Alice Revange

Alice Revange
Lisa Hilang


__ADS_3

Seperti hari hari biasanya, Brian mengunjungi rumah tunangannya yang belum selesai dicicil.


Rumah ini sebenarnya terjangkau, tapi mengingat hutang Lisa pada Brian yang begitu banyak membuatnya harus bagi hasil kerjanya. Untuk kebutuhan sehari-hari, cicilan rumah dan membayar hutang-hutangnya. Padahal Brian sudah menolak uang Lisa, tapi wanita itu tetap bersikeras. Berbeda 180° derajat dengan Lisa yang ia kenal dulu.


Tok tok tok


Tak ada jawaban


Brian kembali mengetuk pintu bercat coklat itu, namun lagi lagi tak ada sahutan sama sekali.


"Apa Lisa masih di kantor?"


'Tapi kenapa dia tidak menitipkan Lion pada ku?" gumam Brian, menghubungi kontak Lisa namun telponnya tidak aktif.


"Apa aku susul saja, jangan sampai orang orang Keenan datang ke negara ini dan mengambil Lisa dari ku" gumam Brian, selama ini ia tahu usaha Keenan untuk mencari Lisa. Tapi dia lah yang menyewa jasa hacker untuk menutupi keberadaan Lisa dari orang orang Keenan.


"Brian, tumben kau menjemput ku" tanya Emily penuh percaya diri.


"Menyingkir, aku tidak punya urusan dengan mu"


"Tidak ada urusan? Tapi jelas jelas kau datang kesini menjemput ku!" tanya Emily menghadang langkah Brian.


"Cih, percaya diri sekali"


"Terimakasih"


"Aku sedang tidak memujimu bodoh, dan menyingkir lah dari hadapanku"


"Kalau ingin balikan tidak perlu malu malu Brian, sampai drama seolah olah sedang mencari seseorang. Padahal orang yang kau cari ada di dekatmu"


Brian tak menggubris, lebih baik ia mencari Lisa di ruangannya.

__ADS_1


"Hay bri"


"Hay Austin"


"Bagaimana kabar mu"


"baik, seperti yang kau lihat"


"Lalu ada apa kau datang kemari" tanya Austin CEO perusahaan ini yang kebetulan berpapasan di depan lift.


"Aku sedang mencari seorang wanita"


"Kalau kau mencari wanita, bukan disini tempatnya" jawab Austin tersenyum nakal.


"Aku serius"


"Memangnya siapa wanita yang kau cari? Emily"


"Oke, lalu siapa yang kau cari"


"Aku mencari Lisa, katanya dia berkerja sebagai manager pemasaran"


"Iya benar, tadi siang dia pamit ingin menjemput putra nya disekolah. Namun hingga kini dia tidak menampakkan batang hidungnya"


Brian membulatkan matanya, itu artinya Lisa menghilang? Tidak, tidak boleh, aku harus segera menemukannya. Jangan sampai orang orang Keenan berhasil melacak titik keberadaan nya.


"Hey bung, kau mau kemana?" teriak Austin karena Brian lari tergesa-gesa tanpa mengatakan apapun. "Aneh, kenapa dia berlari seperti melihat hantu? Padahal aku ingin mengajaknya mencari wanita di klub"


"Brian, aku tahu kau hanya berpura pura"


"Menyingkir" seru Brian, bukannya menyingkir Emily justru menghadang langkah Brian yang tergesa gesa.

__ADS_1


Brukk


Tubuh Emily jatuh terduduk, "Brian"


Brian tak menghiraukan, salah siapa menghalangi langkahnya? Padahal ia sudah memperingati sejak tadi.


"Au sakit, hiks" Emily menangis tapi tetap saja Brian tak perduli.


"Sial, bukannya menolongku malah pergi. Lihat saja, aku akan membuat mu bertekuk lutut mengemis cinta dariku Brian Dom" batin Emily.


"Kau tidak apa apa" tanya Austin melihat salah satu karyawan nya bersimpuh di loby.


"Hiks sakit pak"


"Kau bisa berdiri" tanya Austin.


Emily berusaha berdiri, "Akhh kakiku! Sakit hiks"


"baiklah sini aku gendong"


Austin menggendong tubuh Emily ke lift, kembali ke ruangan CEO.


Sebenarnya ada beberapa office boy yang sedang membersihkan ruangan atas, tapi entah kenapa ia tidak tega melihat wanita menangis dihadapannya.


Austin hendak menurunkan tubuh Emily di atas sofa, namun Emily justru menarik kerah Austin membuat jarak diantara keduanya terkikis.


"Aku akan membayar kebaikan tuan dengan tubuh ku"


"menarik, sayang nya aku tidak suka barang bekas. Aku lebih suka membuka setiap segel para wanita" jawab Austin.


"Aku bukan barang bekas, kalau tidak percaya cobalah" ucap Emily menggigit bibirnya sensual.

__ADS_1


Mungkin saat ini ia tidak dapat mengambil hati Brian, tapi setidaknya ia harus mengambil hati Austin. Karena ia butuh uang untuk membiayai hidup glamornya.


__ADS_2