris menanggapinya dengan santai. Wasiat ayah mertuanya itu ada benarnya juga. Toh ia lebih menyukai keadaannya sekarang yang masih bisa pacaran setelah menikah. Berdua saja dengan istri. Tapi berbeda untuk Ralin, dia ingin sekali menggendong anak kecil, ingin sekali mengadopsi satu orang anak dari panti asuhan tempatnya menjadi relawan.
Pagi itu Ralin berusaha melawan rasa sedih yang membuatnya malas mengerjakan sesuatu. Setelah sarapan, ia menyiapkan keperluan Yaris ke kantor, menyiapkan baju, sepatu, dan tas kerja yang biasa Yaris bawa. Tak lupa dasi senada warna kemeja yang melengkapi penampilan sang suami. Ralin melakukannya dengan senang hati. Ia bertekad, hari ini ia akan berusaha lebih ceria, menghilangkan rasa sedihnya, ia sadar tidak baik baginya untuk terus meratapi kepergian sang ayah.
"Ingat ya nanti siang kita makan siang sama-sama!" Yaris mengingatkan, sapa tau kan Ralin lupa.
"Iya."
"Jangan sampe lupa lho!" katanya lagi sambil memasang sepatu. Yaris sangat senang dengan perubahan Ralin hari ini.
"Iya, ga lupa."
"Kamu abis ini beberes aja, jangan tidur, ntar ketiduran, bisa batal dong makan siangnya."
"Ya ampun sayang, iya aku ga akan lupa, ga akan tidur, ga akan ingkar, beneran deh."
"Abisnya aku tu seneng kamu udah ga sedih lagi, liat kamu mendung berhari-hari bikin aku basah kuyup lho," gombal Yaris sambil memeluk pinggang Ralin, manja.
"Mulai deh receh, apaan lagi mendung, basah kuyup, udah gih jalan!" Ralin ingin menghentikan percakapannya, kalau dia ledeni terus bisa-bisa Yaris batal ngantor. Biasalah modus.
"Tapi aku masih kangen."
"Ga ada. Jalan ga?! Atau kita batal makan siang."
"Iya iya, aku jalan ni." setelah mencium kening Ralin, Yaris melangkahkan kaki menuju pintu, tapi sedetik kemudian dia berbalik lagi ke arah Ralin
"O ya lupa, ini belum."
Yaris mengecup pipi sang istri, kemudian melangkah lagi menuju pintu, dan sedetik kemudian berbalik lagi ke arah Ralin dan
"Lupa deh, ini belum"
"Apa lagiii?"
Yaris mengecup sekilas bibir Ralin, membuat Ralin merona.
Senyum Yaris mengembang, merasa istrinya mulai melupakan kesedihannya.
Sebenarnya Ralin kesal dengan tingkah pecicilan sang suami, tapi tak ayal itu membuatnya tertawa meski masih dengan mata sembab.
"Makasih sayang, udah ketawa lagi, aku jalan ya."
__ADS_1
Tanpa ia sadari, pipi Ralin bersemu merah, tidak menyangka jika tawanya membuat Yaris senang. Hanya karena hal kecil itu rumah tangga mereka terasa hangat dan bahagia.
***
Dddrrrt...dddrrrt...
Getaran ponsel Ralin yang ada di atas meja rias membuatnya berhenti melakukan ritualnya setelah mandi. Tertera nama Mega di layar.
"Iya Ga, kenapa?"
"Lin gimana kabar lo?"
"Gimana ya jawabnya, tapi hari ini gue udah bisa senyum dan mutusin makan siang di luar sama Yaris. Apa itu artinya gue baik-baik aja?"
"Hhuuuffft syukur deh, artinya lo udah mendekati normal."
"Emang kemarin gue ga normal?" Ralin mulai ketus.
"Sekarang udah normal malah, bicara lo ketus, nadanya udah balik, bentar gue sujud syukur dulu." seloroh Mega.
Tawa Ralin dan Mega pecah seketika. Mega bisa bernafas lega, sahabatnya telah melewati masa berkabungnya. Melewati fase menangis, enggan makan, malas gerak, minim senyum dan berbagai mode berkabung lainnya.
"Makasi ya Ega, lo udah banyak bantuin gue."
"Bukan gue kali Lin, Yaris tu yang nonstop khawatirin lo, minta ini itu ama gue, nanya segala macem tentang hal yang bisa bikin mood lo bagus. Gue nyantai, dia yang repot."
"Masa sih?"
"Iya lah. Lo mana tahu. Apalagai pas lo pingsan berkali-kali, khawatirnya ga ketulungan, sebentar-bentar nyari gue, nanya gue keadaan lo, ih ribet pokoknya suami lo tu."
Tanpa terasa bulir kristal mengaliri wajah mulus Ralin, merasa terharu mendengar cerita Mega, tak menyangka Yaris sangat mengkhawatirkan keadaannya.
"Ya udah Ga, gue mau siap-siap dulu."
"Ok , bu bos. Soal kedai lo ga usah khawatir. Lo bahagia aja ama Yaris, ok!"
"Iya, makasih ya Ega."
"Anytime beb, daaaaah."
***
Betapa beruntungnya dia, bisa dicintai seorang Yaris Mawwali Sa'id, pengusaha muda yang kini tengah naik daun. Beberapa kali Yaris dimintai wawancara eksklusif dengan majalah bisnis terkenal dan tentu saja wajahnya menjadi cover majalah tersebut. Tapi Yaris tidak sembarangan menerima permintaan wawancara, dia mau di wawancara asal tidak ditanya tentang kehidupan pribadinya.
Ralin memasuki gedung kantor sang suami dengan perasaan berbunga, perutnya tetasa dipenuhi kupu-kupu, persis seperti orang yang baru jatuh cinta dan memang itu yang dirasakan Ralin. Ia merasa jatuh cinta lagi dengan suaminya.
Hanya beberapa pegawai yang berpapasan dengannya, mungkin karena sekarang memang jam sibuk. Sampai akhirnya dia tiba di depan ruangan Yaris.
"Selamat pagi, Bu."
"Pagi Mira, jangan panggil ibu dong, panggil Mba aja yah, masih muda soalnya!"
"Eh, iya bu, maksudnya Mba. Mau nyari Bapak ya?"
"Hmmm, jangan bilang saya datang, ini kejutan!" ujar Ralin berbisik.
"Ooo." Mira mengerti dan mengangkat jempolnya pada Ralin. Tapi Bapak masih di ruang meeting, Mba."
"Ga apa-apa, itu malah bagus, saya mau nyari tempat sembunyi dulu, inget ya jangan bocor!"
"Sip mba, silahkan!"
Ralin segera memasuki ruangan suaminya.
Dalam ruangan yang cukup luas itu, tidak banyak perabotan yang mengisinya. Meja kerja suaminya, sofa, lemari pajangan yang berisi buku, piala dan piagam yang pernah di terima perusahaan Yaris dan Yaris sendiri, dan sebuah menakin seni berbentuk lekukan tubuh manusia berkepala robot berwarna silver. Entah apa arti dari menakin itu.
Ralin mendekati meja kerja suaminya. Disana ada dua buah bingkai foto yang menarik perhatiannya, sebuah foto dirinya memakai gaun pengantin, dan foto keluarga saat pernikahan mereka. Entah kapan Yaris menyiapkannya. Ralin tersenyum bahagia, segala yang dia tahu tentang Yaris hari ini membuat rasa cintanya bertambah besar pada Yaris.
Hampir lupa, Ralin mencari posisi yang tepat untuknya bersembunyi. Ia akan keluar begitu Yaris masuk ke ruangannya.
Ralin menyelipkan badannya di antara dinding dan lemari pajangan yang berada di samping meja kerja Yaris.Tubuhnya yang mungil memudahkannya masuk ke celah yang lumayan sempit itu, tak lupa ia menutupi bagian depannya dengan manekin manusia berkepala robot, sehingga ia benar-benar tidak terlihat jika tidak seksama.
__ADS_1
Lima menit setelah ia bersembunyi suara pintu ruangan Yaris terdengar di buka. Ralin mengira-ngira itu pasti Yaris. Tapi tunggu, ada dua langkah orang yang masuk ruangan itu, batin Ralin.
"Mau apa lagi kamu, apa belum jelas pembicaraan kita di restoran tempo hari?" suara Yaris.
Prak
Suara benda dilemparkan ke atas meja.
"Ini hasil penyelidikan aku tentang istri kamu."
'Suara itu...'
"Ngapain kamu selidiki istri saya, kurang kerjaan, kantor daddymu sepi job, hah?"
"Aku iseng aja, sebenarnya ga ada yang menarik dari istri kamu itu, dia terlalu biasa buat kamu."
'Selly, itu suara Selly.'
"Kecuali satu hal yang bikin aku tertarik, sangat tertarik, Yaris darling."
Suara manja sialan
"Maksud kamu apa?"
"Dari semua hal tentang istri kamu itu, yang menarik adalah dia tidak bisa ngasih kamu anak, iya kan? I know you know that. Kamu ga mungkin ceroboh sampai ga tahu masalah itu, but why?"
"Mumpung saya masih bersikap sopan sebaiknya kamu pergi, kamu tahu letak pintu keluar!"
"Chill Yaris! aku cuma mau ngobrol, udah lama kan kita ga ngomong empat mata kayak gini."
"Saya ga punya waktu bicara omong kosong sama kamu."
"Ini bukan omong kosong, come on, apa yang kamu harapkan dari istri kamu yang mandul itu. Sampai kiamat juga kalian ga akan punya anak. Secanggih apapun teknologi yang berkembang sekarang. Kamu mau ga punya penerus nanti? Sayang kan perusahaan dan harta kekayaan keluarga kamu ga ada yang mewarisi. Trah gen Mawwali terhenti sampai kamu saja? Apa kata dunia sayang?"
"Dengar ini baik-baik, pertama dia ga mandul, kedua soal penerus saya, kamu ga usah repot-repot mikirin, sekarang keluar!"
"Aku belum selesai sayang, aku juga mau bilang aku bersedia jadi istri kedua kamu, melahirkan anak-anak kamu yang nanti yang akan menjadi penerus keluarga kamu, atau kamu mau ceraikan dia, itu malah lebih bagus. Aku sanggup nunggu sampai kapanpun."
"Jangan mimpi kamu!"
"Kamu harus mikirin ini, kita akan sama-sama di untungkan, kamu dapat ahli waris, aku bisa kembangin perusahaan daddy, kita kerjasama."
"SELLY!!! Saya bilang keluar!"
"Kalau memang istri kamu waras, harusnya dia ga terima waktu kamu lamar dia, kamu harus sadar dia bukan wanita baik, dia ga bisa ngasih kamu anak, Yaris!"
Kemarahan Yaris sudah tak terelakkan lagi, di tariknya lengan Selly secara paksa menuju pintu.
"Jangan pernah muncul di hadapan saya, atau perusahaan daddy kamu mau saya bikin bangkrut, ingat itu!"
Mira yang menyaksikan Selly di usir keluar menjadi bingung, apa yang sebenarnya terjadi di dalam. Bagaimana dengan istri bosnya?
***
Ralin yang mendengar seluruh pembicaraan itu hanya mematung, menahan suara tangisnya agar tidak keluar dengan membekap mulutnya. Kalimat-kalimat yang di ucapkan Selly terus berputar di kepalanya. Harusnya dia marah dan melabrak Selly ketika sedang membicarakannya, tapi entah kenapa dia membenarkan semua perkataan Selly. Seratus persen Selly benar tentang dirinya, dia bukan wanita baik yang menerima Yaris saat melamarnya, padahal jelas-jelas dia tidak bisa memberikan keturunan.
Ralin berperang melawan pikirannya. Apa yang akan dilakukannya sekarang? Masih bisakah dia menghadapi dunia? Ralin berkata dia tidak seharusnya menjadi pendamping Yaris. 'Dia akan pergi. Memang seharusnya behitu. Sejak dulu. Kenapa baru sekarang dia menyadarinya?
Ralin yang masih di persembunyian tidak bisa melihat apa yang dilakukan Yaris sekarang, dia tidak berani keluar bahkan sedekar mengintip Yaris yang terdengar menghentak-hentakkan berkas di atas mejanya.
'Apa mungkin Yaris sekarang juga sadar bahwa menikahiku adalah sebuah kesalahan? mungkin dia marah sekarang, tapi pasti tidak akan dia tunjukkan padaku karena merasa tidak enak, mungkin dia sebenarnya ingin berpisah denganku, tapi aku tidak siap. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? aku tidak akan kuat jika Yaris meminta kami berpisah nanti, aku akan pergi sebelum Yaris mengucapkan kata-kata itu.'
Air mata Ralin terus mengalir, ia menangis tanpa suara, sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak jatuh karena kini seluruh tubuhnya bergetar.
Terdengar langkah Yaris menuju pintu entah akan kemana dan plakk.
Suara pintu di tutup dengan kasar menandakan Yaris memang sedang marah, semakin menguatkan Ralin untuk pergi meninggalkan Yaris, karena tidak sanggup jika nanti mendengar suaminya mengucapkan kata-kata perpisahan.
Merasa Yaris sudah tidak ada di ruangannya, Ralin segera keluar dari persembunyian. Dia menunggu dua menit sebelum meninggalkan ruangan Yaris, memastikan tidak bertemu Yaris nanti di luar.
Ralin yang masih berlinang air mata segera berlari dari ruangan itu. Sambil terus menyeka matanya dia menuju lift dan ingin secepatnya pergi dari gedung milik suaminya.
__ADS_1
Mira yang menyaksikan tiga orang yang keluar dari dalam ruangan bosnya itu merasa bingung. Yang paling membuat ia tertegun ialah melihat istri sang bos keluar dalam keadaan menangis.
Bagaimana ini?