Alice Revange

Alice Revange
Mati


__ADS_3

Brakkk


Pintu terbuka dengan kasar, terlihat dua orang berbeda jenis tengah memadu kasih dia atas ranjang tanpa menghiraukan pintu yang terbuka lebar.


Alice menatap nanar pemandangan didepannya, bagai mana bisa ada mahkluk di dunia ini yang tanpa rasa bersalah terus melanjutkan aktivitas terlarangnya saat sudah tertangkap basah.


"Dasar biadab, kalian tidak punya hati. Kalian iblis" Maki Alice, dadanya naik turun menahan sesak. Ia mengepalkan tangannya, sebisa mungkin agar tangisnya tak pecah di depan dua orang laknat itu.


Erick menghentikan aktivitasnya, lalu menatap sinis istrinya. "Kenapa? kau tidak suka?" ucap Erick santai tanpa rasa bersalah.


"Dengar, kalau kau tidak suka, kau tinggal pergi dari sini" Sambung Erick menunjuk pintu.


"Hahaha, pergi? kau pikir kau siapa? rumah ini milikku, dan perusahaan juga peninggalan orang tua ku. Jadi kau yang seharusnya pergi dari sini"


"Bukan aku yang lupa, tapi kau. Kau sudah mengganti rumah dan perusahaan atas nama ku, jadi kau yang seharusnya pergi"


"Erick... Erick, dulu aku memang mencintai pria bajingan seperti mu. Tapi aku tidak sebodoh yang kau pikirkan"


"Apa maksud mu?"


"Kita sudah hidup bersama selama dua tahun, dan selama itu juga kau belum bisa mengenali tanda tangan ku? Aku pemilik sah rumah dan perusahaan, jadi jika harus mengganti nama pemilik harus menggunakan tanda tangan asli ku"


"Keparat kau" geram Erick, ia mengambil vas bunga dan melemparkannya ke kepala Alice.


"Aku tidak akan mengampuni mu" ucap Erick dengan tatapan membunuh. Ia mengambil botol Wine di atas meja dan memukul kepala Alice hingga jatuh bersimpuh darah.


"Akhh" lirihnya hampir tak terdengar.


Dengan tatapan sayu ia melihat Erick membawa sebuah karung goni dan memasukkan tubuhnya ke dalam karung

__ADS_1


Ia merasakan tubuhnya melayang, sepertinya Erick mengangkat karung itu entah kemana. Alice mencoba memberontak, namun sia sia jangankan untuk melarikan diri, berteriak meminta pertolongan pun tak sanggup.


Byur...


Erick melempar kan karung goni itu ke sungai yang berada di bawah jembatan.


Erick tersenyum puas, akhirnya ia bisa menguasai harta istrinya tanpa ada penghalang lagi.


Alice merasakan tubuhnya terombang ambing terbawa air, bahkan tak jarang ia terbentur bebatuan tajam yang membuat lukanya semakin parah.


Alice menutup matanya, "Tuhan, jika memang ini takdirku, aku pasrah. Tapi tolong berikan aku kesempatan untuk membalaskan dendam ku pada kedua orang biadab itu, agar keadilan bisa ditegakkan"


Jdarrr


Terdengar suara petir menggelegar bersamaan dengan cahaya yang begitu menyilaukan.


Setelah cahaya itu menghilang Alice membuka matanya perlahan, dilihatnya ruangan serba putih dengan peralatan medis disekitarnya.


"Anda di rumah sakit nona" kata seseorang dari samping brankar.


"Ini minumannya nona" sambung wanita paruh baya itu menyerahkan segelas air putih pada Alice


Alice menerima air itu, Karena memang ia kehausan.


Alice menatap heran wanita disampingnya, "Kau memanggilku nona, apa aku mengenal mu?"


Wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya, apakah Lisa sedang bercanda? "Saya Hana, asisten pribadi anda selama anda hamil"


"Hamil?"

__ADS_1


"Iya, apakah anda lupa? Anda sudah hamil dua bulan. Dan mungkin tuan Keenan akan datang sebentar lagi"


"Keenan? siapa lagi orang itu" gumam Alice, ia benar benar tak habis pikir, kenapa dirinya di kelilingi orang orang asing.


Alice teringat saat Erick memukul kepalanya, bagai mana dengan wajahnya? Apakah sekarang wajahnya berubah menjadi jelek?


"Maaf Hana, apakah ada cermin"


Hana menyerahkan sebuah cermin, Alice membulatkan matanya. "Akhh..." Alice melemparkan cermin itu ke lantai sampai hancur berkeping-keping. Tidak, itu bukan wajahnya.


"ada apa nona Lisa?"


"Lisa?"


Hana mengangguk, "Iya Lisa, apa anda lupa nama anda?"


Ceklek


pintu terbuka, terlihat Seorang pria dengan setelan jas hitam berjalan ke arahnya.


Wanita paruh baya itu keluar setelah mendapatkan kode dari tuannya.


Pria itu duduk di kursi sebelah brankar nya, mengganti kan wanita paruh baya tadi yang entah siapa namanya.


"Kau sudah sadar?" tanya pria itu dingin. Alice tak menjawab, ia terus menatap pria disampingnya. Mencoba mengingat ingat siapa dia.


Pria itu mendekatkan wajahnya "Apa yang kau pikirkan? Apa kau ingin berusaha mencelakai anakku lagi?"


"Anak? apa maksudnya? Siapa pria ini? kenapa aku dituduh mencelakai anaknya?" ucap Lisa dalam hati.

__ADS_1


"Aku kira meskipun kau tak pernah memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri, setidaknya kau bisa menjadi ibu yang baik. Tapi ternyata aku salah. Kau iblis, kau tega mencelakai calon anakmu hanya demi kita cepat berpisah dan kau bisa bersatu dengan Kelvin" Maki pria itu.


Alice membulatkan matanya. Kenapa ia di tuduh mencelakai calon anaknya? Apa ia benar-benar hamil? Alice mencoba mengingat ingat semuanya.Tapi yang ia ingat hanya saat ia dilemparkan ke sungai oleh Erick. Tapi entah kenapa ia bisa disini, bersama orang orang asing yang mengatakan bahwa dirinya adalah Lisa? Atau jangan-jangan ia bertransmigrasi seperti di novel novel?


__ADS_2