
Yaris duduk di sebuah kursi tunggu yang disediakan oleh rumah sakit. Perkataan dokter yang merawat Ralin, beberapa luka bekas operasi, asam lambung akut, operasi lagi dan kata bunda Diah Ralin yang tidak punya keluarga di sini, terus berputar di kepala Yaris. Lantas dari mana dia berasal?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Yaris. Asal usul wanita itu, pekerjaannya, di mana dia tinggal, penyakit yang pernah dia derita, apa saja, apa saja mengenai Ralin Yaris tertarik untuk mengetahuinya. Entah kenapa rasa penasarannya pada sosok Ralin sangat besar. Dua kali dia dipertemukan dengan Ralin selalu berujung di rumah sakit. Yaris kemudian memutuskan masuk ke ruangan tempat Ralin di rawat. Sebuah ruangan VIP. Yaris memutuskan Ralin untuk di rawat di ruang tersebut dan dia siap untuk menanggung semua biaya pengobatan Ralin.
Selama berhadapan dengan Ralin, Yaris tidak pernah melihat wanita itu memakai make up tebal. Yaris memang tidak mengerti tentang alat kecantikan wanita, tapi cukup melihatnya dengan mata Yaris tahu Ralin hanya memakai bedak dan lipglos. Dan kini wajah itu terlihat pucat dengan mata terpejam tanpa polesan apapun.
Apa sebenarnya yang ia lakukan di sana? Bukan. Sama sekali bukan gaya Yaris untuk peduli pada orang lain apalagi lawan jenisnya. Lantas siapa lelaki yang sedang menatap iba pada wanita yang belum sadar itu sekarang?
Mega yang mengetahui keadaan Ralin setelah acara selesai segera menyusul ke rumah sakit. Dengan langkah tergesa-gesa dia menuju loket informasi.
"Sus, pasien atas nama Ralin...Aninta...Wahyu di rawat dimana?" napas Mega masih ngos-ngosan tapi keinginannya untuk segera bertemu Ralin tidak bisa dia tahan lagi. Mega sangat mengkhawatirkan kondisi sahabatnya itu. Sebenarnya dia melihat Ralin di gendong oleh Yaris ketika di panti, tapi dia menahan diri dan lebih memilih untuk menanyakannya pada bunda Diah nantinya. Mega memutuskan tetap tinggal di panti dan menyelesaikan acara, jika dia dan Ralin sama-sama tidak ada di tempat keadaan bisa kacau, bisa jadi usaha mereka akan sia-sia.
"Di kamar 302 mba, mba lurus nanti belok kanan?"
"Ok, sus. Makasi." Mega segera menuju kamar inap Ralin.
Mega langsung saja membuka pintu setelah ia ketuk tiga kali. Dia terkejut ternyata Yaris masih di sana menunggui Ralin yang belum sadar.
"Anda siapa?" Yaris sontak bertanya pada Mega yang baru tiba.
"Saya Mega, sahabatnya, kami satu tempat tinggal, Mas siapa? Kok masih disini?" Mega tidak kalah kagetnya, mengingat Yaris tidak punya hubungan apapun dengan Ralin dia bisa saja pulang setelah Ralin dipindahkan ke kamar inap.
Apa mungkin pria ini menunggu temannya sadar untuk meminta ganti rugi?
"Bisa kita bicara di luar?"
Yaris meminta Mega untuk membicarakan kondisi Ralin di luar saja agar Ralin tidak terganggu.
"Mba sudah lama kenal Ralin?" Yaris lebih dulu memulai pembicaraan.
"Saya ketemu sejak awal dia tinggal disini, sebenarnya kondisi sahabat saya gimana? Apa kata dokter?" Mega mulai tidak sabar.
"Dia menderita asam lambung akut, kata dokter harus di operasi untuk menyembuhkan asam lambungnya, kalau tidak, bahaya nantinya kalau sudah menyerang organ lain. Tapi kita tunggu dia sadar dulu."
Seketika itu kaki Mega terasa lemas mendengar kata operasi. Dia segera mencari sandaran agar tidak jatuh, matanya mulai berkaca-kaca. Kepalanya tertunduk mengingat cerita-cerita Ralin dulu tentang betapa traumanya dia dengan 'operasi' yang harus dijalani setelah kecelakaan nahas yang menimpanya. Dan sekarang lagi, meskipun mungkin hanya akan menjalani operasi ringan apa Ralin akan mampu menjalaninya? Ya Allah ya Rob, kuatkan sahabatku.
"Mba...Mba...Mba Mega! Mba ga apa-apa?"
Mega tersadar setelah Yaris menepuk pundaknya. "Ga apa-apa, saya baik-baik aja."
"Kalo gitu Mba masuk aja dulu, saya carikan minum!"
"Iya, makasih." Mega segera beranjak dan masuk menemui Ralin.
Apa yang harus ia katakan jika Ralin sadar nanti?
***
Di tatapnya wajah Ralin yang sedikit masih terlihat pucat, badannya yang kini lebih kurus semakin terlihat lemah tak berdaya terbaring di atas tempat tidur. Ralin masih belum sadarkan diri.
"**** banget sih lo Lin, gue udah ingetin supaya lo jaga makan sesibuk apapun. Sekarang gini jadinya, siep-siep aja lo gue omel setelah sadar." Mega menghembus napas kasar.
Tak lama berselang, perlahan Ralin membuka mata, dia mengitari sekelilingnya, merasakan tangannya yang terpasang jarum infus dan artinya di ada di...
"Hey Bos! Lo udah sadar?"
"Ega, gue di mana?" suara Ralin terdengar lemah dan serak.
"Lo di rumah sakit kali, masa di emmoll." Mega berusaha terlihat biasa saja. Dia takut jika terlihat khawatir, Ralin akan shock.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa dibawa ke rumah sakit segala sih, gue baik-baik aja, terus acaranya gimana? Narasi gue?"
"Hei hei hei satu-satu dong say, lo tu masih lemah, kalo ga di infus lo ga bakal bisa ngomong kayak sekarang tau ga."
"Gue pingsan?"
"Idiiiiih baru nyadar, kalo lo ga pingsan lo kali yang baca narasi, bukan gue. Tau ga acaranya lancar banget, banyak donatur yang mau nyumbang, ada yang mau ngasih beasiswa juga. Misi kita sukses besar." Mega bercerita dengan semangat berkobar.
"Alhamdulillah, yang bener?" Ralin mulai bersemangat di tengah tenaganya yang lemah, tenaganya seperti di charge dengan daya penuh mendengar cerita Mega.
"Lo mau tau juga ga donasi yang terkumpul?"
Ralin refleks menganggukkan kepalanya, antusias.
"Jangan kaget ya, siap ya lo!" Ralin menyimak dengan seksama, "dana yang berhasil kita kumpulkan jumlahnya yaitu seratus dua puluh tujuh juta tiga ratus empat puluh ribu rupiah."
Ralin tercengang dan...
"Aaaaaaaaaaaaa" sontak saja Ralin dan Mega berteriak kegirangan, mereka saling berpelukan, Ralin terharu meneteskan air mata bahagia.
"Ini jumlahnya belum final Lin, mungkin bakal bertambah. Lo sukses bantu panti melewati krisis Lin, lo hebat tau ga."
"Bukan gue doang kali, kan lo yang ngasih idenya. Temen-temen lo gimana? Udah di bawa ke kedai?"
"Soal itu lo ga usah pikirin, lo fokus sembuh aja dulu, jangan ngeyel lagi, gue udah suruh lo minum energen pasti lo ga minum kan?"
Sementara itu Yaris yang telah kembali dari pencarian minumnya mengundurkan niatnya untuk bergabung dengan Ralin dan Mega. Yaris tidak mau mengganggu pertemuan dua sahabat itu. Yaris hanya duduk di kursi yang di sediakan di luar ruangan sambil menyimak percakapan mereka yang terdengar dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
***
"Lin, gue mau lo janji, lo harus sembuh, ya!"
Mega tersenyum getir. Rasa was-was merasukinya kala dia harus memberitahu Ralin operasi yang harus ia jalani.
"Lo tau kan gue cuma magh biasa, pake obat juga entar sembuh kok Ga." Ralin mencoba meyakinkan sahabatnya itu yang tetiba saja wajahnya masuki mode serius.
"Gue boleh minta sekarang nggak syarat yang gue ajuin pas ngasih lo ide kemarin?"
"Oh ya, gue hampir lupa, apa syarat lo? Gue janji apapun itu bakal gue kasih." Ralin menyodorkan jari kelingkingnya meminta Mega juga mengaitkan kelingkingnya.
"Janji ya Lin!"
"Iya gue janji, apaan?"
"Gue mau lo sembuh total dari penyakit lo," kata Mega dengan suara berat. Raut wajahnya sedih dan cemas, tidak bisa ia tutupi.
"Ega sayang gue cuma magh biasa, ntar gue minta dokter deh ngasih obat paling bagus paling paten buat gue biar cepet sembuhnya, apa sih Ga, syarat lo ga seru tau, yang lain dong!"
"Masalahnya lo ga cuma magh, lo asam lambung akut dan harus di operasi." Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Mega setelah sedari tadi dia tahan.
Deg
Apa lagi ini? Operasi? Lagi?
Tentu saja Ralin terkejut, wajahnya menegang, kakinya terasa bergetar. Berimbas pada wajahnya yang memanas, kemudian berjalan ke matanya yang siap mengalirkan cairan hangat.
"Jangan bilang lo serius Ga, lo becandain gue kan, ga lucu tau, ketawa enggak lo, Ega!"
Ralin mulai histeris. Yang ditakutkan Mega akhirnya terjadi. Ralin masih trauma dengan operasi yang ia jalani berkali-kali dulu. Mega segera merengkuh badan Ralin, memeluknya dengan sekuat tenaga, memberikan ketenangan sebagai seorang sahabat.
__ADS_1
Mega sadar ini tidak akan mudah. Baik untuk Ralin, atau dirinya.
"Gue ga mau operasi lagi, sakit Ga, sakit tau ga lo, bilang kalo lo nge-prank gue, ayo bilang!" Ralin menangis sejadi-jadinya, Mega bertahan dengan pelukannya, Ralin memang terus menangis tapi untungnya dia tidak memberontak.
"Seandainya gue bisa gantiin posisi lo, lebih baik gue aja yang sakit, Lin."
Ralin mulai menguasai dirinya, tangisnya mungkin berhenti tapi masih sesenggukan.
"Kenapa mesti gue, Ga?"
"Lin, ga boleh ngomong gitu, lo percaya Allah kan?, gue juga tau lo kuat, lo bisa lewatin ini semua."
"Apa yang dulu belum cukup? Kenapa harus operasi lagi?"
"Lo tenang dulu, kita belum mendengar penjelasan dokter!" Mega mencoba menenangkan sahabatnya yang mulai terdengar putus asa.
"Ga gue minta tolong, jangan kasih tau Mamak sama Bapak gue dulu ya, gue ga mau mereka khawatir!"
"Iya Lin, gue ngerti. Kalo ngabarin ke kak Arya boleh ga?"
"Kak Arya mungkin sibuk kerja, usahanya lagi berkembang, nanti saja biar gue yang kabari."
"Ya udah deh, gue pastiin lo ga ngelewatin ini sendiri, ada gue, lo bisa andalin gue Lin, gue cuma pengen lo ga sakit lagi. Ralin Aninta Wahyu, fighting!"
Ralin tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu, suasana yang tadinya dramatis telah mencair.
***
Sementara di luar ruangan itu sepasang telinga mendengar percakapan Ralin dan Mega. Berarti benar kata dokter tadi, Ralin pernah menjalani beberapa operasi, tapi kenapa? Sakit apa dia dulu sampai harus di operasi sekian kali? Gue harus cari jawabannya. Yaris menyimpan banyak pertanyaan dalam benaknya.
Suara ketukan pintu menghentikan percakapan dua sahabat itu, menarik perhatian Ralin dan Mega untuk menoleh.
"Hai, saya boleh masuk ngga?" Yaris muncul dari balik pintu.
"Pak Yaris ngapain di sini?" tanya Ralin begitu saja, Ralin merasa heran dengan kehadiran Yaris di ruangan itu.
"Lin, ish ga sopan ya lo, ni orang yang nolong lo waktu pingsan tadi, lo kenal?"
"Kenal Ga, dia donatur panti juga," jawabnya dengan suara berbisik dan di sambut tanda O tanoa suara oleh Mega.
"Ini minumannya, sekalian saya pamit mau balik ke kantor."
"Oh...iya, terima kasih, maaf sudah merepotkan."
"Anytime, jangan sungkan, pamit ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Ralin dan Mega menjawab bersamaan.
"Tunggu!" Suara Ralin mencegah kepergian Yaris, "maaf, tapi saya tidak suka berutang, kalau boleh saya minta..."
"Minta apa?" potong Yaris cepat, ia sepertinya risih, tersirat wajah tidak suka.
"Nom-or re-kening un-tuk..." ada apa ini? Kenapa Ralin tiba-tiba gagu, merasa terintimidasi tatapan tajam Yaris.
"Untuk apa?" Balas Yaris bertanya, tanpa berniat melepas tatapan menusuknya, "diantara kita tidak ada istilah utang," dan setelahnya Yaris berbalik.
Ralin ternganga mendengar balasan Yaris, pria yang baru ia kenal beberapa hari, "kenapa malah mukanya jadi marah gitu, bukannya harusnya seneng, gue mau kasih uang ganti rugi?" gumam Ralin.
Yaris melangkahkan kakinya keluar ruangan. Di benaknya sudah tersusun rencana untuk mencari jawaban atas segala pertanyaannya tentang gadis itu, Ralin, entah kenapa ia sangat ingin mengetahui masa lalu Ralin, apa saja yang telah gadis itu lalui, darimana asalnya, kenapa harus menjalani sekian banyak operasi, kenapa harus dia? Dua kali pertemuannya dengan Ralin selalu berujung di rumah sakit, Ralin juga yang membuatnya membeli segala keperluan bayi saat baby Dinar dirawat di rumah sakit. Siapa sebenarnya kamu, Ralin Aninta Wahyu?
__ADS_1