Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Cemburu


__ADS_3

Yaris : Nanti makan siang bareng ya, kamu ke kantor aku


 


Ralin : Iya


Yaris : Masa 'iya' doang? aku udah ngetik lebih dari lima kata


 


Rali**n** : Iya, sayang. Udah, puas?


Yaris : Kalo aku masih di ruang rapat tungguin sampe aku keluar.


 


Ralin : Manja


Yaris : Biarin, aku mau pamer sama orang kantor.


Ralin : Udah ah, lagi rame nih, daaaah


 


Yaris : Love u


Ralin : Love u2


Yaris :Awas jaga mata


Ralin : Ga janji, banyak yg bening nih.


Yaris : Awas ya kamu nanti kalo ketemu


 


Ralin : Iya iya bawel ih, udh sana kerja cari uang yg banyak, kak Arya syaratnya berat lho.


 


Yaris : Oke, sayang mmmuah


 


Begitulah sekarang kegiatan baru Ralin dan Yaris saling berkirim pesan singkat melalui aplikasi WA. Sehari setelah Ralin memutuskan pulang dari rumah orang tua Yaris, Yaris mengharuskan dirinya melaporkan kegiatann dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kecuali sarapan, Yaris bahkan mewajibkan mereka makan siang dan makan malam bersama. Ralin ingin mengeluh karena kebebasannya terasa di rampas. Pria itu posesif sekali padanya.


Ketika kedai sudah mulai sepi, Ralin bersiap-siap untuk berangkat ke kantor Yaris. Mega sebenarnya sudah melarang agar Ralin turun tangan langsung melayani customer, meskipun hanya sebagai kasir, tapi Ralin bersikeras karena ingin menebus waktu yang ia habiskan dulu ketika masa penyembuhan di rumah Yaris. Dia memang pemilik tempat itu, sah-sah saja jika hanya menonton, tapi dia juga butuh kegiatan selama libur mengunjungi panti. Diam saja rasanya tidak enak.


Sebelum menuju kantor Yaris, Ralin mampir dulu di sebuah rumah makan yang menyediakan masakan rumahan. Menunya juga Yaris sudah tentukan, untuk Ralin harus ada menu ikan laut atau telur rebus, Yaris suka sayur capcay dan ayam geprek. Selera Yaris ternyata cukup sesmderhana untuk ukuran orang perlente. Ralin bahkan pernah menyuguhkan hanya kol rebus dan sambal matah untuk makan siang mereka di kedai. Mengira Yaris akan protes, malah pria itu mengambil alih hampir semua makanan dan menyisakan sedikit untuk Ralin.


Setibanya di kantor Yaris, jujur saja Ralin merasa gugup, karena ini pertama kalinya dia yang menghampiri Yaris, biasanya Yaris yang datang ke kedainya. Tentu saja tidak ada yang mengenalnya di sana. Ralin merasa seperti kutu kecil di tengah gedung megah pencakar langit milik keluarga suaminya.


Sesuai petunjuk yang di berikan Yaris lewat pesan singkat, Ralin menuju sebuah ruangan yang di depannya terdapat meja untuk seorang pegawai, bisa dipastikan itu meja sekretaris Yaris.


"Siang mba, saya mau ketemu Pak Yaris."


"Dengan mba siapa dan dari perusahaan mana?" tanya sang sekretaris dengan tatapan yang Ralin, jujur, tidak suka.


"Bilang aja Ralin mba."


"Pak Yaris masih di ruang rapat, mohon tunggu sebentar ya!"


Tidak ingin pamer bahwa dirinya calon istri dari Bos wajita itu, Ralin memilih menunggu di luar. Meski bisa saja ia menelpon dan meminta Yaris menegur sekretarisnya.


Ada single sofa yang tersedia di luar ruangan Yaris. Sambil menunggu, iseng -iseng ia membaca majalah yang di sediakan di atas meja. Suara derap langkah mendekati ruangan Yaris, Ralin kecewa karena yang datang bukan Yaris, mungkin pegawainya.


"Ini laporan marketing analisis yang diminta Bos lu, jangan lupa kasiin!" kata seorang pegawai laki-laki yang baru datang, sekilas Ralin melihatnya melalui ekor mata. "Hebat juga ya bos kita, belum juga setahun mimpin disini dia bisa bikin perusahaan semaju ini sekarang."


"Gitu deh, wajarlah lulusan luar, beda kualitas lah sama kamu," balas sang sekretaris.


Ralin diam-diam tersenyum mendengar kekasihnya dbicarakan tentang hal baik.


"Tapi sayang lho belum punya pasangan, gue denger udah banyak yang daftar, putri dari direktur relasi perusahaan kita juga di tolak lho sama dia, luar biasa."


Senyum Ralin semakin lebar mendengar percakapan itu. Kesetiaan kekasihnya memang tidak diragukan lagi.


"Jangan-jangan bos kita belok, iya ga sih, sampai sekarang gue ga oernah dengar kabar percintaannya?"


"Ngga kali sis, gue pernah liat dia nyium one night stand lady di club."


"Yang bener?"


"Serius, tapi ga sampe berlanjut sih, gue lihat tu cewek di usir."


Semoga Ralin salah dengar, tapi kenapa tiba-tiba dada Ralin terasa sesak, kupingnya panas dan...


"Siang Mba saya mau ketemu pak Yaris."


Seorang wanita cantik, berpakaian resmi tapi memperlihatkan semua lekuk tubuhnya menyebut nama Yaris dan ingin bertemu.


"Saya langsung tunggu di dalam ya, seperti biasa."


Wanita itupun langsung masuk ke ruangan Yaris, tanoa menunggu persetujuan sekretaris itu. Seperti sudah biasa keluar masuk ruangan Yaris.

__ADS_1


"Itu dia sis putri direktur yang gue maksud, gila pak Yaris nolak cewek cantik, pinter bohay kayak gitu, udah ga waras Bos lu."


Ralin yang hanya mendengar percakapan itu dari tadi sudah merasa tidak tahan. Segala macam rasa berbaur dalam pikirannya. Rasa yang awalnya senang berubah marah, sakit, sedih, cemburu, datang dalam hitungan menit menyerangnya brutal.


Dua kejutan luar biasa yang ia dengar menyambar bagai petir di tengah tenangnya hari. Bahkan hubungan mereka belum genap sebulan, harusnya Ralin tidak kepedean meski sudah berstatus calon istri.


"Mba saya titip ini buat pak Yaris, tolong disampaikan." Setelah menitipkan makan siang pada sang sekretaris Ralin pergi begitu saja dari gedung itu, dengan perasaan hancur dia berlari menuju mobilnya yang terparkir di basement. Air matanya hampir keluar tapi ia tahan karna banyak orang akan melihat.


Menangis di sana sama dengan mempermalukan diri sendiri. Bodoh. Kemana Ralin yang dulu? Seharusnya dia lebih kuat bertahan menolak pria itu.


Sesampainya di dalam mobil tanpa permisi air matanya tumpah seketika, ia terisak meratapi kebodohannya. Kebodohannya mencintai Yaris, seorang pengusaha muda yang digilai banyak wanita cantik dan sempurna. Di banding wanita-wanita itu, Ralin mungkin tidak ada apa-apanya. Lagi-lagi rasa itu datang, apa yang bisa di harapkan dari wanita yang tidak memiliki rahim? Impian-impian yang ia bangun ketika nanti setelah berumah tangga hancur seketika, padahal besok dia akan pulang ke Lombok bersama keluarga Yaris untuk acara lamaran. Haruskah ia melanjutkannya? Atau berhenti sampai di sini?


Setelah merasa lebih tenang, Ralin menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalka gedung itu.


Di tengah perjalanan Ralin tak henti-henti meratapi dirinya, air matanya pun tak bisa di ajak kompromi, masih saja keluar meskipun Ralin tak mengeluarkan suara tangisan. Benar kata pepatah.


Tubuh manusia penuh dengan air, tapi ketika terluka, darahlah yang keluar.


Hati manusia penuh dengan darah, tapi ketika terluka, yang keluar adalah air mata.


Perjalanan menuju kedai yang hanya membutuhkan waktu dua puluh menit terasa begitu lama untuk Ralin. Dengan mata sembab dan airnya yang masih mengalir, Ralin langsung menuju ke atas, tanpa menoleh siapapun, padahal di sana ada Mega, Intan dan Riko. Dia langsung masuk kamar dan menguncinya. Semua saling berpandangan, menyiratkan tanda tanya. Ada apa dengan bos tercinta?


***


Yaris baru saja membubarkan rapat yang ia pimpin. Agak lama dari biasanya karena dia akan cuti selama 3 hari mulai besok. Dia memberikan beban kerja pada tiap pimpinan divisi melebihi biasanya.


Sebelum masuk ruangan dia menghampiri sang sekretaris, "ada yang cari saya ga tadi?"


"Oo ada pak, ibu Niki sedang menunggu di dalam."


*M*asa Ralin belum datang?


Ketika hendak melangkahkan kaki, "satu lagi pak, ini ada titipan dari mba Ra...Ral..."


"Ralin maksud kamu?"


Sang sekretaris menyerahkan paper bag berisi makanan. "Iya Pak, Mba Ralin."


"Kenapa kamu ngga ngasih tahu saya? Mana dia sekarang?" suara Yaris meninggi, membuat sekretarisnya bingung.


"Sudah pergi pak sekitar dua puluh menit yang lalu." Jawaban santai dari sekretarisnya nyatanya berbanding terbalik dengan reaksi Yaris yang ingin murka.


"Kamu." Yaris menghela napas kemudian melanjutkan ucapannya, "dia calon istri saya, lain kali kalau dia datang minta tunggu saya di dalam, mengerti!"


Dia mencium ada yang tidak beres, kenapa Niki yang menunggunya di dalam, bukannya Ralin, padahal mereka sudah berjanji akan makan siang bersama setiap hari, wajib.


Segera ia mengambil ponsel dan mencari kontak Ralin.


Yaris mencoba lagi


Memanggil...


Istriku


Ralin tidak mengangkat telpon Yaris, dia tahu ponsel Ralin masih aktif.


Dengan wajah gusar Yaris berlari ke ruang keamanan untuk memeriksa CCTV. Seorang kepala keamanan menyambutnya dengan wajah penuh kejut. Barang langka Dewa Bos mendatangi ruang keamanan.


Yaris menginstruksikan agar kepala keamanan itu memutar rekaman cctv uang ada di depan ruangannya.


Layar pertama dia melihat Ralin datang menghampiri sekretarisnya kemudian duduk di sofa depan ruangannya.


Yaris melihat kegiatan ngobrol antara sekretarisnya dan seorang pegawai laki-laki yang sudah dia kantongi identitasnya. Sudah pasti Ralin juga mendengar pembicaraan mereka waktu itu, kemudian Niki datang dan Ralin pastinya melihat Niki yang lebih leluasa masuk ruangannya. Setelah Niki masuk ke dalam ruangannya Ralin langsung menghampiri sekretarisnya, menyerahkan paper bag dan pergi dengan langkah tergesa-gesa.


"Ikuti kemana arah wanita itu!" perintahnya lagi.


Di layar berikutnya, Ralin terlihat berlari sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya, sedang menahan tangis. Di layar berikutnya, hingga Ralin memasuki mobil Yaris bisa melihat kekasihnya itu menangis di dalan mobilnya. Kamera CCTV di kantor Yaris memiliki sistem yang sangat canggih hingga bisa mengambil gambar di dalam kendaraan meski tidak begitu jelas.


"Shit, dia salah paham." Yaris segera beranjak dari duduknya dan menuju parkiran.


Pikirannya tertuju pada Ralin, entah bagaimana perasaannya sekarang, dia takut Ralin berpikiran macam-macam, apalagi besok dia akan ke Lombok untuk melamarnya. Tidak lucu kalau Ralin tiba-tiba membatalkan rencana mereka hanya karena masalah sepele.


Dengan kecepatan tinggi Yaris melajukan mobilnya, beberapa kali dia hampir melanggar rambu-rambu lalu lintas. Butuh waktu sepuluh menit hingga Yaris sampai di kedai milik Ralin.


Begitu masuk, mata Yaris langsung tertuju pada Mega, "mana dia?"


Seperti sudah paham yang terjadi, Mega memberi kode dengan telunjuk yang di angkat ke atas.


Yaris segera naik dan menuju kamar Ralin, dia mencoba membuka knop pintu dan, 'dikunci'.


"Ralin, sayang, ini aku, buka pintunya, aku mau ngomong, please!"


Ralin bergeming, dan sama sekali tidak membuka pintu.


Yaris mencoba mengetuk pintu berulang kali sampai tidak merasa tangannya memerah kebas.


"Sayang aku tahu kamu di dalam, kita omongin ini baik-baik, aku bisa jelasin, jangan kayak gini!"


Kali ini Yaris menggedor pintu, tapi Ralin masih keukeuh pada pendiriannya. Yaris mencintai Ralin, sungguh, taoi tidak suka dengan sikap keras kepala gadis itu.


"Sayang, please, buka pintunya, kamu boleh marah sama aku, ayo, aku mau dengar, tapi jangan kayak gini, Ralin." Sangat jelas kepanikan yang menjalari sekujur tubuh Yaris.


Yaris diam sejenak, sampai saat dimana ia tidak sadar dan tangannya terkepal ke arah tembok.

__ADS_1


Kepalan tangannya beberapa kali menghantam dinding tebal itu hingga punggng tangannya mengeluarkan darah.


Ralin yang menahan diri agar tetap berada di dalam merasa kaget dan takut, Yaris pasti melukai dirinya.


"Sayang, buka pintunya atau aku dobrak!"


Ralin akhirnya luluh dan membuka kunci kamarnya.


Setelah mendengar suara kunci di putar, Yaris segera menarik knop pintu, seketika itu juga dia menghamburkan diri memeluk Ralin.


"Lepasin, aku ga mau."


Ralin mencoba memberontak tapi Yaris sudah menguncinya dalam pelukan.


"Ga apa-apa, kamu boleh marah, boleh pukul aku sepuasnya, kamu boleh nangis, aku ga akan larang." Yaris berujar tanpa mau melepaskan ataupun melonggarkan pelukannya.


"Kamu jahat tau ga, kamu jahat, aku ga sempurna kayak wanita itu, ngapain kamu milih aku, kamu masih bisa milih, kamu bisa tinggalin aku, kamu boleh pergi, kenapa ngejar aku?"


Ralin terus menangis dan merancau dalam pelukan Yaris, bagaimanapun dia memberontak semakin kuat Yaris memeluknya. Yaris hanya diam, mendengarkan apa yang ingin diucapkan calon istrinya.


"Lepasin, aku ga mau, aku ga pantes buat kamu, aku mau kita udahan."


Hingga beberapa saat, Ralin kehabisan kata dan mungkin merasa lelah, kini hanya suara tangisnya yang terdengar.


"Aku milih kamu karena aku cinta sama kamu, bukan sama dia, aku milih kamu karena cuma kamu yang pantas jadi pendamping aku, menurut aku kamu terlalu sempurna dengan kebaikan hati kamu, ketulusan kamu yang nggak dimiliki wanita manapun. Wanita lain mungkin sempurna, tapi apa mungkin mereka akan tulus mencintai aku tanpa memandang jabatan dan kekayaan yang aku punya."


Tanpa berniat melepaskan pelukannya Yaris berusaha menjelaskan semuanya pada Ralin.


"Apa yang kamu lihat dan kamu dengar di kantor itu mungkin benar, itu dulu sebelum aku memutuskan pilihanku ke kamu. Masalah wanita yang nunggu di dalam ruangan aku, itu Niki, dia cuma relasi bisnis, ga lebih. Dia dulu memang pernah godain aku tapi aku sudah nolak dan sekarang kita hanya rekan bisnis."


"Aku minta maaf sudah bikin kamu nunggu dan dengar yang seharusnya kamu ga dengar, dan untuk udahan, jangan harap! Jangan mimpi kamu lepas dari aku."


Suara tangis Ralin pun melemah, artinya dia sudah tenang. Bukan skenario ini yang dia bayangkan. Ralin lebih menyiapkan diri untuk menyudahi hubungan mereka.


"Aku ga akan lepasin pelukan sebelum mau maafin aku."


Sebenarnya Ralin masih berat untuk memaafkan Yaris, tapi dia sadar Yaris memang orangnya nekat. Apa yang dia ucapkan pasti akan dia lakukan, kalau sampai besok dia tidak bicara, Yaris juga pasti akan memeluknya sampai besok.


"Iya, aku maafin." Suara Ralin terdengar parau, "kamu ga salah juga."


"Janji ga akan lari?!" Butuh beberapa detik untuk Ralin memberi jawaban.


"Janji."


"Janji kita jadi nikah bulan depan?!"


Ralin diam sejenak, "janji."


Setelah mendengar ucapan Ralin, barulah Yaris melepaskan pelukkannya, kemudian meraih tangan Ralin.


"Setelah hari ini, kamu ga akan nangis lagi, aku janji." ucapnya dan lalu mengecup kening Ralin.


Ketika Ralin mengalihkan pandangannya ke bawah dia melihat tangan Yaris yang terluka.


"Tangan kamu kenapa jadi gini?"


"Ga apa-apa, tadi kejedot tembok." jawab Yaris enteng.


"Ga apa-apa gimana, sampai berdarah gini."


Sekarang giliran Ralin yang diliputi rasa bersalah.


"Aduh kenapa jadi gini sih?" Ralin membungkam wajah dengan telapak tangannya, dia sekarang menyadari bahwa dia sedikit keterlaluan dengan mendiamkan Yaris, terbakar emosi dan cemburu. Melihat orang yang ia cintai terluka karena dirinya, membuatnya merasa sangat sangat bersalah.


Yaris yang menyadari sang kekasih diliputi rasa bersalah dan merasa tertekan segera menenangkan. "Beneran deh ini ga apa-apa Sayang, aku lebih sakit liat kamu nangis tau."


"Tapi kamu berdarah, luka gara-gara aku."


"Ga boleh ngomong gitu, ini karena kamu sayang aku, kita saling mencintai, aku seneng lho sekarang liat kamu cemburu, artinya kamu beneran cinta sama aku. Beneran deh, ini ga sakit, jangan nangis lagi!"


Ralin mencoba menguasai dirinya dan berhenti menangis. "Kita obatin ya!"


Ralin kemudian mengambil kotak obat dan mengobati luka Yaris.


"Kamu udah makan?"


"Kamu luka gini masih mikirin makan." Sambil memperban tangan Yaris, Ralin berusaha menahan tangis, untuk ukuran dia luka Yaris termasuk parah.


"Kamu baru sembuh, makannya haris teratur, ga boleh telat, kita cari makan di luar ya!"


"Ga mau, aku jelek kalo abis nangis, mataku sembab, jadi sipit kayak gini," tolak Ralin tegas.


Yaris memperhatikan wajah sang kekasih yang memang terlihat lusuh dan matanya sembab karena banyak menangis. Seketila Yaris tertawa, "kamu cantik kalo kayak gitu."


"Jangan gombal!"


"Serius, cantiknya jadi beda, kayak eouni-eouni korea ya namanya?"


"Ada juga uni-uni Padang," ketus Ralin.


Ketika hendak beranjak setelah memperban tangan sang kekasih, Yaris menarik cepat tangan Ralin, Yaris segera berdiri sehingga Ralin terjatuh dalam pelukannya, mereka berhadapan tanpa jarak dan tanpa ragu mendaratkan bibirnya pada bibir Ralin.


Yaris ******* lembut bibir Ralin, tentu saja Ralin kaget, untuk hal semacam ini dia masih awam, Yaris yang merasa Ralin belum membalas ciumannya menggigit pelan bibir bawah Ralin dan sukses, kini Ralin hanyut dalam ciuman Yaris, membuka akses untuk pria itu menjelajahi rongga mulutnya. Dia menggenggam pipi kekasihnya agar bisa mempererat ciuman. Ralin merasa kehabisan napas, begitupun Yaris, mereka saling melepas ciuman dan mengambil udara. Sambil menyatukan kening Yaris bicara, "Jangan bikin aku takut lagi kayak tadi, aku bisa mati."

__ADS_1


__ADS_2