
Keenan melangkahkan kakinya ke ruangan direktur rumah sakit yang mana rumah sakit ini berada di bawah kepemilikan Bach Company, milik papanya.
Keenan masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu, ternyata di dalam sudah ada dokter Alan yang menunggu kedatangan nya.
"Berikan hasil tes DNA nya" ucap Keenan to the poin begitu mendudukkan pantatnya di atas kursi.
"Aku tidak mengerti kenapa kau mengetes DNA Lisa dan orang tuanya. Apa kau mencurigai istrimu bukan anak kandung tuan Bobby?" Tanya Alan menyerahkan sebuah map berwarna coklat pada sahabatnya. Ia benar benar tidak tahu akan berita yang beredar lima tahun lalu.
Keenan tak menjawab pertanyaan sahabat lamanya. Ia segera merobek map coklat yang membungkus hasil tes DNA. Meski ia yakin jika hasilnya pasti negatif.
Keenan membelalakkan matanya, apa ia tidak salah lihat?
"Seperti yang kau perintahkan, aku menggunakan keamanan yang ketat. Jadi bisa dipastikan hasil tes DNA itu akurat" ucap Alan yang bisa membaca tatapan Keenan.
"kau yakin tidak ada yang berkhianat?" Tanya Keenan memastikan, meski ia tahu Alan tidak pernah asal memilih orang.
"Ya, mereka orang orang kepercayaan ku. Dan aku sendiri yang melakukan pengujian tes DNA itu"
Keenan terdiam, hasil tes DNA itu menyatakan kalau orang yang telah mengaku sebagai Lisa memanglah anak kandung Bobby meier.
Tapi bagaimana bisa? Setahunya Lisa tidak memiliki kembaran.
......................
"Mommy kita mau naik pesawat?" tanya Lion karena Lisa membawanya ke bandara.
"Iya sayang, kita akan pergi liburan" jawab Lisa berbohong.
__ADS_1
"Liburan? Dengan Daddy juga?"
Lisa terdiam, memikirkan kata kata yang enak didengar. Lion sudah terlanjur nyaman dengan Keenan, tak mudah memisahkannya.
"Mommy kenapa diam? Dimana Daddy?" tanya Lion menarik Hoodie yang dikenakan Lisa.
Lisa berjongkok, menyamakan tingginya dengan Lion.
"Lion, Daddy tidak ikut pergi" ucap Lisa pelan agar Lion bisa memahaminya.
"Tapi Lion juga ingin berlibur dengan Daddy"
"Begini Lion, kalau kita mau menang kita harus segera pergi"
"Menang?"
"Lion mau menang, ayo mommy kita pergi. Pasti Lion akan mendapat hadiah yang banyak jika Lion menang" ucap Lion menarik tangan mommy nya.
"Kita memang sedang bermain petak umpet sayang. Tapi tidak boleh berhenti" kata hati Lisa. Jujur ia lelah terus terusan lari dari keenan. Tapi mau bagaimana lagi? sembunyi adalah satu satunya cara agar Lion tetap bersamanya.
......................
Vivi, baby sitter yang ditugaskan untuk mengasuh Lion baru datang dari kamar mandi setelah setengah jam lamanya.
"Huh, untung saja tidak hilang" gumam Vivi merutuki kebodohannya yang meninggalkan tas dan ponselnya begitu saja.
"Kemana orang tadi? Dia pergi? Padahal anak anak baru keluar tiga puluh menit lagi" gumam Vivi melirik sekitar dengan heran.
__ADS_1
Ia kembali berbalas chat tanpa curiga, karena Lisa sudah menghapus pesannya, begitu bodyguard dan Keenan membacanya.
......................
Keenan kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.
Ia tak pergi ke kantor lagi, ia memilih ke rumah Lisa untuk meluruskan semua kejanggalan ini. Apa benar transmigrasi itu ada? Jika benar itu yang terjadi pada Lisa, maka ia tetap akan menerima wanita bernama Alice yang ada di tubuh Lisa. Karena sejujurnya ia lebih nyaman dengan wanita itu.
Lagi pula Vivi juga mengatakan bahwa Lion ingin jalan jalan dan mungkin pulang malam. Jadi tidak masalah jika ia berlama lama di rumah Lisa.
Begitu sampai di rumah Lisa ia bertemu dengan Brian, pria brengsek yang membuat keluarga hancur.
Berbeda dengan Keenan, Brian nampak biasa saja. Ia tak ingin menanggapi kehadiran Keenan, karena memang bukan Keenan tujuan ia datang kemari.
"Mau apa kau kemari" tanya Keenan datar, namun dari sorot matanya menandakan bahwa ia begitu membenci pria dihadapannya.
"Bukan urusanmu"Jawab Brian tak kalah dingin.
Keenan mengepalkan tangannya, tanpa aba aba ia memukul wajah tampan Brian membabi buta. Ia tak memberikan Brian kesempatan untuk melawan. Anggap saja itu hukuman atas perbuatan Brian yang telah membuatnya keluarganya hancur. Hingga putranya hidup sederhana di luar sana, tanpa ada kemewahan yang menemani.
Buk.... buk.... buk
Keenan tak memberikan ampun sedikitpun, ia menyulap wajah tampan Brian menjadi penuh lebam.
Brian tak diam saja, ia menendang perut Keenan saat pria itu lengah.
"Agrhh" Keenan merasakan tangan kirinya terkilir karena tak mampu menahan berat tubuhnya yang hendak mencium lantai.
__ADS_1
Brian mengambil pot bunga di dekatnya, pot itu berukuran sedang. memang tidak sanggup membuat Keenan mengembuskan napas terakhirnya. Tapi setidaknya pot itu bisa membuat skor menjadi satu sama.