Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Kembalilah dengan Selamat


__ADS_3

Pukul 05.00


Lima jam sebelum Ralin di operasi


Ralin dan Mega baru saja selesai menunaikan kewajiban shalat shubuhnya. Tidak bisa ia sangkal, rasa takut Ralin bertambah seiring mendekati waktu operasinya. Berulang kali ia melafalkan kalimat semua akan lancar, aku akan sembuh seperti akan menjadi mantra penyembuh dalam otaknya, tapi tetap saja perasaan khawatir menghinggapi pikirannya. Banyangan rasa sakit pasca operasi mesih kental diingat tubuh Ralin.


Pagi itu terasa lebih dingin bagi Ralin, dipakainya lagi kaos kaki yang sempat ia lepas dan jaket rajut kesayangannya. Semakin cerah hari, semakin bertambah rasa takut Ralin, traumanya di masa lalu sampai berakar dalam pikiran, jiwa dan raga Ralin. Ruangan itu, denting alat operasi, aroma antiseptik, desinfectan atau apalah namanya, akan kembali merayapi semua indra di tubuhnya.


Seseorang mengetuk pintu kamar Ralin, "mungkin suster jaga yang mau kontrol," gumam Ralin dan Mega segera membuka pintu.


"Permisi, ini ada kiriman untuk mba Ralin." Seorang pria berjaket hijau membawa bingkisan dan bunga mawar putih di tangannya.


"Dari siapa mas?" Mega bertanya dengan nada heran. Sepagi ini mereka harus dikejutkan dengan hantaran yang tidak jelas asalnya, tentu saja yang paling awal muncul adalah pikiran negatif.


"Kurang tau mba, saya cuma di suruh bawa ke sini, tadi orangnya cuma ngasih alamat."


"Oh ya udah, makasih, udah di bayarkah?" Mega sudah memberi aba-aba akan mengambil dompet.


"Sudah mba, malah dikasih lebih, padahal saya cuma nganter, mari saya pamit," kata mas-mas pengantar itu tanpa jeda dan segera berlalu pergi.


Mega menutup kembali pintu kamar itu, pandangannya tak lepas dari dua barang yang baru diterimanya, "kok bisa? Masa sih? Emang ada? Ga yakin gue?" beo Mega tidak jelas, Mega masih terheran-heran dengan barang ajaib yang ia terima di pagi buta itu.


"Apaan sih Ega? Yang tadi siapa?"


"Lin, lo ada yang disembunyiin dari gue?"


"Apa sih, gue nanya timur, lo jawab utara, di tanya balik nanya. Siapa tadi?"


"Mas-mas ojol, nganter ini nih, parcel buah, makanan, ama bunga. Lo punya gebetan?"


"Jangan aneh-aneh deh, mungkin dari orang panti."


"Mungkin, tapi ga ngasih tau nama ni yang ngirim, gue lupa lagi nanya masnya, yang nyuruh cewek ato cowok."


"Ada kartunya tuh, coba liat!" Ralin terlihat antusias, pikirannya teralihkan dari rasa takut melihat bunga yang dikirim untuknya. Bodohnya Mega, tidak menyadari kartu yang terselip di buket bunga itu, paling tidak dia jadi lebih dahulu mengetahui siapa yang mengirim dan memergoki rahasia yang mungkin Ralin sembunyikan darinya.


Get well soon ❤️


"Tuh kan, gue bilang juga apa, lo punya gebetan gak ngasih tau gue. Berani ya lo ngelangkahin gue. Hebat ni cowok, punya nyali juga dia, sepertinya aku mencium bau hajatan walimah." Ucap Mega usil dengan nada menggoda.

__ADS_1


Tapi Ralin malah menunjukkan ekspresi berbeda, raut wajahnya terlihat sedih, bahkan mungkin marah dan kecewa.


"Hei, kok ngelamun?"


"Bunganya lo buang, makanannya lo makan sendiri ya!" titah Ralin.


"Kok dibuang Lin, sayang lo?"


"Perasaan gue ga enak, ini ga bagus buat gue."


"Ga bagus gimana, ya bagus lah, do'a gue satu lagi terkabul, sepertinya lo bakal nikah abis operasi ni, aamiiin ya Allah, lo ga bakal tua sendiri."


Ralin terdiam, pikirannya menerawang jauh meninggalkan raganya, entah siapa yang mengirimkannya bingkisan itu, padahal jelas-jelas dia tidak sedang menjalin hubungan dengan lawan jenis, dan hanya Mega dan bunda Diah yang tau kalau dia sedang di rawat di rumah sakit, yang jelas jika dia adalah laki-laki yang menginginkannya, dia 100% akan menolak.


Sementara itu Mega sibuk memindahkan bunga mawar putih yang masih segar itu ke dalam vas bunga dengan senyum cerah.


"Lumayan nambah pemandangan, gue bosen liat nakas, kulkas ama jemuran doang di kamar ini" gumamnya sendiri. Sudah biasa bagi Mega bicara pada angin. Ralin sering meninggalkannya baca buku saat Mega curhat tentang masalahnya.


"Lin, lo masih puasa kan? Nasi padangnya gue yang makan ya?" Ralin hanya mengangguk setuju. "Pinter ni yang nyuruh, tau aja gue eneg liat makanan RS." Mega tersenyum bahagia menikmati nasi padang sebagai menu sarapannya. Lumayanlah karena hari ini dia membutuhkan banyak energi untuk menemani Ralin.


Rejeki sahabat soleh.


***


"Beres gan, sudah saya sampaikan."


"Ya udah makasi."


"Sama-sama Gan."


Yaris menutup telponnya, dia memastikan pesannya disampaikan oleh orang yang dia suruh. Pagi itu moodnya jelek untuk bekerja, entah kenapa dia memikirkan Ralin yang akan di operasi hari ini. Yaris menimbang-nimbang apakah dia harus pergi mengunjungi Ralin atau tidak. Rasa bersalah masih menggelayutinya tentang segala rahasia yang ia ketahui mengenai Ralin, tapi dia tidak menampik juga bahwa dia ingin mengetahui keadaan Ralin saat ini. "Satu jam lagi." ia melihat jam yang melingkar di tangannya.


Yaris menekan interkom yang ada di atas mejanya. "Batalkan semua jadwal saya hari ini, kalau ada yang mencari saya bilang saya keluar!" dengan nada tegas Yaris mengucapkan perintahnya pada sekretaris yang biasa mengatur jadwal keseharian Yaris di kantor.


"Baik, pak."


Tanpa ada keraguan lagi Yaris beranjak dari kursi kerjanya menuju mobil yang ia parkir di basement gedung perusahaan. Dia tidak bisa hanya diam saja. Tekadnya sudah bulat untuk pergi menemui Ralin yang akan di operasi hari ini. Semoga apa yang gue lakuin ini benar.


Banyak hal penting, ah, segala tentang kantor memang penting, yang sebenarnya harus dia kerjakan hari ini. Tapi seluruh tubuh dan pikirannya menolak untuk di kurung di ruangannya sekarang. Gadis itu, namanya terus menghida un

__ADS_1


***


"Hey besty, mukanya jangan serius terus dong!" Mega meraih pundak Ralin yang kini tengah bersiap, pakaiannya telah berganti yang tadinya baju biasa sekarang menjadi baju khusus pasien operasi, lengkap dengan penutup kepala.


"Apa perlu gue telpon kak Arya?" kata Mega lagi melanjutkan kalimatnya.


"Jangan Ga, nanti aja setelah operasi, gue ga mau bikin lebih banyak orang cemas karena gue."


"Oke, tapi lo udah bikin gue cemas juga dengan ekspresi lo sekarang, could you please smile for me!" Mega mencoba membuat Ralin merasa lebih santai, dia sendiri cemas melihat wajah superb takut Ralin yang selayaknya seperti orang yang akan di sidang di hukum pancung dan mungkin Ralin akan merasa seperti itu saat di ruang tindakan nanti.


"Do'ain gue Ga!"


"Tanpa lo minta zeyenk, do'a gue ga pernah putus buat lo."


Dua sahabat itu saling bertatapan, saling memberi dukungan bahkan tanpa harus terucap kata. Tak lama dua orang perawat dengan baju serba hijau, lengkap dengan masker dan penutup kepala, masuk ke kamar Ralin. Mereka membawa brangkar yang akan digunakan untuk membawa Ralin ke ruang operasi. Ralin sebenarnya masih bisa berjalan sendiri ke ruang operasi jika diperbolehkan, tapi apa mau dikata ini sudah ketentuan dari rumah sakit.


Ralin mulai merasakan hawa lain menyerangnya, banyangan masa lalu yang dulu dia alami mungkin akan terulang, de javu itu yang ia rasakan kini. Ralin mengambil napas dalam, kemudian menghebuskannya beberapa kali sampai tiba waktunya dua perawat itu mendorong brangkar yang Ralin tempati keluar dari kamarnya di bantu oleh Mega.


Kini dia hanya bisa memasrahkan segalanya pada penciptanya. Dengan pandangan yang terus menghadap ke atas dalam hati Ralin terus memanjatkan do'anya. Tapi tiba-tiba Ralin merasa ada tenaga lain yang mendorong brankarnya, dia merasakan betul ada tangan lain yang menyentuh brangkar. Mata Ralin yang tadinya terpejam sontak terbuka dan dia menemukan Yaris yang kini ikut mendorong brangkar itu. Mata mereka bertemu, saling memandang satu sama lain. Entah apa arti tatapan Yaris untuk Ralin, begitupun sebaliknya. Ralin merasa jantungnya tidak bekerja seperti beberapa menit yang lalu sebelum kedatangan Yaris.


Kenapa pria itu bisa ada di sini? Dari mana dia tahu kalau hari ini dia akan menjalani tindakan operasi?


Mega sebenarnya tak kalah terkejut, hanya ia saat ini lebih memfokuskan pikirannya untuk Ralin. Apa yang harus ia katakan pada saudara laki-laki sahabatnya itu nanti?


Kini tibalah mereka tepat di depan pintu ruang operasi, namun Yaris refleks menahan brangkar dan berkata "tunggu, sebentar saja!" secara sangat tiba-tiba tanpa peringatan.


Ralin terperangah, tapi tak satupun kata mampu ia ucapkan, begitupun Mega merasa kaget lagi dengan tindakan Yaris kali ini.


Tanpa meminta persetujuan dari siapapun Yaris mendekati kepala Ralin membuat perawat yang tadinya berada di samping kepala Ralin minggir beberapa langkah. Yaris memegang ujung kepala Ralin, diusapnya dengan lembut dan kemudian Yaris mendekatkan wajahnya pada telinga Ralin, dia membisikkan sesuatu yang hanya bisa di dengar oleh Ralin.


Orang yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa memandang, begitupun Mega, dia bahkan tersenyum, pikirannya bisa memprediksi apa kelanjutan dari kejadian ini. Yaris kini kembali menegakkan badannya. Senyumnya terukir di wajah tampannya. Ralin hanya terpaku dan badannya kembali bergerak seiring brangkar yang kembali di dorong oleh dua perawat tadi. Mungkin Ralin tidak bisa mengungkapkan, tapi ada rasa nyaman yang kini terselip dalam angannya. Perasaan asing yang tidak ia suka.


"Anda pak Yaris kan, donatur panti, kok bisa anda tahu hari ini Ralin mau di operasi?" kalimat yang di ucapkan Mega dengan nada santai itu berhasil membuat Yaris terkejut sempurna. Baiklah, mari cari alasan yang tepat. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa tadi malam dia membuka catatan kesehatan Ralin berkat bantuan dokter Reyhan, temannya.


"Saya...keb..."


Dddrrrrtt....ddrrrt...


Getaran ponsel yang diiringi lagu 'Syantik' milik Sibad, menghentikan penjelasan Yaris.

__ADS_1


Mega beralih menatap ponsel miliknya, Arya Satriadi Wahyu memanggil... yang tidak lain saudara laki-laki sahabatnya.


__ADS_2