Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Ketemu Mantan


__ADS_3

"Mak, bikinin pelecing kangkung ya, buat sarapan!" pinta Ralin kepada Mamaknya. Hari ini dan besok adalah hari-hari terakhir Ralin berada di kampung halamannya. Ia ingin mencicipi segala makanan khas kampungnya yang sangat ia sukai. Kali ini pilihannya jatuh pada pelecing kangkung.


"Anak siapa ini? Sudah punya suami kok manja." Rani bukan seorang ibu yang kolot, dia terbiasa bercanda dengan anak-anaknya, tapi jika ada pembicaraan serius, beda kahi ceritanya.


"Kan jarang-jarang mak, kapan lagi coba Ralin makan pelecing." Ralin bermanja-manja ria dengan mamaknya yang kini sudah paruh baya. Masakan buatan mamaknya adalah yang terbaik di lidah Ralin.


"Apa sih pelecing kangkung?" tanya Yaris yang mendengar pembicaraan Ralin dan Mamaknya dari ruang tv.


"Kangkung rebus sayang, di siram bumbu tomat. Biasanya ada pelengkapnya juga kecambah, kelapa parut, kacang goreng, enak deh." jawab Ralin semangat.


"Pake sambel ya? Kalo gitu jangan terlalu pedes ya Mak, ntar Ralin kumat lagi," kata Yaris pada mertuanya.


"Lho, emangnya kamu kenapa Lin?"


"Ga apa-apa mak, Yaris aja tuh yang over protective" sewot Ralin, "pelecing kalo ga pedes kan ga seru, jangan di dengerin Mak!"


"Hush, sama suami kok ngelawan!" Mamak memihak Yaris, " ya sudah mamak bikin ga terlalu pedes, Ris. Cabenya tiga aja. Emang Ralin kenapa?" Tanya Rani penasaran.


"Pernah gangguan pencernaan Mak, sempat masuk rumah sakit tu, tapi ga berani ngasih tahu Mamak Bapak, tapi tenang, Yaris udah tangani!"


"Bohong." Ketus Ralin.


"Kamu beneran pernah sakit?" tanya Rani dengan nada khawatir.


"Udah ga apa-apa kok mak, ni buktinya Ralin di sini sama Mamak." Jawab Ralin dengan nada ditinggikan.


"Kamu tu ya, untung ketemu suami kayak Yaris, lain kali jaga kesehatan, urus suamimu dengan baik, jangan ngelawan, ingat pesan Mamak!"


"Iya iya iya, mentang-mentang punya menantu."


"Yes." ujar Yaris dengan kepalan tangan ke atas penuh kemenangan, senyumnya pun mengembang.


Ralin memberi tatapan tajam dan sinis pada suaminya, dalam hati ia berkata 'awas aja nanti malam aku liburkan.'


Para tamu undangan telah meninggalkan rumah Ralin, artinya rentetan acara perayaan pernikahannya telah usai. Ia bersyukur semua acara berjalan lancar tanpa hambatan. Kini ia tinggal bersiap-siap kembali ke Bandung dengan Yaris.


"Sayang kita lewat jalan yang ini ya, mau mampir di warung soto STMIK," pintanya di tengah perjalanannya kembali ke hotel.


"Emangnya belum kenyang?"


"Hmmm gimana ya, di bilang laper sih ga juga, tapi kenyang juga ga, perutku merindukan makanan yang dulu sering aku makan, aku punya list kuliner lho kalo kamu ga keberatan mau nganterin."


"Boleh, aku baru tahu ada sisi kamu yang kayak gini. Suka kulineran."


"Yang kamu tahu tentang aku tu cuma sebagian kecil aja, belum semua," ucap Ralin penuh percaya diri.


"Oke, kita sambil jalani aja," ujar Yaris santai.


"Ini yang mana warungnya?"


"Itu, yang cat biru, yang nyelit, tuh kan keliatan." Ralin berseru heboh, seoeeti baru menemukan benda kesayangannya yang hilang.


"Oooh kecil ya warungnya."

__ADS_1


"Kecil-kecil gitu banyak yang ngantriin tau. Yuk turun!"


Mereka berdua masuk ke warung soto kegemaran Ralin dan untungnya ada bangku yang kosong untuk mereka tempati.


"Pak, pesen dua ya."


"Siap mba!"


Sang pemilik warung segera meracik soto pesanan Ralin dengan cekatan. Tak lama pelayanpun mengantar pesanan Ralin ke meja mereka.


"Raliiin!!!"


Ralin yang hendak menyuap sotonya terhenti oleh seseorang yang memanggil namanya, gawatnya suara tersebut sangat akrab dan berasal dari masa lalunya.


"Iya bener Ralin, apa kabar? kamu ngilang aja, aku nyariin kamu lho setelah wisuda."


"Eh, Irul. Baik, baik. Ga juga, aku ke Bandung setelah wisuda." Ralin terlihat salah tingkah menjawab pertanyaan dari Irul, pria yang dulu pernah memacarinya ketika masa kuliah.


"Kenapa kamu ga bilang, kamu hindari aku, kamu minta putus secara sepihak, aku belum terima?"


Astaga, gawat.


"Hah?! bukan gitu, maaf deh," rasanya Ralinnjngin tenggelam ke dasar bumi saja, "eh...kenalin ini suami aku," kata Ralin akhirnya.


Yaris yang sedari tadi memasang mata elang memperhatikan sikap SKSD (sok kenal sok dekat, tapi emang dekat sih mungkin, dulu tapi) yang ditujukan laki-laki yang tidak ia kenal kepada istrinya.


"Kamu kapan nikah?" tanyanya Irul heran, lengkap dengan wajah takjub tak percaya.


"Kenalkan saya Yaris, suaminya Ralin." sambil mengulurkan tangan, mata elang Yaris tak lepas dari gerak gerik Irul.


"Irul." sambil membalas jabat tangan Yaris, Irul memperhatikan Yaris yang terlihat bukan seperti orang Lombok. 'Ternyata laki-laki ini yang berhasil mendapatkan Ralin.'


"Oya, kamu belum jawab, kamu kapan nikah?" tanyanya lagi.


"Baru lima hari kemarin Rul."


"Kamu kok ga ngundang aku?"


'Ga penting.' Yaris menjawab dalam hati.


"Sorry deh, soalnya mendadak, Bapak minta di segerakan."


"Ya udah, selamet deh kalo gitu. Semoga langgeng dan cepet dapet momongan."


Blush


Ucapan Irul menyentil sedikit perasaan Ralin, 'momongan' batinnya.


"Iya makasih."


"Aku duluan ya, Lin," tanpa memandang ke arah Yaris, Irul berlalu pergi. Sangat terlihat dari wajah dan tingkahnya bahwa ia kecewa, tepatnya mungkin patah hati.


Sebenarnya Yaris sudah tidak berselera menghabiskan soto yang ada di hadapannya karena melihat Irul yang kemungkinan adalah mantan pacar istrinya, yah daripada mubazir ia paksakan juga. Ralin juga tengah menghabiskan sisa soto di mangkuknya, dalam hati dia menguatkan diri tidak akan terpengaruh dengan kata momongan lagi.

__ADS_1


***


"Yang tadi siapa sih?" tanya Yaris sambil masang seatbelt di belakang setir.


"Mantan," jawab Ralin enteng.


"Ooo, trus?"


"Yakin mau denger?"


"Cerita, sekarang!" tegas Yaris tapi dengan nada santai.


"Hmmmm, oke, jangan baper ya awas!"


"Ih, apaan juga, baper, bukan gaya aku."


"Bener ya!" Ralin mulai menceritakan kisahnya dulu dengan Irul.


"Jadi dia mantan pacar aku...."


"Jangan di ulang-ulang bilang 'mantan.'" sela Yaris.


"Tu kaaaan, batal ni."


"Sorry, lanjut!"


"Kita ketemunya waktu aku PPL(Praktik Pekerja Lapangan) pas aku semester 7, dia dari Fakultas Teknik dan terpilih jadi ketua kelompok, kita praktiknya di Tanjung, Lombok Utara. Selama kurang lebih 6 bulan kita sama-sama, akhirnya dia nembak pas mau deket-deket selesai." Ralin menjeda ceritanya.


"Trus!"


"Ya aku terima pas hari itu, besoknya aku ngalamin kecelakaan sama Papa, begitu aku tahu keadaanku yang sebenarnya aku putusin dia, sampai akhirnya ketemu pas acara wisuda, dia masih ngarep, aku tolak tapi dia masih nyariin. Aku sempat sembunyi di villa Sembalun. Mungkin akhirnya dia bosan, ga nyari-nyari lagi. Satu tahun berikutnya baru aku ke Bandung, trus ketemu kamu deh." jelas Ralin.


"Oooh, jadi ga sampai kencan-kencanan?"


"Hah?!"


"Mantan kamu ada berapa?" cecar Yaris lagi.


"Hmmmm berapa ya satu, dua, tiga..." Ralin pura-pura mengingat sambil menghitung.


"Aiiiiih kamu tu, masa banyak sih?" gemas Yaris mencubit pipi sang istri


"Lagian kamu nanyanya aneh, yang mantan cuma dia doang, itupun ga sampe sehari. Bapak sama kak Arya superb protective sama aku, ini aja pas aku minta ke Bandung kak Arya bela-belain ikut, nyari kerja di sana, cuman beda lokasi kan sama aku tinggalnya."


"Jadi aku satu-satunya dong?"


"Hadeuh, mulai deh," Ralin memasang wajah malas "Kamu beneran sayang sama aku?" tanya Ralin ngetes.


"Mau bukti? Sini!" Yaris melepas tangannya dari setir dan pura-pura akan membuka seatbelt.


"Aduh, nggak, ga, ga, udah kamu nyetir aja, yang fokus! Aku percaya kok," tolak Ralin. Bakalan ribet kalo kejadian.


Sedangkan Yaris hanya tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2