Alice Revange

Alice Revange
Insiden


__ADS_3

"Selamat siang nona Lisa" sambut para karyawannya yang berlalu lalang di loby.


"Bukankah itu nona Lisa" bisik reception menyadari wanita yang memasuki lift barusan adalah istri bosnya.


"Iya, memang kenapa?" jawab karyawan wanita.


"Bukankah tuan Keenan sedang makan siang di restoran bersama sekertaris Boy? Buat apa nona Lisa datang membawa kotak makanan?"


"Mungkin dia tidak tahu kalau tuan Keenan sedang tidak ada di kantor" jawab karyawan itu sedikit terbata.


"Kalau begitu biar aku telfon tuan Keenan"


"Tidak perlu" ucap karyawan itu mencegah reception untuk menghubungi Keenan.


"Kenapa?" tanya reception heran.


"Karena... aku ingin menyusul nona Lisa. Biar aku katakan kalau tuan Keenan sedang tidak ada. Kau jangan panggil tuan Keenan, yang ada kau dimarahi gara gara mengganggu makan siangnya" ucap karyawan itu meyakinkan.


"Baiklah" jawab reception tanpa ada rasa curiga sama sekali.


Sedangkan Lisa menatap sekitar, bukankah Keenan memintanya untuk mengantarkan makanan di rooftop? Tapi dimana dia?


Seseorang menutup mata Lisa menggunakan sebuah kain, membuat nya tak bisa melihat apapun.


"Keenan kau kah itu, untuk apa kau menutup mataku? Aku takut jatuh"


Tak ada jawaban, orang itu meraih tangan Lisa dan mengukir bentuk I ♥️ U menggunakan jarinya.


"I love you" gumam Lisa membaca satu persatu huruf yang diukir di telapak tangannya.


"I love you to" jawab Lisa, ternyata ia salah! Keenan bukan pria yang kaku, ternyata ia juga bisa romantis pada pasangannya.

__ADS_1


"Keenan kau mau membawaku kemana? Aku takut jatuh"


Orang itu menggenggam erat tangan Lisa, seolah ingin meyakinkan bumil itu untuk percaya kepadanya.


Lisa berjalan perlahan, mengikuti arahan orang yang ia pikir Keenan. Karena ia yakin, Keenan tak mungkin berbuat buruk padanya.


"Kita sudah sampai? Apa aku boleh membukanya?" tanya Lisa, namun lagi lagi tak ada jawaban.


Karena merasa Keenan tak melarangnya, Lisa berinisiatif membuka penutup matanya dan begitu terkejut kala melihat dirinya sudah di ujung rooftop.


"Keenan aku..."


Belum sempat Lisa mengutarakan ketakutan nya, orang di belakang nya menendang punggungnya dengan begitu kuat sehingga tubuh Lisa melayang di udara.


"Aku harus segera membakar sepatu ini" gumam orang itu, berlari kebawah sebelum ada seseorang yang mengetahui keberadaan nya.


Ditempat lain


"Ada apa tuan?" tanya Boy panik.


"Dada ku sakit" rintih Keenan, memegang dadanya yang terasa begitu sesak.


"Baiklah, saya akan mengantarkan anda ke rumah sakit"


Keenan hanya mengangguk, seingatnya ia tidak memilik riwayat penyakit jantung atau yang lainnya. Tapi kenapa dadanya begitu sakit?


"Lisa" ucap Keenan dalam hati, ia merasa hal buruk terjadi pada istri dan calon anaknya.


......................


Seorang karyawan menatap sekitar, tak ada satupun orang disekitarnya, karena semua orang tengah panik akan insiden yang terjadi barusan. Jadi ia bebas bicara dimana saja, termasuk di ruangannya. lagi pula setiap ruangan tak ada CCTV, hanya loby yang terpasang CCTV. Mungkin Karena perusahaan ini baru berdiri, jadi fasilitasnya belum lengkap.

__ADS_1


"Halo" ucap karyawan itu setelah telpon tersambung.


"Bagaimana? Kau tidak gagal kan?"


"Tentu saya tidak, memangnya kau sedang bicara pada siapa?"


"Tentu saja pada Brian Dom seorang pria tampan dan genius, tak pernah terkalahkan dan mustahil gagal" puji Briana malas, pada kembarannya yang sok paling segalanya.


"Ha ha ha, tepat sekali. Tapi perlu di ingat, kalau aku membantu mu tidak percuma"


"Katakan, apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin Lisa menjadi milikku"


"Apa maksudmu? Kau dengar sendiri kan? Kelvin menginginkan Lisa!" tegas Briana, pasalnya kembarannya mendengar sendiri kalau ia yang akan mendapatkan Keenan dan Lisa bagian Kelvin.


"Aku tidak mau tahu, bagaimana pun caranya kau harus membantu ku mengakali Tante Helen dan Kelvin"


"Tapi bagaimana caranya? Mereka tidak sebodoh yang kau pikirkan!" tegas Briana, berharap agar kembarannya menyerah.


"Jadi kau meragukan kemampuan seorang Brian Dom?"


"Tidak bukan begitu maksudku, aku hanya takut kalau rencana mu gagal dan kita..."


"Itu namanya kau meragukanku! Sudahlah, aku punya rencana baru, dan kau harus membantuku!"


"Tapi..."


"Aku tidak mau dengar apapun! Terserah kau mau langsung pergi atau berpura-pura masih berpihak pada mereka. Yang penting rencana ini tidak boleh gagal!" seru Brian, mematikan panggilan sepihak.


Briana menggigit jarinya, bagaimana ini? Kelvin dan Brian sama sama menginginkan Lisa!

__ADS_1


__ADS_2