
Salah satu rahasia sukses seorang pengusaha, yakni mengetahui sekuruh informasi lawannya. Begitupun Yaris, untuk meraih sukses perusahaannya sekarang, dia dan ayahnya melakukan trik itu, menggali segala informasi tentang kolega, rekan kerja, atau saingan perusahaan mereka. Tentu saja bukan dia yang mencari tahu. Dalam hal ini Yaris tidak campur tangan. Dia hanya perlu menginstruksikan kemudian menunggu. Semakin banyak informasi yangbia ketahui, semakin banyak kelemahan lawan yang bisania pakai untuk menumbangkan mereka.
Tapi kali ini Yaris akan memakai cara itu bukan untuk menumbangkan lawan. Dia sendiri masih tidak mengetahui dengan jelas tujuannya mencari informasi tentang Ralin.
"Cari informasi tentang wanita ini, darimana asalnya, alamatnya, pekerjaan, riwayat kesehatan, apapun itu. Saya beri waktu dua hari!" Yaris memberikan selembar foto kepada orang suruhannya. Mungkin orang yang ada di foto itu ini tidaklah penting dalam kehidupannya tapi semua tertutupi oleh rasa penasaran. Rasanya banyak teka-teki yang harus dia isi tentang wanita ini.
Pintu ruangan Yaris terbuka oleh seseorang, memotong pembicaraan antara Yaris dan orang suruhannya. Dengan anggukan dagu, Yaris meminta orang kepercayaannya keluar.
"Papa? Ngapain disini? Kenapa ga nelpon biar Yaris yang ke tempat papa."
"Kalau bukan hal penting Papa ga akan kesini juga, kenapa kamu menghentikan donasi perusahaan kita untuk Panti Permata Hati. Berani ya kamu ngelangkahin Papa?" Langsung ke intinya, dengan nada yang tidak pernah turun, Tuan Sa'id mencerca anaknya, Yaris.
"Atas dasar apa Yaris? Jelaskan!"
Hening sempat membentang, Yaris harus berpikir agar tidak semakin mengundang amarah ayahnya.
"Yaris ga menghentikan secara permanen, Pa. Yaris mau memperbaiki semua sistem di perusahaan kita, kalau semua sudah sesuai rencana Yaris, pasti kita akan donasikan lagi."
"Kenapa harus dengan menghentikan donasi, biarpun hanya untuk sementara Papa ga mau terima, bulan depan kamu atur lagi kembalikan donasi kita ke panti!"
"Keadaan panti masih stabil pa, Yaris udah cek langsung ke sana, bahkan kemarin mereka bisa mengumpulkan banyak donatur, relawannya hebat lho."
"Relawan? apa maksud kamu?"
"Jadi kemarin relawan panti itu ngadain pertunjukkan seni untuk mengumpulkan donasi, mereka berhasil mengumpulkan...
"Relawan siapa maksud kamu?" sebelum Yaris selesai menjelaskan ayahnya memotong penjelasan Yaris dan Yaris tidak menduganya.
"Ada Pa, relawan panti, namanya Ralin."
Mendengar nama Ralin disebut, seketika itu pula Tuan Sa'id berdiri dari duduknya, matanya menatap tajam ke arah Yaris, kepalanya terus menggeleng.
"Jadi kamu menyebabkan relawan itu kesusahan dan harus berusaha mengumpulkan donasi dari donatur lain untuk membantu panti? YARIS!!! Papa ga mau tau bulan ini juga kembalikan lagi donasi kita!"
"Pa!"
"Tidak ada alasan!"
Tuan Sa'id pergi meninggalkan ruangan Yaris begitu saja setelah memberikan mandat pada Yaris. Yaris sendiri masih bingung kenapa setelah mendengar nama Ralin, ayahnya menunjukka ekspresi yang tidak ia mengerti.
"Shit, nama itu kenapa jadi angker sih?" Yaris segera menghubungi seseorang, dia merogoh ponsel yang tersimpan di saku jasnya. "Dengar, cari info tentang wanita itu sekarang juga, saya beri waktu sampai jam 12.00 lakukan dengan segala cara!"
Pikirannya kalut bercampur dengan rasa penasarannya yang semakin membesar. Apa yang di lakukan Yaris sangat fatal hingga membuat ayahnya murka? Rasanya ini hanya masalah kecil, hanya donasi ke sebuah panti asuhan, tapi Tuan Sa'id bertingkah seolah Yaris membuat perusahaannya bangkrut.
Ralin, siapa kamu sebenarnya?
***
"Lo yakin Lin, serius kan? Aaaaaakh alhamdulillah, terimakasih ya Allah engkau telah membuka pintu hati gadis berhati batu ini."
"Kumat deh, berlebihan Ega. Lagian hati gue tu lembek, mana ada hati kayak batu, kencing batu kali."
"Terserah, tapi beneran sekarang gue pengen syukuran di sini, serius. Gue bangga tau sama lo. Gue yakin operasi lo pasti berhasil."
Ralin sudah berpikir semalaman, dan telah mengambil keputusan. Dia akan menjalani apa yang harus dia hadapi. Kalau dulu dia bisa melewati berbagai rangkaian operasi, kenapa sekarang tidak? Meski mungkin trauma itu akan datang lagi, tapi Ralin belum ingin menyerah pada hidup.
"Operasinya mungkin besok pagi, jadi hari ini gue puasa."
"Lo jangan takut ya Lin, semua pasti lancar, gue janji bakalan temani lo sampai benar-benar pulih, apa perlu gue ijin sama dokternya temani lo di ruang operasi?"
"Emang boleh?" seketika tawa mereka pecah.
"Kalo dokternya single boleh deh gue temenin lo, sambilan gue kecengin dokternya, gue gak pentingin muka, yang penting kantongnya tebel." Mega berseloroh untuk menghibur sahabatnya. Dia sangat paham, mungkin Ralin terlihat tenang mengatakan dia bersedia di operasi untuk menyembuhkan asam lambung akutnya, tapi dalam hatinya pasti masih ada rasa takut dan trauma yang masih membayangi.
"Parah lo, entar dokternya kumisan, perut buncit, kulit kendor mau lo?"
"Gak gitu juga kali Lin, minimal kayak dokter klinik yang suka sama lo itu, sapa sih namanya gue lupa, ih?"
"Dokter Diko maksud lo?"
"Aa bener dokter Diko."
"Kok lo ga bilang suka dokter Diko, tau gitu gue comblangin."
"Sapa bilang gue suka, maksud gue standar usianya itu lho Lin, umur 40 ke bawah masih ok lah, lagian juga gue ogah kalo bekas temen."
"Enak aja bilang bekas gue, mana pernah gue punya hubungan ama tu dokter."
"Ya bukan bekas lo pake juga maksud gue, ini kita obrolin apaan sih, kok nyasarnya ke kata 'bekas'?"
__ADS_1
"Lo duluan kali yang mulai, Mega Darwanti Syarif."
"Masa sih, bukannya elo?" hening sejenak suara tawa mereka pun kembali memecah ruangan yang hanya diisi oleh dua orang yang bersahabat baik itu.
Sehari sebelum operasi Ralin dilaksanakan, Mega sudah memutuskan untuk menghabiskan seluruh waktunya untuk Ralin, minimal dia bisa mengurangi beban pikiran yang Ralin rasakan agar tidak takut menghadapi operasi yang akan ia jalani. Mungkin ini operasi ringan, tapi tetap saja ada rasa was-was yang merasuki mental dan jiwa dua orang itu tanpa saling memberi tahu. Rasa was-was itu mungkin akan pudar dengan canda dan tawa mereka.
Tak terasa malampun menjelang.
***
Di kantornya Yaris masih dihadapkan dengan setumpuk berkas dan dokumen yang sudah menunggi untuk diselesaikan. Hari ini dia sama sekali tidak beranjak dari ruangannya barang sedetik. Setelah pembicaraanya dengan sang ayah, Yaris diharuskan untuk menyelesaikan tugasnya secepat mungkin.
Suara ringtone ponsel Yaris memecah keheningan ruangannya
Mr. Info memanggil..... Yarispun menggeser tombol hijau
"Ya, halo!"
"...."
"Saya masih di kantor, cepat kesini!" Yaris menutup ponselnya dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang seolah tidak pernah berkurang.
Sepuluh menit kemudian laki-laki yang tadi menghubungi Yaris tiba di ruangannya.
"Jadi apa yang kamu dapat?" tanpa basa-basi Yaris meminta hasil pekerjaan orang suruhannya.
"Tidak banyak tuan, nona Ralin aslinya berasal dari Lombok, tepatnya dari kota Mataram, beliau adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Orang tuanya punya usaha di bidang makanan di Lombok, saudaranya laki-laki bernama Arya Satriadi bekerja di luar daerah pulau Lombok. Tapi dari semua itu ada informasi yang lebih penting, Tuan."
"Apa itu? cepat sampaikan!" Yaris mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan suruhannya.
"Nona Ralin adalah orang yang membantu Tuan Davi ketika mengalami kecelakaan tunggal tempo hari."
"Apa? Kamu tidak salah kan?"
"Tidak tuan, informasi ini akurat, saya mendapatkannya dari orang yang bisa dipercaya."
Yaris sontak merasa terkejut. Orang yang dia cari selama ini ternyata adalah Ralin. Adiknya, Davi Mawali Sa'id mengalami kecelakaan tunggal kala itu, keluarga mengetahui keadaannya dua hari pasca kecelakaan. Keluarganya mengira Davi hanya pergi bersama teman-temannya seperti biasa. Davi ditemukan dalam keadaan selamat setelah mendapat perawatan intensif di sebuah klinik.
Jadi Ralin orang yang menanggung semua biaya pengobatan Davi, Ralin menjadi wali untuk Davi saat keluarganya sibuk dengan urusannya masing-masing. Yaris hanya duduk terdiam mendengar penjelasan suruhannya itu dengan kepala tertunduk yang ia topang dengan kedua tangannya.
"Ini belum selesai Tuan, Nona Ralin itu pernah mengalami kecelakaan juga di tempat asalnya, di Lombok." Informan itu menyelesaikan laporannya.
"Siap Tuan, ada lagi yang ingin Tuan sampaikan?"
"Tidak ada, kamu boleh pergi!"
Yaris menutup wajah dengan kedua tangannya, mencerna kembali apa yang disampaikan suruhannya tadi, bayangan Ralin muncul di benaknya, bagaimana awal pertemuan mereka, keadaan yang mengharuskan mereka menginap di rumah sakit menjaga baby Dinar, bagaiman Ralin kesusahan mencari donatur dengan membuat pertunjukkan untuk anak-anak panti dan sekarang Ralin di rawat di rumah sakit karena, suka tidak suka, sedikit tidak akibat dari ulah isengnya. Dan kini yang menghinggapinya adalah rasa bersalah.
Yaris melirik jam tangannya yang sudah menunjuk jam sepuluh malam, kalo jam segini jam besuk udah lewat, Yaris merutuki keadaan. Tiba-tiba saja dia teringat Reyhan, salah seorang temannya yang bekerja di rumah sakit tempat Ralin di rawat. Segera Yaris mengambil ponselnya dan mencari kontak Reyhan.
"Hallo Rey!"
"Hai bro, tumben lo, mimpi apa?"
"Rey lo piket ga sekarang?"
"Ini lagi jaga UGD, kenapa, sakit lo?"
"Yes! Tunggu gue!"
***
Setibanya di parkiran rumah sakit, Yaris bergegas menuju IGD mencari Reyhan. Orang yang dia cari sedang berdiri di depan meja informasi. Reyhan menulis sesuatu dan membelakangi Yaris yang baru tiba. Tanpa basa-basi terlebih dulu Yaris menggeret Reyhan menuju tempat yang tidak ada orang yang bisa mendengar pembicaraan mereka. Membuat Reyhan terkejut, hampir melawan orang yang menariknya.
"Astaga, lo kesambet apaan sih? Datang bukannya salam senyum sapa, lo kenapa, sawang?" tanya Reyhan dengan suara keras dan kesal.
"Enak aja lo ngomong, tapi gue iyain biar lo puas."
"Terus apa? Lagak lo kayak mau bikin rencana kawin lari tau ga."
"Kalau bisa pakai cara baik-baik, ngapain juga gue kawin lari. Gue mau minta tolong, disini ada seorang pasien namanya Ralin, gue perlu tau sesuatu tentang dia." Yaris berbicara dengan nada serius. Reyhan menengok ke arah kanan kiri mereka memastikan tidak ada orang yang mendengarkan. Seperti mendapat ilham bahwa mereka sedang dalam misi rahasia mencari kitab suci.
"Kita ke ruangan gue, Bro!" Yaris dan Reyhan berjalan menuju sebuah ruangan yang terletak di lantai 3 rumah sakit itu. Sekali lagi Reyhan memastikan mereka tidak di ikuti.
Sambil membawa dua gelas kopi, Reyhan melangkah menuju arah Yaris yang kini tengah duduk di seberang meja kerjanya.
"Sekarang lo jelasin apa maksud lo tadi!"
"Ralin Aninta Wahyu, dia sekarsng pasien di sini, kemarin dia gue bawa ke sini karena pingsan di panti."
__ADS_1
"Terus lo perlu tau tentang apa?"
"Gue perlu tahu catatan kesehatannya, semuanya, detail."
"Kan lo kenal, kenapa gak lo tanya aja sama orangnya?"
"Kalo gue bisa tanya langsung ngapain gue minta tolong sama lo, ah gimana sih."
"Easy Bos, santai kali!" Sambil menyalakan komputer yang ada di atas meja kerjanya Reyhan mencoba menenangkan Yaris yang mulai terlihan gusar. "Anyway, kalo cewek ini ga penting lo pastinya ga mau repot-repot nyari tau kayak gini, sooo..., siapa dia?"
"Ceritanya panjang, lain kali gue kasih tau, yang jelas keluarga gue punya utang budi sama ni cewek." Yaris mencoba meyakinkan Reyhan.
"Ok, let's see! and done. Kayaknya cewek lo besok mau ada tindakan." Reyhan menunjukkan hasil temuannya pada Yaris dengan memutar arah layar komputernya.
"Maksud lo?"
"Ya ini, besok dia ada jadwal operasi Bro sama dokter senior gue."
"What the hell, ga mungkin Rey, dia trauma operasi." Lagi, Yaris terkejut mendengar sesuatu tentang Ralin malam itu.
"Kayaknya lo belum cukup kenal sama cewek lo ini."
Yaris termangu, menatap layar komputer, meyakinkan dirinya bahwa dia tidak salah lihat, jadwalnya besok jam 10, Ralin mau di operasi, how come?
"Selain catatan medis di sini lo bisa bantu gue ga cari tau rekam catatan medis di rumah sakit tempat tinggal dia dulu?"
"Gila lo, mana bisa gue nyusup rumah sakit lain."
"Please, Rey! Lo tau gue, gue ga bisa setengah-setengah kayak gini."
"Hhhuuffff susah ya punya temen jahil kayak lo, tapi gue ga bisa janji kasih info banyak."
"Thanks' Bro. Gue tau lo emang bisa di andalkan."
"Emangnya sebelumnya dia tinggal di mana?"
"Dia gadis Lombok."
"WHAT!!!"
***
Setelah bernegosiasi cukup lama dengan Reyhan akhirnya Yaris memutuskan menyudahi perdebatan mereka tepat pukul 11.30. Yaris berjalan sendiri menyusuri bangsal rumah sakit yang terlihat sunyi, kini dia menatap pintu sebuah kamar yang kemarin ia sewa untuk seseorang. Lampu kamar itu masih menyala dengan jendela yang tidak ditutup sempurna. Dengan suasana sesepi dan sesunyi itu pembicaraan dengan suara kecilpun bisa terdengar jelas.
"Lin, lo takut ga? Lo jawab yang jujur!" suara Mega membuyarkan lamunan Yaris.
"Sangat Ga, tapi ada lo, my superb friend best friend ever, makasih sudah ada di samping gue sampai perjalanan hidup gue sejauh ini."
"Halah, gombal lo. Gue tinggal kawin lo nangis ga ya ntar."
"Ya lo kawin aja, gue rela, ikhlas tapi mungkin nangis darah."
Tawa kecil mereka terdengar jelas oleh Yaris yang menyandarkan badannya di dinding luar kamar itu.
" Lin, kalo seandainya ada laki-laki yang bersedia menerima keadaan lo tanpa syarat apapun, menerima segala kekurangan lo, apa lo mau mencoba?"
"Jangan mimpi Ga, gue malah ga berani mikirin itu, mana ada laki-laki yang mau nerima gue kalo mereka tau keadaan gue sebenarnya, kalau laki-laki itu di suruh memilih antara gue dan wanita ****** yang ada di luar sana, mungkin mereka akan memilih wanita ****** itu setelah mereka tau keadaan gue. Lucu kan hidup gue, gue merasa lebih rendah dari wanita ******, Ga."
Deg
Apalagi ini Ralin, apalagi yang gue gak tau tentang lo. Kenapa lo ga mau punya hubungan dengan laki-laki? Yaris hanya bisa bertanya dalam diamnya.
"Tapi lo ga mungkin sendiri terus kan, Lin."
"Gue akan hidup sendiri sampai urusan gue selesai di dunia ini dan lo jangan pikirin gue, oke, kalo ada yang ngelamar lo jangan lo tolak gara-gara gue, ngerti lo!"
"Yeeee ge er lo, udah ah, lo tidur sekarang, besok hari penting lo bu MenSos."
"Mau ya Lin, plis plis plis!"
"Udah deh jangan konyol Ga!"
"Gue daftarin lo di biro jodoh ya. Tinder, mau?"
"Apaan sih, lo kayak ga da kerjaan banget deh, ih kayak bukan temen gue deh, lo mau bubaran sama gue?"
"Kagaaaaakkkk, naudzubillah, ogah gue."
Sementara itu, di luar sisi kamar
__ADS_1
Yaris beranjak dari diamnya. Kepalanya tidak bisa berpikir lagi, begitu banyak Ralin memberinya teka-teki. Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaa yang dia alami? Kenapa dia bisa semiterius ini, ini cewek aaaakkkhhhh.... Besok, sebelum jam 10 gue harus udah ada di sini.