Aku Tanpa Rahim

Aku Tanpa Rahim
Menanti


__ADS_3

Sepanjang perjalanannya menuju villa, Ralin tak henti-hentinya menangis. Terpengaruh kata-kata Selly, Ralin merutuki dirinya seolah-olah pernikahannya dengan Yaris adalah kesalahan. Pernikahannya yang baru seumur jagung, pernikahan yang ia harapkan memberinya kebahagiaan sejati, haruskah berakhir karena baru menyadari bahwa kekurangannya membuat sebuah keluarga tidak mempunyai penerus.


Salahkah jika ia egois, menerima lamaran Yaris dulu, tanpa berpikir panjang, tanpa memikirkan resiko yang harus diterima keluarga Yaris, yang saat itu Ralin mungkin hanya memikirkan kebahagiaannya. Iya, dia ingin bahagia. Ia ingin seperti wanita lain, mempunyai sebuah keluarga kecil, menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu meski ia tak bisa melahirkan seorang anak. Bukankah mereka berencana mengadopsi anak?


Tapi entah kenapa kata-kata Selly begitu menancap di pikirannya. Anak adopsi tetap akan menjadi anak adopsi. Dia tidak berasal dari benih suaminya. Mengingat itu semua Ralin semakin terpuruk, tangisnya semakin sesenggukan. 'Bodoh, bodoh, kamu bodoh Ralin.'


Berulang kali dalam hati ia mengucapkan kata maaf pada Yaris, maaf karena tidak bisa menjadi istri yang sempurna. Tidak bisa memberinya penerus keluarga. Harusnya ia menyadarinya sedari dulu, sebelum ia melangkahkan kaki ke pelaminan.


"Pak, minta tolong berhenti di apotek sebentar ya!" ucap Ralin sambil sesenggukan. Ia berusaha keras agar tangisnya terhenti.


"Iya mba, di depan ada apotek kok." ujar sang sopir taksi online sambil menepikan mobil. "Mau beli obat apa mba? Biar saya yang turun." melihat Ralin yang masih menangis mungkin sopir itu merasa kasihan.


Ralin menarik napas panjang agar tangisnya reda, "makasih ya pak, minta tolong belikan saya obat maag." Ucap Ralin sambil menyerahkan selembar uang pada sopir itu. "Ada counter pulsa di sebelah apotek, minta tolong belikan saya nomor ponsel sekali pakai ya pak."


Sopir taksi itu menyanggupi dengan anggukan kepala.


Ralin merasa tidak nyaman di bagian perutnya. Mungkin karena belum makan apapun sejak tadi siang dan pengaruh stress, penyakit maagnya terasa kumat.


Hari telah beranjak petang ketika mobil yang di tumpangi Ralin tiba di depan gerbang villa milik keluarganya. Setelah membayar jasa taksi, Ralin bergegas masuk ke tempat yang semoga bisa memberinya sedikit ketenangan.


Memasuki halaman villa, Ralin di sambut oleh seorang wanita paruh baya yang sedang menyapu teras, Mbok Mirah, penjaga villa yang sudah dia anggap keluarga.


"Non Anin!!!"


Ralinpun mendekati si mbok yang segera melepas sapu yang ada di tangannya.


"Non, kenapa tidak kasih tahu mbok dulu kalau mau datang?"


Ralin tidak menjawab pertanyaan mbok Mirah, dia hanya menunduk sambil kembali menahan tangis. Sebenarnya ia malu, ini kali kedua kedatangannya ke villa dengan mata sembab berlinang setelah tiga tahun.


"Jangan beri tahu siapapun Anin di sini ya mbok, termasuk Mamak dan kak Arya. Mbok ngerti kan?"


Seakan tahu apa yang terjadi dengan putri majikannya, mbok Mirah mengangguk pelan dan segera merangkul Ralin masuk ke villa.


Tiga tahun lalu, dengan kondisi yang hampir mirip, mbok Mirah juga menyambut Ralin yang berurai air mata. Setiap ada masalah berat yang ia hadapi, Ralin selalu pergi ke villa, tanpa memberi tahu siapapun. Di sana ia merenung dan berpikir sambil menikmati keindahan alam bawah kaki gunung Rinjani dan membuat keputusan. Ia berharap keputusannya nanti adalah baik untuk dirinya maupun orang-orang di sekitarnya.


"Kamarnya udah siap non, Mbok buatkan makan malam dulu enggih."


"Engga usah mbok, Anin minta air putih aja, mau minum obat, setelah itu Anin mau langsung istirahat."


"Ya sudah kalau gitu, mbok ambilin dulu."


Setelah minum obat maag yang tadi ia beli, Ralin melangkahkan kaki ke dalam kamar yang biasa ia pakai jika menginap. Villa satu lantai itu memiliki tiga kamar. Satu untuk Ralin, kamar Arya, dan satu kamar untuk orangtuanya. Villa itu tidak terlalu besar, sengaja di design apik dan minimalis karena Ralin yang memintanya, dia juga meminta dibuatkan kolam renang di bagian belakang villa. Yang membuat Ralin senang, lokasi kolam renang menghubungkannya langsung dengan kebun strawberry miliknya dan kebun milik petani setempat.


Ralin segera merebahkan diri, merasa lelah dengan apa yang dialaminya hari ini. Ia ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak dari masalah yang ia ciptakan sendiri. Mungkin karena lelah menangis, Ralin terlelap begitu saja setelah kepalanya menyentuh bantal. Ia berdamai dengan mimpi dengan mata sembab yang masih mengalirkan air.


***


Pukul 10.30 malam


Pesawat yang ditumpangi Yaris mendarat mulus di landasan bandara. Sebuah mobil mini bus telah menunggunya bersama dua orang laki-laki berbadan kekar. Satu orang pegawainya, satu lagi guide yang akan menuntun mereka ke villa yang ditempati Ralin. Perjalanan mungkin akan menempuh waktu 3 jam, artinya Yaris akan sampai di villa tengah malam. Untuk bertemu Ralin, Yaris tidak ingin membuang-buang waktu lagi dengan menginap di hotel meski dia sudah membooking sebuah kamar. Ia ingin segera memastikan keberadaan sang istri meski nanti harus melewati perbukitan.


'Semoga ia benar-benar ada di sini.'


Tiga jam berlalu, akhinya Yaris tiba di depan gerbag villa yang saat itu bertepatan di buka oleh seorang laki-laki paruh baya. Yaris segera turun dari mobil.


"Permisi pak."


"Enggih, siapa ya?"


"Saya Yaris," Yaris memperkenalkan diri sambil menjabat tangan orang tua tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya kesini mau mencari Ralin, istri saya. Apa dia ada di dalam?"


Laki-laki tua itu tampak terkejut, ia terlihat meragukan kata-kata dari mulut Yaris. Untuk meyakinkan Bapak tersebut Yaris mengeluarkan ponselnya.


"Ini Ralin, istri saya." sambil menunjukkan gambar Ralin dan dirinya yang menjadi wallpapaer di ponselnya.


Laki-laki tersebut belum membuka suara.


"Kalau begitu biar saya telpon Mama Rani biar bapak yakin." ucap Yaris sambil mencari kontak sang mertua.


Melihat kesungguhan di wajah Yaris, laki-laki itupun percaya


"Anda benar suaminya non Anin?"


"I...iya." Yaris masih bingung karena ternyata di villa Ralin lebih dikenal dengan panggilan Anin.


"Non Anin ada di dalam, dia lagi sakit, tiba-tiba badannya panas. Ini saya mau carikan mantri puskesmas."


Mendengar Ralin dalam keadaan sakit rasa khawatirpun menyelimuti jiwa dan pikiran Yaris. Wajahnya tampak gusar karena mulai cemas.


"Mari saya antar ke dalam."


Bapak itupun membuka gerbang lebih lebar agar Yaris dan rombongannya bisa masuk. Setelah menutup kembali pintu gerbang, bapak itu menuntun Yaris masuk ke villa yang sebagian lampunya sudah di padamkan.


"Non Anin ada di kamar, di jaga sama istri saya," jelasnya. Bapak itupun membuka pintu kamar yang disana ada Ralin yang sedang teridur dengan handuk basah di dahinya, di sampingnya duduk mbok Mirah yang setia mengganti handuk untuk mengompres Ralin.


Mbok Mirah pun berdiri melihat kedatangan suaminya dengan laki-laki yang tidak ia kenal.


"Siapa ini pak?"


"Ini suaminya non Anin, dia kesini cariin Non."

__ADS_1


Yaris pun menjabat tangan mbok Mirah tapi dengan pandangan yang tak lepas dari Ralin.


"Saya mbok Mirah, ini suami saya, Diman. Kami yang jaga villa keluarga non Anin," terang mbok Mirah.


Yaris pun merespon hanya dengan anggukan kepala.


"Ralin...Anin istri saya kenapa?" tanya Yaris sedikit terbata.


"Tadi sore masih baik-baik saja, tapi menjelang malam, waktu saya mau bangunkan buat makan malam badannya sudah panas. Tadi sore pas sampai disini belum makan apa-apa, cuma minum obat ini." mbok Mirah menunjukkan obat maag yang diminum Ralin.


Yaris pun mengerti kalau sakit maag Ralin kambuh.


"Kalau begitu kami permisi dulu, saya carikan mantri biar non Anin diperiksa." ujar pak Diman.


"Tidak usah pak, Bapak sama Ibu istirahat saja! Ralin biar saya yang rawat."


Pasangan suami istri itu saling berpandangan mendengar perintah Yaris.


"Ga apa-apa, Anin biar saya yang jaga, tidak usah panggil mantri, mbok sama kake istirahat saja!"


Pasangan suami istri itupun menganggukkan kepala.


"Tuan mau makan dulu?" tawar mbok Mirah.


"Enggak mbok, saya sudah makan, kalau boleh saya minta kopi saja."


Pasangan itupun meninggalkan kamar Ralin.


Beberapa menit kemudian mbok Mirah datang dengan membawa secangkir kopi hitam.


"Terima kasih mbok."


"Sama-sama Tuan, jangan sungkan. Kami tinggal di rumah sebelah. Kalau ada apa-apa panggil saja!"


Mbok Mirah meninggalkan Yaris yang tak henti menatap Ralin yang tertidur lemah. Yaris mengambil posisi duduk disamping Ralin dan menggenggam tangan istrinya yang masih terasa hangat.


Dengan telaten Yaris mengusap pelipis Ralin yang terus mengeluarkan keringat dingin, sesekali ia menghanti handuk basah yang mengompres dahi Ralin.


Beberapa kali kening Ralin mengkerut dan mengigau memanggil namanya dan beberapa kali juga berucap 'maaf' dengan mata yang setia terpejam.


Sekarang Yaris bisa merasakan betapa besar beban mental yang dirasakan istrinya. Reyhan benar, Ralin sangat membutuhkan dukungannya. Cukup sekali ini, ia berjanji pada dirinya kejadian yang dialami istrinya tidak boleh terulang lagi.


'Bukankah bapak pernah berpesan kamu tidak boleh pulang ke Lombok sendirian, kenapa masih keras kepala, sekalipun kamu lari ke ujung dunia aku akan menemukanmu, kumohon segeralah sembuh!'


Ketika Yaris selesai mengganti kompres Ralin, ponselnya bergetar memunculkan sebuah panggilan.


"Tumben, kok malam-malam gini?"


Yarispun menggeser tanda hijau menerima panggilan itu.


"Hallo, kak Ren, kok tumben malam-malam gini?"


"Ralin ada, lagi istirahat lah, sapa suruh nelpon pagi buta."


"Udah dibilang ga kakak ga sanggup nunggu makanya bela-belain nelpon sekarang, untung kamu mau angkat."


"Emang ada apa sih?"


"Gini Ris, ...."


***


Waktu menunjukkan pukul 04.30, Yaris masih setia merawat Ralin yang belum juga sadar dari tidurnya. Meski beberapa kali diserang rasa kantuk berat, Yaris tidak ingin tertidur. Dia ingin menjadi orang pertama yang di lihat Ralin setelah membuka mata. Untungnya suhu badan Ralin sudah kembali normal.


Tak lama kemudian Ralin mulai sadar. Dirasakannya tangannya dalam genggaman seseorang. Yaris tersenyum lega, diciumnya punggung tangan Ralin dan ditempelkannya di pipi kirinya.


Ralin ingin melepaskan genggaman tangan Yaris tapi Yaris semakin mengeratkan genggamannya.


"Udah baikan?"


Ralin mengangguk pelan. Matanya kembali berair tanpa ia minta. Kini rasa bersalah semakin menghimpit dadanya.


"Dari mana Mas tahu aku disini?" tanya Ralin dengan suara lemah, dan untuk mengalihkan rasa sesaknya.


"Kamu mau lari sampai lubang semutpun aku akan cari, aku pernah bilang ga bisa jauh dari kamu, kamu lupa?"


Air mata Ralin semakin deras mengalir, kata-kata Selly kembali terngiang di telinganya.


"Maaf."


Tanpa Ralin ungkapkan pun Yaris tahu apa yang dipikirkan istrinya. Dia kini berpindah tidur di samping Ralin, ditariknya tubuh sang istri ke dalam pelukannya. Ralin menenggelamkan kepalanya dalam dada bidang Yaris dengan suara tangisnya.


"Dia ada benarnya, aku memang jahat?"


"Dia? Dia siapa? Siapa yang jahat?"


"Aku salah sudah terima lamaran kamu."


"Kamu masih suka dengar omongan orang?"


"Kamu bisa dapat wanita yang sempurna."


"Siapa yang mencari kesempurnaan? Ga ada yang pantas menyandang kata itu."


"Mas, aku serius."

__ADS_1


"Pernikahan ga sebecanda itu."


Ralin membisu, kemudian menyadari kesalahannya. Apa yang ia lakukan sangat meremehkan ikatan hubungan mereka.


"Nama yang ku sebut saat ijab qabul adalah Ralin Aninta Wahyu, bukan Selly atau nama wanita lain. Apapun kekurangan dan kelebihannya, keburukan dan kebaikannya aku menerimanya tanpa syarat, dan setelah janji itu tidak akan ada wanita lain, tidak akan ada perpisahan selain kematian."


"Apapun yang kamu dengar dari Selly ga ada pengaruhnya buat aku. Aku harap kamu juga begitu. Tugasmu hanya mendampingiku. Selamanya. Seperti ini. Dan jangan pergi lagi, Sayang!"


Mendengar kata-kata Yaris, perasaan Ralin mulai tenang dan hatinya menghangat.


"Maaf."


"Sshht, kamu udah terlalu sering minta maaf, sepanjang kamu tidur kamu udah minta maaf lebih dari dua puluh kali."


"Kok tahu aku ngomong maaf pas tidur, emang Mas ga tidur?" tanya Ralin sambil mendongakkan kepala.


Yarispun menggeleng. "Aku ga berani tidur, takut kamu pergi lagi pas aku ga sadar, makanya sekarang gantian, akunya tidur kamu yang jaga!"


Ralin terkekeh mendengar jawaban Yaris, tapi ia juga mengangguk karena kasian melihat wajah Yaris kusut dan mata yang sayu.


"Kamu hilang beberapa jam aja sukses bikin aku kacau tau ga. Entah gimana jadinya kalo aku ga bisa nemuin kamu."


"Kapan sampai sini?"


"Tengah malam kemarin, untung ketemu pak Diman di depan, dia mau nyariin kamu mantri."


Suasana yang tadinya sempat kaku, kini mulai mencair. Ralin kini menyadari bahwa mereka memang saling membutuhkan. Pria yang menjadi suaminya ini ternyata sangat luar biasa, memiliki hati uang begitu luas.


"Oooh, ketemu mantrinya?"


"Aku bilang ga usah, kamu sakit juga obatnya pasti aku."


"Hm ge er."


"Udah ga usah ngebantah, buktinya udah banyak!" Yaris menegaskan.


Mereka berdua pun akhirnya tertawa. Ralin tidak bisa menyangkal memang setiap kali ia sakit, Yaris pasti ada disisinya.


"Ya udah cepetan tidur, aku mau kompres mata ni, kayaknya bengkak banget deh."


"Ga usahlsh, biarin gitu aja, aku seneng liatnya, kamu kayak Cina lokal."


"Jahat ih, aku nangisin kamu lho ini."


"Ya udah makanya biarin aja, udah dibilangin aku seneng liatnya."


"Yariiiis!!!"


"O iya hampir lupa, aku mau bilang sesuatu, tapi janji kamu ga boleh teriak!"


"Ya tergantung, emang mau bilang apa?"


"Janji ya jangan teriak, jangan kaget!"


"Iya, apa makanya?" Ralin semakin penasaran.


"Empat bulan lagi kita bakal punya anak."


Ralin hampir mematung, matanya mencari kebenaran dalam mata Yaris karena tidak percaya pada apa yang ia dengar, mulutnya pun masih menganga, untungnya tak terlalu lebar. Apa maksudnya empat bulan lagi mereka akan memiliki anak sedang dia tidak sedang mengandung.


Dan iya, Ralin tidak menemukan bukti bahwa Yaris hanya mencandainya.


Yaris hanya tersenyum melihat reaksi sang istri.


"Kamu bilang apa barusan?" tanyanya dengan wajah tegang.


Yaris lalu membingkai wajah Ralin dengan kedua tangannya.


"Empat bulan lagi, kamu akan gendong anak kita." Ralin kembali membisu, ia tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.


Ralin segera memeluk Yaris, ingin memastikan apa yang ia dengar bukanlah omong kosong dan ia takut Yaris hanya main-main. Yarispunn membalas pelukan Ralin lebih erat.


"Kak Renata tadi malam telpon, dia tadinya mau kasih tau kamu langsung tapi kamu masih tidur. Dia lagi hamil, kemarin USG bulan kelima ternyata baru ketahuan anaknya kembar."


Ralin segera melepaskan pelukannya dan menatap wajah Yaris.


"Terus!"


"Dia ngasih kita adopsi salah satu bayi kembarnya, kamu mau?"


Ralinpun mengangguk cepat, ia kembali memeluk Yaris. Perasaan haru dan bahagia kompak menyerang hatinya diiringi tangis yang keluar yang tanpa ia pinta.


"Tapi kita jauh lho jemputnya ke Palembang."


"Aku ga masalah biarpun harus ke Papua." jawab Ralin yang masih diliputi rasa senang.


"Jadi kita batal ya ke Aceh."


Yaris mulai iseng.


"Ga masalah."


"Ke Inggris juga ga jadi lho."


"Ga apa-apa."

__ADS_1


"Yakin nih?"


"Jahilin aja terus, mumpung aku seneng, aku ga akan marah."


__ADS_2