Alice Revange

Alice Revange
Keponakan


__ADS_3

"Aku harus cepat" gumam Boy bergegas pergi.


Dia segera masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil silver yang tampak mengecil.


Ia yakin, Keenan bersama mereka, tak mungkin Keenan masih di dalam. Secara, tak ada tempat persembunyian yang tersisa, hampir semua barang yang tersisa tinggal kerangka tak berbentuk. Karena rumah mewah itu sudah puluhan tahun ditinggalkan. Mungkin dalam hitungan tahun lagi rumah ini akan rubuh dengan sendirinya. Tempatnya sedikit jauh dari pemukiman penduduk. Belum lagi kata angker telah melekat dalam kepercayaan masyarakat sekitar.


................


"Hua... Lepasin... Lion ngak mau disini. lion mau pulang huu" teriak Lion menangis sejadi jadinya.


"Diam, mau saya pukul' gertak pria berbadan tinggi tegap.


Bukannya diam, Lion justru semakin histeris, membuat pria bertato itu semakin naik pitam.


"tunggu" ucap pria berwajah menyeramkan lain menahan tangan temannya yang hendak memukul Lion.


"Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika dia kenapa Napa? Tuan hanya menyuruh kita menjaganya, kalau sesuatu terjadi pada bocah ini kau mau tanggung jawab?" sambungnya.


"Aku tidak suka anak kecil! suaranya membuatku semakin pusing saja"


"Kau pikir aku suka? Sudahlah, pakai jaz mu sebentar lagi tuan datang"


"hm"


beberapa saat kemudian...


"Huaa... Mommy.... Daddy lion mau pulang... Lion ngak suka disini"


"Aku bilang diam"


Ceklek....

__ADS_1


Pintu terbuka, terlihat pria ber Jaz hitam lengkap dengan topengnya berjalan mendekat. Pria itu memberikan kode agar anak buahnya keluar.


"sttt... Keponakan om kenapa menangis?" ucap pria bertopeng itu berjongkok di hadapan lion.


"Om siapa?'


"Lion tidak kenal om?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Lion.


"baiklah, bagaimana dengan sekarang? Apa lion mengenali om" tanyanya usai membuka topengnya.


Lion menggeleng, karena memang tidak mengenali wajah tampan di depannya.


"Hahaha, baiklah kalau lion tidak tahu. Om adalah saudara dari ayahmu, om adalah omnya Lion" ucap Kelvin.


"Benarkah? Apakah om datang untuk melepaskan Lion?" tanya Lion dengan mata berbinar.


Kelvin menggeleng, "lebih baik dari itu, om punya sesuatu untuk Lion"


Kelvin menepuk tangan, dan tak lama kemudian pintu kembali terbuka. terlihat dua orang bertopeng lainnya membawa seorang pria dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Daddy" teriak Lion.


"benar sekali, sekarang lion tidak sendirian. Ada Daddynya lion yang menemani lion disini'


"tapi kenapa Daddy pingsan?"


"Daddynya lion tidak pingsan, dia hanya sedang bobok siang. Mungkin sebentar lagi dia bangun"


"Lepasin lion, lion mau pulang sama Daddy"


"untuk apa pulang? Bukankah disini menyenangkan? Hm?'

__ADS_1


Lion menggeleng cepat " Tidak, lion tidak suka disini. Lion mau pulang"


"Daddy, lion mau pulang. Om jahat, om ngak ngebolehin lion pulang"


"Om bukan jahat, tapi lebih dari itu. bersenang senang lah keponakan om" ucap Kelvin sebelum pergi dari gudang pengap itu, diikuti kedua anak buahnya.


"Daddy bangun, Lion mau pulang, lion ngak suka disini. Disini jorok, lion ngak suka tikus. Huaaaa" teriak lion yang terus memanggil Daddynya yang masih tak sadarkan diri di kursi sebelah nya, dengan tali yang melilit tangan dan kakinya.


......................


"Dimana aku" ucap Lisa menatap sekeliling, hamparan tanah kosong tersaji di depan mata.


"Lisa" ucap Kelvin.


"Maaf, aku Alice. Kau salah orang"


"Aku mencintaimu, aku sudah bawakan mahar terindah untukmu"


"Maaf anda salah orang, saya bukan Lisa" ulangnya.


"Lihatlah di belakangmu"


Lisa membalikkan badan, terlihat dua buah peti mati dibelakangnya, dengan ukuran berbeda.


"ini..."


"Mahar untuk mu"


Dengan tangan gemetar Lisa membuka salah satu peti mati yang berukuran kecil.


Terlihat mayat anak kecil yang terbujur kaku di dalamnya, dengan darah yang menghiasi pelipisnya.

__ADS_1


"Lion" teriaknya histeris


__ADS_2