Always You

Always You
Episode 24


__ADS_3

Setelah dari kantin Daifa memilih pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu di ikuti Abi yang ntah kenapa mengikuti nya.


Daifa memilih menuju taman belakang, iya akan memantau sesuatu.


Saat tiba di taman belakang Daifa menengok ke belakang, karena iya merasa di ikuti, dan ya Abi lah sang mahluk yang mengikuti nya tengah berdiri di belakang nya dengan tampang kikuk nya.


"Ngapain lo! " Ketus Daifa menatap tajam sang objek.


"Ga ada" Jawab Abi. Ntah kenapa iya ingin mengikuti Daifa saat gadis itu pergi dari kantin, iya merasa ingin mengikuti nya.


Tampa membalas ucapan Abi, Daifa memilih melanjutkan tujuan nya hingga kini iya sampai di depan pohon yang lumayan tinggi dengan buah yang bergelantungan, hingga membuat senyum nya merekah mekar, bak bunga tertimpa sinar matahari.


"Wahh.. Rejeki anak bapak Dika nih" Seru Daifa dengan mata berbinar.


"Lo mau maling? " Cetus Abi tiba-tiba yang membuat Daifa kaget hingga hampir saja melayangkan tinju nya.


Mendelik kesal, Daifa menolehkan pandangan nya menatap Abi yang membalas nya dengan senyum, yang malah ke lihatan menyebalkan di mata Daifa.


"Bukan! , mau sedekah! " Jawab Smbrono Daifa, iya mengalihkan pandangan nya ke atas pohon kembali.


"Ketahuan BK, mampus " Serkas Abi, yang tida di indahkan Daifa.


"Awas lo kalo minta! " Peringat Daifa sarkas. Siapa tau saja kan kalo iya sudah mendapatkan buah nya, Abi malah me malak nya.


Ta mau membuang-buang waktu, Daifa membuka sepatu nya dan mulai melakukan panjat memanjat dengan lihay.


Setelah sampai di atas, iya duduk di salah satu cabang, dan mulai mengambil buah mangga, yang sangat menggoda untuk di makan, setelah satu buah mangga yang setengah matang ada di tangan nya, Daifa menyimpan nya di saku almamater dan mulai memilih kembali mangga yang akan iya santap di atas pohon nya.


"Buruan turun" Seru Abi dari bawah.


Daifa mengalihkan pandangan nya ke bawah, menatap orang tersebut malas.


"Ayo turun!, keburu ada OSIS, ntar nyusahin gue lagi! " Oceh Abi yang terus menyuruh Daifa turun.


"LO AJA SONO YANG PERGI" Teriak Daifa dari atas pohon. dah macam kera aja.


"Buruan turun! " Seru Abi kembali, yang tidak menyerah.


"Ngga" Tolak Daifa acuh.


"Turun!" Seru Abi ta mau di bantah.


Ta menghiraukan ocehan Abi, Daifa memimilih memakan buah hasil panjatan nya, iya mengupas kulit manggah tersebut, dengan pisau kecil yang selalu iya bawa kemana -mana, iya khawatir jika musuh perusahaan ayah nya, akan menyerang iya jika sedang sendiri. Makanya iya membawa pisu lipat yang selalu ada di saku nya.


Setelah mengupas dan memotong-motong mangga tersebut, Daifa melahapny dengan nikmat, tampa memperdulikan Abi yang tengah menatap nya.


Setelah habis dan menyisakan biji nya, Daifa melemparkan biji tersebut asal, sehingga mengenai seseorang yang akan membuat iya dalam masalah.


π˜‹π˜Άπ˜¬


"Siapa yang lempar-lempar sembarangan!, Hah! " Seru orang yang terkena lemparan Daifa.


Daifa melebarkan bola mata nya tatkala iya mendengar suara yang amat pamiliar bagi siswa bar-bar seperti nya.


Mampus gue :Batin Daifa panik, iya berusaha menenangkan diri nya agar tida panik berlebihan yang mana malah membuat iya makin sial, iya menatap kebawah, lebih tepat nya ke arah Abi yang juga tengah menatap nya.

__ADS_1


"Eh!, lo tolong sembunyiin sepatu gue dong"Suruh Daifa. Saat iya memiliki ide.


Abi yang juga panik, menatap Daifa heran , apalagi Daifa belum turun dari atas pohon, karena bingung Abi memilih bertanya.


"Mau ngapain?, lo aja belum turun" Tanya Abi.


"Udah lakuin aja" Paksa Daifa yang semakin panik tatkala mendengar langkah kaki yang semakin mendekat.


Sedangkan Abi?, iya memilih menurut saja,daripada Daifa makin marah.


Daifa yang melihat Abi patuh pun, menyunggingkan senyuman nya, iya tida perlu repot-repot untuk lari dari hukuman yang akan di berikan, atau bahkan mengelak dan mengeles ke bajay.


Setelah semua beres, Daifa menginterupsi Abi untuk melakukan yang iya perintah kembali.


"Ehh.. Lo pergi duduk di sono, terus mata lo jangan lirik ke sini, atu gue colok pake ni benda! " Suruh Daifa Sambil mengacungkan pisu nya.


Abi yang mendengar nya bergidik ngeri tapi iya tida mau harus terkena imbas sendirian, iya memilih duduk di bawah pohon yang di tempati Daifa, tampa mendengarkan ancaman-ancaman gadis itu, yang semakin marah.


"Ehh.. Ba**at !, gue nyuruh lo pergi, bukan duduk" Kesal Daifa yang makin ta karuaan.


"Ga, enak aja lo! Kalo gue nurut, gue yang di hukum" Cetus Abi acuh.


Mendengar jawaban Abi, membuat Daifa semakin kesal, iya menyesal membiarkan Abi mengikuti nya jika akhirnya hanya jadi beban seperti sekarang.


"Ok, fain, gue masih punya jalan rahasia sebelum tuh guru gendut dat___" Kata Daifa terpotong oleh suara aorang yang sudah ada di bawah pohon yang iya tempati.


"Bagus.. Jam pelajaran malah nangkring di atas, mau jadi monyet kamu hahh! " Geram pak Agus, apa lagi saat Daifa mengatai nya guru gendut. padahal emang pakta.


Sontak Daifa kaget hingga hampir terjengkang, untung refleks pegangan.


Menampilkan cengiran khas nya, rencana yang iya siapkan sebelum ke tahuan telah hilang ta terbentuk Daifa diam ta berkutik. pupus sudah semua yang iya susun. Tapi iya juga kesal di katai jadi monyet.


"Eh.. Enak aja di bilang jadi monyet! Saya mau jadi istri nya jaemin, simpanan Renjun, selingkuhan nya jeno juga__" Beber Daifa dengan kepedean yang tinggi sehingga di sela pak Agus.


"Udah! , kamu tuh ngayal! buruan turun" Sentak pak Agus. memotong cerocosan Daifa yang makin ngaco.


Dengan wajah manyun, Daifa turun dari atas pohon dengan lihay.


"Di mana lo sembunyiin spatu gue? " Tanya Daifa.


"Cari tuh di sekitar situ" Tunjuk Abi pada belakang pohon.


Setelah menemukan sepatu nya, Daifa mengikuti pak Agus ke ruang BK.


Dan kini iya sedang di introgesi di ruang BK bersama Abi, yang sedaritadi menundukan kepala nya. Mungkin iya takut kena hukum, atu bahkan kena skor, padahal iya masih di sebut murid baru.


"Kamu tuh ga bisa apa ga bikin ulah sehari aja, bapak pusing sama tingkah kamu Daifa! " Geram pak Agus menatap Daifa tajam. Yang di balas tatapan santai Daifa.


Iya tida takut di keluarkan dari sekolah, karena iya anak pengusaha terbesar yang menjadi donatur di sekolahan nya.


"Minum oskadon sp pak,kalo pusing, ntar saya kasih deh buat bapa gratis ko" Ucap Daifa. Yang mana membuat pak Agus semakin jengkel.


"Kamu kira bapa se miskin itu hah! " Kesal pak Agus.


"Saya ga ada bilang gitu tuh? " Timpal Daifa yang masih santai.

__ADS_1


"Kamu!! " Geram pak Agus semakin perustasi.


Mengalihkan tatapan nya dari Daifa. Pak Agus balik menatap Abi yang sedaritadi diam menyaksikan perdebatan antara pak Agus dan Daifa.


"Kamu juga!, kamu itu masih baru di sini, kenapa udah bikin ulah hah!" Semprot pak Agus kepada Abi.


"Saya kan cuman ngikutin dia pak" Ucap Abi, memberi penjelasan.


"Hehh, siapa yang nyuruh lo ngikutin gue, maen nuduh aja! " Serkas Daifa tida Terima di tuduh yang bukan-bukan.


"Diem kamu! " Tegas pak Agus menatap tajam Daifa, yang membuat Daifa bungkam.


"Diyim kimi" Menye Daifa dengan suara lirih.


"Kalian berdua bapak hukum!. Daifa kamu harus bersihin perpus dalam 1 minggu!, tampa penolakan. Kamu Abi! Karena kamu masih baru bapak hukum kamu bersihin laboratorium selama 3 hari, tida ada perotesan" Tegas pak Agus tampa bantahan. Hingga membuat Daifa yang ingin protes bungkam.


"Sudah keluar. ingat kembali ke kelas!" Suruh pak Agus mengusir mereka berdua dari ruangan nya.


Keluar dari ruangan pak Agus, Daifa berjalan gontai. Iya ingin perotea tapi sudah terlanjur.


"Dikira ga cape apa! Pak gendut ga berperasaan, semua murid babu di mata nya, huh" gerutu Daifa di sepanjang jalan koridor.


Abi yang melihat Daifa ber sungut-sungut hanya menggelengkan kepala nya.


"Lo nya aja kali yang ke bandelan" Celetuk Abi menghentikan jalan Daifa.


Daifa menatap Abi sengit, seperti menatap musuh bebuyutan.


"Ga ngaca! Lo juga baru aja masuk udah di hukum huh" Ketus Daifa. Tampa menghiraukan balasan dari Abi, Daifa melangkah pergi lebih dulu menuju kelas nya, menyisakan Abi yang menatap punggung Daifa, dengan senyum manis nya.


"Gemesin" Gumam nya dengan senyum manis nya. Lalu iya berlalu menuju kelas nya juga.


Di sisi Daifa. Kini iya tengah berdiri di depan pintu kelas nya, iya tengah menimang-nimang harus masuk dengan ketuk pintu, atau tendang pintu. Begitulah ke bingbangan nya, ini nih ciri-ciri murid legen.


"Tendang aja kali ya?, tapi gue udah dapet hukuman dari pak gendut. Kalo gue ketuk, rasanya aneh." Gumam Daifa di depan pintu kelas.


Bruk


Dan pilihan iya adalah menendang pintu hingga terbuka lebar, hingga mengagetkan se isi kelas, termasuk juga sang guru yang ternyata sedang mengajar.


"Ketuk pintu Daifa! Ketuk pintu! " Geram guru yang mengajar. Iya kesal karena Daifa yang masuk ke kelas terlambat membuka pintu pun tida ada sopan-sopan nya.


Sedangkan Daifa menampilkan cengiran nya, siapa tau guru itu pun tida terlalu marah.


"Maaf Bu, kelepasan" Jawab Daifa menggaruk tengkuk nya.


Guru yang bernama Bu Patmi hanya mendengus kesal sebelum kembali melanjutkan pelajaran.


"Sana duduk" Suruh Bu Patmi.


Tampa membalas ucapan Bu Patmi, Daifa berjalan menuju meja nya, yang terletak di depan Liana.


Daifa menatap Liana sekilas sebelum benar-benar duduk dan mengikuti pelajaran walau iya sedikit bosan.


Kini Daifa juga kedua sahabat nya tengah berada di parkiran, bersiap untuk pulang.

__ADS_1


mereka pulang satu mobil karena mereka bertiga akan menuju rumah Afifa untuk kembali menyelidiki kasus peneroran yang terjadi.


__ADS_2