
BIL
"Nak Yaris, Bapak titip Ralin ya, tolong bimbing dia jadi istri yang baik, dia putri bapak satu-satunya, maaf kalau nanti sifatnya akan merepotkan, nanti nak Yaris akan tahu sendiri," pesan bapak Tamrin pada menantunya.
"Yaris akan ingat dan berusaha sebaik mungkin jadi suami yang baik untuk Ralin, Pak, do'akan kami!"
Setelah memberi wejangan pada sang mantu, pak Tamrin kini bergantian di peluk putrinya.
"Bapak!!! Ralin masih kangen, Bapak jaga kesehatan ya, jangan kerja terlalu keras lagi, jangan khawatirkan kami, bapak ga boleh sakit pas ga ada Ralin!"
"Hush, kok aneh sih kamu, Bapak sudah lepas beban yang lebih besar, yaitu kamu, sudah jangan manja-manjaan sama Bapak lagi, jaga suamimu, jangan sampai kamu pulang sendiri ke Lombok, ngerti kamu!"
"Bapak kok gitu sama anak sendiri?" sambil melepaskan pelukannya Ralin memasang wajah cemberutnya dengan bibir ditekuk.
"Sudah ya lepas pisahnya, nanti ketinggalan pesawat, kalian masuk gih!" sela mama Rani.
Ralin sebenarnya masih berat meninggalkan kampung halamannya, banyak rencana yang telah ia susun jika acara lamarannya telah dilaksanakan, tadinya, tapi rencana tinggal rencana, akhirnya lamaran sekaligus pernikahannya yang terjadi.
Ralin terus saja menoleh ke belakang, melambaikan tangan pada kedua orang tuanya, merasa kalau perpisahan kali ini akan berlangsung lama. Yaris yang melihat pipi sang istri mulai dibasahi air mata hanya bisa menggenggam tangannya memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja.
Di dalam pesawat Ralin masih menyimpan kesedihan. Wajahnya murung, tidak satupun kata yang keluar dari mulutnya, kepalanya hanya bersandar pada pundak sang suami sejak awal duduk di kursi penumpang.
"Mau makan ga, Yang?" tanya Yaris berusaha memancing sang istri bicara.
Ralin hanya menggeleng lemah.
"Minum?"
Lagi, hanya gelengan.
"Kok gitu sih?"
"Lagi ga pengen aja, kamu mau pesan? ya udah pesan aja."
"Aku mau pesan, tapi kamu juga makan!"
"Ga."
"Iya."
"Ngga mau."
"Harus mau!" Yaris keukeuh.
"Aku pindah nih." ancam Ralin sambil pura-pura berdiri.
"Oke, oke, ya udah ga jadi. Gitu aja ngambek."
"Makanya jangan paksa."
Beberapa menit suasana kembali hening, tapi dasar Yaris tidak bisa melihat istrinya hanya diam saja.
"Yang."
"Hemm."
"Kamu mau bulan madu ga?"
"Emang kamu ada waktu, besok aja udah mulai ngantor."
"Nanti kan bisa cari aku jadwalkan, kalau ga ada terlalu banyak kerjaan."
"Ya udah, nanti aku ngikut aja kapan kamu bisanya."
"Ada negara yang kamu pengen kunjungi ga?"
"Ada, banyak malah." Ralin mulai antusias.
"Oh ya, mana aja?"
"Mmm, pengen ke Korsel, soalnya aku suka liat-liat di drama yang ditonton sama Mega, kayaknya bagus, trus pengen ke Inggris juga, aku ngefans sama Kate Middleton, pengen ke Mesir juga liat Piramid, pengen keliling yurep juga, banyak deh pokoknya," beber Ralin.
"Trus maunya kemana kalo bulan madu. Pilih salah satu dong, ga mungkin semua dikunjungi sekaligus!"
"Ke Aceh aja."
__ADS_1
"Hah?!"
"Iya, kita ke Aceh aja!"
"Terus ngapai sebut-sebut nama negara tadi kalo mau ke Aceh?"
"Kan kamu yang nanyain negara yang mau aku kunjungi, gimana sih, masa lupa."
"Ya iya, tapi kan..."
"Pokoknya kalo kamu ada waktu buat bulan madu, kita ke Aceh, titik."
"Kenapa harus ke Aceh sih?"
"Ya aku pengen kesana aja, aku suka nonton Tari Zamannya di yutup, trus pengen makan mi aceh langsung dari asalnya, alamnya juga bagus."
"Banyak kali di Bandung mi acehnya."
"Tapi aku pengen makan langsung di daerahnya." Ralin tak mau kalah.
"Kan rasanya sama."
"Ya bedalah, emangnya kamu pernah rasain makan mi aceh di Aceh langsung?"
"Ya belum pernah juga sih."
"Nah lho, itu belum pernah."
"Ya ga harus ke Aceh juga kali kalo mau makan mi Aceh. Jaman sekarang gitu lhi, makan nasi padang juga bisa di Lombok, makan sushi ga perlu ke Jepang."
"Ya udah kalo ga mau, ga usah bulan madu, ato kamu bulan madu sendiri," ketus Ralin akhirnya. Padahal tadi Yaris sudah menawarkan bulan madi dengan perasaan bahagia.
"Jangan ngambek dong, masa ngambek lagi?"
"Tau ah."
"Iya, iya, kita ke Aceh. Nanti aku atur jadwal dulu, oke!" kali ini dengan nada rendah dan merayu Yarislah yang mengalah.
Tapi Ralin hanya diam, tidak mengiyakan, tidak juga bilang tidak. Ia hanya memandang ke luar jendela. Moodnya bertambah buruk, baru saja berpisah dengan orang tuanya yang masih ia rindukan, sekarang di tambah lagi dengan tingkah Yaris yang mengajaknya berdebat gegara hal receh seperti ini. Mana masih di pesawat lagi, kalo lagi di darat pasti dia lari.
"Masih marah ya?"
Ralin masih keukeuh tidak menjawab. Dia membelakangi sang suami dan pura-pura tidur. "Aku kan udah minta maaf, masa belum di maafin?"
Yaris menarik halus tubuh Ralin agar mereka saling berhadapan, segera di peluknya tubuh mungil itu untuk meredakan amarah nyai.
"Bulan depan kalau kerjaanku ga numpuk, kita bulan madu ke Aceh, ya!"
"Aku udah ga pengen, kita ga usah bulan madu sebenarnya juga ga apa-apa buat aku, toh ga ada hasilnya, tadi aku cuma emosi, baru pisah sama orang tua, kamu nambahin ngajak debat kayak tadi. Aku juga egois, ga nanya kamu maunya kemana." Ralin tertunduk merasa malu pada diri sendiri, belum bisa menghilangkan sifat moodynya yang hanya kumat kalau berurusan dengan orang yang dia sayang.
"Kok cepet sih berubahnya? Aku serius lho ngajak bulan madunya."
"Iya tahu, kita santai ajalah, ga usah buru-buru!"
"Beneran ya ga buru-buru, ga marah lagi?"
Begitulah Ralin, mudah marah, mudah juga redanya, tergantung masalahnya juga sih, kalau masalah sereceh ini buang-buang energi harus ngambek lama-lama, katanya.
"Iya, beneran. Yang!"
"Hmm."
"Sifatku jelek ya?"
"Nggak, siapa bilang?"
"Kalau aku emosi atau marah atau moodku ga bagus, keinginanku suka berubah kayak tadi, tapi biasanya cuma terjadi kalau aku marah sama kak Arya, Bapak sama Mamak. Mereka suka kerepotan ngadepin aku." Ralin menarik napas dalam, dan menghembuskannya. "Sekarang kok bisa kumatnya sama kamu, padahal aku udah pasang mode istri dewasa, mandiri, dan penyabar lho."
Mendengar pengakuan Ralin membuat Yaris terkekeh pelan.
"Kok ketawa sih?"
"Ga, aku inget pesen bapak waktu kita pamitan, beliau udah minta maaf duluan dan ngingetin kalau sifatmu akan merepotkan, sekarang aku baru ngerti maksudnya. Ga nyangka secepat ini prakteknya."
"Masa sih, Bapak bilang gitu?"
__ADS_1
"He-eh. Tapi aku seneng malah, kamu nunjukin sifat aslimu sama aku, artinya aku termasuk orang yang kamu sayang, bener ga?" Ralin mengangguk. "Kamu ga boleh nutupin apapun dari aku mulai sekarang dan seterusnya, paham?"
"Tapi aku kan malu, sama orang aku malah sikapnya dewasa masa sama kamu childish."
"Ya ga apa-apa, mau itu bagus ato jelek, semua aku suka tentang kamu."
"Gombal."
"Aku gombalnya sama istri, daripada gombalin cewek lain, kamu mau bolehin?"
"Ish, ya ga lah."
"Makanya, kita akan saling mengajari, saling membimbing, saling melengkapi dan saling mengingatkan, saling terbuka sampai tua, sampai cerita kita berakhir, kamu mau kan?"
"Iya, dan terima kasih udah nerima aku dengan segala kekuranganku."
Ralin mengeratkan pelukannya demi mendapat kehangatan sang suami, "Yang?!"
"Hmm."
"Kita ke Inggris aja ya, boleh?"
Tu kan labil.
"Oke, baiklah ratuku, kemanapun kamu mau kita akan pergi, tapi sebelum ke Inggris kita makan dulu, dari tadi siang kita belum makan apa-apa, ayo cepet!" dengan nada marah yang dibuat-buat Yaris meminta Ralin turun dari tempat tidur.
"Tapi aku belum masak lho."
"Kita makan di luar!"
***
Waktu menunjukkan pukul lima pagi, Ralin terbangun setelah alarm hp yang ia aktifkan bergetar dan membunyikan nada instrumen.
Yaris masih terlelap dengan tangan yang melingkar di atas tubuh Ralin. "Fungsi lain dari istri emang harus jadi guling ya, ck." Ralin memindahkan tangan sang suami sepelan mungkin agar Yaris tak terganggu. Ia pun memulai rutinitas pagi dengan melakukan kewajibannya terlebih dahulu, barulah setelah itu mengerjakan pekerjaan lain. Ia memeriksa sekeliling apartemen Yaris yang baru bisa ia lakukan pagi itu karena sibuk dengan kemarahannya ketika baru datang kemarin.
Apartemen Yaris terbilang luas dan rapi, terdapat dua kamar berbeda yaitu kamar utama, dia dan Yaris, satunya mungkin untuk tamu jika perlu menginap. Perabotannya pun tidak terlalu banyak, di ruang tengah terdapat sebuah tv dan tak jauh dari sana ada rak buku yang dengan design modern dan unik. "Gimana si, ga ada novelnya, ck, buku macam apa ini?" Ralin menggerutu setelah memeriksa rak buku yang membuatnya tertarik tadi, hanya buku tentang bisnis dan biografi yang ada disana. Tentu saja tidak sesuai dengan Ralin yang minat bacanya novel misteri dan romantis. "Tau ah, masak aja."
Ralin segera melangkah ke dapur, menuju kulkas dikejutkan dengan lembaran yang di tempel di lemari pendingin itu. "Kok ada foto aku ya, ini pas lagi gendong baby D, huuufft dasar paparazi amatir." kembali ditempelnya lembaran foto yang ternyata adalah dirinya. Dalam hati ia bersyukur Yaris benar-benar menyukainya dari awal, itu pemikirannya, padahal foto itu dulu dipakai Yaris untuk penyelidikan tentang dirinya.
"Ya Tuhan, mana isinya, apa yang mau di masak coba, ih." Wajah yang tadinya bersemu merah karena melihat foto sendiri, kini berubah masam. "Tau gini tadi malam minta bungkus juga." Ralin tentu kecewa melihat isi kulkas Yaris yang hanya air mineral saja. Ia segera beranjak ke kamar untuk membangunkan sang suami. "Bener-bener ni apartemen bikin gue labil." gerutunya.
"Yang, bangun dong!" Ralin mengguncangkan tubuh Yaris agar segera tersadar dari tidur.
"Mmm."
"Bangun cepetan, anterin aku ke pasar!"
"Masih gelap, nanti aja!"
"Iiih bangun ga ato aku siram, biar sekalian kamu sarapannya air doang!"
Yaris mengalah dan segera mengangkat tubuhnya dengan malas, 'Tuhan gini amat ya punya istri, selamat tinggal ritual bangun siang.' Sambil mengucek-ngucek matanya Yaris segera bangkit ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Awas lho dumelin aku dalam hati, kamu kualat."
"Ga lah, aku mana berani. Beware, istriku bisa telepati!"
Lagian kamu sih, masa kulkas isinya air doang, kamu tiap hari masaknya air berguru bang Opi kumis?"
"Ya kan dulu masih sendiri, mana sempet aku mikirin masak, biasanya juga makan di luar ato di rumah Mama."
"Paling ga ada roti kek ato sereal, susu deh paling banter."
"Udah dibilangin ga sempat ratuku, sekarang ada kamu jadi bisa ngisi kulkas sebanyak mungkin, mau beli apa aja terserah, nih!" Yaris menyerahkan kartu kredit berwarna gold kepada sang istri.
"Ngaco, deh mana ada pasar nerima kartu kredit."
"Masa sih, bukannya bank konven udah banyak masuk pasar?"
"Iya itu buat nabung dagangnya kali, ato buat cicilan pinjaman. Masa belanja 15 ribu harus gesek sana sini, yang ada tu ribet."
"Ya udah ntar ngambil di atm bawah, nih!" katanya lagi.
"Kamu yang ambilin, aku belum siap nerima kartu." kata Ralin sambil berlalu keluar begitu saja.
__ADS_1
Yaris tentu saja heran dengan tingkah istrinya yang menolak kartu yang ia sodorkan. Sampai disini ia memahami kalau sang istri bukan wanita matre seperti cewek kebanyakan yang ia kenal dulu semasa kuliah. Dulu para wanita dengan rajin mengejarnya, bukan hanya dirinya tapi mungkin lebih tertarik dengan isi dompetnya. Ralin jauh berbeda.