
Cukup lama mereka memperhatikan gerak gerik orang tersebut, hingga tampak adegan selanjutnya yang membuat mereka penasaran.
Orang tersebut menaroh kotak persegi di depan gerbang depan, dan kebetulan di jalanan komplek sedang sepi, jadi tida terlalu mencolok dengan penampilan orang tersebut yang tida di ketahui siapa, walau sudah terlihat bahwa orang tersebut ber jenis kelamin laki-laki dengan perawakan yang tinggi dan terkesan sanggar.
"Kita cek?" Tatap Daifa bergantian pada sahabat nya, terutama Afifa yang masih pokus menatap layar laptop.
Setelah itu Afifa menyaut dengan mantap.
"Kita cek"
Daifa dan Liana saling menatap, setelah itu mengangguk bersamaan.
Mereka keluar dengan siaga, siapa tau aja tiba-tiba ada penyerangan yang tida terduga. Namun sedikit heran dengan Liana yang membawa botol parfum yang mengandung alkohol di genggaman nya, tadi Liana juga sempat persiapan dari rumah nya dengan se botol parfum yang mengandung alkohol untuk berjaga-jaga.
Tentu saja itu membuat Daifa penasaran hingga membuat iya bertanya dengan heran.
"Na, ngapain bawa parfum?, Nana kira kita mau jalan-jalan?" Tanya Daifa, Menatal Liana heran.
Liana yang terus mengekor di belakang Afifa, menoleh menatap Daifa yang ada di belakang nya.
"Buat jaga-jaga lah Fa, yakali buat jalan-jalan!" Jawab nya sedikit kesal.
"Terus guna nya buat apa konah?!" Tanya lagi Daifa yang mulai kesal.
Liana balik menatap Daifa kesal, masa iya Daifa tida paham.
"Buat nyemprot mata musuh kalo ada yang macem-macem" Terang nya kembali membalikan badan nya tampa meladeni Daifa lagi.
"Tumben Nana pinter?" Heran Daifa, yang di balas dengusan Liana. Masa iya, iya di bilang tumben pinter, padahal iya emang pinter! Hanya saja iya terlalu malas.
Inget ya, sebenarnya manusia itu tida ada yang tida pinter! Hanya saja pada dasar nya mereka terlalu melas untuk berusaha, dan jatoh nya malah ga tau apah-apa kan?.
Mereka sudah tiba di depan gerbang, namu tida terlihat ada orang di sekitar luar gerbang, seharus nya masih belum terlalu jauh orang tersebut menghilang bukan?.
"Mang Irul buka gerbang nya" Suruh Afifa pada satpam yang menjaga gerbang nya.
"Buat apa non?" Tanya Pak Irul. Tentu saja iya tida akan membuka gerbang sembarangan, apa lagi iya di beritahu bahwa keluarga ini sedang dalam masalah peneroran, iya harus semakin memperketat keamana.
"Mau ngambil paket online pak" Jawab Daifa cepat memberikan alasan.
Iya tahu jika di jelaskan dengan jujur, mereka tida akan di ijinkan untuk mengambil nya, bahkan sekedar mendekat saja seperti tida akan di biarkan.
Tampa curiga sedikit pun Pak Irul membuka kan gerbang. dan memang iya melihat kotak paket di luar, meski heran karena paket tersebut di letakkan begitu saja tampa kurir, namun iya memilih tida ikut campur terlalu jauh.
Setelah itu Afifa mengambil kotak kardus tersebut dan membawa nya ke dalam, tida lupa iya juga menyuruh Pak Irul menutup gerbang kembali.
Afifa tida membawa kotak tersebut ke dalam rumah, melainkan ke halaman belakang rumah nya.
Setiba nya di halaman belakang, iya menaruh kotak tersebut di gajebo yang terletak di samping kolam buatan. Iya tida langusng membuka nya, iya akan berdiskusi terlebih dahulu dengan ke dua sahabat nya.
"Siapa sih, sebenarnya orang yang neror keluarga lo?" Tanya Daifa yang penasaran. Iya cukup kagum terhadap orang yang berani berurusan dengan keluarga Aditama, yang mana orang tersohor di indonesi, apalagi dalam bisnis, dan hukum, itu cukup membuat orang-orang segan sekaligus takut untuk macam-macam dengan keluarga Aditama.
"Ntah lah, mungkin saingan bisnis papah atau musuh nya, Fifi ga terlalu yakin? " Jawab Afifa yang merasa tida terlalu pasti dengan analisis nya. Kan tida tau ada yang berkedok sahabat, tapi musuh yang iri dengki.
"Huhh... Dan juga apa motip nya untuk meneror keluarga papah lo coba?"Hela napas Daifa yang merasa banyak teka-teki yang meski mereka pecah kan.
" Yee.. Fafa ga paham apa! Keluarga papah Indera kan orang terkenal, pasti banyak yang ingin jatuhkan keluarga mereka lah. apa lagi orang kan pada serakah"Cerocos Liana menanggapi pertanyaan Daifa yang tida berpikir luas.
Daifa menatap Liana kesal, iya juga tau kalo keluarga sahabat nya yang satu ini bukan orang sederhana, dengan Kake Afifa yang se orang mantan jendral, tentu saja orang pun akan memikirkan baik-baik konsekuensi nya. dan juga keluarga besar Aditama memiliki orang-orang berpengaruh di dalam nya. Seperti hal nya Ayah Afifa yang seorang pebisnis sukses dari usia muda.
"Ya gue juga tau, tapi heran aja sama orang yang berani buat bikin onar di keluarga Aditama, yang masti orang ini bukan orang yang bisa kita anggap remeh juga kali" Ucap Daifa menjelaskan pendapat nya.
Afifa yang sedaritadi memperhatikan kotak yang di kirim si peneror pun menyanuti perdebatan mereka berdua.
"Bener kata Fafa, seharusnya orang tersebut bukan orang sembarangan, kita jangan gegabah! bisa aja ntar orang tersebut meneror keluarga kalian juga" Ucap Afifa membenarkan pendapat Daifa yang memang masuk akal, iya juga tida mau jika keluarga sahabat nya terkena imbas juga.
"Terus itu kotak ga bakal lo buka?" Tanya Daifa mengalihkan pandangan nya pada kotak tersebut.
Afifa tida langsung menjawab pertanyaan Daifa, iya memeriksa seluruh sisi kotak tersebut, siapa tau ada sedikit petunjuk yang mengarah pada si pengirim nya kan.
Cukup lama iya memeriksa sebelum iya menjawab pertanyaan Daifa.
__ADS_1
"Kita buka aja, aman ko ke nya..? " Putus Afifa.
Daifa dan Liana yang sedari tadi berdiri di sisi gajebo, masuk dan mulai membuka kotak tersebut.
Setelah di buka, tida ada yang aneh? hanya berisi bunga tujuh rupa juga... Sepucuk surat?.
Mereka saling pandang satu sama lain, seperti sedang berbicara dalam satu pikiran.
"Apa maksud nya?" Bingung Liana. Menatap bunga tujuh warna di dalam kardus tersebut.
Daifa mengerutkan dahi nya, seperti sedang berpikir keras. Ya, iya tengah berpikir dengan otak sedikit jenius nya.
Setelah itu iya mengalihkan pandangan nya, hingga bertatapan dengan manik mata Afifa. Cukup lama mereka bertatapan hingga senyum Daifa muncul di bibir kecil nya.
"Mungkin kan?"Tanya Daifa masih dengan senyum misteri nya.
" Mungkin saja" Jawab Afifa mengalihkan kembali pandangan nya.
Liana yang tida paham di buat kebingungan dengan kedua sahabat nya yang tida menyjelas kan ke pada diri nya.
Hingga membuat iya penasaran untuk tida bertanya.
"Ihh.. Kasih tau gue juga lah" Kesal Liana yang tida bisa menebak senyum Daifa.
"Jelasin" Suruh Afifa tampa bantahan.
Mau tak mau Daifa menyjelas kan maksud dari senyum nya, hingga Liana mengangguk mengerti.
Daifa mengubrak-abrik bunga tujuh rupa tersebut, hingga iya menemukan secarik kertas di tumpukan bunga tujuh rupa tersebut. Ternyata ada 2 buah surat di dalam kotak tersebut.
"Buka yang mana dulu?" Tanya Daifa menatap Afifa.
"Ini aja" Putus Afifa membuka secarik kertas yang ada di tangan nya. Iya membuka dengan gerakan santai, setelah itu iya membaca nya dengan jelas.
"Hay, ketemu lagi sama lo Indera, gimana sama kiriman dari gue? Lo pasti suka ya? Inget jangan ngerasa senang dulu, gue ga akan berhenti gangguin lo sebelum lo menderita! Ingat itu.
Salam dari 5,8,4,5,11." Baca Afifa dengan ekspresi berubah-ubah.
"Kaya nya ini orang terdekat papah lo deh Fi?" Tutur Daifa.
"Ntah"jawab Afifa mengangkat bahu nya tak tau.
"Sekarang buka punya lo" Suruh Liana penasaran.
Daifa mengangguk, lalu membuka secarik kertas yang ada di tangan nya.
*5, 8,4,5,11
...*Buat lo Indera, gue masih ga rela lo dapetin Alfi, gue bakal rebut dia dari lo! Apapun cara nya, gue bakal jatuhin lo biar Alfi berpaling dari lo. *...
Begituh lah kira-kira isi tulisan yang ada di dalam kertas tersebut.
"Ohh.. Masalah cinta toh" Paham Daifa melipat kembali kertas yang iya buka.
"Dendam sama Papah lo karena cinta? Ampun... Dah kaya bocil ni bapak-bapak" Heran Liana menggeleng-gelengkan kepala nya tak habis pikir.
"Hooh kasian bener, tapi gue takut Bunda Al kenapa-kenapa di jalan" Cemas Daifa, jika sampe peneror nya nekat buat culik Bunda Alfi, kan makin repot urusan nya.
Cukup lama mereka berbincang-bincang di gajebo, hingga tida menyadari bahwa hari sudah mulai gelap, mereka beranjak dari gajebo meninggalkan halaman belakang, menuju ke dalam rumah.
Ternyata Bunda Alfi masih belum kembali dari kantor papah Indera, mereka memilih membersihkan diri masing masing secara ber gantian.di susul dengan aktivitas yang lain nya.
"Kita masak yo, mungpung Bunda Al belum pulang kita kasih kejutan" Ajak Liana kepada mereka ber dua.
"Ok, gue mau bikin bakwan, kaya nya enak tuh" Setuju Daifa.
Mereka berjalan turun dari lantai atas menuju ruangan bawah, ternyata Bunda Alfi masih belum pulang juga, pakta tersebut tentu saja membuat mereka khawatir. hingga Afifa menelepon Bunda Alfi, panggilan pertama tida mendapat jawaban, hingga panggilan kedua, barulah Bunda Alfi mengangkat panggilan Afifa.
*Ada apa Fi? *Tanya Bunda Alfi dari sebrang sana.
"Bunda kapan pulang?" Tanya Afifa.
__ADS_1
*Sebentar lagi pulang Fi*Jawab Bunda Alfi.
"Bunda pulang bareng Papah kan? Hati-hati di jalan ya Bun" Ucap Afifa mulai merasa tenang setelan Bunda nya akan pulang. Setelah itu, iya mematikan sambungan telepon dengan Bunda nya.
"Gimana Fi Bunda baik-baik aja kan?" Tanya Daifa harap-harap cemas.
"Bunda baik-baik aja, sebentar lagi pulang" Jelas Afifa.
Daifa juga Liana mengehela nafas lega, setidaknya nya Bunda Alfi pasti pulang bareng Papah Indera.
Mereka melanjutkan kembali langkah yang sempat tertunda karena mencemaskan Bunda Alfi.
Setelah sampai di tempat yang mereka tuju, mereka muali membuat masakan yang akan mereka hidangkan untuk menyambut ke pulangan Bunda Alfi.
"Woy tepung nya mana?" Tanya Daifa tatkala tidak menemukan benda putih yang biasa untuk membuat adonan.
"Di rak atas Fa" Jawab Afifa tampa mengalihkan pandangan nya yang sedang memotong sayuran, iya berencana untuk membuat tumis untuk menu nya.
Daifa mencari dengan aga kesusahan, karena tinggi badan nya yang tida terlalu tinggi, melainkan pas-pasan, sedangkan rak nya terlalu tinggi dengan ukuran tinggi nya.
"Iss ambilin napa!" Gerutu Daifa dengan muka manyun nya.
"Makanya minum HiLo, biar tinggi ke atas, bukan mentok" Ejek Liana, namun iya juga masih tetap membantu mengambil kan tepung yang Daifa butuhkan.
Daifa menatap Liana kesal, memang apa salah nya dengan tinggi nya? Iya akan tinggi jika hidup dengan orang yang lebih pendek dari nya.
Sibuk berkutata dengan pekerjaan masing-masing, sampai tida sadar bunyi kelakson mobil dari Arah depan, yang menandakan sang tuan rumah sudah kembali.
"FiNaFa, kalian di dalam kan?" Ucap Bunda Alfi mencari ke beradaan mereka bertiga.
Bunda Alfi berjalan menuju dapur karena berisik, mungkin saja ada sesuatu di dapur hingga menyebabkan keributan seperti itu. atau anak-anak sedang di dapur?.
Dan ya, pemandangan yang estetik, dengan ketiga mahluk yang tengah menata makanan di atas meja dengan dapur yang berantakan, Bunda Alfi sudah paham itu ulah siapa, siapa lagi jika bukan Daifa dan Liana.
"Hahh.. dah beres" Bangga Daifa mengelap tangan nya yang berminyak karena bakwan yang iya buat. setelah itu iya menengok kerena merasakan ke beradaan orang lain.
"Ehh.. Bunda Al udah pulang ya, Supreys" Ucap Daifa dengan senyum mengembang.
Liana yang mendengar ucapan Daifa menengok dengan Afifa yang juga ikut menengok.
"Ehh udah pulang Bun" Sapa Afifa, iya berjalan mendekati Bunda nya yang masih setia berdiri di sana.
"Ayah kemana Bun?" Tanya Afifa setelah menyalimi Bunda Al.
"Ayah kamu mungkin lagi mandi" Ucap Bunda Alfi. iya mengalihkan pandangan nya pada Daifa dan Liana yang sudah duduk di kursi makan.
"Kalian abis bikin apa?" Tanya Bunda Alfa berjalan mendekati meja makan di ikuti Afifa.
"Kita buat masakan buat Bunda Al"Saut Liana dengan senyum manis nya.
Bunda Alfi tersenyum melihat mereka begitu perhatian pada nya, iya menyayangi mereka berdua seperti menyayangi Afifa. jadi tida heran jika mereka begitu leluasa di rumah nya.
" Ehh..kalian pada main ya?"Tiba-tiba Papah Indera berucap dari belakang. tentu saja itu mengagetkan mereka.
Bunda Alfi mengalihkan pandangan nya kepada suami nya, sebelum menjawab.
"Iya mereka juga mau nginep di sini mas, bahkan mereka pada masak buat makan malam" Tutur Bunda Alfi manis.
"Yaudah kenapa belum pada makan? malah ngerumpi" Ucap Papah Indera berjalan mendekat.
"Wah.. siapa nih yang bikin bakwan?" Tanya Papah Indera dengan antusias.
"Itu Fafa, yah" Ucap Daifa tersenyum manis, iya tau kalo Papah indera sangat menyukai bakwan, makanya iya memutuskan untuk membuat bakwan.
Tampa mengobrol lebih lanjut lagi, mereka mulai acara makan malam dengan nikmat, apalagi Papah Indera yang paling antusias saat menyantap bakwan, sampai Bunda Alfi geleng-geleng kepala. setelah makan mereka langsung menuju kamar masing-masing tampa berbincang terlebih dahulu, bahkan Afifa tida menceritakan tentang datang nya peneror lagi.
...******...
Bersambung........
||Hay All, author kembali lagi dengan cerita yang lama tida Up, maaf ya ini baru ada ide, tapi sebagai permintaan maaf part ini cukup panjang ko, Terima kasih yang udah mampir||
__ADS_1