Always You

Always You
Episode 7


__ADS_3

Hari ini Syahila dan orang tuanya sedang menuju ke salah satu pondok pesantren yang berada di kota Kuningan Jawa Barat tempat Syahila menuntut ilmu dahulu. Memang seharusnya Syahila sudah berada di pesantren karena besok merupakan hari pertama masa orientasi santri di sekolahnya. Namun, bagi santri lama atau santri yang sejak SMP sudah berada dipesantren tersebut dibolehkan untuk tidak mengikuti masa orientasi. Dan hari ini Syahila dan orang tuanya datang ke pesantren bukan karena Syahila besok mau mengikuti masa orientasi, melainkan ia datang kesana untuk melihat pembagian kamar dan menaruh barang – barangnya saja. Ternyata Syahila mendapatkan kamar di lantai tiga nomor dua puluh dua. Ia dan ibunya langsung naik menuju kamar tersebut, sedangkan ayahnya menunggu di mobil karena memang tidak diperkenankan masuk ke dalam asrama. Setibanya dikamar, Syahila langsung membereskan barangnya dilemari. Dan ibunya membantu memasangkan sprei kasur yang telah


dipilih olehnya. Setelah memberi nama semua barangnya, Syahila dan ibunya langsung kembali ke mobil dan langsung meluncur ke Semarang dikarenakan ada acara keluarga disana.


Sementara itu, sepeninggal Syahila datanglah orang yang juga mendapatkan kamar yang sama dengan Syahila. Jika Syahila itu masuk kelas satu SMA, anak ini ternyata masuk kelas satu SMP. Memang biasanya dalam pesantren itu satu kamar dicampur dengan kakak kelas, tujuannya agar kakak kelasnya dapat mengayomi adik kelasnya. Berhubung anak itu anak yang benar – benar baru masuk ke pondok pesantren, jadi ia memasuki


kamarnya itu dengan ibunya dan sang kakak laki – lakinya. Memang seharusnya lelaki tidak diizinkan untuk memasuki asrama, namun jika keadaan terdesak diperbolehkan terlebih hari ini adalah hari kedatangan santri baru yang memang membawa banyak barang sehingga membutuhkan tenaga lelaki untuk membawanya. Apalagi jika yang dapat kamar dilantai tiga dan empat. Saat anak itu telah berada di depan kamar nomor dua puluh dua lantai tiga, sang ibu melihat daftar nama yang tertempel di depan pintu.


“Ohh ini de kamarnya, alhamdulillah ketemu juga. Aa ayoo bawa masuk barang ade ke dalam.” Perintah ibunya, setelah melihat nama Yasmin Tazahara ada dibarisan ketiga setelah nama Syahila Afsheen Myesha. Saat ibu dari anak yang bernama Yasmin ini membereskan barang – barang anaknya, sementara kakaknya Yasmin telah selesai memasang sprei di kasur yang akan ditempati adiknya. Sang kakak akhirnya duduk di kasur yang telah terpasang


rapi di dekat jendela. Ia memperhatikan sekeliling, dan melihat barang – barang yang sudah tersusun rapi itu bernama Syahila Afsheen Myesha.


“Mah sepertinya sudah ada yang datang sebelum kita yaa, ini sudah rapi semua. Ada namanya juga, Syahila Afsheen Myesha.” Kata kakaknya Yasmin memberitahu.


“Ohh berarti yang kasurnya kamu duduki itu punya dia kakak kelasnya ade.” Jawab sang ibu santai. Kakaknya Yasmin mengangkat satu alisnya, lalu bertanya pada sang ibunda.


“Loh mah, tahu dari mana dia kakak kelasnya ade?”


“Itu lohh di daftar nama yang tertempel di pintu kamar, ada nama lengkap, kelas, dan juga asal. Kalau gak salah tadi mamah melihatnya dia itu baru masuk SMA dehh, kelas sepuluh C dari Cirebon. Sama kaya ade, bedanya  cuma kelasnya saja. Selebihnya sama, ade kelas tujuh C dari Cirebon juga.” Jelas ibunya.


Tiba – tiba ada dua anak perempuan yang ternyata salah satunya itu adalah kenalan kakaknya Yasmin.


“Assalamu’alaikum....”


“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka bersama (Yasmin, kakaknya dan ibunya)


“Ehh Shofi, ini lohh mah yang aa ceritain kalau adek kelas aa ada yang sekolah disini. Anaknya guru aa waktu SMP,


saudaranya si Arif temen aa.” Ujar sang kakak memberi tahu.


“Ohh, kamu temennya Jay waktu SD itu.” Respon ibunya setelah melihat Shofi dan temannya. Dan orang yang bernama Shofi itu langsung mencium punggung tangan Bu Farras diikuti oleh temannya.


“Shofi, nitip Yasmin yaa.” Kata Jay pada Shofi, sementara itu Shofi hanya tersenyum malu.


“Iya titip ade yaa, soalnya ade baru mondok nihh.” Ucap Bu Farras. Namun Yasmin saat itu hanya memainkan karet


gelang yang ia temukan di atas lemari bernama Syahila itu. Dalam hatinya ia berkata.


“Apa sihh mamah sama aa tuh yaa, menitipkan aku segala? Emangnya aku barang apa?”. Namun Yasmin


terus  memainkan karet gelang itu entah dia apakan, tanpa mengeluarkan isi hatinya demi kesopanan.


Seminggu kemudian, masa orientasi telah usai. Santri yang tidak mengikuti masa orientasipun mulai berdatangan ke pesantren, begitupun dengan Syahila. Diantar oleh kedua orang tuanya ia kembali setelah liburan tambahannya, dan lagi ia tidak membawa banyak barang karena minggu lalu ia telah merapikan semua barang di kamar barunya. Dan saat Syahila tiba di kamarnya, ternyata di dalamnya terdapat banyak orang walau sebenarnya kuota


kamar hanyalah untuk empat orang.

__ADS_1


“Assalamualaikum” Ucap Syahila dan ibunya.


“Wa’alaikumussalam.” Kata orang – orang di dalam serempak. Syahila langsung menyalami semua orang yang ada disana, termasuk para wali santri yang sedang membantu anaknya masing – masing. Merekapun saling berkenalan satu sama lain, dan ternyata kali ini Syahila dipercaya untuk membimbing santri baru kelas tujuh yang memang belum pernah ada pengalaman mondok dengan salah satu kakak kelasnya yang bernama Syifa. Dan adik


kelas yang sekamar dengan Syahila adalah Yasmin Tazahara dan Zahra Nabila. Sedangkan penghuni kamar mereka satu lagi bernama Syifaul Husna yang kini kelas sebelas beda satu tahun dengan Syahila. Mereka akhirnya bercengkrama bersama, bahkan para ibu mereka saling menukar nomor kontak masing – masing. Mereka sedang berkumpul di kamar itu, namun santri bernama Syifa saat itu belum berada disana, dan ternyata Syifa baru datang kesana kurang lebih pukul sebelas malam.


Hari demi hari telah melewati bersama, merekapun sudah saling mengenal satu sama lain. Terlebih Syahila dan Yasmin, karena kedekatan mereka yang sangat dekat, sampai banyak yang mengira bahwa mereka itu adalah kakak adik kandung. Bahkan sampai ustadzah yang ada di asrama kadang suka terbalik jika memanggil nama Syahila dan Yasmin. Sekitar pukul setengah sepuluh malam para ustadzah berkeliling mengumpulkan para santrinya di rayon masing – masing untuk melaksanakan pembacaan hadist dan doa malam sebelum tidur. Anak kamarnya Syahila telah keluar dari kamar dan duduk di depan kamar masing - masing, sedangkan Syahila masih menyisir rambut yang hendak diikatnya.


“Astagfirullah Yasmin, yang lain sudah diluar semua lohh, kamu masih santai menyisir rambutmu. Cepat pakai jilbabnya.” Perintah ustadzah Dini kepada Syahila. Syahila terkejut mendengar ustadzahnya memanggilnya dengan sebutan Yasmin.


“Ummi, aku Sya, bukan Yasmin.” Sanggah Syahila.


“Yasmin disini ummi.” Kata Yasmin dari luar kamar dengan wajah cemberut.


“Ohh, kebalik ternyata. Makannya, kok bisa pas banget yaa kakak adek sekamar.” Ucap Ustadzah Dini.


“Ummi, kita bukan saudara kandung.” Kata Syahila dan Yasmin bersamaan.


“Loh, bukan? tapi kalian mirip. Ya sudah, Sya cepat keluar supaya cepat selesai.” Perintah Ustadzah Dini.


“Iya ummi.” Jawab Syahila lalu ia keluar dari kamar dan duduk disebelah Yasmin.


Karena sangat dekatnya mereka, Syahila dan Yasmin jika sudah mengobrol suka lupa waktu. Bahkan disaat mereka ujian, mereka kadang tidak ada yang belajar, jangankan belajar pegang buku saja tidak. Namun, hal itu hanya sementara. Karena Syahila yang memang lebih tua tiga tahun diatas Yasmin bahwa hal seperti itu adalah salah. Terlebih lagi, Syahila adalah salah satu panutan di kamarnya. Sudah bukan waktunya untuk dia hanya bermain – main semata, maka dari sana Syahila mulai merubah sikap lebih dewasa dan lebih mengayomi adik kelas yang berada di kamarnya. Walaupun begitu, pembawaan Syahila tetap santai kepada Yasmin, tapi  tetap saja dia lebih menjaga sikapnya agar Yasmin pun tidak berlaku semaunya pada Syahila. Bukan maksud Syahila ingin dihormati sebagai kakak kelas, tapi tujuannya adalah menanamkan rasa kesadaran bersikap kepada yang lebih tua itu harusnya seperti apa. Setidaknya hidup Syahila dan Yasmin di pesantren itu tenang – tenang saja sampai pada akhirnya Shofi, yang lebih tua setahun diatas Syahila itu memberikan seblak kepada Yasmin, sebagai tanda perkenalan. Yasmin yang merasa tidak enak kepada Shofi akhirnya membalasnya dengan memberikan kue pada Shofi. Itu pun karena Syahila yang mengingatkan, Yasmin pun mengikuti saran Syahila untuk kembali memberi sesuatu kepada Shofi, bagaimana pun juga ia dititipkan oleh kakak dan ibunya kepada Shofi terlebih dahulu. Sebenarnya itu adalah hal yang wajar, kita memang diharuskan berbagi, bahkan dalam masyarakat pun begitu saling timbal balik. Apalagi ini adalah di lingkungan pondok pesantren, sudah sepatutnya harus ada budaya berbagi. Namun, kasus ini berbeda, karena menimbulkan kesalahfahaman yang fatal.


tentu bingung, karena selama ini Yasmin adalah tipikal orang yang ceria. Syahila mendekat ke arah Yasmin, ia melangkah dengan hati – hati khawatir akan memperburuk suasana hatinya.


“Min, kamu kenapa? Kalau ada masalah cerita sama aku yaa.” Ucap Syahila dengan hati – hati. Tidak ada jawaban dari Yasmin, ia hanya terdiam dan meneteskan air mata yang semakin lama semakin deras. Syahila semakin bingung dengan tingkah Yasmin, tiba – tiba Yasmin menoleh kearahnya dan langsung memeluk erat sambil menangis. Syahila sangat terkejut saat itu, namun akhirnya ia membalas memeluk Yasmin menenangkannya. Syahila terus memeluk Yasmin dengan menepuk – nepuk punggungnya pelan. Saat dirasa Yasmin sudah sedikit tenang, barulah Syahila mencoba bertanya kepadanya.


“Sudah yaa, jangan menangis lagi, coba sekarang kamu cerita sama aku. Barangkali aku bisa bantu.” Kata Syahila


menawarkan diri. Sedangkan Yasmin tampak menimbang – nimbang, namun pada akhirnya Yasmin menyerahkan secarik kertas yang sejak tadi dipegang olehnya kepada  Syahila.


“Aku dikasih surat ini sama anak kelas delapan, tapi katanya ini dari kak Nisa adiknya kak Shofi.” Ucap Yasmin


memberitahu Syahila. Syahila langsung membaca surat itu sambil sesekali beristigfar memohon ampun pada Allah SWT


‘Eh, Yasmin! Gak usah caper sama kakak gue deh. Inget dia tuhh punya ade, yaitu gue! Ya walaupun gue tahu kak Shofi itu suka sama kakak lu, tapi gue kagak suka lu deket – deket sama kakak gue. Semenjak ada elu di sini, kak Shofi lebih perhatian sama elu dibanding gue. Awas yaa lu kalau gue liat lu caper sama kakak gue lagi, sampai kapanpun gue kagak bakalan setuju  kak Shofi sama kak Jay, kakak lu itu.’


“Kalau semua santri begini, lama – lama pesantren ini kosong karena santri barunya pada pindah sekolah karena gak betah” Ucap Syahila, ia melirik ke arah Yasmin yang masih menundukan kepalanya dengan tangan yang gemetar.


Syahila hanya bisa menghela nafas setelah membaca surat itu, ia tidak habis pikir salah satu adik kelasnya ada yang sangat kekanak – kanakan, cemburu dengan kakaknya kandungnya sendiri namun malah menegur orang lain. Yang Syahila inginkan adalah jika ada masalah itu lebih baik dirundingkan terlebih dahulu apalagi mereka adalah saudara kandung, bukan malah mengancam orang yang tidak bersalah seperti ini. Syahila juga sangat menyayangkan hal ini terjadi, terlebih terjadi di lingkungan pondok pesantren yang harusnya bersih dari bullying, karena disini benar – benar di ajarkan nilai – nilai islam yang dituntut untuk diterapkannya dalam kehidupan


sehari – hari. Tentu saja kejadian yang telah menimpa Yasmin hari ini menurut Syahila adalah suatu kekeliruan yang harus segera diperbaiki.


“Ya sudah, kamu jangan sedih lagi yaa. Kan ada aku disini, tenang aja. Tapi kamu ingat yaa, kamu jangan ada rasa

__ADS_1


dendam sama kak Nisa. Dan aku minta kamu juga jangan menjauh dari kak Shofi tapi juga jangan terlalu dekat, biasa sajalah. Karena pertama, kita itu tidak boleh memotong tali silaturahim yaa. Kedua, karena kamu sudah tahu bahwa adiknya kak Shofi cemburuan lebih baik dekat sewajarnya saja yaa.” Ucap Syahila mengingatkan Yasmin.


“Makasih yaa kak Sya, sekarang aku sedikit lebih tenang. Tapi kak Sya jangan bilang mamah aku yaa.” Pinta Yasmin kepada Syahila, dan Syahilapun meyetujuinya.


Nah, semenjak kejadian itu jika Yasmin terjadi sesuatu atau hanya untuk sekedar curhat pasti selalu bicara dengan


Syahila. Syahila mendengarkan dengan seksama, ia berusaha untuk menjadi pendengar yang baik untuk Yasmin. Selain itu, Syahila berusaha untuk terus memotivasi Yasmin dalam belajar, ia juga berusaha merawat Yasmin dengan baik saat dia sakit. Walaupun Syahila mempunyai keterbatasan fisik, tetapi ia sangat berusaha agar dapat mengayomi adik – adik kelasnya dengan baik. Dan syukurnya,Yasmin adalah anak yang tidak pernah memandang orang dari fisiknya. Jika menurutnya dia nyaman saat berada di dekatnya, Yasmin akan sangat baik padanya.


Menurut Syahila, hikmah yang dapat dipetik ia di tempatkan satu kamar dengan Yasmin mungkin karena Allah SWT ingin dirinya menjadi teman Yasmin agar betah di pesantren serta melatih kedewasaan Syahila menghadapi sikap Yasmin yang sangat manja itu. Namun, masalah baru muncul dengan adanya gosip bahwa Syahila dekat dengan Yasmin karena dirinya ingin mendekati Jay kakaknya Yasmin, padahal yang sebenarnya adalah saat itu Syahila benar – benar tidak mengetahui bahwa Yasmin itu mempunyai seorang kakak laki – laki. Melihat dari sifat Yasmin yang manja, Syahila menyangka bahwa Syahila adalah anak tunggal sehingga pada awalnya ia santai saja jika Yasmin curhat kepadanya.


“Astagfirullah... padahal jujur saja yaa Bil, aku saja gak tahu Yasmin itu punya kakak lohh.” Kata Syahila kepada


Nabila, saat Nabila menceritakan bahwa beredar gosip tentang Syahila dan Jay kakaknya Yasmin.


“Masa sihh Sya? Bukannya kamu itu deket yaa sama Yasmin dan ibunya?” Tanya Nabila teman sekelasku.


“Ya sekedar deket membicarakan pesantren saja, Yasmin juga tidak pernah cerita punya kakak. Aku kira Yasmin anak tunggal, soalnya dia manja banget anaknya.” Jawab Syahila seadanya.


“Iya sihh, aku juga mengira begitu. Abis dia manja banget sama kamu Sya, aku jadi inget waktu Yasmin sakit dia minta kamu tidur seranjang dengannya karena dia tidak bisa tidur. Padahal, saat itu kamu lagi belajar buat kuis matematika besoknya. Tapi kamu sabar banget sampe nungguin dia tidur, dan setelah Yasmin tidur kamu yang mengompres sampai panasnya turun.” Jelas Nabila.


“Namanya juga kita diamanahkan untuk menjaga adik kelas kita yang ada di kamar masing – masing Bil, lagipula aku juga merasakan jika sedang sakit di pondok dan tidak ada yang care dengan kita itu rasanya gak enak. Makanya aku berusaha untuk selalu ada dikala susah dan senangnya, bukan hanya Yasmin tapi Zahra juga. Setidaknya aku berusaha menjadi kakak kelas yang baik untuk adik kelas yang ada di kamarku.” Kata Syahila


merespon ucapan Nabila.


“Iya juga sihh” Ucap Nabila membenarkan perkataan Syahila.


Malamnya, Syahila mencoba menanyakan kepada Yasmin perihal kebenaran bahwa ia mempunyai kakak, khususnya laki – laki. Syahila sengaja menanyakannya ketika malam hari karena kegiatan di pesantren sangat padat.


“Owhh.... kak Sya sudah tahu rupanya gosip itu yaa? Aku kira kakak belum tahu.” Jawabnya santai, sedangkan Syahila menatapnya dengan tatapan tak percaya.


“Jangan bilang kamu sudah tahu tentang gosip itu?” Tanya Syahila pada Yasmin.


“Gimana gak tahu coba? Hampir dua minggu ini kalau aku berpapasan dengan kak Sya pasti terdengar banyak yang bilang bahwa kak Sya itu adalah calon kakak ipar aku.” Jawab Yasmin santai


“Terus kamu gimana?” Tanya Syahila penasaran dengan sikap Yasmin, karena ia takut Yasmin akan salah paham


kepadanya.


“Ya aku diam sajalah, lagian biasa saja. Toh, aku tahu  Kak Sya itu gak tahu kakakaku kan?” Tanya Yasmin dengan pedenya.


“Tahu saja kamu.” Jawab Syahila, ia tersenyum merasa lega karena Yasmin tidak termakan oleh gosip murahan itu.


“Iyalah... kak Sya itu gak pernah kemana – mana pokoknya kalau gak di kelas ya di kamar. Makanya suka kudet, sampai gosip sendiri aja telat tahunya hehehe.” Canda Yasmin.


“Yee dasar, ngeledek kamu yaa.” Ucap Syahila sambil tertawa diikuti oleh Yasmin. Syahila merasa lega karena Yasmin tipikal orang yang tidak mau ambil pusing dengan perkataan orang, sehingga Syahila tidak perlu merasa canggung dengan gosip yang beredar.

__ADS_1


__ADS_2