
...Datanglah ke apartemen X kamar 327 Keenan sedang dalam bahaya...
Andrew menatap ponselnya, Lisa sudah membaca pesannya namun tak ada tanda kalau wanita itu sedang mengetik.
"Apa dia memang tidak perduli sedikitpun pada Keenan?"
"huh, seharusnya aku tidak perlu mengirimkan pesan itu. Karena percuma saja, Lisa tak akan perduli" lirih Andrew frustasi.
Ia sudah mengirimkan pesan pada Lisa, dan berharap tinggi kalau Lisa datang dan menghentikan rencana yang ia sendiri ikut andil. Tapi sepertinya pikiran nya terbalik, bukannya menghentikan Briana justru Lisa akan mengadukan pesan itu pada Kelvin.
"Maaf Keenan, untuk sekian kalinya Daddy menyakiti perasaan mu. Tapi Daddy ingin yang terbaik untuk mu" lirih Andrew menatap foto anak laki laki berumur tujuh tahun yang sedang ia gendong.
Andrew tersenyum kecut mengingat masa masa sebelum kejadian itu terjadi. Tawa putranya yang riang selalu menggema di setiap ruangan, ketika bocah itu mengatakan kalau ia ingin menjadi laki laki seperti dirinya yang bijak sana, perhatian, dan selalu ada untuk keluarganya.
Mengingat itu membuat hatinya semakin teriris. Mungkin sekarang Keenan menyesal telah mempunyai Daddy sepertinya. Yang menelantarkan bocah umur delapan tahun di negeri orang, hanya ditemani dua orang pekerja yang bertugas mengawal dan merawatnya. Membiarkannya kedinginan, menangis tiap malam berharap agar Daddynya datang menjemputnya. Andrew tahu semua itu, tapi ia tidak bisa menemuinya, karena wanita ular itu melarangnya untuk bertemu dengan Keenan.
Ditempat lain
Ting
__ADS_1
"Aku yakin, sekarang Briana sedang menikmati malamnya bersama Keenan" ucap Helen penuh keyakinan.
"Hm, tapi aku tidak mengerti! kenapa keponakan mommy itu bisa tergila gila pada Keenan? Sampai sampai tidak mau dibayar sepeserpun" tanya Kelvin tak habis pikir, meneguk segelas white wine.
"Yang kau maksud keponakan ku adalah sepupu mu! Apa kau lupa, dulu kau pernah mencobanya?"
"Hm, tapi aku lupa bagaimana rasanya"
"Kenapa tidak coba lagi saja?" goda Helen, kembali menuangkan red wine ke gelasnya.
"Aku tidak suka barang bekas, apa lagi bekas Keenan"
"Cukup mommy, sudah ku katakan, aku tidak mau mendengar hinaan yang keluar dari mulut mommy jika itu ditujukan pada Lisa"
"Ya ya ya, Lisa lain dari pada yang lain"
Kelvin tak menghiraukan ucapan mommy nya yang terdengar seperti racauan tak bertuan. Lebih baik ia melihat lihat baju pengantin di online shop, karena sebentar lagi ia akan menggantikan posisi Keenan sebagai suami Lisa. Dan untuk janin sialan itu, Kelvin sudah memiliki rencana tersendiri agar Lisa beranggapan seolah olah janinnya mati karena cacat, dan tak menyalahkan nya.
......................
__ADS_1
Keenan membuka matanya perlahan, terlihat sebuah ruangan bercat putih yang Dihias layaknya pengantin baru.
"akhh" Keenan memegang kepalanya yang terasa berat, mencoba mengingat ingat kejadian sebelumnya.
"Briana" Keenan ingat, bukankah waktu itu ia kesini menemui klien untuk membahas kerjasama? Dan ternya klien itu malah mencoba untuk menjebaknya.
"Astaga, apa yang aku lakukan?" sekuat tenaga Keenan berusaha mengingat ingat semuanya, merangkai setiap memori dan menjadikan satu. Namun tetap saja ia tak berhasil mengingat apapun, beberapa memori hilang setelah alkohol itu berkerja.
"Tidak, tidak mungkin aku melakukan hal bodoh itu dengan Briana" teriak Keenan frustasi, menarik rambutnya agar terlepas dari kulit kepala nya.
"Berisik, aku masih ngantuk" lirih seorang wanita dengan suara serak khas bangun tidur.
"Lisa"
"Hm, memangnya siapa? apa kau berharap wanita yang kau tiduri Briana?"
Keenan tak menjawab, jujur ia senang kalau yang ia genjot habis habisan ternyata istrinya. Tapi dari mana Lisa tahu kalau ia disini? Dimana Briana?
"Kau mencari wanita itu?"
__ADS_1
"Dia pergi, sepertinya dia malu bertemu denganmu" sambung Lisa yang dijawab anggukan oleh Keenan. Karena Keenan pikir, maksud Lisa adalah Briana malu karena ulah bejatnya ketahuan dan takut jika beritanya menyebar