
Keenan membalikkan badan hendak pergi, seolah tak melihat keberadaan Lisa.
"Keenan tunggu"
Keenan tak merespon, ia tetap berjalan dengan santai ke mobil sport nya.
Karena tak ada reaksi apapun, akhirnya Lisa berjalan cepat mencengkram lengan Keenan yang hampir masuk ke dalam mobilnya.
Keenan menatap Lisa sinis, lalu menghempaskan tangan Lisa yang mencengkram lengannya.
"Maaf, aku hanya ingin menemui Lion nanti malam"
"Tidak boleh, sebelum aku yakin akan identitas mu yang sebenarnya"
"Tapi aku ibunya, aku yang lebih berhak atas Lion'
mendengar itu keenan tersulut emosi, ia melangkah mendekati Lisa dengan tatapan tajamnya.
Lisa yang merasa hal buruk akan menimpanya, memundurkan langkah.
__ADS_1
"Dengar ini baik baik, kau memang lebih berhak atas Lion. Tapi kau tidak boleh lupa akan perbuatan keji mu, aku bisa saja melaporkan mu atas kasus penipuan kapan pun yang aku mau" ucap keenan mencengkram dagu Lisa.
Lisa menyingkirkan tangan Keenan, "Aku tidak melakukan hal keji apapun. Jadi silahkan jika kau ingin melaporkan ku pada polisi. Aku tidak takut! Karena memang tubuh ini milik Lisa Meier"
"Hahaha .... Lelucon basi"
"Terserah kau mau berkata apa, tapi tolong kembalikan Lion"
"Tidak akan pernah"
"Kenapa? Kau pria kaya dan tampan, kau masih bisa membuat anak dengan wanita manapun. Tak masalah kau tidak ingin menganggap lion atau mencemarkan nama baikku. Aku sudah tidak perduli lagi. Aku hanya ingin hidup bahagia dengan Lion"
"Menghancurkan hidupmu? Aku ti...."
"Kau yang telah membunuh istriku Lisa, dan setelah itu kau menyamar menjadinya. Iya kan" tuduh Keenan membuat hati Lisa semakin remuk.
"Kenapa kau diam? Maaf jika perkataan ku begitu tepat sasaran. Tapi lebih baik kau sadar diri, pergilah sejauh mungkin. Jangan pernah perlihatkan wajah mu yang begitu mirip dengan istriku, sebelum aku berubah pikiran dan membunuhmu'
Lisa tercengang, ia tak mampu berkata kata. Ucapan Keenan terdengar seperti tidak sedang bermain main. Tatapannya begitu tajam, menghunus dadanya yang paling dalam. Nyalinya menciut, tadinya ia tak terima karena Keenan tiba tiba merebut Lion darinya, tapi kini ia bagaikan kucing yang dikelilingi genangan air.
__ADS_1
......................
Dua Minggu berlalu, Lisa tak bisa diam saja. Ia harus melakukan apapun agar bisa bersama kembali dengan Lion.
Ia menatap arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Jarum arloji menunjukkan pukul sembilan, masih tersisa satu jam sebelum mobil mewah yang biasa menjemput Lion datang.
Tapi tetap saja pergerakannya terbatas, karena disana ada baby sitter yang selalu standby didepan kelas Lion. Belum lagi para bodyguard bertubuh tinggi yang selalu berjaga di area sekolah.
Lisa menaikkan kacamata hitam yang hampir melorot. ia sudah siap dengan kacamata hitam, masker, topi dan pakaian yang serba kebesaran.
Ia duduk disamping baby sitter yang biasa diperintahkan untuk membantu keperluan Lion. Kebetulan baby sitter itu tengah sibuk dengan ponselnya, jadi ia bisa memasukkan sesuatu pada minuman baby sitter itu tanpa ketahuan karena memang tidak ada orang selain mereka disini. Para orang tua lebih memilih untuk menjemput anaknya lima menit sebelum bel berbunyi, di depan gerbang.
Mata mereka berdua saling bertemu, lalu baby sitter itu melemparkan senyum pada Lisa, membuatnya tak enak hati.
Baby sitter itu meminum ice coffe miliknya sambil memainkan ponselnya dan....
"Akhh perutku...." rintih baby sitter itu meringis kesakitan, karena terburu buru baby sitter itu lari terbirit-birit ke kamar mandi meninggalkan tas dan ponselnya yang masih menyala.
Lisa meraih ponsel itu, sepertinya ia tahu harus mengetik apa.
__ADS_1