
Brakkk....
Keenan membuka pintu Dengan kasar, ia menatap sekitar. Terlihat ruangan kotor yang sudah lama terbengkalai. kosong tidak ada siapa siapa disini.
"Dimana kau, cepat kembalikan putraku" pekik keenan.
Settttttt....
Sebuah pisau lempar menancap pada sofa usang di belakangnya.
Keenan mencabut pisau yang menancap di sofa yang hampir tak berbentuk, ternyata gagang pisau itu terbalut kain putih.
..."Di atas"...
dua kata yang tercetak di atas kain beraroma darah.
Keenan bergegas menaiki tangga yang pembatasnya sudah usang.
Sesampainya di lantai atas, ia melihat pria bertopeng tengah duduk disebuah kursi tua dengan dengan menyilangkan kakinya.
"Dimana putraku?"
"Tidak perlu terburu-buru, masih ada banyak waktu untuk bersenang senang"
"Apa mau mu?" tanya Keenan memicingkan mata.
"Mau ku... Kematianmu" ucap pria itu bangkit dari duduknya.
Pria bertopeng itu menepukkan kedua tangannya
Brakkkkk
__ADS_1
Keenan membalikkan badan.
Pintu tertutup rapat.
Dengan cepat pria misterius itu mengambil pisau dari sakunya dan mengarahkannya ke leher Keenan.
Keenan yang baru membalikkan badan, membuat pisau itu menggores pipinya.
"Stttt"
Pria bertopeng itu mengarahkan pisau ke perut keenan. keenan segera menahan tangan pria bertopeng itu dan menendang perutnya.
"Uhuk uhuk..." pria bertopeng itu jatuh membentur kursi.
Keenan mengambil balok kayu di dekatnya, "katakan dimana putraku atau....."
"Baik, aku akan katakan... Putramu di...." ucap pria bertopeng itu sebiasa mungkin, agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Bug...
"Ckckck... aku tidak menyangka, ternyata keenan bach pria yang selalu dibangga banggakan bodoh juga" ejek pria itu, menatap rendah keenan yang tengah pingsan.
"Hah, dari dulu aku ingin melihatmu mati di tanganku. Tapi sepertinya ada kejutan baru yang tak kalah menarik dari ini" ucap pria bertopeng itu tersenyum penuh arti di balik topengnya.
"Kalian, amankan dia. Jangan sampai dia dan anak sialan itu mati sebelum rencana ku berhasil"
"siap tuan" ucap beberapa pria bertopeng lainnya yang sepertinya merupakan anak buah pria tadi.
......................
Boy kembali mengecek ponselnya yang entah sudah keberapa kalinya. "Apa tuan keenan baik baik saja? kenapa sampai sekarang tuan tidak menghubungi? Jangan jangan..."
__ADS_1
Boy menggeleng "tidak, aku harus memastikan" gumam boy bergegas turun dari mobil Ferarri yang terparkir di dekat semak semak yang tingginya satu setengah meter.
Boy berjalan mengendap endap masuk kedalam rumah tua yang sudah lama terbengkalai. entah siapa pemiliknya, yang membiarkan rumah mewah ini begitu saja.
Tak... tak... tak...
Dengan cepat Boy bersembunyi di bawah tangga, jangan sampai ia dijadikan sate bakar oleh orang orang jahat itu.
"Tunggu, aku seperti mencium aroma vanila"
"sial, seharusnya aku tidak menggunakan parfum tadi" batin boy.
"Itu parfum saya tuan" ucap pria lainnya.
"ganti parfummu, aku tidak suka baunya"
"baik tuan"
Beberapa menit kemudian
"Sepertinya sudah tidak ada orang" gumam Boy keluar perlahan karena bisa saja masih ada orang disekitarnya.
"Jika mereka baik baik saja, lalu dimana tuan Keenan? Semoga tuan baik baik saja" lirih boy menatap sekitar.
Boy melangkahkan kakinya menuju tangga, karena dibawah tidak ada tempat persembunyian, sehingga sudah dapat dipastikan tuannya tidak ada dilantai ini.
"Apa ini" ucap Boy saat merasakan kakinya menginjak sesuatu di tangga.
Boy membungkukkan badan, terlihat sebuah sepatu hitam yang modelnya belum pernah ada dipasaran.
"Ini sepatu tuan" ucap boy menyadari sesuatu, dulu ia menghadiahi sebuah sepatu kepada Keenan. Tapi karena keenan pemilik perusahaan fashion terbesar di dunia, ia merancang sepatu sendiri untuk Keenan yang sebelumnya belum pernah ada yang menjual. sebenarnya ia sendiri tidak pernah menekuni pelajaran desain, tapi sejak kecil ia sering menjuarai lomba menggambar & mendesain.
__ADS_1
"ia tidak salah lagi, ini sepatu tuan. Tapi dimana tuan?" tanya Boy memutar otak.
"jangan jangan...."