
“Apa yang kamu harapkan belum tentu kamu akan dapatkan.
Seringkali, apa yang tidak diharapkan, itulah yang terbaik untukmu. Sayangnya
kamu tidak menyadari.”
Hari ini adalah hari ahad (minggu), hari ahad juga biasa disebut dengan hari perizinan oleh santri yang berada di pesantren ini. Karena setiap hari ahad santri diperbolehkan keluar pondok untuk membeli kebutuhannya disekitar pesantren. Namun dalam sebulan, para santri hanyadiperbolehkan keluar maksimal dua kali. Karena pesantren itu ada santri putra dan putri, sehingga disana adanya kebijakan bahwa setiap minggu ganjil adalah hari perizinannya santri putra, dan minggu genap adalah perizinan santri putri. Sedangkan jika ada bulan yang memiliki lima minggu, pada minggu kelimanya tersebut, santri putra maupun putri tida ada yang diperbolehkan untuk keluar pondok demi keadilan. Namun, ada beberapa persyaratan yang memang harus ditepati sebelum keluar pondok pada hari ahad. Yaitu pertama, para santri harus lulus dalam ujian bahasa yang dilaksanakan pada hari sabtunya pada minggu
perizinan. Kedua, harus mencapai target harian dan mingguan hafalan Al-Qur’an. Dan yang terakhir, seluruh lingkungan asrama serta sekolah harus bersih sebelum para santri keluar pondok. Makanya setiap minggunya selalu diadakan kerja bakti, karena pada hari ahad juga kegiatan belajar mengajar diliburkan.
“Sya, kamu mau keluar gak hari ini?” Tanya Nabila pada Syahila saat selesai melakukan krja bakti.
“Kanyanya enggak Bil, aku mau istirahat saja di kamar. Emang kamu mau keluar?” Tanya Syahila balik.
“Enggak juga sihh, niatnya mau titip hehehe...”. Jawab Nabila.
“Coba kamu tanya Sasha sama Nasywa, barangkali mereka mau keluar. aku juga bisa titip nanti hehehe”. Ucap Syahila.
“Dih, sama aja yaa ternyata. Mau titip juga hahaha.” Kata Nabila.
“Eh, tapi kamu tumben gak keluar sama Yasmin? Biasanya keluar berdua.” Tanya Nabila.
“Owh... hari ini orang tua Yasmin datang kesini, mungkin Yasmin bakal keluar sama orang tuanya.” Jawab Syahila.
“Kalau gitu aku duluan ya Bil.” Kata
Syahila lagi.
Lalu Syahila pergi ke kamarnya lebih dulu meninggalkan Nabila yang masih dibawah sedang mencari Sasha dan Nasywa. Sebelum pergi ke kamarnya, Syahila pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tangan dan kakinya seusai melaksanakan kerja bakti. Saat Syahila membuka pintu kamarnya ia nampak terkejut karena ada Yasmin dan ibunya sedang makan.
“Assalamu’alaikum.” Syahila langsung membungkuk dan menyalami Bu Farras.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab ibu dan anak itu.
“Aduhh... Kak Sya maaf yaa, tangan saya kotor.” Kata bu Farras menjabat tangan Syahila dengan hati – hati, khawatir akan mengotori tangannya Syahila.
“Owh... gak apa – apa bu, maaf mengganggu.” Jawab Syahila sopan lalu tersenyum tulus.
“Mengganggu apa sihh, sini makan juga. Saya bawa botok tahu, Kak Sya cobain dehh.” Ucap Bu Farras.
“Terima kasih bu gak usah repot – repot, saya tadi sudah makan.” Tolak Syahila halus.
“Malah kalau Kak Sya menolak saya jadi repot lohh, cobain dulu yaa. Kalau sudah dicoba dan gak suka jangan dimakan.
Yang penting coba dulu yaa.” Pinta Bu Farras. Akhirnya Syahila memakan botok tahu itu.
“Bagaimana rasanya? Enak?” Tanya Bu Farras kepada Syahila.
“Iya enak bu.” Jawab Syahila jujur.
“Nah.. kalau enak harus nambah lagi yaa, Yasmin kasih nasinya juga,” Kata Bu Farras, sambil membukakan botok tahu yang dibungkus oleh daun pisang tersebut. Syahila melirik Yasmin yang masih saja asyik dengan makanannya, Syahila menatapnya seakan mengatakan ‘bagaimana ini?’ kepada Yasmin. Seakan mengerti Yasmin hanya mengisyaratkan kepada Syahila untuk memakannya saja. Akhirnya Syahilapun memakannya, pada saat itulah ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam pintu kamar Syahila dan Yasmin, tak lama kemudian Nabila dan Sasha masuk kedalam.
“Sya, kita mau keluar, katanya kamu mau menitip sesuatu?” tanya Nabila, yang kemudian Sasha sengaja menyikut Nabila. Setelah menyadari sesuatu, Sasha dan Nabila langsung meminta maaf kepada Bu Farras.
“Tante, maaf kami tidak sengaja. Kami kira tidak ada tante .” Ucap Sasha sopan.
“Tidak apa – apa, ayo ikut makan.” Ajak Bu Farras ramah.
“Terima kasih tante, tapi kami mau keluar dulu takut pulangnya kesorean.” Tolak Nabila.
__ADS_1
“Jadi titip gak nihh?” Tanya Nabila kepada Syahila.
“Biasa yaa, pake uangmu dulu nanti aku ganti.” Jawab Syahila, kemudian ia melirik ke arah Yasmin. Seakan mengerti tatapan Syahila, Yasmin menganggukkan kepala.
“Bil, aku titip dua yaa jadinya.” Kata Syahila lagi.
“Tante, kami keluar dulu yaa.” Pamit Sasha.
“Iya, hati – hati ya.” Jawab Bu Farras.
“Min, Sya, keluar dulu ya.” Kata Nabila. Yasmin dan Syahila mengangguk.
“Assalamualaikum.” Ucap Sasha dan Nabila bersamaan.
“Wa’alaikumussalam.”
Tak lama kemudian, Bu Farras pun pulang kembali ke Cirebon. Syahila dan Yasmin hanya mengantar sampai depan pintu asrama, kemudian mereka kembali naik ke atas menuju kamar mereka. Sekembalinya Syahila dan Yasmin ke kamar, Syahila melihat Yasmin yang sedang gelisah. Syahila berfikir bahwa Yasmin khawatir dengan ibunya yang memang datang ke pesantren dengan mengemudi sepeda motor seorang diri.
“Kamu kenapa Min, gelisah gitu?” Tanya Syahila. Yasmin menoleh kearah Syahila dan menatapnya lama. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Yasmin memberikan benda yang diambilnya kepada Syahila, kemudian Syahila membacanya sampai selesai.
“Udah, gak usah ditanggepin. Nanti juga cape sendiri dia.” Ucap Syahila sambil melipat kertas yang tadi dibacanya itu. Itu merupakan surat dari Nisa adik dari Shofi yang memang kurang terlalu suka dengan Yasmin.
“Kak Sya jangan bilang mamah atau aa yaa.” Pinta Yasmin kepada Syahila.
“Iya, aku gak bakal bilang sama mamah kamu kok, tapi bentar kamu bilang apa tadi?” Tanya Syahila, meminta Yasmin mengulang perkataannya barusan.
“Jangan bilang mamah atau aa. Kenapa? Ada yang salah?” Tanya Yasmin balik.
“Enggak sihh, aneh aja dengernya. Kesannya seperti aku deket aja sama kakak kamu itu, kenal aja enggak.” Jawab
Syahila tegas.
“Serah.” Kata Syahila cepat.
“Dihh? Ngambek? Biasanya yang ngambek itu ngerasa lohh.” Kata Yasmin terus menggoda Syahila.
“Min, please! Jangan begini yaa. Kalau orang liat kamu begini nanti mengira bahwa aku beneran punya hubungan dengan kakak kamu Min.” Ucap Syahila.
“Aku cuma mau belajar dengan tenang disini, aku gak mau ada gosip – gosip yang aneh tentang aku lagi Min. Tolong, mengertilah.” Syahila memohon untuk Yasmin berhenti menggodanya.
“Iya, aku tahu. Aku juga merasakan rasanya ditatap oleh mata yang mengintimidasi itu, aku paham banget soal itu.
Kak Sya ngerasa gak sihh kita ini mempunyai urusan dengan kakak beradik itu, bedanya mereka saudara kandung sedangkan kita memang hanya sebatas teman dekat.” Kata Yasmin dengan serius.
“Maksud kamu dengan Kak Shofi dan Nisa?” Tanya Syahila kepada Yasmin untuk memastikan.
“Ya iya, siapa lagi? Coba Kak Sya pikir dehh kakak punya problem sama Kak Shofi memperebutkan aa sedangkan aku punya problem dengan Kak Nisa gara – gara aa juga. Kata Yasmin menjelaskan. Syahila terkejut mendengar perkataan Yasmin barusan.
“Enak saja! Aku tidak memperebutkan kakak kamu yaa, itu cuma kesalahpahaman saja. Yang benar adalah Kak Shofi yang memang suka dengan kakakmu Jay, aku hanya dijadikan kambing hitam saja karena aku deket sama kamu. Kurang kerjaan banget kali, memperebutkan. Seperti sudah tidak ada cowok di dunia ini saja.” Sanggah Syahila tidak terima dengan perkataan Yasmin.
“Iya, iya sorry. Aku juga problemnya hanya kesalahfahaman saja antara aku dan Kak Nisa. Dia kira mentang – mentang Kak Shofi suka sama aa, terus aku mau comblangin aa dengan Kak Shofi gitu? Ih, sorry aja yaa.” Kata Yasmin, dan langsung menatap ke arah Syahila yang sedari tadi sudah menatapnya seakan tersadar sesuatu.
“Berarti Kak Jay itu masalahnya.” Kata Syahila dan Yasmin bersamaan, kemudian mereka tertawa bersama. Dan disaat itulah Shofi masuk ke kamar mereka.
“Assalamu’alaikum, Yasmin.” Ucap Shofi.
“Wa’alaikumussalam.” Jawab Yasmin dan Syahila bersamaan.
Melihat keberadaan Syahila, Shofi mengisyaratkan Yasmin untuk ke depan kamarnya sebentar. Bukannya langsung ke depan kamarnya, Yasmin malah menoleh ke arah Syahila meminta persetujuan. Melihat Syahila tersenyum kepadanya, Yasmin pun segera keluar untuk menemui Shofi.
__ADS_1
“Ada apa Kak?” Tanya Yasmin to the point kepada Shofi.
“Enggak apa – apa, ini ada sedikit makanan buat kamu. Dimakan yaa!” Jawab Shofi sambil tersenyum.
“Ohh iya, tadi aku lihat ibu kamu ke sini ya Min?” Tanya Shofi kemudian.
“Iya, kenapa?”Tanya Yasmin balik.
“Kakak kamu juga kesini?” Tanya Shofi. Yasmin memutar bola matanya, ia sudah mengira Shofi akan menanyakan hal ini.
“Aa gak dateng kesini kak, kan kelas dua belas sudah sibuk. Jadi jarang ada waktu, kenapa memangnya?”Jawab Yasmin.
“Ohh gak ada apa – apa, dikirain kesini juga.” Ucap Shofi sedikit gugup.
“Ya bilang aja kalau ada perlu, nanti gampang aku bilang ke Kak Sya buat bilangin ke aa.” Kata Yasmin cepat. Shofi
mengerutkan dahinya.
“Kenapa harus lewat Sya?” Tanya Shofi.
“Emang mau aku bilangin ke mamah?” Yasmin balik nanya.
“Maksudnya kenapa harus ke Sya, emang Sya deket sama Jay?” Shofi terus menanyakan perihal Syahila dan Jay.
“Kalau deket banget sihh enggak tahu, cuma yang aku tahu mereka pernah chatingan. Kalau enggak, Kak Shofi sendiri aja yang menghubungi aa yaa. Btw, makasih ya seblaknya.” Kata Yasmin dan langsung permisi masuk ke kamar. Yasmin yang melihat Syahila sedang membaca buku mengajaknya agar duduk didekatnya.
“Kak Sya, ayo kesini, ada seblak nihh kesukaan kakak.” Ajak Yasmin kepada Syahila yang sedang asyik membaca.
“Itu seblak buat kamu dari Kak Shofi, makan saja.” Jawab Syahila.
“Seblak inikan udah dikasih ke aku, jadi aku berhak untuk berbagi kepada siapa aja dong. Udah, ayo makan aja, rezeki lohh.” Kata Yasmin, yang masih membujuk Syahila. Akhirnya mereka memakan seblak dari Shofi bersama sambil bercerita apa saja yang bisa diceritakan oleh mereka.
Sore harinya, saat Syahila baru selesai mandi Yasmin langsung mengajaknya ke kantin. Karena seusai melaksanakan sholat dzuhur, Yasmin langsung tidur siang memanfaatkan waktu libur sekolah. Karena biasanya kegiatan sekolah maupun asrama itu sangat padat jika dihari – hari biasa.
“Kak Sya, jajan yukk! Aku laper.” Ajak Yasmin kepada Syahila.
“Itu lohh titipan kita udah dateng roti rudalnya.” Kata Syahila memberitahu..
“Lohh udah dateng? Kapan? Kok aku gak tahu?” Tanya Yasmin.
“Ya gimana mau tahu, tadi kamu masih tidur.”
“Owhh... Kak Sya mau yang cokelat atau yang cokelat keju?” Tanya Yasmin mendapati dua roti dengan rasa yang berbeda.
“Yang mana saja, silahkan kamu pilih saja mau rasa apa?” Ucap Syahila.
“Kalau enggak, kita makannya satu – satu aja dulu kak gimana?” Tanya Yasmin lagi.
“Boleh, jadi yang satunya kita bisa simpen buat nanti.” Kata Syahila menyetujui.
“Ohh... iya, uangnya gimana Kak?”
“Udah dibayar kok, udah makan aja.” Perintah Syahila, karena Yasmin bertanya terus-menerus.
“Ohh... berarti aku bayar sama Kak Sya ya? Potong saja dari uangku yang dititipkan ke kakak yaa.”
“Udah gak usah.” Bantah Syahila tegas. Akhirnya Yasmin terdiam dan melanjutkan makan roti rudalnya.
Memang Yasmin semenjak masuk pesantren uang jajan dia dititipkan semuanya pada Syahila, dengan alasan takut hilang. Di lingkungan pesantren memang masih rentan dengan pencurian, entah itu uang, barang ataupun makanan. Sehingga Yasmin memutuskan untuk menitipkan uang jajannya kepada Syahila agar aman dan agar dirinya tidak boros sehingga pengeluaran terkendali. Hal itu tentu saja telah mendapat persetujuan dari Bu Farras ibu dari Yasmin. Bahkan, jika memang kebetulan Bu Farras dan Syahila bertemu, saat ingin memberikan uang jajan kepada Yasmin, Bu Farras langsung menitipkannya kepada Syahila.
__ADS_1