Alice Revange

Alice Revange
Bandara


__ADS_3

"Tolong jangan bawa putraku" ucap Lisa memohon, membuat langkah keenan terhenti.


"Tapi dia lebih memilih tinggal bersama ku"


"Tapi aku tidak punya Siapa siapa lagi selain Lion"


"Kau masih punya keluarga Lisa Meier" ucap Keenan menekan kata kata terakhirnya.


Lisa terdiam, ia tak tahu apapun mengenai keluarga pemilik tubuh ini. Yang ia tahu dia hanyalah sebatang kara, dan terpaksa tinggal di panti asuhan karena tidak ada yang merawatnya. Baru setelah dewasa ia kembali memasuki kerajaan bisnis keluarga Alvarez yang selama belasan tahun dipegang orang luar. Namun sialnya, semua orang yang ada didekatnya adalah penjilat yang menyamar menjadi seekor kucing.


"Wajahmu, tubuhmu, dan status mu adalah Lisa Meier! Wanita yang begitu aku cintai. meski aku tahu yang ada dihadapan ku bukanlah Lisa yang sama dengan Lisa yang ada dulu pernah mengisi hatiku. Tapi nyatanya hatiku tak mau berpaling darimu. Yang aku tahu kau adalah wanita yang aku cintai. Ibu dari anakku"


Lisa terdiam, apa maksud perkataan Keenan barusan? Apa itu artinya Keenan...


Keenan melangkahkan kakinya mendekat, mengikis jarak yang ada dan...


Cup


Sebuah benda kenyal mendarat di kening Lisa, "aku tak perduli kau siapa, yang jelas aku mencintaimu. Hanya kamu yang aku mau" hembusan napas hangat ditelinga Lisa membuatnya meremang.


Keenan kembali mengec*um bibir Lisa, tak lupa memberikan ******* kecil disana.


"Stttt" tanpa sadar Lisa membuka bibirnya, membiarkan Keenan menyapu setiap kehangatan di mulutnya.


Entah setan apa yang merasukinya, yang jelas kini Keenan tengah mengimbangi permainan karena Lisa mulai menunjukkan perlawanan.


Keenan menekan tengkuk Lisa, biar bagaimanapun ia harus menang dalam perang lidah ini.


Namun sedetik kemudian Lisa mendorong bahu Keenan, untuk menciptakan jarak diantara keduanya.


"Why?"


"Lion" ucap Lisa tanpa menghiraukan kebingungan Keenan.

__ADS_1


Keenan menoleh kebelakang, terlihat bocah laki laki tengah berdiri di ambang pintu menatap orang tuanya dengan mata terbuka lebar. "Ups, lion ngak lihat" ucap lion menutupi wajahnya dengan kedua tangan mungilnya.


"Maaf tuan, tadi tuan muda lion lari kesini tanpa izin. Padahal saya sudah..."


"Bawa Lion ke bandara, aku dan Lisa akan segera menyusul"


"Baik tuan"


Keenan menghela napas kasar, kenapa lion datang di saat yang tidak tepat?


Lisa membuang muka begitu Keenan menatapnya, wajahnya merah padam. Bagaimana bisa ia membalas ciuman Keenan yang begitu... Ah sudahlah.


"Wajahmu terlihat sangat menggemaskan saat malu' bisik keenan yang membuat Lisa seketika kelabakan.


"Emm... Malu? memangnya siapa yang malu?" tanya Lisa berusaha terlihat biasa biasa saja.


"Kau"


Lisa menggeleng, "Aku tidak malu'


"Emm... Ya, untuk apa juga aku malu?'


Keenan menarik sudut bibirnya, sudah ketahuan masih saja bersembunyi di balik telunjuk. Rasanya ingin ia lahap bibir pink itu.


Keenan mendekatkan wajahnya, namun Lisa keburu lari ke kamar.


"Kau ingin bermain kucing kucingan denganku? Baiklah" gumam keenan, mengejar langkah Lisa.


......................


"Huh, mommy dan Daddy mana tante" tanya Lion keheranan, karena kini ia hanya duduk dengan baby sitter dan para bodyguard di kursi tunggu bandara.


"Daddy dan mommy tuan muda sedang diperjalanan, mungkin sebentar lagi datang.

__ADS_1


"Apa tuan muda ingin sesuatu?" sambung Vivi.


Lion menggeleng, "Lion mau ke kamar mandi"


"Baiklah, kalau begitu biar saya antar" ucap Vivi mengantarkan Lion ke kamar mandi, diikuti dua body guard dibelakangnya.


"Saya di luar, kalau ada apa apa bilang aja ke Saya" ucap Vivi begitu sampai di kamar mandi.


"No, lion sudah besar. Lion bisa melakukan semuanya sendiri. Harusnya Tante Vivi yang minta bantuan pada Lion" ucap bocah laki laki itu yang membuat perut Vivi tergelitik, bagaimana bisa bocah empat tahun menyelamatkannya.


"Oke" ucap Vivi pada akhirnya.


Vivi melangkahkan kakinya beberapa langkah menjauh, tanpa mengalihkan pandanganya dari kamar mandi. Karena biar bagaimanapun ini adalah kamar mandi pria. Namun ia harus tetap berjaga jaga, jangan sampai ia kecolongan seperti tempo hari.


Buk.... Buk... Bukkkk...


Terdengar suara keributan yang tak jauh dari tempatnya berdiri, dan entah siapa yang terlibat. Ia hanya bisa berandai-andai semoga orang itu tidak menyerang kedua bodyguard tadi.


"Lion, apakah sudah selesai?" tanya Vivi cemas, pikirannya kemana mana, ia takut kalau keributan itu terjadi karena mengincar tuan mudanya.


"Lion sudah selesai" ucap Lion membuka pintu kamar mandi umum.


"Baguslah, ayo cepat kita pergi"


"Om" ucap Lion tak menghiraukan ucapan Vivi barusan.


Vivi yang menyadari ada orang dibelakangnya membalikkan badan dan....


Bukk...


Vivi jatuh tersungkur kelantai, tak sadarkan diri.


"Tante Vivi, kenapa om menyakiti Tante vivi' tanya Lion dengan tatapan marah.

__ADS_1


Orang itu tak menjawab, ia berjalan mendekat dan menggendong lion ala karung, sebelum keamanan datang.


"Om mau bawa Lion kemana? Lion ngak mau ikut om! Lion mau nolongin Tante Vivi" teriak Lion meronta ronta agar dilepaskan. Namun sayangnya tenaganya tak cukup untuk membuat orang bertubuh tinggi tegap ini menyerah. tidak ada orang di dekat sini, karena orang orang telah disingkirkan dari area ini.


__ADS_2