Alice Revange

Alice Revange
Briana


__ADS_3

"Ada apa kau kesini" tanya Andrew dingin, dari nadanya terdengar tidak suka akan kehadiran Helen ke apartemen nya.


"Tidak ada, hanya mengunjungi suamiku. kenapa suami ku yang baik hati ini tidak pulang selama berminggu-minggu?"


"Katakan apa maumu" perintah Andrew langsung pada intinya, agar wanita dihadapannya segera hilang dari pandangan nya.


"Aku ingin kau membantuku menjebak Keenan"


Andrew menatap wanita disampingnya sinis, "Seperti nya kau salah alamat, seharusnya kamu ke rumah sakit jiwa dan meminta bantuan pada salah satu dokter di sana"


"Ha ha ha kau juga pintar melawak ternyata. aku sudah memilih wanita dan hotel, kau tinggal membiayainya saja" ucap Helen menanggapi hinaan Andrew dengan santai.


Andrew mencengkram dagu Helen kuat kuat, "Dengarkan ini baik baik, aku tidak akan pernah menyetujui ide konyol mu itu. Dan mulai sekarang enyah lah dari mansion ku" gertak Andrew tepat di wajah Helen.


Helen menyingkirkan tangan Andrew kasar, "Andrew Andrew.... sepertinya kau sudah mulai pikun! kau lupa, aku masih menyimpan bukti kejadian waktu itu! Detik ini juga, aku bisa menyebarkan bukti bukti itu, dan bum... semuanya hancur tanpa sisa"


"Aku tidak perduli, Keenan sudah berhasil mendirikan perusahaan sendiri, bahkan bisa menghidupi istri dan dirinya sendiri. aku tidak takut hidup gelandangan di jalan, jadi kau tidak bisa mengancam ku lagi"


"Memangnya kau pikir berapa omset perusahaan kecil seperti itu? Perusahaan itu baru beroperasi beberapa Minggu yang lalu, bahkan usianya belum genap sebulan! apa kau yakin perusahaan kecil itu tidak kena imbasnya jika berita ini mencuat ke seluruh dunia? perusahaan itu tidak ada apa apanya Andrew, mungkin akan langsung gulung tikar begitu berita ini tersebar. Dan kalian berdua akan sama sama gembel!"


Andrew terdiam, ucapan Helen ada benarnya! tapi tidak mungkin jika ia ikut andil dalam penderitaan Keenan. ia tahu betul Keenan begitu mencintai Lisa, meski selalu di tolak dan dipermainkan wanita itu.


......................


"Tunggu, bukankah aulanya di lantai bawah?" tanya Keenan tidak mengerti kenapa boy mengajak nya naik lift.


"Iya, tapi klien meminta kita bertemu di kamar hotelnya" jawab Boy ragu, karena ia sendiri bingung kenapa kliennya meminta bertemu di kamar hotel.


Ting


lift terbuka, boy sibuk mengamati satu persatu pintu kamar, sedangkan Keenan sibuk dengan pikirannya, perasaan nya mengatakan kalau akan ada hal buruk yang akan terjadi.


"Sepertinya itu kamarnya" ucap Boy menunjuk salah satu pintu.


Boy hendak mengetuk pintu nomor 168, namun pergerakannya terhenti kala ponselnya berdering.


"Maaf pak, saya angkat telpon sebentar" izin boy mengangkat panggilan suara dari resepsionis Keenan Fashion.


"halo"

__ADS_1


"Memangnya dimana manager? itu bukan tugas saya sebagai sekertaris!"


"Tidak bisakah kau menyuruh karyawan lain mengatasinya? saya sedang bersama tuan Keenan meeting bersama klien"


"Maaf tuan, tapi resepsionis mengatakan kalau saya harus kembali ke kantor karena ada dua klien yang komplain karena barang belum juga sampai di gudang milik PT X dan PT Z. Dan kebetulan menger tiba tiba ada urusan mendadak, dia pergi keluar kota satu jam yang lalu. Selain itu, kedua klien hanya mau bertemu dengan saya" jelas boy meminta izin.


"Ya sudah, kau kembalilah biar aku yang menemui klien disini"


"Kalau begitu saya permisi" ucap boy berpamitan. jujur ia begitu heran, kenapa semuanya Serba kebetulan begini?


Keenan mengetuk pintu, namun tak ada jawaban. "Apa orang nya tidak ada di dalam?" gumam Keenan.


Untuk kesekian kalinya Keenan mengetuk pintu, namun tetap tidak ada jawaban.


"Sepertinya memang tidak ada orang" gumam Keenan memilih pergi, lagi pula perasaannya semakin tidak enak.


"Tunggu" teriak seseorang.


Keenan yang merasa panggilan itu ditujukan padanya, membalikkan badan.


"Tuan Keenan Back, maaf membuat anda menunggu" ucap Briana menghampiri Keenan yang hampir masuk ke dalam lift.


"Mari masuk" ajak Briana.


"Silahkan diminum dulu, anda pasti haus menunggu" ucap Briana setelah keduanya duduk di meja bundar.


Sedangkan Keenan yang tidak enak hati menolak permintaan Briana meminum jus jeruk itu tanpa ragu.


Jujur ia begitu tidak nyaman akan situasi ini, dimana kliennya wanita berpenampilan seksi dengan belahan dada rendah, ditambah Lilin aroma terapi yang membuatnya tak bisa fokus. belum lagi ranjang dan sekelilingnya dihias sedemikian rupa, layaknya kamar pengantin.


"Rasanya sedikit aneh, tidak seperti jus jeruk seperti pada umumnya" batin Keenan.


Dan pada detik berikutnya


Keenan memegang kepalanya yang terasa berat, "Akhhh" Keenan hampir saja terjatuh jika tidak mencengkram ujung meja untuk menopang tubuhnya.


"Kenapa tuan?"


"Kepalaku...." Keenan tidak bisa melanjutkan kata katanya, tubuhnya terasa panas! seolah dibakar tanpa api.

__ADS_1


"Biar aku bantu"


Keenan menepis tangan Briana yang hendak menyentuhnya. "aku mau pulang" ucapnya terbata bata, sekuat tenaga menahan rasa panas yang terus menggerogoti tubuhnya.


"Apa kau yakin? sepertinya kau butuh sesuatu untuk meredakan rasa panas mu"


"Kau..."


"Kau tidak perlu heran karena aku yang mencampurkan obat dan alkohol di minuman itu"


"Kau..."


"Sudahlah, lupakan saja. itu tidak penting Keenan. yang terpenting sekarang, kita selesaikan hasratmu. aku tahu kau menginginkannya kan?" tanya Briana melepaskan mini dress nya.


Keenan membulatkan matanya, karena Briana tidak memakai dalaman sama sekali. sehingga ia bisa melihat tato namanya di atas salah satu buah kenyal itu.


"Mari kita bersenang-senang"


Keenan menepis tangan Briana selagi kesadarannya masih tersisa.


"Sudahlah, kau tidak perlu sok naif Keenan. aku tahu kau butuh kehangatan. lagi pula istrimu yang gendut itu tidak mau melayani Junior mu kan?" rayu Briana menyentuh milik Keenan yang masih terbungkus.


Keenan hendak menepis tangan Briana, namun hasratnya menghalanginya. Ia tak kuasa menahan hasratnya lebih lama lagi.


Briana tersenyum, sepertinya obat dan alkohol itu sudah mulai berkerja, ini saatnya ia melancarkan aksinya. Karena hanya dirinya lah yang pantas bersanding dengan seorang Keenan bach, bukan Lisa.


Briana menarik Keenan ke ranjang, dan tanpa membuang waktu lagi, ia ******* bibir Keenan, sedangkan tangannya sibuk dengan kancing kemeja yang dikenakan Keenan.


Keenan tak menolak, justru ia membalas serangan Briana lebih liar.


Tanpa memutus cium*n diantara keduanya, Brian mendorong tubuh Keenan ke ranjang agar ia bisa melepaskan celana panjang pria itu dengan mudah.


Briana membulatkan matanya, ternyata milik Keenan lebih besar dari yang ia bayangkan.


Tapi berapapun ukurannya ia tetap akan mencoba milik Keenan, karena itulah cita citanya sejak dulu. namun cita citanya terhalang kan oleh bumil sialan itu.


Briana tersenyum, akhirnya impiannya akan segera terwujud.


Tanpa menunda lagi Briana memasang posisi dan bersiap untuk memperkos* seorang Keenan

__ADS_1


__ADS_2