
“Jika mempunyai rasa sayang kepada seseorang harus memiliki alasan, maka alasanku hanya karena aku sayang dia.”
“Assalamu’alaikum Kak Sya.” Ucap Fathiyya, teman sekelas Yasmin.
“Wa’alaikumussalam, kenapa Fat?” Tanya Syahila.
“Itu Kak Sya, Yasmin sakit. Minta dipanggilin Kak Sya ke kamarnya.”
“Astagfirullah, sakit apa dia?”Tanya Sya panik sambil berjalan menaiki tangga ke lantai dua.
“Demam kak, badannya panas banget.” Jawab Fathiyya, Syahila mempercepat langkahnya diikuti oleh Fathiyya.
Setibanya di kamar Yasmin, Syahila langsung duduk disebelah Yasmin yang sedang berbaring. Iapun menempelkan telapak tangannya ke dahi Yasmin. Saat Syahila merasakan panas di tubuh Yasmin, ia langsung meminta tolong kepada teman sekelas Yasmin untuk memetikkan daun bunga cocor bebek yang ada disekitar asrama. Dikarenakan Yasmin belum makan siang, Syahila membuatkannya bubur instan dan menyuruh Yasmin untuk memakannya. Karena Syahila takut salah jika memberikan sembarang obat, dan Yasmin menolak untuk dibawa ke klinik pesantren, maka Syahila hanya memberikan Yasmin madu sebanyak dua sendok makan. Dan menyuruh Yasmin beristirahat sambil menunggu teman sekamar Yasmin yang sedang memetik daun bunga cocor bebek datang. Setelah Syahila mendapatkan daun bunga cocor bebeknya, ia langsung mencuci dan menumbuknya menjadi agak halus. Lalu ditempelkannya tumbukan daun bunga cocor bebek itu ke dahi Yasmin. Merasa ketenangannya terusik, Yasminpun memegang dahi yang ditempelkan tumbukan daun bunga cocor bebek itu.
“Diem dulu, jangan dipegang.” Kata Syahila mengingatkan Yasmin agar diam.
“Ini apa Kak?” Tanya Yasmin.
“Ini daun bunga cocor bebek, bisa membantu menurunkan panas. Udah kamu istirahat aja, biar aku yang
memakaikannya.” Jawab Syahila, ia terus menempelkan tumbukan – tumbukan bunga cocor bebek di dahi Yasmin dengan telaten. Setelah selesai, Syahila kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi ke mushola menunaikan sholat maghrib.
Selekas menunaikan sholat maghrib, Syahila buru – buru mengambil makan untuk Yasmin yang sedang sakit.
“Sya, kamu gak makan bareng sama kita?” Tanya Nasywa saat melihat Syahila mengambil makan sendiri.
“Kayaknya aku gak makan dehh, kalian duluan aja.” Jawab Syahila kepada teman – temannya yang sedang mengantri untuk makan.
“Lah, itu buat siapa?” Tanya Nabila sambil menunjuk piring yang sedang di bawa Syahila.
“Owhh... ini buat Yasmin, dia lagi sakit.” Jawab Syahila.
“Tapi kamu juga harus makan lohh Sya.” Kata Sasha mengingatkan.
“Iya iya nanti gampang, udah dulu yaa duluan.” Ucap Syahila, ia langsung meninggalkan teman – temannya di ruang makan. Sebelum ke kamar Yasmin, ia pergi ke ke kamarnya dulu untuk mengambil botol minum miliknya.
“Nisa, kamu gak makan?” Tanya Syahila saat melihat Nisa berada di kamar saat jam makan.
“Nggak Kak.” Jawab Nisa singkat.
__ADS_1
“Makan Nis, nanti kamu sakit lohh. Yasmin juga sakit tuh di kamarnya gara – gara telat makan. Kegiatan disini itu banyak, tubuh kita juga butuh tenaga.” Kata Syahila mengingatkan.
“Ditinggal dulu yaa Nis.” Ucap Syahila lagi, lalu pergi.
Walaupun sebenarnya Syahila itu sedikit kesal kepada Nisa karena telah mengirimkan surat – surat ancaman kepada Yasmin. Tapi ia juga menyadari bahwa ia di amanahi untuk menjaga adik – adik kelasnya, terutama yang satu kamar. Saat Syahila tiba di kamar Yasmin, ia duduk di tepi ranjang dan memeriksa suhu tubuh Yasmin dengan menempelkan telapak tangannya ke dahi Yasmin yang masih ada tumbukan daun bunga cocor bebeknya. Ia membangunkan Yasmin dengan lembut dan mengantarkannya ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu Yasmin menunaikan ibadah sholat Maghrib di kamarnya, Syahila menunggunya dengan sabar,
setelah itu ia membantu melipatkan mukena yang telah dipakai oleh Yasmin untuk sholat.
“Nihh... kamu makan dulu yaa, panas kamu udah turun kok. Mungkin besok badan kamu lebih enak, jadi kamu bisa masuk sekolah.”
“Kak Sya udah makan?” Tanya Yasmin.
“Alhamdulillah.” Jawab Syahila, ia menyerahkan piring kepada Yasmin yang sekarang sudah duduk disebelahnya.
“Apa?” Tanya Yasmin lagi, ia menatap mata Syahila dengan tatapan menyelidik.
“Sudah.” Jawab Syahila pelan. Yasmin menghembuskan nafasnya perlahan.
“Aku gak mau makan.” Kata Yasmin mengejutkan Syahila.
“Nanti kamu gak sehat – sehat Min, aku cuma minta kamu makan saja kok.” Kata Syahila berusaha membujuk Yasmin.
“Ya udah iya, sekarang makan yaa.” Ajak Syahila.
“Suapin.” Pinta Yasmin, ia membuka mulutnya lebar – lebar. Syahila memutar bola matanya malas, namun ia tetap
menyuapi Yasmin sampai makanannya habis.
Salah satu hikmah berada di pesantren adalah kita akan mengetahui siapa yang memang benar – benar selalu ada untuk kita, dikala sedih atau pun senang. Rasa yang tak akan pernah dirasakan oleh orang – orang yang bersekolah di sekolah pada umumnya. Yang mana di pesantren 24 jam full bertemu teman – teman, sehingga dapat sangat memahami sifat masing – masing. Sebagaimana yang sedang Syahila lakukan saat ini terhadap Yasmin, dan sebaliknya. Sewaktu Syahila sakit pun Yasmin merawatnya sampai Syahila sehat, sampai – sampai Yasmin merelakan selimutnya untuk dipakai Syahila karena Syahila masih menggigil padahal sudah memakai jaket dan dan selimutnya. Yasmin juga sampai rela rela tidur dibawah di kamarnya Syahila untuk menunggu Syahila yang sedang sakit. Namun, saat Syahila terbangun di tengah malam, ia melihat Yasmin yang tertidur dilantai yang hanya dialasi kasur tipis tampak meringkuk kedinginan tanpa selimut. Syahila merasa sangat menyesal, karena ia merasa semua ini adalah karenanya. Mengingat Yasmin memiliki kebiasaan unik saat tertidur, Syahila tersenyum sendiri memikirkan rencananya agar Yasmin dapat pindah ke atas kasurnya. Syahila turun dari ranjangnya dan duduk di sebelah Yasmin yang sedang tertidur.
“Min, kamu kedinginan yaa?” Tanya Syahila kepada Yasmin yang sedang tertidur.
“Iya, dingin banget disini.” Jawab Yasmin yang masih tertidur pulas.
“Kenapa kamu gak pakai selimut?” Tanya Syahila lagi.
“Selimut aku dipake sama Kak Sya, soalnya dia lagi sakit.” Jawab Yasmin meski ia dalam keadaan tertidur.
“Kenapa kamu gak ambil aja, itukan selimut kamu.”
__ADS_1
“Kak Sya udah baik banget sama aku, walaupun orangnya bawel sihh. Setidaknya dia tulus deket sama aku.” Mendengar itu alis sebelah kiri Syahila terangkat sebelah.
“Maksudnya?”
“Dari aku SD, temen – temennya kakakku banyak yang deketin aku karena suka sama aa. Kalau Kak Sya itu beda, dia deket sama aku bukan karena kakakku.”
“Tahu dari mana kamu? Bisa saja jauh sebelum kamu kenal Kak Sya, dia udah kenal dengan kakakmu, dan deketin kamu karena kakakmu?” Syahila terus mengajak Yasmin ngobrol, padahal Yasmin sedang tertidur. Syahila melihat Yasmin terkekeh perlahan.
“Kak Sya aja tahu aa itu dari mamah, mamah aku sering cerita sama Kak Sya perihal aa. Dan akhir – akhir ini juga aku tahu kok kalau Kak Sya kadang suka chattingan sama aa.”
“Terus kamu gak masalah?” Tanya Syahila penuh selidik.
“Ya mungkin itu jawaban dari doaku saat pertama kali aku kenal Kak Sya.”
“Emang kamu doa apa?” Tanya Syahila makin penasaran.
“Aku berdoa semoga aku bisa punya kakak
ipar seperti Kak Sya.” Seketika Syahila terdiam, ia memandang Yasmin lekat –
lekat.
“Alasannya?”
“Supaya aku bisa jailin Kak Sya terus.”
Jawab Yasmin, lalu ia tersenyum dalam tidurnya. Sedangkan Syahila memutar kedua
kelopak matanya.
“Dasar yaa, dalam keadaan sadar atau enggak, anak ini sama aja nyebelinnya.”Rutuk Syahila
dalam hati.
“Oh gitu, ya udah kamu naik ke kasur aku yaa, biar gak kedinginan.” Ucap Syahila, ia membantu Yasmin pindah ke atas kasurnya karena Yasmin masih tertidur.
Setelah itu Syahila menyelimuti Yasmin yang kini sudah berada di atas kasurnya. Syahila melihat arlojinya yang kini
menunjukan pukul 2 malam. Karena Syahila sudah tidak bisa tidur lagi, ia memutuskan untuk menunaikan sholat sunnah tahajud dan menghafal Al-Qur’an untuk disetorkannya pada sehabis sholat shubuh nanti. Karena Syahila sakit, sehingga kemarin ia tak sempat menghafal Al-Qur’an untuk target hari ini.
__ADS_1