
Setelah sore yang mereka habiskan di taman, kini mereka sudah kembali ke rumah, bahkan mereka tengah berkumpul di ruang tamu karena lelah.
"Inget pesan Ayah, jangan di ulangi lagi!" Ujar Ayah Indra menegaskan kembali.
"Iya yah, janji deh" Sahut Daifa dan Liana bersamaan.
"Pesan apa yah?" Tanya Bunda Alfi penasaran.
"Pesan supaya mereka pergi ijin dulu bun"Timpal Ayah Indra menjelaskan.
" Ohh.., kalo kaya gitu bunda dukung aja"Sahut Bunda Alfi memihak suaminya.
"Iss, Bunda ga asik!"Gerutu Daifa dan Liana secara bersamaan, membuat Bunda Alfi tertawa dengan tingkah kedua nya.
" Maaf anak-anak, tapi ini demi kebaikan kalian juga"Ujar Bunda Alfi mencoba memberi pengertian.
"Iya, iya" Sahut kedua nya bersamaan kembali membuat seisi ruangan tertawa gemas.
"Lo ngapain ngikut-ngikut mulu!"Tanya Daifa berdecak kesal.
" Lo yang ngikut-ngikut!"Imbuh Liana berdecak kesal.
"Lo yang ngikut!"Geram Daifa menatap Liana tajam.
" Lo!"Seru Liana menunjuk Daifa.
"Lo!" Seru Daifa ikut mengacungkan jari telunjuk nya ke depan muka Liana.
"Aduh.. Kenapa jadi ribut?" Tegur Bunda Alfi menengahi perdebatan kedua nya.
"Nana tuh yang mulai!" Dengus Daifa mebuang pandangan nya ke arah lain.
Liana yang tida Terima bersiap perotes, namun segera di cela oleh Bunda Alfi.
"Udah, mending kalian ke atas, istirahat"Perintah Bunda Alfi.
Dengan patuh mereka bertiga beranjak menuju kamar.
Setelah kepergian mereka bertiga, Bunda Alfi mendekat ke arah Ayah Indra yang tengah asik membaca majalah.
" Ehem"Dehem Bunda Alfi membuat Ayah Indra menoleh.
"Kenapa sayang? sakit?" Tanya Ayah Indra menatap khawatir.
"Ngga yah" Jawab Bunda Alfi menggeleng.
"Bunda mau ngobrol sama Ayah sebentar, bisa?" Pinta Bunda Alfi melanjutkan.
Ayah Indra mengangguk, setelah itu iya beranjak mengikuti Bunda Alfi yang berjalan menuju kamar mereka.
Kini kedua nya duduk di sisi ranjang saling berhadapan, Bunda Alfi terlihat sedikit bimbang untuk bertanya, setelah meyakinkan hati nya, iya mulai buka suara.
"Ehem, Ayah ga lagi nutupin sesuatu kan dari bunda?" Tanya Bunda Alfi menatap suaminya hati-hati.
"Maksud bunda?" Tanya Ayah Indra tak mengerti.
"Yang neror keluarga kita Tirta kan?"Tanya Bunda Alfi menatap suaminya penasaran.
" Dari siapa kamu tau sayang?, Ayah ga cerita apa-apa sama kamu, jangan bilang dari anak-anak?"Tanya Ayah Indra menatap istri nya minta penjelasan.
"Hemm.. Jadi bener ya" Angguk Bunda Alfi lirih.
"Maaf sayang, ayah ga maksud nyembunyiin dari kamu"Ucap Ayah Indra menatap istrinya sesal.
" Bunda tau, tapi kenapa ga cerita apa-apa sama bunda yah?, apa karena ga mau ngingetin bunda sama Tirta? dia juga kan teman bunda yah"Kata Bunda Alfi penuh tanya, Ayah Indra menggeleleng kepala nya tegas.
"Ngga gitu bun, ayah cuman ga mau kamu inget lagi sama kenangan masa lalu kamu, ayah ga mau bikin bunda sedih" Jawab Ayah Indra menggenggam tangan istrinya lembut.
"Tapi harus nya kasih tau bunda yah" Ujar Bunda Alfi menatap suaminya sedih, melihat sorot sedih istri nya, Ayah Indra menarik istri nya ke dalam pelukan.
"Maaf sayang" Gumam lirih ayah Indra sambil mengusap punggung sang istri lembut.
"Bunda maafin yah"Sahut Bunda Alfi mengangguk dalam pelukan sang suami.
" Makasih sayang"Ucap Ayah Indra menatap istri nya sayang, tidak lupa kecupan singkat di kening istri nya sebagai tanda terimakasih, yang membuat Bunda Alfi tersenyum malu.
"Sama-sama, tapi janji jangan di ulangi" Tutur Bunda Alfi mengacungkan jari kelingking nya.
"Janji" Sahut Ayah Indra menautkan jari kelingking nya.
Menatap dengan senyum manis yang terbit di bibir masing-masing, mereka kembali berpelukan dengan mesra, melupakan ketegangan yang sempat tercipta.
"Xixixi, mereka kaya anak remaja" Celetuk Daifa sambil terkikik geli.
Ternyata setelah membersihkan diri, Daifa dan Liana menguping perbincangan kedua pasangan suami istri itu, tampa di sadari Afifa tengah menatap mereka berdua dengan pandangan malas.
"Nguping"Celetuk Afifa mengagetkan ke dua nya yang mana langsung menolehkan kepala nya secara bersamaan, hingga saling bertubrukan.
__ADS_1
" Aduh!, pala gue"Desis Daifa pelan, sama hal nya dengan Liana yang tengah mengusap-usap kepala nya yang ngilu karena benturan tersebut.
"Karma is real" Cetus Afifa berbalik pergi tampa menoleh lagi.
"Solimi! udah ngagetin, ga nolongin lagi"Gerutu Daifa menatap punggung Afifa yang menjauh menuju kamar nya.
" Udah lah Fa, daripada ketauan nguping, mending kita kembali"Sahut Liana berdiri dari jongkok nya, setelah itu iya beranjak pergi meninggalkan Daifa yang menatap dirinya kesal.
"Dua-dua nya ga ada akhlak" Sungut Daifa mencibir, tampa berlama-lama, iya ikut berlalu juga.
***
Tit
Tit
Jam terus berbunyi guna membangunkan sang pemilik tidur, hingga tangan yang tak bertanggung jawab memukul nya agar berhenti, hingga bunyi nya hilang seketika.
"Huam" Meregangkan otot tangan nya, pandangan nya melirik angka jam yang menunjukkan pukul 06: 27.
"Jam enam dua tujuh" Gumam nya yang langsung beranjak berdiri, setelah merapihkan selimut yang sudah berantakan, iya bergegas ke kamar mandi.
Keluar kamar mandi lengkap dengan seragam nya, iya segera turun menuju ruang makan.
"Sarapan dulu bang" Ucap wanita cantik, walau sudah lumayan tua namun tetap cantik, yang merupakan Bunda orang yang di panggil abang.
Mengangguk meng iya kan, iya segera duduk di kursi yang biasa iya duduki.
Mengambil gelas yang di isi susu hangat untuk nya, iya segera meneguk isi nya hingga sisa setengah.
"Si bocil belom bangun?" Tanya orang tersebut yang tak lain Darel menatap bunda nya.
"Mungkin masih siap-siap" Sahut sang Bunda yang bernama Dila amelia sambil menaruh sendok-sendok di tempat nya.
"Dasar cewe" Gumam Darel sambil mengambil sendwic yang telah di tata di atas meja.
"Bunda juga cewe loh bang!" Lirik Dila menatap anak nya tajam.
"Bunda beda" Sahut Darel santai.
"Oh! jadi abang pikir aku ribet gitu!?"Tuduh Dania yang baru saja tiba, namun iya tidak sengaja mendengar percakapan abang dan Bunda nya yang membuat iya marah.
" Ngga gitu juga cil, lagian kamu lama kalo siap-siap"Tukas Darel santai tampa memperdulikan tatapan tajam sang adik.
"Bunda!" Rengek Dania menatap Dila dengan mata berkaca-kaca.
"Udah-udah jangan pada berantem, kamu Rel, udah gede jangan jailin adek nya terus doang!"Lerai Dila memperingati anak-anak nya, termasuk Darel.
Setelah sudah habis, iya segera beranjak dari duduk nya.
"Udah mau pergi?" Tanya Damar sang Ayah yang baru turun dari tangga.
"Hemm" Gumam Darel mengangguk, stelah menyalimi tangan kedua orang tua nya iya segera pergi mengendarai motor besar nya.
"Bun, ntar malam kita di undang makan malam sama kelayen Ayah, Anak-anak harus ikut, sekalian silaturahmi" Perkataan Damar membuat Dila menghentikan kegiatan makan nya.
"Siapa Yah?, apa harus banget?" Tanya Dila menatap suami nya mencari ke yakinan.
"Tuan Dika maheswara, beliau mengundang Ayah sekeluarga untuk makan malam bersama, sekalian memperkenalkan putri nya" Tutur Damar menjelaskan perkataan nya.
"Ohh, Lidia ya?, Iya Bunda sering dengerin dia cerita tentang anak perempuan nya yang baru netep di Indo, Bunda jadi penasaran!" Ucap Dila penuh semangat, iya jadi tidak sabar ingin melihat bagai mana rupa anak perempuan Lidia, pasti cantik, pikir nya.
"Jangan lupa beritahu anak-anak supaya ntar malam siap-siap" Pesan Damar kepada sang istri yang di angguki dengan patuh.
Oh iya, Dania udah berangkat di antar supir peribadi nya, jadi iya tidak tahu percakapan barusan.
Sementara itu di sekolahan SMA Negeri Jaya, tepat nya di kelas Daifa, yang di isi keributan yang tak menentu.
"Heh! duduk yang rapi!" Sentak Bu Mega yang baru masuk ke dalam kelas, namun sudah di suguhkan keributan yang membuat nya pusing kepala.
Berjalan menuju meja nya, iya segera membuka buku pelajaran yang akan iya ajarkan.
Sementara di posisi Daifa, iya tengah nyemil sembunyi-sembunyi, iya berharap Bu Mega yang galak tidak mengetahui nya.
"Psttt, Fa bagi-bagi" Bisik Liana mencolek pundak Daifa yang asik mencomoti jajanan nya, untung nya mereka bertiga duduk di meja paling pojok, dengan posisi Daifa dan Afifa di depan, sedangkan Liana paling belakang.
Menoleh ke arah Liana yang menengadahkan tangan nya, Daifa memberikan snack yang iya makan tadi dengan tidak ikhlas.
"Huh" Dengus Daifa kesal, namun iya tetap bersikap biasa saja.
"HEH! ITU YANG DI BELAKANG MAJU KE DEPAN!" Teriak Bu Mega mengagetkan Daifa dan Liana, bukan hanya kedua nya bahkan se isi kelas di buat tersentak. Hingga yang sedang melamun pun di buat latah.
"TUNGGU APA LAGI!" Seru Bu Mega kembali, yang membuat Daifa dan Liana langsung berdiri.
"Keluar kelas!, dan jangan kembali sebelum pelajaran saya selesai!"Usir Bu Mega tegas dengan jari telunjuk mengarah ke arah pintu.
" Nyeyeye, nama nya aja Mega, kelakuan ga ada bagus-bagus nya"Dengus Daifa Lirih, namun masih terdengar ke telinga Bu Mega.
__ADS_1
"Saya denger Daifa!!" Geram Bu Mega dengan muka merah padam menahan amarah, sontak geraman Bu Mega membuat Daifa dan Liana ngibrit ke luar.
"Huh!, untung kaga kena tanduk tu banteng betina"Imbuh Daifa menghela napas lega, setelah itu iya duduk di kursi yang tersedia di luar kelas.
" HEH! Siapa yang nyuruh kalian duduk!"Sentak Bu Mega yang nonghol di tengah pintu dengan tatapan tajam nya.
Daifa dan Liana sontak berdiri, setelah melihat Bu Mega masuk kembali, kedua nya duduk kembali. Emang sih ga ada takut-takut nya.
"Duh Na, bosen gue" Gerutu Daifa menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi.
"Sabar aja lah Fa, bentar lagi bel istirahat" Ucap Liana ikut menyenderkan tubuh nya.
Tak lama setelah Liana mengucapkan kata-kata tersebut, bel istirahat berbunyi mengembalikan semangat semua siswa yang hilang karna setres belajar.
"Ayo ke kantin!" Ajak Daifa berdiri dari duduk nya dengan semangat.
"Ayo!" Sahut Liana berlalu menarik Daifa dengan riang.
***
Skip
Kini Daifa sudah sampai di rumah, bahkan iya sedang berbaring malas-malasan sambil menonton canel kesukaan nya.
"Ihh..pengen beli coko deh!"Tutur Daifa menggigit bantal sofa gemas.
" Ngapain lo cil gigit bantal sofa? Setres lo?"Cetus Helmi yang baru pulang dari kampus.
Menoleh ke asal suara dengan muka cemberut, Daifa bergumam kesal, namun sedetik kemudian senyum cerah terbit di bibir cantik nya.
"Abang, jalan-jalan ke mall yo?" Ajak Daifa dengan senyum cerah nya.
Menyipitkan mata nya menatap Daifa curiga, Helmi menggeleng sebelum berucap.
"Ngga!, Abang harus pergi ke rumah temen Abang buat tugas kelompok besok" Tolak Helmi melanjutkan jalan nya kembali.
"Iss, abang tunggu! Fafa belom selesai ngomong!" Seru Daifa berlari kecil mengikuti Helmi yang sudah berada di tangga.
"Iss ayolah bang, Fafa mau beli Coko" Ucap Daifa menggoyang-goyangkan tangan Helmi dengan ekspresi memelas.
"Ngga!" Tolak Helmi tampa menatap sang adik yang tentu semakin memasang ekspresi se melas mungkin.
"Iss, abang mah jahat!" Rajuk Daifa mendahului Helmi, memasuki kamar dan merebahkan tubuh nya di ranjang sang kaka dengan tangan yang tak tinggal diam mengacak sprai dan bantal hingga berantakan, begitulah kelakuan Daifa jika sedang merajuk, iya akan mengacak acak kamar sang Kaka jika permintaan nya tida di turuti.
Menghela nafas lelah, Helmi menarik tangan Daifa hingga sang adik terduduk dengan mata berkaca-kaca.
"Ututututu, jangan nangis, jelek tau!, kata Bunda ntar sore mau ke mall sama kamu, Bunda mau belanja baju buat acara makan malam sama clayen ayah, kamu harus ikut sama bunda!" Tutur Helmi mengacak gemas rambut sang adik.
"Beneran?, yey!" Tanya Daifa girang.
"Tapi... Kenapa bunda harus ajak aku? Jangan-jangan bunda mau jual aku kaya di Novel-Novel, ihh gamau Fafa"Tukas Daifa menggeleng ngeri.
" Ya ngga lah Cil, kamu pikir kita ke kurangan uang apa sampe harus jual kamu, Bunda cuman mau kenalin kamu sama sama temen nya doang, ga ada maksud jual-jual ke gitu, lagi pula siapa yang mau beli kamu cil, yang ada mereka setres duluan"Timpal Helmi tampa rasa bersalah dengan kalimat nya.
"Ihh, abangke! tau ah ngambek lagi" Sungut Daifa beranjak pergi dengan kaki di hentak-hentak kesel, bahkan iya menutup pintu dengan tidak selow.
"Ck, ck, dah gede aja masih ke bocah, gimana ya reaksi nya kalo tau dia bakal di tunangin sama temen ayah?" Monolog Helmi menatap pintu tempat Daifa menghilang dengan rajukan nya.
Ya, sebenar nya itu bukan acara makan malam biasa, kedua keluarga tersebut sudah punya rencana dari jauh hari-hari, namun kedua nya belum meresmikan perjanjian tersebut, karena dulu Daifa masih trauma akan penghianatan kekasih dan sahabat nya, makanya mereka berencana untuk mempertemukan kedua nya malam ini.
Hari sudah beranjak sore, keluarga Daifa pun sudah berkumpul semua di rumah termasuk sang ayah yang pulang lebih awal.
Tok
Tok
Tok
"Fa, kamu di dalam?"Tanya Bunda Lidia mengetuk pintu kamar Daifa yang terkunci dari dalam.
Cklek
" Hoam, kenapa bun?"Tanya Daifa mengucek mata nya yang masih mengantuk.
"Kamu tidur ya?" Tanya balik Bunda Lidia sambil merapihkan rambut Daifa yang berantakan bukan main.
"Iya bun" Jawab Daifa mengangguk.
"Sekarang kamu mandi, terus ikut bunda ke Mall, kita shoping" Suruh Bunda Lidia sekaligus mengajak belanja.
"Beli Coko ya bun?" Pintar Daifa dengan mata yang langsung terbuka lebar mendengan akan ke mall.
"Coko? apaan tuh, coklat kah?" Tanya Bunda Lidia yang membuat Daifa memanyunkan bibir nya kesal.
"Iss, bukan lah! , itu loh bun, boneka yang adi di pilem Ruby"Jelas Daifa sebelum masuk ke dalam kamar nya untuk segera mandi.
" Ohh, boneka Tedi bear itu ya"Gumam Bunda Lidia setelah paham keinginan Daifa.
__ADS_1
Bersambung.........
Hay hay kembali dengan cerita aku yang masih amuradul, semoga suka ya bay bay.