Always You

Always You
Episode 40


__ADS_3

Pagi sudah berganti dengan sore.


Suasa sejuk tidak membuat gadis yang tengah duduk di kursi merasa segar.


Iya tengah cemas dengan waktu yang terus mepet, sesekali iya akan menengok ke kiri kanan, seolah sedang menunggu sesuatu.


Hingga akhirnya iya bangkit dari duduk nya dengan wajah kesal.


"Lama banget sih!" Gerutuan keluar dari mulut nya dengan kesal.


Sedangkan orang yang baru saja datang hanya diam dengan ketenangan nya.


"Nih" Gadis itu menyerahkan map yang sudah iya print kearah laki-laki tadi.


"Baca yang bener" Ucap gadis itu memperingati sebelum melangkah pergi.


Sedangkan laki-laki tadi hanya diam menatap kepergian nya.


Mengalihkan pandangan nya, iya menatap map yang ada di tangan nya, sebelum duduk di kursi taman tempat gadis itu menunggu, iya membuka map itu dengan tenang.


Membaca nya dengan cermat, sebelum mengerutkan kening nya samar.


Isi map tersebut tidak lain adalah sebuah kontrak dengan materai di dalam nya, menunjukkan bahwa iya harus menandatangani nya.


Isi Map tersebut adalah.


𝘗𝘰𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢: 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘬𝘪𝘵𝘢.


𝘗𝘰𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢:𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭-𝘩𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘮𝘶𝘮 𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨.


𝘗𝘰𝘪𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢:𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴, 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘰𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨.


Poin keempat:Jangan larang saya berhalu dengan oppa-oppa saya, jika tidak saya tidak mau nikah.


Poin kelima:Jangan posesif.


𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 lima poin, 𝘴𝘪𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘯𝘢𝘴𝘪𝘣.


𝘿𝙖𝙞𝙛𝙖 𝙘𝙖𝙣𝙩𝙞𝙠.


Menghembuskan napas nya, Darel yang ternyata laki-laki itu, iya tidak terlalu masalah dengan semua poin nya, hingga tanpa keberatan ikut menulis kontrak, tentu saja iya tidak ingin di rugikan sepenuh nya, membalas sedikit tidak masalah seperti nya.


Setelah selesai berpikir, Darel segera beranjak pergi.


****


Setelah selesai memberikan map kontrak kesepakatan, Daifa sudah bersantai di rumah nya, 1 minggu tidak berangkat sekolah, rasanya iya mulai bosan, tidak berbuat ulah tentu bukan dirinya, hingga acara santai nya terganggu dengan ketukan pintu kamar nya membuat iya mau tidak beranjak dari acara rebahan nya.


Membuka pintu yang sengaja iya kunci, iya menatap kesal sang Bunda yang mengganggu kesenangan nya.


"Ada apa bun?" Tanya Daifa terselip nada kesal meski pertanyaan nya terkesan santai.


"Kamu cepat siap-siap, jangan tanya mau apa, Siap-siap saja dulu" Ujar Bunda Lidia yang di tanggapi cemberutan Daifa.


Tampa membalas ucapan sang Bunda, Daifa menutup pintu kamar nya dan segera memasuki kamar mandi.


"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘦𝘴𝘦𝘭 𝘬𝘰 𝘍𝘢" Gumam Ghost yang memperhatikan sedari tadi.


Tak lama Daifa keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi nya, setelah itu iya membuka lemari pakaian nya.


Ghost yang hanya diam mendekati nya, membuat iya menatap heran kearah mahluk yang tidak sengaja iya pungut.


Mengangkat bahu nya acuh, Daifa segera mengeluarkan baju santai nya, namun sebelum iya beranjak, langkah nya dihentikan oleh Ghost.


"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬𝘦 𝘪𝘵𝘶" Larang Ghost dengan tangan menyilang.


"Terus pake apa?, emang ini acara penting?, gue rasa bukan deh" Daifa bertanya dengan sedikit kesal.


"𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘥𝘳𝘦𝘴 𝘪𝘵𝘶" Tunjuk Ghost kearah Dres yang tergantung rapih.


"Hah?! ga mau, gue ga suka pake pakayan kaya gitu" Tolak Daifa menggeleng keras.


"𝘈𝘺𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘍𝘢, 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨" Bujuk Ghost memohon.


"Acara penting apa?" Tanya Daifa malas.


"𝘚𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪" Ujar Ghost membuat Daifa kesal.


Karena terus di pakas, akhirnya iya menyerah, dengan enggan iya mengambil Dres yang Ghost tunjukan.


Dres dengan motif sederhana, namun elegan, hanya saja iya tidak suka karena itu terlalu peminim.

__ADS_1


ilustrasi Dres nya.



Menatap enggan Dres yang ada di tangan nya, Daifa melangkah kan kaki nya kekamar mandi.


Setelah selesai memakai nya, iya keluar dengan muka kesal.


Sebelum bersiap mengomeli Ghost, ketukan di pintu kamar nya membuat iya melangkah pergi untuk membuka pintu.


"Kenapa?!" Tanya Daifa dengan sedikit sewot.


"Its calem" Sahut orang di depan nya yang ternyata Helmi.


"Lo udah selesai belom?, Eoma udah nungguin di bawah" Lanjut Helmi sambil memperhatikan sang adik yang terlihat anggun.


"Sedikit lagi, gue belum dandan, lo duluan aja" Ucap Daifa berbalik pergi.


"Ga bisa, gue temenin lo di dalem aja" Tolak Helmi mengikuti masuk kedalam.


Sementara Daifa tidak peduli, iya sudah duduk di depan meja rias nya, mulai menambahkan Maek up simpel, iya segera merias rambut nya asal.


Menambahkan jepitan mutiara di sekitar rambut nya, Daifa melakukan itu atas suruhan Ghost, iya berusaha sabar agar tidak di curigai Helmi, bisa berabe jika Helmi melihatnya marah-marah tidak jelas ke arah angin. Di masukin ke RSJ kan ga lucu.


"So perfect" Kagum Helmi melihat penampilan Daifa.


"Biasa aja kali, lagian gue udah cantik dari lahir"Narsis nya dengan senyum sombong.


Tampa memperdulika kenarsisan sang adik, Helmi menarik Daifa untuk mengikuti nya.


" Gandeng tangan gue, Eoma ga bisa dampingin lo"Suruh Helmi membuat Daifa menatap Curiga.


"Gue curiga kalian nyembunyiin sesuatu? Ayo kasih tau gue!" Ucap Daifa memaksa Helmi, iya bahkan mengabaikan perintahnya.


"Lo bakal tau" Cetus Helmi menarik tangan Daifa untuk menggandeng tangan nya.


"𝘏𝘶𝘩! 𝘚𝘰 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢-𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢𝘢𝘯" Gerutu Daifa dalam hati.


Dengan seretan Helmi, akhirnya Daifa menurut dan berjalan beriringan dengan Helmi menuruni tangga.


Tatapan nya terpaku pada sosok yang selalu mengganggu nya belakangan ini, baru saja tadi sore iya bertemu dengan nya, kini iya kembali bertemu, dengan stelan jas melekat di tubuh nya, Daifa hampir mengumpat jika tidak di peringati Ghost.


"𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯! 𝘨𝘶𝘦 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘦𝘵 𝘪𝘯𝘪?! 𝘈𝘳𝘨𝘩𝘩𝘩, 𝘌𝘰𝘮𝘢! " Teriak Daifa dalam hati mengumpat.


"Kenapa ga ngasih tau sih!, tau mau acara ke gini mending tadi belanja baju dulu" Gerutu Daifa di lirik semua orang. tampa terkecuali, bahkan Ghost yang mahluk tak nyata pun mentap nya aneh.


"Dres ini aja cantik Fa, kalo Bunda kasih tau kamu, Bunda ga yakin kamu ga bakal kabur" Ujar Bunda Lidia menggeleng pelan.


"Udah jangan ada yang debat, sekarang kita mulai saja acara nya" Sahut Ayah Dika segera memperingati Daifa yang akan membalas sang Bunda.


Daifa mendengus pelan, memilih menurut daripada bertengkar.


"Oke kita mulai, kedatangan kami sekeluarga ingin melamar putri kalian untuk putra pertama kami, bagaimana tuan Dika?" Tanya papa Darel bertatapan dengan Ayah Dika.


Ayah Dika mengalihkan pandangan nya kearah Daifa yang hanya diam saja.


"Biar Daifa saja yang jawab, gimana Fa?"


Dengan senyum terpaksa Daifa melontarlan kata-kata nya.


"Yah, Fafa terima"


"Alhamdulillah" Ucap Papa Darel di ikuti semua nya. Kecuali Daifa dan Darel.


Setelah itu, Papa Darel menyuruh Darel untuk memasangkan cincin tunangan di jari manis Daifa.


"Sini'in tangan lo" Ucap Darel.


Daifa menyodorkan tangan nya kearah Darel, setelah itu gantian iya yang memasangkan cincin di jari Darel.


"Tinggal atur tanggal pernikahan nih" Ucap Bunda Lidia tersenyum senang.


"Iya Li" Angguk Mama Dila menanggapi sang sahabat.


"Ngga ya, Fafa ga mau, Fafa ga mau nikah sebelum lulus sekolah" Tolak Daifa tegas.


Iya benar-benar tidak menginginkan nikah muda, takut nya iya malah jadi tukang Pop Ice, membayangkan saja iya sudah ingin lari.


Daifa tidak sadar bahwa iya anak holkay, mana mungkin iya akan berakhir berjualan, bahkan iya tidak sadar jika iya sudah bisa menghasilkan uang tampa bantuan orang tua nya, Darel juga bukan orang miskin. Aneh-aneh saja si Daifa ini.


(Upss, sedikit ke spoiler, yaudah lah ga papa)

__ADS_1


Mendengar penolakan Daifa, Bunda Lidia juga Mamah Dila hanya tersenyum tenang.


"Tentu saja, kita ga akan nikahin kamu cepet-cepet ko, cukup tunangan saja sudah bagus" Ucap Bunda Lidia menggeleng pelan.


"Udah ga usah di pikirin, mending kalian berdua jalan-jalan aja di sekitar" Suruh Mamah Dila mendorong kedua nya untung segera pergi.


Di usir sang Mama, Darel menggandeng tangan Daifa untuk ikut dengan nya.


Meski iya tidak tahu harus kemana.


"Iss lepasin, mau kemana sih?" Gerutu Daifa menarik-narik tangan nya yang di genggam Darel.


Tampa memperdulikan Daifa, Darel terus berjalan menyusuri rumah, hingga langkah nya membawa iya ke halaman belakang.


"Wow, sejak kapan ada pohon gede?" Daifa berdecak kagum.


Meski ini rumah nya, Daifa tidak pernah menjelajah hingga halaman belakang, paling iya bersantai di halaman samping yang di jadikan taman dengan kolam ikan koi, soalnya kata sang Bunda, halaman belakang hanya di jadikan kebun cabai dan sayur lain nya, jadi itu yang membuat iya tidak minat mampir.


Saat mengetahui ternyata Iya salah tempat, Darel berniat untuk memutar balik, namun tampa di sangka Daifa sudah berjalan melewati kebun menuju pohon mangga besar.


"Jangan kesana Fa" Larang Darel menyusul Daifa.


Sedangkan Daifa, iya sudah menatap penuh binar keatas pohon, dengan senyum merekah, iya melepaskan sandal yang iya pakai tadi, untung saja rumput nya bukan rumput liar, jadi iya tidak perlu khawatir akan terluka.


Sebelum sempat melangkah kan kaki nya, iya sudah di tahan Darel.


"Lepasin ga?"


"Ngga"


"Lepasin!" Sentak Daifa meronta.


"Jangan nekat Daifa, lo bukan monyet, kenapa harus manjat pohon" Ujar Darel menatap Daifa jengah.


"Heh?! lo ngatain gue monyet?!" Sembur Daifa menatap Darel nyalang.


"Siapa?" Tanya Darel mengangkat alis nya sebelah.


"Budeg!" Kesal Daifa membuang pandangan nya.


Menatap keatas pohon dengan penuh minat, Daifa menatap tubuh nya dengan ekpresi berpikir.


Dirasa tidak memungkinkan untuk iya manjat-manjat, Daifa menggerutu tidak jelas.


"Huh! baju s*a*an! gue jadi ga bisa manjat kan" Rutuk Daifa menghentak kan kaki nya membuat iya meringis karena tidak memakai alas kaki.


"Kembali" Darel segera menyeret nya menjauhi pohon mangga yg rimbun membuat iya memeluk pohon mangga dengan satu tangan, Daifa sudah tidak memperdulikan baju nya yang akan rusak atau kotor, iya ngotot tidak ingin pergi.


"Ngga mau... "


"Buruan" Darel semakin kuat menarik tangan nya membuat iya tambah menjerit.


"Aaaa, lepasin! Pocot tangan gue" Seru Daifa yang membuat Darel tambah kesal.


"Lepasin pelukan lo kalo ga mau tangan lo lepas" Ujar Darel masih tidak mengalah.


"Ngga mau!, mau manjat... "Seru Daifa menolak keras.


" Nurut ga?!"


"Ngga!"


"Nurut!"


"Ngga!"


"Ehh ada apa ini ribut-ribut? Kamu ngapain Fa nemplok di sana?" Tiba-tiba Ayan Dika muncul menghentikan perdebatan kedua nya.


"Daifa nih om ga mau pergi" Ucap Darel melirik Daifa sekilas yang sedang menatap nya garang.


"Ga! dia yang narik-narik aku Yah"Daifa masih kekeh tidak mau pergi, bahkan iya semakin memperkuat pegangan nya.


Ayah Dika hanya bisa menggeleng pasrah, iya tidak mengerti kenapa anak perempuan nya doyan manjat?, apa jangan-jangan leluhur nya manusia monyet?, Ayah Dika menggeleng menyingkirkan pikiran-pikiran negatif yang bersarang di otak nya.


Segera iya melangkah mendekati kedua nya yang masih saling tarik-menarik.


"Udah Fa, pergi kedalam, besok aja manjat nya"Ucap Ayah Dika.


Menghembuskan napas nya pelan, Daifa melepaskan pegangan nya ke pohon mangga.


Memungut sandal yang iya lepaskan, Daifa berjalan meninggalkan Darel terlebih dahulu.

__ADS_1


Termasuk sang Ayah yang hanya menatap kepergian nya.


__ADS_2