
Keenan menggelengkan kepalanya, lalu memakaikan kembali pakaian Lisa.
Mengingat kejadian tiga bulan yang lalu membuat nafsunya menghilang. Di Mana ia di jadikan kambing hitam, atas kejadian waktu itu.
Padahal kejadian waktu itu murni tanpa ketidak sengajaan, dimana keduanya sedang mabuk berat, dan melakukannya tanpa sadar.
Namun Lisa, yang merasa menjadi korban tak mau tinggal diam. Meskipun tak begitu jelas, ia ingat kalau ada sosok yang mengarahkannya menuju kamar Keenan.
Dan Lisa menyalahkan Keenan, karena kejadian waktu itu terjadi di mansion keluarga Bach dan hanya Keenan lah yang punya masalah padanya.
Sedangkan Keenan tak bisa mengelak, karena CCTV di seluruh ruangan, telah di hapus entah siapa pelakunya.
Meskipun sakit hati karena dipermainkan, tak pernah sedikitpun ia memiliki niatan bejat yang terbesit di otaknya. Namun sayang, tak ada yang memihak padanya. bahkan tuan Andrew, lebih membela Kelvin anak tirinya.
"Kau mau kemana" tanya Lisa, karena Keenan mengurungkan niatnya, dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Keenan tak menjawab, ia menghilang di balik pintu, meninggalkan tanda tanya di otak kecil lisa. jujur ini begitu menyakitkan, ia memiliki harta dan kekuasaan, tapi tidak punya siapa siapa untuk bersandar.
Ternyata hidup ini memang adil, mereka yang tak berhara diberikan kebahagiaan dan kasih sayang, sedangkan aku? huh lupakan!
Keenan menjatuhkan pantatnya di ranjang, dan menatap sekitar. terlihat berbagai bingkai figura yang terpasang di dinding.
Keenan tersenyum menatap wanita yang tengah tersenyum ke arah kamera, "Mommy, apa kau bisa mendengar ku? Aku lelah mommy, kenapa kau tidak membawaku saja?" lirihnya menatap salah satu figura yang berukuran paling besar.
__ADS_1
Keenan memejamkan matanya di kamar barunya, yang sudah ia tempati sejak tiga bulan yang lalu. karena Lisa begitu membencinya, bahkan tak Sudi satu kamar meski hubungan mereka sah suami istri.
Lisa termenung, "Apa aku melakukan kesalahan? tidak, sepertinya aku tidak mengatakan apapun? atau dia tersinggung gara gara aku sempat menolaknya?"
"Astaga, bagaimana sekarang? berpikir Alice, berpikir!"
"Em, sepertinya aku menemukan ide cemerlang" gumam Lisa tersenyum puas, karena otak kecilnya dapat diandalkan.
......................
Keenan membuka matanya, tubuhnya terasa berat seperti ada gajah yang menimpanya.
"Lisa kau..."
"Baiklah" Keenan bangkit dan mengambil bantalnya.
"Kau mau kemana?"
"Pindah, bukannya kau ingin tidur disini?" lirih Keenan, dengan suara khas bangun tidur.
"Tapi baby ingin di elus Daddy Nya" ucap Lisa menunjuk perutnya.
Keenan yang percaya kembali meletakkan bantal, dan memenuhi keinginan sang buah hati.
__ADS_1
Sedangkan Lisa yang sebenarnya hanya beralasan bahwa bayinya yang menginginkannya, malah termakan senjatanya.
"Hoam" Lisa menguap beberapa kali, namun sebisa mungkin ia menahan kantuknya.
"Sedangkan Keenan masih setia mengelus pelan purut Lisa, sebenarnya ia juga mengantuk. Tapi demi sang buah hati ia akan terjaga sampai Lisa benar benar tertidur.
Setelah memastikan Lisa benar benar terlelap, Keenan kembali mengambil bantalnya dan dengan perlahan melangkah keluar. Karena ia tak mau, jika ia berlama lama Lisa kembali dalam mode aslinya. dan sudah bisa dibayangkan apa yang akan terjadi!
......................
Lisa membuka matanya perlahan, cahaya matahari yang silau membuat tidurnya terganggu.
"Selamat pagi"
tak ada sahutan...
karena tak jawaban Lisa menoleh ke sampingnya, ternyata Keenan tidak ada di tempatnya.
"Kemana dia? apa dia sudah ke kantor? tapi ini baru pukul 05.30"
"bantalnya tidak ada, apa dia pindah?"
"sebenarnya apa salahku? kenapa dia seperti menghindar dari ku? apakah hanya karena masalah semalam? tapi rasanya tidak mungkin jika hanya karena itu"
__ADS_1