
"Maaf tuan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan"
"Katakan" jawab Keenan dingin
Boy memutar sebuah rekaman yang baru saja anak buahnya dapatkan dari rumah sakit Y.
Di rekaman itu terlihat Brian yang sedang mencuci otak Lisa, memutar balikkan fakta seolah olah keenan penjahat nya dan Brian lah penyelamat nya.
"Kau..." Keenan menggertak kan giginya, jadi selama ini ia tak dapat menemukan Lisa karena pria biadab itu menyembunyikan nya.
"Apa aku tidak salah dengar boy, dia mengatakan kalau Lisa tidak keguguran?"
"Tidak tuan, karena janin yang ada di rahim nona Lisa masih terselamatkan"
"Lalu kenapa selama ini kau menyembunyikan nya" bentak Keenan, rasa sedih dan amarah menyatu pada dirinya.
"Bukankah tuan sendiri yang mengatakan kalau tuan sudah tidak mau mendengar apapun tentang nona Lisa? Jadi saya mengurungkan niat saya, karena saya takut tuan marah dan memecat saya" jawab boy menundukkan kepalanya.
Keenan terdiam, jika ada orang yang bisa ia salah kan adalah dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia, yang tak mau mendengar penjelasan dari Lisa maupun boy.
"Baiklah, kalau begitu siapkan jet pribadi ku. Kita akan ke negara X sekarang"
"Baik tuan"
"Brian Dom, mari kita lihat. Siapa yang lebih unggul diantara kita" batin Keenan.
......................
__ADS_1
Angin sepoi-sepoi menerpa rambut Keenan hingga berantakan. Tidak, tidak jelek tapi justru membuat tampilannya semakin memukau. Dan siapa yang menyangka kalau pria yang sedang duduk seorang diri di bangku taman itu sudah pernah menikah dan punya anak.
"Aku harus mencari mu kemana lagi Lisa" gumam Keenan menatap foto Lisa di ponselnya. ia sudah dua Minggu di negara X, namun belum ada kabar mengenai Lisa.
Sebuah bola menggelinding tepat di kaki Keenan. Keenan memungut bola itu, menengok kiri kanan mencari tahu pemiliknya.
"Om itu milikku" ucap seorang bocah empat tahunan.
"iya sayang, ini aku kembalikan" jawab Keenan tanpa sadar menyebut bocah laki-laki dihadapannya sayang.
Entah mengapa ia seperti tidak asing dengan wajah bocah itu.
"boleh om tahu siapa namamu?"
"Lion"
"Lion, disini kau rupanya. Ayo pulang, mommy harus masak untuk makan malam"
"Oke mommy" jawab lion berlari kearah mommy nya.
Lisa Membulatkan matanya, orang yang selama ini ia hindari ada didepan matanya.
"Lisa" gumam Keenan.
"ayo sayang" Lisa mengangkat Lion ke gendongannya, lalu pergi dengan langkah yang terburu buru.
"Lisa" teriak keenan, ia buru buru mengejar Lisa yang lari terbirit-birit seperti ketakutan.
__ADS_1
"Astaga, dimana dia" Keenan menengok ke kiri-kanan, ia kehilangan jejak Lisa.
"Mommy ice cream"
Lisa menempelkan telunjuknya di bibir lion, agar bocah empat tahun itu diam.
Melihat tukang ice cream keliling itu pergi Lion menangis kencang "Hua, mommy Lion mau ice cream itu" teriak lion membuat Keenan yang tadinya hendak pergi mengurungkan niatnya.
"Stt, diamlah"
"Tidak, aku tidak mau diam aku mau ice cream" seru Lion berteriak semakin kencang.
"Lisa, Lion" ucap Keenan, menemukan keberadaan Lisa yang bersembunyi di balik deretan tong sampah.
"Lisa tunggu" ucap Keenan menahan lengan Lisa yang hendak pergi.
"Lepaskan, aku tidak punya masalah dengan mu. Jadi tolong lepaskan tanganku atau aku teriak sekarang juga"
"Tidak, aku mohon dengarkan aku. Aku..."
"Tol..." Keenan terpaksa memukul tengkuk Lisa, dan menahan tubuh wanita itu sebelum jatuh mencium tanah.
"Mommy, apa yang kau lakukan pada mommy ku" Lion memukul mukul kaki Keenan.
Lion membulatkan matanya, ia baru sadar kalau bocah dihadapannya sangat mirip dengannya. Tapi ia tidak punya waktu untuk mengagumi itu, ia harus membawa Lisa dan Lion sebelum orang orang melihatnya.
Mungkin caranya salah, tapi hanya dengan ini Lisa berada di genggamannya.
__ADS_1