
"Sabar lah Kelvin, mommy sedang menghubungi nya"
"Dari tadi mommy mengatakan itu, tapi kapan aku mendapatkan informasinya?"
"Ada apa dengan dia? Kenapa ponselnya tidak bisa dihubungi?" geram Helen meremas IP nya.
"Memangnya mommy mendapatkan orang itu dari mana?"
"Briana yang merekomendasikan nya" jawab helen singkat, terus menghubungi nomor penguntit yang ia suruh untuk mengawasi Lisa dari kejauhan.
Sedangkan Kelvin yang sudah tidak sabar buru buru menghubungi kontak Briana. Namun sialnya tak ada jawaban sama sekali, ponsel wanita itu tidak bisa dihubungi. Begitu juga dengan kembarannya Brian.
"Ponsel twins sialan itu tidak bisa dihubungi, apa yang terjadi dengan mereka? Apa UFO sudah menabrak kepalanya?"
Helen menggigit jarinya, "Atau jangan-jangan...."
"Katakan mommy, jangan membuat ku berpikir keras!"
Helen terdiam, ia tidak bisa melanjutkan kata katanya. Betapa bodohnya ia menawari Briana kerja sama.
Ia pikir hubungan antara Tante dan ponakan Briana bisa ia percayai. Tapi ia melupakan satu hal, bukankah dulu Brian juga menginginkan Lisa?
Tapi setelah diumumkannya acara pertunangan Lisa dan kelvin Brian langsung meninggalkan negeri ini, selama beberapa bulan. Dan kini setelah ia menawari Briana kerja sama, Brian kembali muncul sebagai pemeran utama nya!
Helen menepuk jidatnya, kenapa ia bisa melupakan hal sebesar ini! Sudah pasti Brian akan mengambil alih rencana dengan membawa lari Lisa menggunakan rencana yang sudah susah payah ia susun. Ini sama saja memberikan hewan makanan, tapi majikannya kelaparan.
Kelvin yang melihat mommy nya hanya diam saja, tak bisa menahan rasa ingin tahunya lebih lama. "Mommy katakan, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kita ditipu Kelvin" lirih Helen membuat mata Kelvin seketika membulat.
"Apa maksud mommy? Ditipu bagaimana? rencana kita berhasilkan? Katakan mommy" tanya Kelvin mengguncang tubuh mommy nya.
......................
__ADS_1
Lima tahun kemudian
Seperti biasa Keenan melangkahkan kakinya menuju lift, dengan langkah berwibawa untuk menyambut berkas berkas yang harus segera ia kerjakan.
Kini Keenan Fashion yang tadinya adalah perusahaan kecil berlantai tiga telah menjelma menjadi perusahaan raksasa yang menjulang langit.
Bukan hanya itu, bahkan omset perusahaannya telah mengalahkan perusahaan Bach Company yang tadinya merupakan perusahaan terbesar sepanjang sejarah di negeri ini.
Itu semua berkat kerja keras Keenan, ia yakin ia bisa menemukan Lisa suatu hari nanti menggunakan kekuasaannya.
Ya selama lima tahun terakhir, Keenan selalu mencari keberadaan Lisa. Karena tak bisa dipungkiri, sebenci apapun, ia tetap tidak akan bisa hidup tanpa wanita itu.
Kalau tahu begini jadinya, lebih baik dulu ia tidak mencerminkan Lisa. Ia pikir selamanya ia akan membenci Lisa karena telah membunuh calon anaknya, ternyata ia salah. Bukannya benci, rindu terus datang menyiksanya.
"Selamat pagi tuan, seperti biasa saya ingin menyampaikan agenda hari ini" sapa Boy seperti biasanya.
"Jam sembilan ada meeting dengan klien dari luar negeri di restoran A, jam satu ada pertemuan dengan CEO CC Design di kantornya, jam empat...."
Keenan mengangkat tangannya, membuat boy tidak melanjutkan perkataannya. "Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Maksud anda pencarian influencer? Saya sudah mencarinya, mungkin saat ini manager pemasaran sedang menyeleksinya"
"Bukan itu maksudku, aku ingin tahu mengenai Lisa" lirih Keenan nyaris tak terdengar.
"Maaf tuan, sampai sekarang belum ada kabar mengenai nona Lisa" jawab boy tertunduk.
Keenan menghela napas kasar, "Dimana kamu sayang? Kembalilah, aku janji akan memaafkan mu" ucap Keenan dalam hati. Tanpa sadar Keenan menetaskan air mata, membuat boy ikut teriris akan keadaan tuannya.
"Apa aku katakan saja, kalau sebenarnya anak tuan muda masih hidup" batin boy.
"Maaf tuan, sebenarnya...."
Ucapan boy terputus, kala ponsel Keenan berbunyi.
__ADS_1
"Daddy" Keenan mematikan sambungan telponnya, rasanya malas untuk bicara pada orang asing.
Tapi bukannya berhenti, telpon itu justru terus berbunyi.
Dengan sangat terpaksa akhirnya Keenan mengangkat panggilan itu, meski rasanya begitu malas berbicara dengannya.
"Halo"
......................
"Keenan" lirih Andrew, ia bahagia akhirnya ia bisa bertemu dengan putranya. Sekarang putranya sudah menjadi salah satu miliarder terkaya di dunia.
Sekarang Ia tidak perlu takut, jika dua manusia iblis itu membongkar kejahatan pada seluruh dunia. Karena ia yakin, Keenan bisa mengatasi jika perusahaannya kena imbas atas berita buruk mengenai Daddynya. Lagi pula umurnya juga tidak panjang lagi, tidak masalah jika ia terbujur kaku di jalanan.
"Hm, ada apa kau menyuruhku datang kesini?" tanya Keenan dingin langsung pada intinya.
"Aku hanya ingin berbincang bincang dengan mu" lirih Andrew nyaris tak terdengar.
Keenan menyipitkan matanya, "Maaf, tapi saya begitu sibuk. Saya tidak punya waktu untuk sekedar berbincang mengenai masalah yang tidak perlu dibahas" ucap Keenan bangkit dari kursinya.
"Tunggu" ucap Andrew membuat langkah keenan terhenti.
"Ada yang ingin aku katakan padamu"
Keenan membalikkan badan, "baiklah, tapi jika yang anda bahas itu tidak penting, lebih baik urungkan niat anda" jawab Keenan mengurungkan niatnya untuk pergi.
Andrew tersenyum kecut, ini semua memang pantas ia dapatkan. Selama dua puluh lima tahun ia tidak pernah menemui putranya. Mengabaikannya, tak pernah mencurahkan sedikit pun kasih sayang pada putranya.
Bahkan berhubungan melalui jarak jauh pun dapat dihitung menggunakan jari.
Keenan masih punya ayah, tapi berasa yatim piatu. Ayahnya tak pernah ada disaat ia sedih, bahkan tak pernah sedikitpun mengucapkan kata selamat atas prestasinya di sekolah.
Setiap mendapatkan nilai A+ atau prestasi lainnya, ia selalu memosting nya di insta story berharap agar Daddynya menghubunginya dan mengatakan kalimat pujian padanya.
__ADS_1
Tapi nyatanya hingga kini kalimat itu tak pernah ia dengar, meski saat ini ia telah menjadi salah satu pengusaha terkemuka di dunia.