
"Ralin udah bisa gendong anak bayi?" Sudah pasti orang yang menanyakan hal itu tidak mengenalnya. Ya, memang. Pertanyaan itu datang dari mertua Renata. Nenek dari bayi mungil yang Ralin gendong sekarang.
"Istri saya udah jago kok Tante." Yaris berinisiatif menjawab karena melihat Ralin yang tergugu mendengar pertanyaan yang di tujukan padanya.
"Memangnya sudah siap untuk merawat bayi?" Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Mendengar pertanyaan dengan nada meremehkan yang tersirat membuat hawa canggung menguasai ruangan itu.
Jelas terdengar kalau si empunya cucu itu tidak rela jika cucunya di bawa oleh orang lain.
"Sangat siap, Tante. Tante, saya akan menjaga cucu tante melebihi saya menjaga diri saya sendiri. Saya akan merawat dia sepenuh hati. Saya akan menjamin dia tidak akan kekurangan apapun dalam hidupnya. Tante bisa memegang janji saya." Jawaban Ralin membuat Ayu tersenyum bangga. Ayu lalu mengambil alih situasi, dia mendekati mertua keponakannya.
"Jeng Retno, Jeng ga perlu khawatir, saya sendiri yang akan mendampingi Ralin untuk merawat cucu Jeng Retno," Ayu kemudian mengalihkan perhatian Mertua Renata dengan membicarakan hal lain. Rasanya tidak mengenakkan jika semua orang harus terfokus pada menantu kesayangannya.
"Mama emang gitu, jangan di ambil hati! Maklum ya Lin, cucu pertama."
"Aku ngerti kok Mba."
Renata yang masih dalam masa pemulihan dan duduk bersandar di ranjang rumah sakit menatap haru pada kesungguhan Ralin yang ingin memiliki seorang anak. Ralin menyerahkan bayi mungil dalam gendongan ke pangkuan ibunya.
"Yang ini mirip Mba Rena, eh, udah di di siapin nama belum?" tanya Ralin antusias.
"Arya buat kamu, Azka buat aku."
"Arya?" tanya Ralin tak percaya, "kayak nama kakak aku dong."
"Ya udah ga apa-apa, biar namanya sama kayak Omnya. Aku minta tolong selipin nama Arya, silakan nanti kamu sama Yaris yang tambahin."
Ralin melihat pada Yaris yang masih bicara dengan suami Renata. Entah apa yang di bicarakan dua ayah muda itu, tampak serius hingga tidak memperhatikan sekitarnya
"Nanti aku tanya Yaris dulu ya Mba, kita belum siapin nama juga."
***
Yaris dan keluarganya telah membooking dua buah kamar hotel yang dekat dengan rumah sakit tempat Rena di rawat. Mereka kini telah istirahat di kamar masing-masing.
Ralin yang lebih dulu selesai membersihkan diri, duduk termenung di atas tempat tidur. Ia kembali memikirkan ucapan Retno yang meragukannya.
"Mikirin apa?" Ralin gelagapan mendengar suara Yaris yang tiba-tiba. Segitu ngelamunnya dia hingga tidak menyadari suaminya keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Enggak ada, kamu udah selesai?" saking takutnya Yaris bisa membaca pikirannya, Ralin sampai mengeluarkan pertanyaan konyol. Kalau Yaris belum selesai tentu dia belum akan keluar dari kamar mandi, "aku siapin baju dulu."
"Ga usah, duduk aja," Yaris menarik tangan Ralin hingga istrinya itu tidak jadi meninggalkan tempatnya, "biar aku tebak, kamu mikirin aku, pengen aku keluar dari kamar mandi ga pake baju, iya? Ayo ngaku!"
"Astaga, kamu tu ya," Ralin tanpa segan memberi pukulan bantal pada Yaris bertubi-tubi, "kontrol dikit dong."
Wadaw
"Udahan sayang," Ralin menurut dan menghentikan perbuatannya, "kamu lupa aku udah ngontrol dari pas kita masih di Lombok, nambah lagi sampai di sini, mau sepuluh hari lho aku nahan diri."
Mau tak mau Ralin tertawa cekikikan melihat wajah memelas suaminya. Yaris benar, mereka sudah selama itu tidak berhubungan intim, mengingatnya membuat Ralin merasa bersalah. Selama di Lombok, perhatian dan tenaga Ralin fokus untuk acara pernikahan Kakaknya, begitu kembali mereka sibuk dengan acara selamatan rumah baru, belum selesai selamatan mereka terbang lagi ke Palembang guna menjemput calon anak mereka.
Tapi bukan hubungan intim itu yang semata-mata tujuan Yaris menggoda Ralin. Yaris tahu istrinya memikirkan ucapan Retno tadi.
"Gitu dong ketawa, masa ada suaminya cakep begini di anggurin, ngelamun lagi, tragis banget sih akunya."
Ralin kembali di buat tertawa oleh ucapan konyol suaminya. Ada apa dengan Yaris hari ini?
"Aku minta maaf kalo gitu." Ucap Ralin tulus.
"Enggak lah, ngapain minta maaf, sini deh deketan, jangan jauh-jauh nanti aku rindu." Yaris tidak main-main, dia menarik tubuh Ralin, mengikis jarak, hingga tubuh mereka menempel tanpa batas.
"Pengen aja becandain kamu."
"Jadi kamu rindunya becanda?"Ralin sedikit mendongak agar bisa melihat wajah menyebalkan itu.
"Enggaklah, kalo rindu mah beneran.Aku cuma ga suka kamu sedih kayak tadi."
"Aku ga sedih," tapi Ralin mengeratkan pelukannya, pertanda apa yang dikatakan Yaris lebih benar dari jawabannya.
"Ucapan tante Retno jangan dipikirin terus, aku yakin kamu bisa jadi ibu yang baik buat anak kita, aku udah pernah lihat gimana hebatnya kamu ngerawat Dinar malam itu, aku bisa lihat tanpa melahirkan pun kamu bisa menjadi ibu yang handal, tante Retno belum tau aja gimana hebatnya kamu ngerawat anak."
"Aku takut, aku takut gagal, aku takut ga bisa buktikan sama tante Retno bisa jadi ibu yang baik buat Arya."
"Ga boleh pesimis gitu dong, masa nanti aku batal jadi hot papa, ga bisa pamer sama Rey dan Yundhi."
Ralin mencubit pelan pinggang Yaris. Bisa-bisanya suaminya itu memikirkan dirinya lebih dulu untuk pamer ala hot papa.
__ADS_1
"Kamu ga bakal sendiri ngerawat anak kita. Ada aku, Mama, Papa, Davi, Arya, semua bisa kamu andalkan, eh," Yaris tiba-tiba menyadari sesuatu, "tadi kamu maksudnya Arya siapa?"
"Arya, anak kita, kak Rena yang minta anaknya di kasih nama Arya."
"Kok Arya?"
"Emang kenapa?" Yaris gelagapan.
"Ya ga apa-apa, sih, tapi kenapa Arya gitu lho, kok jadi sama sama kak Arya, dia kan anak aku, maksudnya anak kita."
"Ciee yang cemburu gara-gara nama," gantian Ralin yang menggoda.
"Apaan, enggak cemburu."
"Kata kak Rena kita di suruh tambahin, mau kasih nama apa?"
"Apa ya, aku belum kepikiran."
"Ya udah, pikirin nanti!"
"Kenapa ga sekarang?" tanya Yaris, biasanya Ralin akan menyelesaikan segala permasalahan sebelum mereka tidur.
"Karena sekarang aku mau kasih kamu hadiah?"
"Aku ga butuh hadiah sayang, aku butuhnya kamu, lagian aku ga ulang tahun juga kan."
"Ya udah kalo ga mau, padahal tadi aku mau bilang siap di ajak lembur sampai pagi."
"Ya ga bisa, eh, apa tadi?" Yaris menarik mundur tubuh Ralin agar bisa melihat wajah istrinya, "coba kamu ulang!"
"Ga mau, tadi kan bilangnya kamu ga butuh hadiah."
"Yah, ga bisa gitu dong, sayang, tadi kamu bilang lembur, kalo hadiahnya itu aku mau, ah, ga bisa pokoknya, jadi ni."
"Enggak."
"Ih, ga bisa gitu dong, sini, aku bukain baju kamu."
__ADS_1
"Yariiiiiis!"