Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Masakan Mama


__ADS_3

Pagi itu Yaris dipaksa bangun pagi buta oleh Mamanya. Ada tugas suci yang harus ia laksanakan hari ini. Sang Mama pula lah yang memaksanya menginap, tujuannya yaitu Yaris harus mengantarkan sarapan untuk calon menantunya.


"YARIIIISSS! bangun nggak, ato mama siram mau?" teriak mama Ayu.


"Masih pagi maaaah, Yaris masih ngantuk ah."


Betapa Yaris menyesal mengikuti keinginan Mamanya jika harus menerima teriakan saat harus bangun tidur seperti ini. Apa Mamanya tidak tahu, bagian terbaik dari tidur yaitu berkhayal guling-guling sebelum bangun sempurna.


"Emang ada ya yang namanya sarapan siang, ntar Ralin keburu pesan junk food lho, kemarin kamu yang cerita, kalo mantu Mama ga sembuh-sembuh kamu yang Mama salahin. Papaaaa Yaris nih ga mau bangun!" suara semakin melengking memekakkan telinganya. Mungkin Mamanya menyimpan to'a surau di tenggorokan.


"Iya iya ini udah bangun, Mama ih!"


"Gitu dong, dari tadi kek, sepuluh menit lagi, Mama tunggu di bawah, ga ada protes, titik." titah Mamanya.


Yaris beranjak dari tempat tidur dan melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya, "nggak mantu nggak mertua sama cerewetnya, isshh." gerutu Yaris dengan suara yang tidak ia tahan, malah berharap Mamanya mendengar.


Brak


Pintu kamar mandipun menjadi pelampiasan kejengkelannya.


Lima belas menit kemudian Yaris keluar dari kamarnya. Ia telah rapi dengan setelan jas Prada, lengkap dengan kemeja dan dasi. Langkahnya terhenti di meja makan yang masih kosong, hanya ada roti tawar, tanpa kawan-kawannya, entah margarin atau selai.


"Mah, sarapannya roti doang?"


"Seneng deh akhirnya tupperwere mamah kepake juga, setelah sekian lama jadi pajangan doang," ungkap mama Ayu sambil senyum-senyum sendiri.


"Boleh minta susu ga ma?"


"Ntar bilangin ke Ralin sarapannya harus habis, ngga boleh sisa, ya!"


Alamat yang demam pengen punya mantu.


"Kopi deh ma?!"


"Mama nanti ke pasar dulu, belanja bahan buat makan siang Ralin, jadi datengnya agak telat. Nanti kalau sudah sampai rumah sakit, tanya Ralin mau makan apa, biar Mama masakin, dengar kamu?!"


Ini ni, Haji Bolot versi emak-emak kayak gini.


"Air putih kalo gitu," pinta Yaris dengan kesabaran penuh. Dia tidak ingin menjadi anak durhaka sekarang.


"Udah jadi ni, buruan berangkat, kasian Ralin kalo makan makanan rumah sakit terus!"


"Mamaaah! Ini anaknya yang mana sih?" dan kesabaran Yaris habis di satu titik, durhaka dia.


"Kamu memang anak mama, tapi yang sakit calon mantu mama yang paling berharga."


Nah tu connect.


Dengan hati riang mama Ayu menyeret anaknya keluar dari rumah.


"Rotinya belum habis Mah."


"Bodo, siapa suruh lama, nih kunci mobil, buruan!"


Yaris sebenarnya senang-senang saja melihat mamanya antusias dan merestui hubungannya dengan Ralin, tapi untuk pagi ini mungkin terlalu berlebihan. Dia biasanya meninggalkan apartemen pukul delapan, dan sekarang, Yaris melihat pada jam tangannya, "baru pukul setengah tujuh."


Ya sudahlah.


***


"Hatcih...hatcih..aaauu"


"Lo kumat lagi, Lin?


"Iya nih, padahal kemarin sempet berenti."


"Hatcih...hatcih...hatcih.. issh"


Ralin menutup hidung dengan tisu menggunakan tangan kanan, dan memegang perutnya dengan tangan kiri. Pilek paginya kambuh setelah libur tiga hari. Pilek paginya mungkin biasa, yang jadi masalah luka bekas operasinya belum sembuh benar. Jadi kalau bersin pasti terasa nyeri. Sakitnya sampai ke ubun-ubun.


"Aduuuuuh gimana ni?" Siapa yang tidaknoanik jika menjadi Mega melihat temannya kesakitan seperti itu.


Masih di kamar yang sama, Ralin gagal pindah karena ruangan rumah sakit itu penuh.


"Ngga pa-pa ntar jug..hatcih..hatcih"


"Ngga apa-apa gimana, kalo jaitan lo kebuka gimana? Lo sampe meringis gitu, bisa apa sih gue huat bantuin lo?"


Pintu ruangan terbuka dan Yaris muncul di baliknya.


"Kenapa Ralin? Pilek lagi?" tanyanya langsung.


Jika ia tidak sakit, rasanya Ralin ingin lari melihat kemunculan Yaris. Astaga pria itu apa tidak punya pekerjaan, datang sepagi ini.


"Kok lo tau?" tukas Mega.


"Ya taulah."


"Pileknya biasa, tapi jahitannya masih basah, jadi kalo bersin otomatis juga sakit," jelas Mega.


"Biasanya pake apa di obatin?"

__ADS_1


"Gue udah coba ngasih minyak kayu putih, tapi ga mempan," jawab Mega yangblevel kepanikannya mulai naik.


"Hatcih...aauu," ini memalukan bagi Ralin, sungguh.


Yaris yang tadinya tenang ikut terlihat panik melihat Ralin kesakitan dan kini keringat dingin mengucur di pelipis Ralin.


"Gawat, terpaksa ni."


"Apanya yang gawat?" tanya Mega bingung.


"Ega lo keluar dulu ya!" Yaris menyeret Mega keluar menuju pintu, "lo nyari sarapan dulu kemana kek gitu, oke!" Yaris menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Mega sempat termangu dan kemudian menuruti perintah Yaris begitu saja. Apa yang di lakukan pria itu di balik pintu tidak membuatnya khawatir. Ia hakin Ralin aman bersama Yaris.


Yaris segera menghampiri dan duduk di pinggir brangkar. Melihat Ralin yang terus bersin sambil menahan sakit dia sungguh tak tega.


"Lin, maaf, lihat aku!"


Ralin yang tadinya tertunduk refleks mendongakkan kepalanya melihat Yaris.


"Sakit?"


Ralin hanya mengangguk lemah dengan mata merah sedikit berair.


Ketika Ralin akan bersin tiba-tiba...


Yaris mendaratkan bibirnya pada bibir Ralin, sontak saja Ralin terkejut dengan tindakan Yaris. Ia meronta, tapi kedua tangan Yaris menahan tengkuk dan tangannya. Yaris tidak memberi jeda, dilumatnya dengan lembut bibir merah muda Ralin, ia berontak lagi tapi Yaris menahannya, diraihnya tengkuk Ralin yang sempat melonggar untuk memperdalam ciuman mereka. Seketika itu juga Ralin merasa lemas, jantungnya berdegup kencang, ia hanya bisa menerima perlakuan Yaris. Tanpa ia sadari air matanya menetes. Ini yang pertama untuknya.


Setelah beberapa detik, Yaris melonggarkan aksinya, memberi ruang untuk Ralin agar bisa bernapas. Ralin hanya tertunduk, ada rasa sesak dan juga malu, tidak tahu apa yang haris dia perbuat. Yaris menyatukan keningnya dengan ujung kepala Ralin, napas mereka berburu. Menyadari air mata Ralin yang masih menetes, Yaris segera memeluknya, memberikan kehangatan dalam dada bidangnya.


"Maaf, aku takut tau nggak lihat kamu sakit kayak tadi." Tanpa melepaskan pelukannya Yaris terus berusaha menenangkan wanitanya itu. Yaris tahu Ralin seorang pemula, di lihat dari gerakan kaku dan tidak membakas ciumannya. Dia juga menebak dia kelaki pertama yang berani mencium gadis itu. Membayangkannya Yaris mesem-mesem sendiri di atas ouncak kepala Ralin.


"Aku kasih ijin kamu marah, tapi aku ngga ngasih kamu ijin merasakan sakit lagi. Aku tahu kamu belum percaya kalau aku tulus mencintai kamu, liat aja nanti aku bisa buktikan. Dan kamu harus ingat ketulusanku tidak akan bertahan satu bulan, dua bulan, satu atau dua tahun, tapi selamanya."


Ralin melepaskan pelukan Yaris dan menatap laki-laki yang memaksa menjadi pacarnya itu.


"Kamu jahat tau ga? Bisa berhenti di sini?" suaranya lemah, tapi keberaniannya meminta Yaris mundur menggebu-gebu di benaknya.


Satu kecupan ia berikan pada kening Ralin, "jangan harap!"


Baik, ini akan sulit.


Yaris terkekeh melihat wajah Ralin yang merona, "Emang, aku tu jahat. Kamu baru tahu? Awas ya kamu kalo lari dari aku, ga akan aku biarin. Ingat poin ke dua yang aku bilang kemarin, kamu ga punya pilihan selain aku."


"Emang harus? Banyak lo yang ngejar-ngejar aku," tantang Talin. Bukan gayanya, tapi demi agar pria itu berhenti, Ralin akan membuat mereka bersebrangan.


"Ga ada, suruh aja nyoba, besok pagi aku nikahin kamu disini," tegas Yaris tak kalah menantang. Ralin tidak tahu Yaris memehang semua kartu ASnya.


"Jangan ngetes, aku orangnya nekatan!"


"Berhenti Yaris, kamu tidak akan bertahan."


"Siapa kamu yang bisa nyuruh aku?"


"Siapa aku yang harus kamu kejar?"


Benar, ini tidak akan mudah.


"Kamu, wanita yang harus menjadi istri seorang Yaris Mawali Sa'id. Tidak ada laki-laki lain yang akan menjadi suami kamu, apapun alasan kamu untuk menolak aku sudah tahu, sampai alasan kamu yang paling rahasia aku sudah tau dan itu tidak akan membuatku mundur, aku udah bilang jangan ngetes, aku bisa lebih jahat kalau kamu nekat."


Sesaat Ralin tercengang mendengar kata-kata Yaris. Siapa pria ini, yang katanya tahu mengenai rahasianya. Ralin membuang muka, tidak tahu harus membalas apa.


"Aku..."


"Tugas kamu hanya menerima dan membuka hati kamu."


"Kamu gila, aku ga mau."


"Aku udah bilang kamu ga punya pilihan."


"Yaris, dengar...!"


"Kamu yang dengar, keluarga aku sudah setuju kalau itu yang kamu takutkan."


"Ga sesederhana itu."


Ternyata sulit sekali menghadapi seorang Ralin.


"Sederhana kalau kamu mau, kalau mau ribet juga aku ga masalah."


Pembicaraan macam apa ini?


Posisi mereka masih sama, Ralin yang duduk di atas tempat tidur, dan Yaris yang berdiri di dekatnya.


Ralin tidak tahu harus membalas apa lagi, oke, hari ini pengecualian, dia akan membiarkan Yaris tetap di kamar itu. Terus melawan rasanya percuma.


"Itu bawa apa?" tanya Ralin mengalihkan pembicaraan.


"Eh, hampir lupa, Mama kirim sarapan."


"Mama?" tanya Ralin bingung.

__ADS_1


"Iya Mama, Mama aku, calon mertua kamu."


"Hah? Kamu sudah cerita?"


"Udah, kamu ga dengar tadi aku bilang keluargaku sudah setuju, Papa juga sudah tau," jawab Yaris enteng.


"Kok cepet?"


Astaga pria ini, situasi macam apa yang Ralin hadapi sebenarnya?


"Emang kenapa? Mama malah ngebet nyuruh aku buru-buru lamar kamu, nanti siang dia mau dateng jenguk."


"Kamu tu ya, kok horor sih?"


"Horor gimana?" Yaris masa bodo, "nih kata Mama sarapannya harus habis, ga boleh sisa!" Yaris menyerahkan wadah yang di dalamnya berisi sandwich, buah kurama dan melon, plus susu uht rasa coklat sebagai menu sarapan Ralin.


"Hebat lo kamu, aku aja yang anaknya ga pernah di bikinin sarapan kayak gini."


Ralin tersenyum melihat menu sarapan yang ia terima. Bukan hanya senang tapi juga terharu. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa menikmati makanan yang di buat oleh tangan seorang ibu. Iya, Ralin rindu ibunya. Hidup di perantauan membuatnya lebih sering makan di restoran, kadang juga delivery, sesekali kalau sedang mood ia akan memasak sendiri. Seketika cairan bening itu melewati sudut matanya.


"Kamu kenapa nangis, ngga suka?"


"Bukan gitu, aku udah lama ga makan masakan rumah, jadi inget Mamak" posisi Ralin kini menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, "jangan diliatin, malu aku tu!"


Yaris menggeleng melihat tingkah kekasihnya dan kemudian mendekapnya lagi.


"Makanya nanti kalau aku lamar, kamu jangan nolak, kalau udah nikah kamu bisa masak sama Mama tiap hari!" ucapnya menghibur.


"Udah dong nangisnya!" lanjutnya lagi.


"Jangan janjiin aku apapun!"


"Kamu ga percaya?"


"Enggak."


"Astaga," kata Yaris tak percaya, "aku bisa panggil penghulu sekarang kalau kamu perlu bukti."


"Cukup, ga perlu segitunya, aku percaya."


Samar suara pintu di ketuk tapi tidak membuat Yaris bergerak.


Yaris beranjak membukakan pintu untuk seseorang di luar sana setelah mendengar suara ketukan.


"Hai!" sapa Mega cuek.


Mega masuk dengan membawa dua bungkus nasi uduk.


"Lo udah baikan, Lin? Kok bisa?"


"Bisalah!" jawab Yaris


Ralin hanya tersenyum mendengar jawaban Yaris.


"Syukur ni lo udah dateng, gue titip pacar gue, tugas lo ngawasin dia, sarapannya harus habis, ngerti lo?" titah Yaris pada Mega.


"Enggih Tuan Yaris, dasar diktator," umpat Mega.


Yaris hanya terkekeh kemudian menghampiri Ralin, "aku tinggal ngantor dulu ya, nanti balik lagi, jangan kecapekan kalo latihan jalan, oke!"


Yaris berlalu setelah mengecup mesra kening Ralin. Ralin menatap punggung Yaris hingga menghilang di balik pintu.


Yaris, laki-laki itu entah kenapa bisa dengan mudah memasuki kehidupan Ralin hanya dalam hitungan hari. Segala tingkahnya, sikapnya dan kata-katanya selalu bisa membuat Ralin merasa lebih bahagia. Ia yang dulu keukeuh menolak untuk menjalin segala jenis hubungan dengan makhluk berjenis laki-laki, tidak berlaku lagi untuk Yaris. Ia yang dulu sangat cuek dan judes jika bicara dengan pria, tidak ia terapkan saat bertemu Yaris bahkan saat pertama kali bertemu. Sekarang dengan mudahnya ia membuka hati dan menerima rasa cinta yang Yaris tawari.


Apa yang harus ia lakukan? Haruskah Ralin melanggar aturan yang telah ia buat sendiri?


***


Dengan sekeranjang parcel buah dan seikat bunga Daning menyusuri bangsal rumah sakit, ia sudah menemukan keberadaan wanita yang selama ini ia cari. Ada rasa bahagia yang menyinggapi karena akhirnya ia akan bertemu setelah empat hari dalam penantian.


Dengan langkah berat, Mega yang baru saja terbangun dari tidur siangnya beranjak membukakan pintu untuk seseorang di sana.


"Permisi, benar ini kamarnya Ralin?"


"Benar." Sambil mengucek-ngucek mata Mega mencoba menyempurnakn kesadarannya untuk mengenali tamu yang pertama kali ia lihat ini. "Maaf, sapa ya?"


"Saya?" mengembangkan senyum, "apa boleh saya masuk dulu?" pinta Daning.


"Oh, mari. Silakan duduk!" Mega menyadari ketidak beradaan Ralin di tempat tidur, mungkin di kamar mandi, batinnya dan segera ia menunggu temannya itu tepat di depan pintu kamar mandi, bersiap-siap seandainya Ralin butuh bantuan ketika berjalan, ah dia memang teman yang sigap. Ck.


"Tunggu sebentar, mungkin Ralin sedang di kamar mandi, duduk aja senyaman mungkin!"


"Iya, ga apa-apa, makasih."


Bosan menunggu, Mega mengetuk pintu yang memisahkannya dengan Ralin. Ralin yang saat itu telah selesai dengan ritualnya segera membuka pintu itu.


"Kenapa ga?" pertanyaan yang pertama Ralin ucapkan, melihat Mega yang tampak bingung.


"Ada yang dateng," jawabnya berbisik.


"Sia.... Daning?"

__ADS_1


__ADS_2