
Yaris telah memutuskan untuk bertanggung jawab atas segala rasa sakit yang Ralin alami. Mungkin awalnya adalah simpati, urusan hati nyusul.
***
"Ada apa sih ni? Kok pada ribut?"
Mega datang dengan membawa bungkus makanan junk food kaefsi, lengkap dengan minumannya. "Siapa yang udah official?" lanjutnya lagi.
"Ralin sekarang pacar gue, lo saksinya ya mbak Mega."
"What??!!" mata Mega membulat sempurna seakan keluar dari tempatnya.
"Jangan dengerin, gue udah nolak, dan lo Ega jangan coba-coba jadi pendukung!" Ralin mengancam serius.
"Jahat ya lo Lin, nyalip gue," tukas Mega pura-pura sedih. Astaga, Mega nyari mati, baru saja Ralin memperingatkannya.
"Apaan sih, lo lagi bilang nyelap nyelip, gue yakin lo ga sebodoh itu buat ga ngerti peringatan gue.
"Fix Ega lo di pihak gue." Senyum kemenangan terukir di wajah Yaris.
"Enak aja, Mega sahabat gue," sela Ralin ketus.
"Officialnya kapan Ris?" Kali ini Mega lebih meyakinkan, nadanya terdengar akrab. Ralin sebaliknya, makin emosi, andai dia tidak sakit.
"Egaaaaa!!! Lo temen gue bukan sih?"
"Lo inget sebelum Ralin masuk kamar operasi, gue nembak dia waktu itu."
Dua orang di kamar itu kompak mengabaikan protes Ralin.
"Ooo." Mega manggut-manggut tanda mengerti.
"Kalian ya, ga ada pokoknya." Demi kalimat itu keluar, Ralin rela menahan nyeri.
"Urusan lo, yang jelas lo pacar gue sekarang," kata Yaris penuh percaya diri.
"Iisssh, sini berger gue!" Ralin di ujung kesal, lebih baik ia makan.
"Astaga...kenapa makan berger? Ga boleh!" Yaris merampas bungkus makanan yang ada di atas meja.
"Apaan sih, gue laper!"
"Ga ada, ga boleh junk food!"
"Suka-suka gue dong, kok jadi gini sih? Kenapa lo yang ngatur, kalau pengin beli aja."
"Bener juga Lin, lo masih sakit, ga boleh junk food!"
"Lo temen apaan sih, baru ngerti sekarang?" Yaris balik memarahi Mega.
"Kalo bosen makanan rumah sakit, bilang! Gue pesenin makanan sehat, delivery ya."
Ralin hanya bisa pasrah dengan tingkah dua makhluk yang ada di hadapannya ini. Andai dia punya kekuatan ilmu melenyapkan benda.
"Pak Yaris yang terhormat bisa keluar dulu ga?" pinta Ralin dengan nada memelas. Situasi sedikit berubah.
"Enggak. Kenapa manggil 'pak', dulu juga awal ketemu manggil 'mas', dan paka sebutan aku-kamu, jangan lo-gue lagi."
"Ega, bawa keluar sekongkolan lo, cepet!"
"Gue lagi makan Lin, masa lo tega nyuruh-nyuruh."
"Kalo gitu bantuin gue ke kamar mandi!"
Sedari tadi sebenarnya Ralin ingin buang air kecil, tapi dia tahan karena ada Yaris, karena Yaris tidak kunjung pergi, walhasil...
"Kenapa ga bilang?" Yaris menghentikan aktivitasnya memesan go food setelah mendengar permintaan Ralin yang sebenarnya tidak ditujukan padanya.
"Ga mau, sama Mega aja," pinta Ralin keukeuh, ia paham arti ucapan Yaris.
"Mega lagi makan, kasian tu."
Mega hanya mengangkat jempolnya setuju dengan Yaris.
Kejengkelan Ralin naik puluhan kali lipat.
"Ya udah panggil suster!"
"Kalo gitu gue gendong." Yaris hendak meraih tengkuk dan kaki Ralin jika tidak segera dihentikan Ralin sendiri.
"Oke, oke, oke."
"Gitu dong, dari tadi kek."
__ADS_1
Wajah Ralin sudah merona, Yaris yang memperhatikannya hanya tersenyum tipis. Ralin mengulurkan tangannya agar Yaris bisa membantunya berdiri, "aauu" Ralin meringis menahan sakitnya. Dia kembali duduk karena masih tidak tahan.
"Sakit ya?"
Ralin mengangguk pelan.
"Mau coba lagi?" kali ini Yaris membungkukkan badannya, meraih kedua tangan Ralin dan melingkarkannya di lehernya. Ralin ingin melepaskan tapi ditahan Yaris, "diem ga?!" ancam Yaris.
Kepala mereka berjarak beberapa senti, membuat Ralin salah tingkah dan mulai gugup, Yaris mengangkat badan Ralin dan meraih pinggangnya, Ralin terkejut tapi tak kuasa menolak karena masih menahan rasa nyeri yang hebat di perutnya. "Iiishh" dia meringis pelan.
"Bisa jalan?" tanya Yaris lembut.
Ralin mengangguk pasti. Ia hendak melepaskan lingkaran tangannya dari leher Yaris tapi Yaris keukeuh menahannya.
"Jalannya gini aja!" sambil menahan tangan Ralin, Yaris menuntunnya berjalan.
"Ga us..."
"Jangan bawel!" sanggah Yaris.
Posisi mereka seperti orang yang sedang berdansa. Ralin tidak berani mengangkat kepalanya, ia tertunduk membenamkan wajahnya beberapa senti dari dada bidang Yaris, jika ia mengangkat wajah, bisa dipastikan kini wajahnya merah merona bisa di lihat sangat jelas oleh Yaris. Mega hanya melongo menikmati pemandangan romantis yang diciptakan pasangan baru itu.
"Kok gue berasa obat nyamuk ya?" ungkap Mega.
"Nyadar lo." Ujar Yaris yang kemudian menerima cubitan dari Ralin di pundaknya "aawu, sakit lho."
"Siapa suruh," balas Ralin cuek.
Tiba di depan pintu kamar mandi Rain melepas rangkulannya.
"Mau aku temenin sampai dalam?" ujar Yaris dengan nada becanda.
Mata Ralin melotot mendengar ucapan Yaris "Heh, enak aja."
"Iya ngerti, yakin bisa sendiri?"
"Bisalah."
Ralin berlalu memasuki kamar mandi, meski tertatih-tatih, dia yakin bisa melakukannya sendiri. Segala tindakan Ralin tak lepas dari pengamatan Yaris sampai Ralin menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
***
Yaris kembali duduk di sofa bersebrangan dengan Mega.
"Maksudnya?"
"Peringatan gue kemarin, gue harap lo ga lupa."
Yaris menegakkan dan mencondongkan badannya ke arah Mega. "Apapun yang lo dengar, yang lo lihat hari ini gue lakukan dengan serius, gue ga punya niat main-main."
"Meskipun nanti lo tahu kelemahan Ralin?"
"Gue tahmuu semua kelemahan Ralin."
Mega sedikit terkejut mendengar ucapan Yaris tapi tetap memperlihatkan wajah tenang. 'Gila ni cowok punya nyali juga.'
"Gue pegang kata-kata lo, dan pastikan Ralin ga akan terluka."
"Deal," tegas Yaris.
***
Di ruang kerjanya Daning seperti kebakaran jenggot, sudah memasuki hari ke empat kedai Ralin belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan beroperasi kembali. Hal itu membuatnya gelisah. Sepanjang hari ia berpikir apa yang sebenarnya terjadi dengan Ralin.
Terlintas di benaknya untuk melacak nomor ponsel milik Ralin, sudah tidak ada jalan lain lagi pikirnya.
Diraihnya benda pipih berwarna putih itu dan segera mencari kontak yang ia tuju.
"Hallo, Andre! saya butuh bantuan kamu. Saya ingin kamu melacak nomor ponsel seseorang."
"...."
"Baik, nomornya akan segera saya kirim. Kira-kira berapa lama?"
"..."
"Ok, deal."
Senyum Daning mengembang, "see you soon, Ralin."
***
Ceklek.
__ADS_1
Pintu kamar mandi terbuka, Mega dan Yaris mengarahkan pandangan mereka ke sumber suara. Yaris bangkit dari sofa dan segera menghampiri Ralin.
"Udah selesai?" tanpa meminta persetujuan Ralin, Yaris meraih tangan sang pacar dan menuntunnya berjalan. "Jangan duduk lagi, sekarang rebahan!" Yaris menuntun Ralin ke tempat tidur, kali ini Ralin menurut saja, entah kenapa hatinya menyetujui segala yang dilakukan laki-laki yang memaksa menjadi pacarnya itu. Kali ini saja. Ia akan memikirkan cara pergi dari pria ini besok.
Reyhan yang muncul dari arah pintu tertegun melihat adegan ia saksikan. Jadwal periksanya untuk Ralin.
"Wait wait wait, ada yang gercep nih kayaknya? Apa saya melewatkan sesuatu Mega?" tanyanya dengan niat menggoda.
Ralin tersipu, tidak berani melihat ke arah dokter Reyhan.
"Telat lo, tunggu undangan gue besok pagi" ujar Yaris santai.
Ralin menyentak lengan baju Yaris, "jangan aneh-aneh deh, kamu kenal dokter Reyhan?"
"Temen sayang" ucapnya setengah berbisik pada telinga Ralin. Kalimat jawaban Yaris sukses membuat kupu-kupu berterbangan di perut Ralin, rasa nyerinya berganti geli. Baru kali ini ada laki-laki memberinya predikat 'sayang'. Ia juga teringat kata-kata Mega yang ingin menanyakan status dokter Rey pada Yaris, kenapa baru ngeh.
"Mabok lagi lo?"
"Gara-gara dia" jawab Yaris sambil melirik Ralin.
"Pasangan anyer dok,"sela Mega, cepat.
"Oke, we talk about this later, Ris. Ralin udah latihan jalan?"
"Udah dok."
Reyhan memulai aksinya memeriksa kondisi dan perkembangan Ralin.
"Keren ya kamu, perkembangannya sepesat ini." ucap Reyhan takjub. "Tapi pulangnya lusa ya, kita observasi lagi biar hasilnya total," jelas Reyhan.
"Iya dok, ga apa-apa."
"Apa ga nunggu dia bisa lari dulu, Rey?" tanya Yaris serius.
Plak
Pukulan tangan Ralin mendarat di lengan Yaris, tapi Yaris tak mempedulikan.
"Serius deh Rey, tadi dia jalannya aja masih kesakitan, lo udah bener ga sih ngasih obatnya?"
"Emang harus gitu, kalo ga dilatih susah sembuhnya, lo jangan remehin gue, obatnya udah yang paling paten."
"Jangan di dengerin dok, dia satu jam di sini udah bikin saya stres." Ralin menimpali.
"Jangan pura-pura lupa, tadi kalo aku telat dikit kamu beneran jatoh lho."
Ralin tidak mengacuhkan perkataan Yaris membuatnya semakin ingin menggoda. Pandangannya teralihkan pada jam tangan yang melingkar di pergelangannya, "Bro kayaknya gue duluan ne, mama minta kumpul, tumben-tumbenan."
"Syukur deh, buruan!" ujar Ralin yang sudah mulai jengkel dengan kehadiran Yaris.
"Ya udah aku telpon bilang ga bisa."
"Iiiih apa sih, ga lucu tau."
"Makanya jangan ngusir dong, aku orangnya ngangenin lho."
"Bodo amat."
Mega dan Reyhan hanya bisa terkekeh melihat tingkah pasangan anyer itu.
"Mau nitip salam buat calon mertua?" goda Yaris lagi.
"Enggaaak."
Yaris tertawa geli melihat tingkah pacar barunya, "Ega, titip pacar gue, awas lo ngasih junk food lagi!" dan cup, tanpa aba-aba Yaris mendaratkan ciuman di pucuk kepala Ralin.
Mega membungkam mulut dengan kedua tangan, kaget tentu saja, cuma Yaris yang berani melakukan hal itu pada seorang Ralin. Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepala, dia sudah khatam tindak tanduk Yaris dari dulu. Jika sudah berlaku seperti itu, tandanya Yaris memang serius, artinya dia tahu segala resikonya.
"Aku tinggal ya, jangan bandel!" Ralin hanya bisa tertunduk menahan malu. "Bro" Yaris berlalu sambil melambaikan tangan pada Reyhan.
***
"Kamu yakin tidak salah dengan lokasi terakhirnya?"
"..."
"Benar rumah sakit xxx?"
"..."
"Oke, thanks, akan saya check segera."
Malam itu juga Daning bergegas menuju lokasi yang di infokan rekannya. Dia ingin segera memastikan keberadaan Ralin di rumah sakit itu. Penantiannya selama emoat hari belakangan akan berakhir. Daning yakin, informasi yang di berikan orang suruhannya tidsk pernah salah.
__ADS_1