Alice Revange

Alice Revange
Tenis meja


__ADS_3

Lisa mengerjabkan matanya, menetralkan cahaya yang masuk ke kornea nya.


"Uh, dimana aku?"


Ceklek, pintu terbuka


"Kau..."


"Kau sudah bangun" tanya Keenan meletakkan nampan diatas nakas.


"Lion, dimana kau menyembunyikan lion"


"Dia sedang bermain dikamar nya"


"Lion" Lisa bangkit mencari keberadaan lion


"Tunggu" Keenan menahan lengan Lisa.


"Lepaskan"


"Kita perlu bicara"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan"


"Lion" teriak Lisa menyusuri lorong.


mendengar namanya dipanggil, Lion yang tadinya sedang asik bermain video game di dalam kamar keluar memeluk kaki mommy nya.


"Mommy, mommy sudah bangun?"


"Iya, sekarang ayo kita pulang" jawab Lisa hendak menarik tangan anaknya.


Tapi sayang nya lion justru berpegangan pada kaki Keenan.


"Ada apa" tanya Lisa menatap heran putranya.

__ADS_1


"Lion masih ingin bermain di rumah Daddy" jawab lion menggenggam erat celana Keenan.


Lisa membulatkan matanya, Daddy? Apa aku tidak salah dengar


Keenan berjongkok, menyamakan tingginya "Tentu, kau boleh bermain disini selama yang kau mau. Karena rumah Daddy rumah Lion juga"


"Hore, apa artinya Lion bisa membawa teman teman lion kesini?"


"Tentu" jawab Keenan membuat lion berseru kegirangan.


"Tidak, Lion harus pulang ikut mommy" ucap Lisa menarik lengan lion.


"Tidak mau" ucap lion menangis


Tapi Lisa tidak perduli, ia harus segera pergi dari sini.


"Akhh sakit"


Keenan melepaskan tangan Lisa yang mencengkram lion


"Daddy" lion berlari memeluk kaki Keenan sehingga celana panjang Keenan menjadi basah.


"Jangan paksa dia, dia ingin disini!"


"Tidak, Lion harus pulang sekarang juga"


"Tidak mau, Lion masih ingin disini" teriak lion disela tangisnya.


"Kau dengar? Dia masih ingin disini. Kalau kau ingin pergi pergilah" ucap Keenan karena i yakin Lisa pasti pantang pulang jika tanpa Lion.


"Aku memang akan pergi, tapi dengan Lion"


"Baiklah, kalau begitu tunggu Lion Samapi ia mau diajak pulang"


"Tidak, kau tidak bisa mengatur Lion. Karena aku yang berhak atasnya"

__ADS_1


Keenan tak menanggapi, ia mengajak Lion keruangan khusus untuk bermain tenis meja. Dan tentu nya dengan pengawasan Lisa.


Ia takut Keenan berbuat macam macam pada Lion saat ia lengah.


"Pertama lempar bola ke udara, lalu pukul"


"Lion sudah bisa dad"


"Oh ya, kalau begitu kita langsung main"


"Yes" ucap lion, karena ia berhasil mengalahkan Daddynya.


Keenan membulatkan matanya, bagaimana bisa bocah itu mencetak poin pertama? Kalau tahu begini ia menyesal telah menganggap remeh bocah empat tahun itu.


"Jangan senang dulu, Daddy belum kalah"


"Tapi aku yakin, akulah yang akan menjadi pemenang nya" ucap Lion penuh percaya diri.


Lisa menatap ayah dan anak itu dari kejauhan, ia senang jika seandainya Keenan tulus menyayangi Lion. Tapi ia yakin, ada maksud lain dari sikap baik Keenan.


......................


"Dimana lokasinya" tanya Brian.


"Lokasinya di taman Q jalan WEQ" jawab Gib.


"Tunggu apa lagi, ayo kita kesana sekarang"


"Kau yakin disini?" tanya Brian menatap sekitar, disini sepi karena matahari sudah tergelincir ke barat satu jam yang lalu.


"Ya disini tempatnya, harusnya orang yang anda cari di sekitar sini" jawab Gib yakin.


Brian menoleh ke kanan kiri, matanya tak sengaja melihat sebuah tas mini berwarna hitam.


Brian memungut tas itu dan membuka isinya "Benar, ini tas Lisa"

__ADS_1


Di dalamnya terdapat ponsel dan benda benda lainnya. Brian mencoba menghidupkan ponsel Lisa siapa tahu ada chat atau semacamnya pada seseorang mengenai tempat tujuan Lisa.


"Sial, ponselnya mati" gerutu Brian.


__ADS_2