Always You

Always You
Episode 42


__ADS_3

Memesan makanan yang menjadi favorit, Daifa dan kedua sahabat nya segera mencari tempat duduk yang akan mereka tempati.


Yang tentu nya jauh dari meja para tukang gibah.


Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya pesanan mereka datang di antar ibu kantin.


Menerima dengan senang hati, Daifa segera menyantap makanan nya dengan hidmat.


Tidak tau kenapa, sedari tadi iya belum bertemu dengan Darel, entah ada apa dengan nya, Daifa tidak peduli, yang penting hidup nya tenang tampa harus berdebat dengan manusia tembok seperti Darel.


Baru saja Daifa mengenyahkan pikiran tentang Darel, sang manusia malah muncul dengan kedua teman nya yang berjalan mengarah ke arah meja nya.


"Woy Lilin!" Seru Erlan heboh menepuk pundak Liana yang membuat sang mpu tersedak.


Buru-buru Liana mengambil minum nya sambil batuk-batuk.


"Sialan lo Erlan!" Marah Liana menatap tajam Erlan yang nyengir tampa dosa.


Kesal melihat tampang Erlan yang kelewat nyebelin, Liana mengambil botol saus yang langsung iya lemparkan kearah Erlan.


Erlan yang menjadi target mengelak dengan cepat, hingga botol saus itu mengenai orang lain.


Akhh


Terikan kesakitan dari seorang permpuan yang memegangi kepala nya terdengar memperihatinkan, hingga mengalihkan perhatian semua orang.


Daifa menatap datar perempuan yang menjadi korban kekesalan Liana. Entah kenapa iya sedikit familiar dengan perempuan itu.


Erlan mendekati perempuan tersebut untuk menanyakan keadaan nya.


"Lo ga papa kan?" Tanya Erlan memegang pundak perempuan itu yang masih menunduk.


"It's ok" Hanya Gumaman seperti itu yang Erlan dengar.


Segera perempuan itu mengangkat pandangan nya mencari pelaku yang membuat kepala nya sakit, tampa melirik Erlan yang tertegun.


Menatap tajam Liana yang masih mematung, perempuan itu berjalan mendekati Liana.


Setelah sampai di depan Liana, perempuan itu meraih botol kecap lalu menuangkan nya keatas kepala Liana yang membut nya syok.


"Lo apa-apaan sih setan!" Marah Liana menatap tajam perempuan yang menatap sinis dirinya.


"Heh! Lo yang apa-apaan!" Tekan perempuan itu mendorong kepala Liana dengan jari telunjuk nya.


Merasa tidak terima, Liana menjambak perempuan itu ganas, yang membuat mereka perang jambak-jambakan.


Muak melihat pertengkaran di depan nya, Daifa mengambil minuman yang ada di samping Afifa dan segera menyiram kedua nya tampa rasa bersalah.


"Berhenti atau gue patahin tangan lo berdua!" Ancam Daifa menatap dingin kedua nya.


Liana merasa tidak terima ikut di salah kan, iya hendak perotes namun tidak jadi karna di tatap tajam oleh Daifa.


"Lo. jangan pernah muncul lagi di depan gue" Tekan Daifa menunjuk tepat kearah perempuan yang menatap nya tak kalah tajam.


Setelah mengatakan beberapa kata, Daifa segera pergi dari kantin menyeret Liana yang sudah seperti gembel di ikuti Afifa.


Perempuan itu menatap kepergian Daifa dengan tangan terkepal, iya semakin membenci kehadiran Daifa.


Tampa mengucapkan sepatah kata, perempuan itu berlalu pergi juga.


Kini kantin hening seketika, Darel dan kedua teman nya ikut beranjak juga setelah meletakan bayaran makanan yang Daifa tinggalkan begitu saja.


Di sisi Daifa. Daifa, Liana dan Afifa tengah berada di dalam toilet perempuan, menunggu Liana yang tengah berganti pakayan karna pakayan nya basah dan kotor.


Cklek


Pintu toilet terbuka, menampakan Liana yang keluar dengan seragam baru dan rambut basah, pastinya.


Menghampiri kedua nya, Liana mencuci tangan nya di wastapel, tidak lupa dumelan yang iya keluarkan dari mulut nya.


"Itu setan satu kenapa muncul lagi sih?!" Gerutu Liana yang masih marah-marah.


"Huh, belum selesai masalah satu, satu lagi dateng" Ucap Daifa menghela nafas lelah.


"Bahkan si Astein semakin berani sama kita" Kesal Liana membalikan tubuh nya kearah Daifa dan Afifa.


Daifa hanya mengangguk sebagai jawaban, iya juga tidak menyangka jika Astein muncul kembali di hadapan nya.


Yah perempuan tadi tidak lain Astein, sang musuh Daifa. dalam beberapa episode ini dia tidak muncul, namun Aluna lan yang mengganggu ketenangan Daifa sebagai gantinya.


Kembali ke cerita.


Setelah semua nya beres, Daifa dan kedua sahabat nya segera keluar dari toilet wanita. Setelah itu Daifa dan kedua sahabat nya pergi menuju taman belakang sekolah, tempat berkumpul mereka.

__ADS_1


Setelah sampai di taman, mereka segera mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka gunakan.


"Huh! Gimana nih rencana kita?" Liana melontar kan pertanyaan setelah duduk.


"Tunda dulu?" Afifa ikut menyahuti.


"Ngga! Kita lanjut aja, dia ga mungkin bertingkah untuk sekarang" Sahut Daifa yang di angguki kedua nya.


Afifa dan Liana hanya mengangguk mengerti.


Setelah bersantai di taman, Daifa mulai beranjak untuk memulai aksi nya, mungpung masih jam istirahat, iya bisa mengerjakan rencana nya bersama kedua teman nya.


Daifa tidak akan bertindak kejam, karena ini bukan masalah besar, iya hanya ingin membalas Aluna dengan sedikit kejahilan nya.


Daifa berjalan santai menuju kelas Aluna, ia tidak akan membiarkan human satu itu tenang.


Sebelum sempat melangkah masuk, langkah Daifa terhenti karena Darel menghalangi jalan nya.


"Minggir lo!" Sentak Daifa menatap kesal wajah datar Darel.


Darel tetap tidak bergeming dari tempat nya, ia malah balas menatap Daifa tajam.


"Lo jangn bikin onar lagi Fa!"


"Apa urusan nya sama lo? Serah gue dong mau bikin onar apa ngga" Daifa semakin jengah dengan tingkah Darel yang semakin membuat nya jengkel.


Tampa mau berdebat lebih lanjut, Daifa mencari jalan lain agar bisa memasuki kelas Darel. Karena Aluna satu kelas dengan Darel.


Daifa menatap kesegala arah, ternyata Aluna tidak ada di kelas nya.


Karena merasa rencana nya bisa berjalan lancar, Daifa berbalik pergi.


Kali ini Darel tidak menghalangi Daifa, ia sudah tidak ada di tempat, mungkin ia ada urusan lain.


Sebelum pergi untuk menyelinap ke ruang CCTV Daifa memberi tahu kedua sahabat nya agar menyusul nya kesana.


Setelah selesai mengirim pesan, Daifa melanjutkan langkah nya hingga sampai di ruang CCTV yang tidak terlalu jauh dengan ruang TU.


Mengamati sekitar, Daifa menghela napas lega karena tidak banyak orang berlalu lalang.


Mencari alat yang bisa ia gunakan untuk membuka lubang kunci, Daifa mengeluarkan benda rucing yang sering ia gunakan untuk menjalankan aksi nya.


Bahkan ia terlihat keren saat dengan sekali putar pintu tersebut terbuka, dengan senyum lebar Daifa melangkah kan kaki nya memasuki ruangan yang di penuhi monitor yang menampilkan gambar-gambar yang terekam CCTV.


Mencari dimana keberadaan Aluna bukan hal susuh untuk Daifa, bahkan ia memiliki rahasia Aluna yang tidak di ketahui siapa pun. Tentu nya ia jago di bidang IT.


"Sedang apa dia di sana?" Daifa mengerutkan dahi nya heran saat Aluna sang perempuan itu tengah bersembunyi di antara tanaman hias.


"𝘐𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘍𝘢, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘭𝘪𝘤𝘪𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘣𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢"


Tiba-tiba saja Ghost muncul seperti biasa nya, untung nya Daifa tidak terlalu terkejut lagi hingga tidak menyebabkan kecerobohan.


Namun ia bingung dengan kata-kata Ghost. Rencana jahat?.


"Apa maksud mu Ghost?" Tanya Daifa menatap Ghost penasaran.


"𝘎𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘱𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪" Terang Ghost sambil melayang duduk di atas meja.


Daifa berpikir sebentar, seulas senyum terpatri di bibir cerah itu.


"Heh! Sepertinya gue ga perlu cape-cape jebak dia deh, liat aja nanti" Monolog Daifa dengan senyum misterius nya.


Disisi Liana dan Afifa. Kini kedua nya tengah berjalan bersama menuju tempat Daifa berada, namun di tengah perjalanan tiba-tiba mereka berhenti karena getaran ponsel mereka.


Liana gerak cepat segera membuka chat yang di kirim kan Daifa.


♤𝘜𝘣𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩 ___Fafa.


"Ayo kita kesana"


Kedua nya segera memutar arah untuk segera ke taman belakang sekolah.


Saat kedua nya sampai di lokasi, keberadaan Aluna sudah tidak ada di sana, tentu saja Daifa sudah sampai lebih dulu dengan bantuan Ghost.


Baru pertama kali Daifa merasakan hal ajaib yang tidak pernah ia rasakan. Tadi sebelum sampai di taman belakang sekolah, Daifa di ajak menghilang dengan kekuatan Ghost, hingga ia dengan cepat sampai di sana.


"Tau gitu gue bisa andelin lo lah kalo mau kemana-mana" Gumam Daifa pada Ghost di dalam hati.


"Enak aja! kau pikir aku tukang ojek yang siap mengantar kau kemana pun?!" Seru Ghost ngegas.


Untung saja Daifa tidak tertawa, bisa di anggap gila ia kalo kedua sahabat nya tau.


Afifa dan Liana sudah sampai di hadapan Daifa, kini kedua nya, ahh ralat hanya Liana saja yang menatap penuh tanya kearah Daifa karena di suruh ke sini.

__ADS_1


"Apa maksud lo ubah rencana? lo ga bakal jadi bales dendam?"


"Ya ngga lah, gue ada rencana lain yang pasti nya seru" Jelas Daifa menatap kedua nya dengan senyum misterius.


Dengan segera ia menceritakan perubahan rencana nya, kedua teman nya hanya setuju-setuju saja.


Daifa menyuruh Afifa untuk keruang komputer, lainkali ia akan membawa laptop kesayangan nya untuk berjaga-jaga, namun pihak sekolah tidak mengizinkan murid-murid membawa benda berharga seperti itu kesekolah, jadi Daifa tidak bisa melakukan nya selain meminjam komputer sekolah, seperti itu lah.


Daifa menyuruh Afifa untuk menyadap ponsel Aluna dan menyuruh mengirimkan pesan untuk meminta Aluna ke taman belakang sekolah, kenapa Daifa menyuruh Afifa dan bukan Liana, karena sahabat nya yang satu ini sama seperti nya yang bisa ilmu komputer, bahkan bisa di bilang Hacker.


Daifa menyuruh Liana membantu nya membawa air lumpur, sedangkan ia menggali lubang yang tidak terlalu besar di sekitar bangku taman, tentu nya ia sedang membuat jebakan untuk Aluna agar ia berubah seperti gembel.


Setelah menyiapkan semua nya, Daifa bertepuk tangan bangga, ia yakin rencana nya akan berjalan lancar.


Kalian tidak perlu bertanya-tanya dari mana Daifa mendapatkan alat untuk menggali tanah, tentu nya ia meminjam ke tukang kebun, dengan dalih sedang di hukum.


"Na lo rekam ya aksi gue, jangan lupa sembunyi dengan baik, awas kalo lo ngecewain" Ucap Daifa yang di acungi jempol oleh Liana.


"Lo ga perlu ragu, gue ahli nya dalah hal kaya gini" Bangga Liana sebelum bersembunyi di tempat aman.


****


Sedangkan di sisi Aluna, ia tengah berjalan di Koridor dengan bingung setelah mendapatkan pesan dari email asing, karena penasaran, ia pergi untuk memastikan. sekalian mengecek rencana nya apa kah berhasil atau tidak.


Ia juga mengirim pesan pada seseorang untuk segera bergerak, kali ini rencana nya tidak boleh gagal.


Saat sudah di taman belakang, Aluna melihat Daifa sedang duduk sendiri, ia tersenyum licik karena merasa rencana nya bisa berhasil, tampa curiga apa pun, Aluna berjalan secara perlahan, namun sebelum ia sampai di belakang Daifa, Aluna menginjak lubang buatan Daifa hingga kaki nya terjebak sebelah.


Seolah tidak tahu apa-apa, Daifa menoleh kearah belakang dengan ekpresi terkejut, ia segera beranjak menghampiri Aluna yang merintih sambil menahan amarah.


"Lo kenapa? lagi main lumpur ya? ko ga ngajak-ngajak?" Ucap Daifa dengan nada mengejek membuat Aluna semakin marah.


"Lo!... ini pasti ulah lo kah?!" Teriak Aluna menunjuk wajah Daifa.


Daifa mendengus saat Aluna berteriak pada nya.


"Ada bukti lo nuduh gue?"Tanya Daifa menatap Aluna malas. Sedangkan Aluna sibuk berusaha keluar.


Melihat usaha Aluna, Daifa melangkah mendekati nya, Ia mengeluarkan hewan yang kata nya lucu dari genggaman tangan nya, tampa memperdulikan ekspresi Aluna yang sudah panik, Daifa meletakan hewan gemoy itu di bahu Aluna hingga membuat Aluna berseru panik.


"AAAA JAUHIN SIALAN!"Teriak Aluna berusaha menjatuhkan Ulat hijau di bahu nya yang mulai bergerak kearah leher nya.


Sedangkan Daifa sibuk tertawa terbahak-bahak hingga perut nya terasa keram, karena tidak puas mengerjai Aluna. Daifa menambahkan ulat lain nya di bahu kanan Aluna.


kini Aluna sudah benar-benar ketakutan, ia paling benci hewan satu ini, menurut nya sangat menggelikan sekaligus menjijikan.


Masih berusaha menyingkirkan Ulat bulu yang ada di tubuh nya, Aluna menatap nyalang ke arah Daifa yang masih tertawa.


"Buang sialan! gue laporin lo ke BK! "Ancam Aluna yang tidak di pedulikan Daifa.


Tampa berselang lama, Liana keluar dari persembunyian nya sambil membawa daun-daun kering di kantong pelastik.


Dengan semangat, ia menjatuhkan daun tersebut keatas kepala Aluna hingga sang mpu berteriak memaki.


"BaNgsAt!"


"Audhh udah Na, gue udah ga kuat ketawa lagi" Seru Daifa yang masih meredam tawa nya.


"Abis nya gereget, kurang lengkap ini kalo ga di siram air got"Liana mengepalkan tangan nya menahan gemas. Gemas ingin meninju muka Aluna yang sudah merah-merah.


Daifa hanya menggeleng kepala melihat sahabat nya sangat kejam, padahal dirinya lebih kejam.


"Udah kasian, mana hasil nya Na?"


Liana mengeluarkan ponsel nya dan memperlinatkan rekaman video yang memperlihatkan komuk Aluna yang ketakutan, melihat itu, tawa Daifa kembali keluar hingga membuat Daifa meneteskan air mata nya.


"Aduhh sakit perut gue tolong" Daifa berseru dengan tawa yang masih mengiringin.


"Udah puas bikin onar nya?" Suara datar seseorang menghentikan tawa Daifa hingga atensi nya kini terarah kearah kanan.


Mendengus pelan, Daifa membuang muka kearah lain tidak memperdulikan Darel yang merusak suasana.


"Ngapain lo di sini?" Daifa bertanya tampa menoleh. Terlalu menyebalkan untuk melihat wajah Darel.


Darel melangkah mendekati Daifa yang menatap tajam kearah nya, tampa meminta persetujuan dari sang empu, Darel menarik Daifa meninggalkan taman, bahkan ia tidak memperdulikan keadaan Aluna yang mengenaskan. benar-benar seperti gembel.


Sedangkan Liana, ia menatap bingung kearah pergi nya Darel dan Daifa, kenapa ia harus ditinggalkan dengan gembel Aluna yang sudah menangis.


"Woy Fa! ini gembel gimanain?!"Teriak Liana seenaknya menyebut Aluna gembel.


"LO SURUH BABU-BABU NYA AJA! GUE GA BISA BANTU"Daifa membalas teriakan Liana dari jauh.


Saat ini kondisi nya tidak baik, dengan tangan yang terus diseret Darel, meronta pun tidak di lepaskan, malah menyakiti tangan nya, akhirnya ia hanya bisa pasrah.

__ADS_1


...Bersambung...


Sampai sini dulu ya guys, nanti lanjut lagi se you 👋


__ADS_2