
Setelah aktivitas sekolah yang lumayan lama, kini waktu jam terakhir usai.
Semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Termasuk Daifa dan lain nya.
"Mau jalan-jalan dulu ga Fa?" Tanya Liana yang tengah berjalan santai di Koridor.
Daifa menggeleng sebagai tanggapan.
"Kenapa?" Heran Liana saat Daifa menggeleng.
"Gue ada urusan, kalian pulang duluan aja"Sahut Daifa tampa niat menjelaskan.
" Yaudah kita duluan ya"Pamit Liana saat sudah memasuki parkiran.
Daifa juga segera menuju mobil nya, setelah itu iya segera melajukan mobil keluar gerbang sekolah.
Melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, iya melirik sepion mobil nya. Sesuai dugaan nya, mobil nya di ikuti oleh mobil lain dengan jarak yang lumayan jauh.
Dengan senyum smirk nya, iya segera mempercepat laju mobil nya hingga sampai di pedesaan yang sepi. Iya baru sadar di sekitaran hutan selatan ada sebuah desa, namun iya tidak ambil pusing.
Setelah memberhentikan mobil nya, iya diam saja tampa keluar dari dalam mobil, iya menunggu pengendara mobil yang mengikuti nya keluar terlebih dahulu, baru iya akan keluar.
Tok
Tok
Tok
Kaca mobil nya di ketuk dengan tidak santai, iya menurunkan kaca mobil nya dan pura-pura takut. Walau sebenrnya iya merinding, apa lagi dengan tampang jelek pereman yang mengikuti nya.
"Kenapa ya om?" Tanya Daifa basa-basi sambil berkedip polos.
"Turun lo!" Suruh pereman yang mengetuk kaca mobil nya dengan garang.
"Sabar om, orang sabar kepala nya besar" Ujar Daifa membuat para pereman yang berjumlah 4 orang itu marah.
"Bacot lo!"
Mendengus dingin, Daifa segera keluar dari mobil nya menatap satu persatu pereman yang berbadan besar itu seakan sedang menilai.
Di tatap seperti itu oleh Daifa membuat pereman-pereman itu marah hingga bersiap menyergap Daifa namun Daifa segera menghentikan langkah mereka.
"Bentar dulu om, Fafa mau nanya dulu" Pinta Daifa membuat para pereman itu mengangkat alis mereka bingung.
"Kalian kan mau culik Fafa, tapi sekarang Fafa laper, kalian punya makanan ga?" Tanya Daifa dengan santai nya.
"Kasih" Suruh bos pereman kepada anak buah nya yang langsung di laksanakan.
"Tuh makan" Suruh si anak buah memberikan nasi bungkus dengan kasar ke arah Daifa.
"Iss yang lembut napa om" Gerutu Daifa.
Dengan segera iya membuka nasi bungkus itu, tersenyum senang, iya mengalihkan tatapan nya dari nasi bungkus ke arah para pereman.
"Kalian ga mau makan bareng Fafa?" Tawar Daifa menatap mereka.
"Buruan makan! buang-buang waktu!" Gertak si bos dengan geram.
"Huh, Fafa kan cuman nawarin" Decak Daifa.
Dengan segera iya melahap nasi bungkus itu hingga habis.
"Oke kita mulai" Ucap Daifa dengan raut serius setelah mengelap mulut nya dengan tisu.
Dengan segera iya merubah raut wajah nya menjadi datar. Perubahan cepat itu sontak membuat para pereman itu tertegun.
Heyy, dimana wajah polos tadi!, Seru mereka dalam benak.
Melihat wajah cengong mereka, Daifa tersenyum tipis, dengan segera iya maju terlebih dahulu menampar satu persatu pereman itu hingga mereka terkejut.
"Gitu aja bengong" Ucap Daifa meledek mereka.
Tampa aba-aba iya langsung menendang salah satu pereman terakhir hingga tumbang. Di lanjut ke pereman ketiga yang siap menyerang nya.
Brug
Brug
Tendangan dan tinjuan Daifa layangkan membuat pereman ke_3 babak belur.
Bug
Satu tinjuan lagi Daifa layangkan di hidung di pereman ke_3 membuat pereman itu langsung jatuh tak sadarkan diri.
Melihat Daifa menumbangkan dua bawahan nya dengan mudah, membuat bos pereman itu menyerang Daifa dengan murka.
Kedua pereman itu menyerang Daifa secara bersama-sama, tentu saja dengan sigap Daifa menangkis serangan beruntu tersebut, tidak lupa juga iya membalas kedua pereman itu.
Kedua pereman itu di dorong mundur oleh Daifa,membuat Daifa menatap remeh kedua nya.
"Segitu doang kemampuan kalian, badan doang gede, otot cemen" Ejek Daifa tertawa serkas.
Kedua pereman yang tidak terima di ejek oleh Daifa segera menyerang kembali secara berutal.
Daifa yang langsung di serang sempat lengah hingga iya terkena tinjuan dari bos pereman itu di perut nya, membuat iya terpaksa mundur dua langkah.
Memegang perut nya yang nyeri luarbiasa iya jadi tidak pokus hingga di jadikan kesempatan oleh bos pereman itu. Bos pereman itu segera melayangkan tinjuan namun tinjunya di tahan oleh tangan seseorang.
Tampa sempat melihat siapa yang menahan serangan nya, iya di banting dengan keras ke tanah membuat iya kehilangan kesadaran nya. Hingga kini tersisa anak buah nya yang ketakutan.
Daifa yang sudah pokus kembali menatap terkejut orang yang menolong nya. Namun iya tidak terlalu memusingkan itu, dengan cepat iya mengikat anak buah pereman tersebut agar tidak kabur.
"Mampus lo ga bisa kemana-mana" Cerca Daifa yang kepalang emosi karena perut nya sakit akibat tinjuan tadi.
"Lo ga papa?" Tanya Darel memeriksa tubuh Daifa dengan tatapan kawatir.
"Hadeh, yang ada kalo lo ke gitu gue makin kenapa-napa" Sungut Daifa kesal.
"Terus kenapa lo tau gue ada di sini? lo mata-matain gue ya?! " Tuduh Daifa menatap Darel penuh selidik.
"Gue tau dari feeling gue" Acuh Darel yang masih bersikap santai.
"Feeling-feeling, bilang aja sih lo mata-matain gue"Decak Daifa berlalu menuju mobil nya, namun dengan cepat tangan nya di tahan Darel membuat iya menghentikan langkah nya.
" Biar gue yang nyetir"Ucap Darel mendorong Daifa masuk setelah membukakan pintu mobil.
Tampa perotes lagi, Daifa segera duduk di kuri sebelah, setelah itu Darel masuk dan mulai melajukan mobil Daifa meninggalkan lokasi.
"Motor lo?" Bingung Daifa menunjuk motor Darel yang di tinggal pergi begitu saja.
"Ada yang jemput" Singkat Darel tampa menoleh ke arah Daifa.
Daifa mangut-mangut mengerti, setelah nya iya hanya diam, walau sebenar nya iya penasaran dengan kampung yang berada di sebrang.
"𝘒𝘢𝘱𝘢𝘯-𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘫𝘢 𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘶𝘦 𝘬𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘢"
Setelah menghabiskan beberapa jam berkendara, kini mobil Daifa sudah memasuki kawasan komplek rumah nya. Setelah memarkirkan mobil, Darel segera keluar dari dalam mobil.
Memutari mobil dan berhenti di tempat duduk Daifa, iya segera membuka pintu mobil untuk Daifa.
Dengan sedikit kesulitan, Daifa keluar dari mobil. Akibat bogeman di perut nya, iya jadi kesulitan bergerak.
Tampa sepatah kata pun, Darel menggendong Daifa ala putri. Sontak saja Daifa menjerit.
"Kyakk, dasar triplek se**n! turunin gue!" Seru Daifa memukul pundak Darel dengan tangan nya namun tidak di hiraukan Darel yang langsung membawa nya masuk kedalam rumah.
"Yaampun Fa, kamu kenapa?, ko baju kamu berantakan? banyak luka-luka lembab lagi! kamu abis di serang siapa!" Cerca Bunda Lidia menatap Daifa khawatir.
Setelah menurunkan Daifa di atas kursi, Darel ikut duduk di samping nya.
"Bentar bunda ambilin kotak P3K dulu" Buru-buru Bunda Lidia ke dapur. Tampa menunggu lama iya sudah kembali dengan kotak obat di tangan nya.
__ADS_1
Dengan telaten Bunda Lidia mengobati luka-luka lembab Daifa.
"Kamu tuh kenapa sih Fa, marah sama Bunda boleh, tapi jangan gini juga dong, Bunda khawatir" Omel Bunda Lidia masih dengan kekhawatiran nya.
"Maafin Fafa bun, tapi mereka yang langsung keroyok Fafa, masa Fafa diem aja" Kilah Daifa menggerutu kesal.
"Huff, yaudah tapi lain kali jangan gini lagi ya, untung Ayah kamu belum pulang, klo dia tau kamu pasti kena ceramah semalaman" Ucap Bunda Lidia membuat Daifa membulatkan mata nya panik.
Iya hampir melupakan Ayah nya, jika iya ketahuan luka-luka seperti sekarang, sudah pasti akan kena omel.
"Iya, iya bun, Fafa janji ga bakal ulangi, tapi Bunda jahat sama Fafa" Ambek Daifa memalingkan muka nya ke sembarang arah membuat Bunda Lidia panik Daifa marah lagi kepada nya.
"Aduh Fa.... Maafin Bunda ya, Bunda tau Bunda salah, maafin ya" Bujuk Bunda Lidia menggenggam tangan Daifa erat.
"Hemm" Dehem Daifa tampa menoleh.
"Bunda turutin kemauan Fafa deh, tapi Fafa maafin Bunda ya?" Rayu Bunda Lidia tidak menyerah.
Mendengar kata kemauan membuat Daifa seketika menoleh, iya tersenyum manis.
"Yaudah Fafa maafin, tapi beneran ya?" Tanya Daifa memastikan.
Bunda Lidia mengangguk yakin, iya tidak akan sanggup di acuhkan Daifa, lebih baik iya mengeluarkan uang asal Daifa memaafkan nya.
"Ohh iya, lo pulang pake apa? motor lo kan lo tinggalin di hutan" Tanya Daifa menoleh ke arah Darel yang hanya diam.
"Udah nginep aja di sini Rel, kamar sebelah Helmi kosong ko" Ucap Bunda Lidia menyuruh Darel tetap tinggal.
"Iya Rel, kalo takut sendiri tidur sama gue aja" Sahut Helmi tiba-tiba ikut menyahuti dari arah tangga.
"Najis" Darel menatap Helmi datar.Setelah mengatakan itu iya kembali biasa saat menatap Bunda Lidia.
"Makasih tan, tapi Darel pulang aja takut di cariin Bunda" Tolak Darel se sopan mungkin.
Bunda Lidia mengangguk mengerti, meski iya sedikit kecewa karena Darel menolak tawaran nya tapai iya maklumi.
"Yasudah, kamu pulang nya di antar sopir peribadi Daifa aja gimana? ga usah nyuruh orang rumah jemput kamu" Ucap Bunda Lidia langsung memanggil supir peribadi Daifa ke arah nya.
"Makasih tan, kalo gitu Darel pulang dulu, asalamualaikum" Pamit Darel menyalimi Bunda Lidia dan Helmi.
"Kenapa kamu ga cium tangan Fa? itung-itung belajar jadi calon istri yang baik" Ujar Bunda Lidia membuat Daifa menoleh ke arah nya dengan muka cemberut.
"Apaan sih Bun, jangan mulai deh" Dengus Daifa.
Namun iya di buat melongo saat Darel menyodorkan tangan nya dengan tampang datar.
"Apa?" Tanya Daifa dengan bodoh nya membuat Bunda Lidia menyentil jidat nya karena gemas.
"Ciumtangan" Ucap Darel datar yang masih setia menyodorkan tangan nya.
Secara sadar atau tidak nya, Daifa menurut, setelah Daifa mencium punggung tangan nya Darel mengusap rambut nya sebelum berlalu pergi.
"Hah?" Daifa ngeleg setelah di perlakukan seperti itu membuat Helmi yang notabe nya sangat jahil menekan luka di tangan nya membuat iya berteriak kesakitan.
"Akhhh, abangke! Huhu Bunda abang jahat!" Adu Daifa meringis kesakitan membuat Bunda Lidia menatap tajam Helmi yang di balas cengiran tak berdosa olehnya.
"Jahat banget sih bang, sakit lagi tuh luka adek kamu"Omel Bunda Lidia menarik telinga Helmi membuat sang mpu meringis.
" Aduhh, maaf Bun, lepasin dong sakit tau"Ringis Helmi memegang telinganya nya yang di pastikan akan memerah.
"Ada apa ini, ko pada berantem?" Celetuk Ayah Dika yang seketika menghentikan perdebatan mereka bertiga.
"Ehh, mas udah pulang ya" Dengan segera Bunda Lidia menyalimi tangan Ayah Dika dan mengambil alih tas kerja nya.
Setelah lepas dari jeweran maut sang Bunda, Helmi mengusap-usap telinganya yang memerah sambil meratap.
"Iya, kebetulan ngga terlalu banyak kerjaan jadi pulang cepat. Itu Fafa kenapa luka-luka gitu?"
Seketika Daifa menegang, aduhh, iya sampai lupa lagi keadaan nya seperti ini, cari alasan apa ya?.
"Emm... Itu..."
"Ga usah bohong, jujur aja, biar kamu ga makin nambah dosa" Seloroh Ayah Dika membuat Daifa mendengus kesal. Di pikir dia banyak dosa apa?! Iya kan baik hati, ramah tamah dan tidak sombong, ko di katai banyak dosa.
"Iss Ayah mah!, tau ah Fafa ngambek" Rajuk Daifa beranjak pergi menuju kamar nya.
"Kamu itu. udah gede masih aja suka ngambek"Imbuh Ayah Dika menggeleng kepala heran.
...*****...
Di sisi lain. Tepat nya di rumah Aluna. Gadis itu tengah marah-marah karena tidak berhasil membuat Daifa celaka.
"Aaaaa! Kenapa gagal! dasar pereman ga becus!" Jerit Aluna membanting barang-barang nya hingga berserakan di lantai.
"HEY ANAK BI****! APA YANG KAU LAKUKAN MEMBANTING BARANG-BARANG BERHARGA KU!" Teriakan dari arah pintu membuat iya memejamkan mata nya sejenak sebelum menoleh dengan sorot tajam nya yang di balas lebih tajam dari sang pemilik suara tadi.
"Bukan urusan mu" Ketus Aluna melangkah mendekati ranjang nya.
"DASAR ANAK TIDAK TAU SOPAN SANTUN! MA** SAJA KAU!" Teriak marah orang itu sebelum membanting pintu membuat Aluna terjengkit kaget.
"Dasar br****k, gue anak lo!, Ayah macam apa sih!" Umpat Aluna kesal. Namun air mata yang sedari tadi iya tahan saat kedatangan Ayah nya luruh seketika, iya terisak pelan. Di situasi seperti ini iya benar-benar sendiri, hobi membully di sekolah iya lakukan serta merta untuk mencari perhatian orang tua nya, namun yang iya dapat cacian dan makian.
"Kenapa gue harus lahir kaya gini tuhan hiks hiks"Isak Aluna menengadahkan kepala nya ke atas guna menahan air mata nya, namun cairan bening itu tetap luruh.
"Apa ini balesan dari tuhan karena gue selalu ngebully orang?, maafin gue semua, gue ga bermaksud menyakiti kalian, salah kan saja kalian yang lemah dan bikin gue kesel" Racau Aluna yang malah menyalahkan orang-orang cupu yang sering iya ganggu.
"Fa... Kenapa lo rebut orang yang gue suka, kenapa lo ambil perhatian Darel yang harus nya buat gue! gue benci lo Daifa!" Raung Aluna semakin manjadi.
...****...
Pagi menyambut awal aktivitas, semua mahluk bumi sudah bangun dan bersiap melakukan aktivasi mereka.
"Uhhh Bun, Fafa ga sekolah ya hari ini, badan Fafa sakit-sakit semua" Rengek Daifa mengembung-ngembungkan pipi nya dengan wajah memelas.
Hari ini iya di bangunkan dengan paksa oleh sang Bunda, iya awal nya tengah santai-santai di alam mimpi, namun teriakan Bunda Lidia memaksa iya bangun hingga terjatuh, alhasil luka lembab kemarin membuat nya sakit kembali.
"Ngga ada, kamu buruan mandi siap-siap"Tukas Bunda Lidia mendorong Daifa ke kamar mandi mengabaikan rengekan dan keluhan Daifa.
Setelah Daifa masuk kamar Mandi iya segera bergegas kembali ke dapur untuk menyiapkan semua sarapan.
Keluar dengan seragam sekolah nya, Daifa menuruni tangga dengan langkah malas. Setelah sampai di dapur iya langsung mendudukan tubuh nya tampa menyapa orang-orang.
" Ko lesu gitu? kenapa?"Ayah Dika menatap heran sang anak yang datang-datang tampa suara langsung merebahkan kepala nya di atas meja.
"Ngga" Geleng Daifa masih setia merebahkan kepala nya.
"Udah cepet makan, ntar keburu masuk, masa udah kelas 12 males-malesan sekolah nya" Omel Bunda Lidia segera menyodorkan roti yang sudah di olesi selai ke arah Daifa yang langsung mengangkat kepala nya dengan kesal.
"Iya iya, bawel banget sih, tapi Fafa mau bawa mobil sendiri ya?" Pinta Daifa sambil mengunyak roti nya dengan kasar.
"Terserah kamu, tapi jangan berkelahi lagi" Sahut Bunda Lidia yang di angguki Daifa.
"Yaudah Fafa berangkat dulu. Asalamualaikum" Pamit Daifa menyalimi tangan kedua orang tua nya, tidak lupa dengan Helmi.
"Hati-hati jangan ngebut-ngebutan" Pesan Bunda Lidia sebelum Daifa menghilang ke pekarangan.
Memasuki mobil nya, Daifa segera menjalankan mobil nya keluar dari pekarangan rumah nya.
Setelah melewati gerbang masuk sekolah, Daifa segera memarkirkan mobil nya. Setelah itu iya berlalu menuju kelas nya.
"Annyeong yorobun" Sapa Daifa setelah memasuki kelas nya yang sudah di huni beberapa orang dan ada juga hantu-hantu gabut yang sedang lesehan.
Daifa hanya menatap para Ghost aneh, hantu macam apa mereka.
"Ngapain bengong di situ Fa?" Tegur Liana yang memperhatikan Daifa yang hanya diam menatap pojokan.
"Ngga, gue lagi nginget-nginget ada tugas atau ngga" Bohong Daifa segera mendekat.
"Ada apa ngga?" Tanya Liana yang ntah kenapa percaya.
"Ngga ada" Jawab Daifa setelah meletakan tas ransel nya di meja.
__ADS_1
"𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩" Kesal Ghost yang tiba-tiba sudah duduk di depan Daifa membuat Daifa mengelus dada kaget.
"𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘢𝘨𝘦𝘵𝘪𝘯, 𝘓𝘢𝘮𝘢-𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘢 𝘭𝘰" Decak Daifa memarahi kelakuan Ghost sekaligus mengancam yang membuat Ghost merinding.
"𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘥𝘦𝘩" Ucap Ghost menangkupkan tangan nya.
Daifa tidak menanggapi dan pokus ke arah ponsel nya. Sebelum Liana mengajak nya bergibah ria. Hingga berakhir saat sang guru datang dan mulai pembelajaran.
"Sekarang kita ulangan harian bahasa Indonesia" Kata Bu Nur sang guru bahasa Indonesia membuat murid menggerutu kesal.
"Tidak usah ada yang perotes, kita mulai sekarang, cuman 5 soal tidak banyak"Pungkas Bu Nur membuat mereka pasrah.
Bu Nur membagikan soalan ke semua murid.
" Ada yang absen?"Tanya Bu Nur setelah selesai membagikan kertas soal.
"Ngga ada Bu" Sahut Aksa selaku ketua kelas yang di angguki Bu Nur.
Setelah sahutan Aksa kelas menjadi hening karena semua murid serius mengerjakan ulangan dadakan Bu Nur.
"Bu no 4 gimana maksud nya" Tanya Daifa membuat Bu Nur yang sibuk menoleh ke arah nya.
Setelah membaca singkat soal nya Bu Nur menjelaskan.
"Kamu di suruh dekripsi'in mimpi kamu, itu soal yang mudah loh, masa kamu ga bisa"Cibir Bu Nut yang kesal dengan pertanyaan Daifa yang terbilang mudah.
" Ye si Ibu, kan saya tanya Bu"Tukas Daifa membuat Bu Nur menggeleng.
Setelah berpikir keras, Daifa segera mengisi soal no 4 itu dengan cepat, setelah itu beralih ke soal terkahir.
Setelah selesai iya mengecek ulang jawaban nya, setelah di rasa beres iya segera mengumpulkan nya kedepan.
"Nih Bu" Sodor Daifa menyerahkan kertas soal nya yang di terima Bu Nur.
"Cepet banget, kamu ga ngasal kan ngisi nya?" Heran Bu Nur menatap Daifa curiga.
"Ngga lah Bu, saya ngisi nya sesuai apa yang di pertanyakan ko" Ujar Daifa memutar bola mata nya malas.
Bu Nur segera membaca jawaban soal Daifa, sedangkan Daifa sudah duduk di tempat nya lagi dengan tenang.
Menggerenyitkan dahi nya aneh, Bu Nur membaca ulang dengan pertanyaan nya, setelah itu iya memanggil Daifa untuk majau kedepan.
"Jelasin maksud jawaban kamu" Suruh Bu Nut membuat Daifa menghela nafas.
"Ihhh masa ibu ga paham, kan itu udah saya jelasin Bu" Kesal Daifa yang di pelototi Bu Nur.
"Tapi jawaban kamu aneh Daifa! makanya ibu tanya"Geram Bu Nur yang mencoba sabar menghadapi sifat murid nya ini.
" Aneh di mana nya sih Bu, kan pertanyaan nya sebutkan mimpi-mimpi yang ingin kamu kejar, ya saya jawab, saya bermimpi nikah dengan jaemin, nonton konser, jadi dokter bedah hewan, dapet warisan anak tunggal, jelas kan"Jelas Daifa membuat suasana kelas seketika ramai menertawakan nya membuat Bu Nur angkat suara untuk menenangkan suasana.
"DIAM!" Bentak nya yang seketika hening. Memijat pelipis nya pusing, Bu Nur segera menyuruh Daifa kembali duduk ke tempat nya.
Mengangkat bahu acuh, iya kembali duduk dengan tenang, namun ledekan Liana membuat nya kesal.
"Haha mimpi tuh yang bener Fa, masa nikah sama yang halu, jadi dokter bedah hewan, dapet warisan anak tunggal. lawak lo. mana ada dokter bedah hewan, terus lo mau dapet warisan anak tunggal, lo kan anak terakhir mana ada jadi anak tunggal"Ejek Liana dengan tawa kecil nya membuat Daifa mendelik tak suka.
" Diemin bacot lo! Ngaca dong, lo juga halu, 2D lagi"Cemooh Daifa membalas ejekan Liana dengan serkas membuat Liana terdiam.
"Itu yang belakang diem!" Seru Bu Nur membuat Daifa dan Liana terdiam.
Setelah melewati derama yang membosankan, Daifa kini sudah makan siang di kantin dengan Liana yang tidak henti nya meledek nya membuat iya melempar sendok garpu ke arah nya dengan kesal.
"Diem ga sih! berisik tau!" Sungut Daifa kembali melahap baso yang super pedes karena suasana hati nya yang bad mood.
"Kenapa nih diem-diem bae?" Celetuk Erlan yang datang tiba-tiba dengan gaya alay nya.
Mereka bertiga tampa permisi ikut duduk membuat Daifa yang mood nya sedang ambyar melirik sambel dengan sengit. Tampa aba-aba iya menuang nya lagi, Liana yang melihat nya di buat melongo, padahal tadi Daifa sudah menambahkan banyak sambel.
"Huh hah, ahh pedes banget gila" Decak Daifa mengusap peluh keringat di dahi nya dengan punggung tangan.
"Ga usah di makan" Rebut Darel menjauhkan mangkok baso yang berkuah merah itu dari Daifa membuat sang mpu marah.
"Balikin bang***!" Marah Daifa mencoba merebut mangkok nya kembali. Namun Darel dengan sigap menjauhkan nya hingga Daifa kesal dan menatap tajam Darel.
"Jangan nyusahin diri sendiri" Ucap Darel menatap Daifa datar.
"Ciee, ada apa nih, ko perhatian" Goda Erlan dan Alvin menatap penuh tanya ke arah Daifa dan Darel.
"Diem lo! " Sentak Daifa menatap tajam kedua nya yang langsung di buat kicep.
Darel segera berdiri, iya melangkahkan kaki nya ke stend makanan.
"Tuhh kan, kalian pacaran ya Fa, ko tuh tembok perhatian sama lo?" Tanya Erlan yang tidak menghiraukan tatapan tajam yang di layangkan Daifa.
"Diem lo kadal!, sahabat gue lagi bad mood, mau lo di cincang sama dia?!" Ancam Liana setelah menginjak kaki Erlan yang langsung mengaduh kesakitan.
"Aduhh, gue kan cuman nanya, sadis bener sih lo" Kesal Erlan mengusap-usap kaki nya yang berdenyut akibat injakan Liana.
Byur
"Ga usah kegatelan bisa! lo udah gue peringati, kenapa masih ngeyel!" Seru Aluna yang tiba-tiba menyiram Daifa membuat Liana, Afifa, Erlan dan Alvin langsung terdiam.
Brak
"Lo ada masalah apa sih sama gue?! kenapa selalu ganggu gue!, gue ga pernah sekalipun nyenggol lo!"Serkas Daifa tepat di depan muka Aluna sambil menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuk nya.
Gebarakan yang di hasilkan Daifa membuat atensi semua orang teralih ke arah nya.namun iya tidak peduli.
"Lo selalu lebih menang dari gue, itu yang bikin gue benci sama lo!" Seru Aluna menampik kasar tangan Daifa yang menunjuj-nunjuk muka nya.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Aluna. karena terlanjur kesal Daifa melayangkan tamparan hingga membuat kepala Aluna menoleh ke samping.
"Lo.. " Syok Aluna tidak percaya.
"Kenapa?! Klo lo ga mau gue bacok ga usah banyak bacot!" Serkas Daifa berlalu pergi meninggalkan kantin dengan wajah datar tampa ekspresi.
Darel yang sedari tadi memperhatikan segera bereaksi, iya mengikuti kemana Daifa pergi.
Ternyata Daifa pergi ke taman belakang, sungguh healing yang paling menyenangkan saat datang ke tempat-tempat sejuk.
Darel langsung duduk di samping Daifa membuat gadis itu menoleh namun tidak mengatakan apa pun.
Melihat Daifa hanya melihat nya sekilas, Darel tersenyum tipis, ntah kenapa iya tiba-tiba ingin mengusap kepala Daifa.
Daifa yang di perlakukan seperti itu terdiam, jika boleh jujur itu menenangkan.
"Kalo marah jangan di keluarin, dosa" Ucap Darel membuat Daifa mendelik kesal.
"Pergi aja lo sonoh, bikin gue makin emosi aja" Ketus Daifa membuang pandangan ke arah lain.
"Nih" Ucap Darel menyodorkan permen hot-hot ke arah Daifa.
"Lo pikir gue bocil apa di bujuk pake permen" Gerutu Daifa namun tangan nya mengambil permen itu dan langsung melahap nya.
"Gengsi" Gumam Darel menggeleng.
Beberapa jam mereka berdua habiskan dengan keheningan.Hingga teman-teman mereka datang dengan tampang kesal.
"Kalo pergi tuh bayar dulu ke, bikin malu aja" Sungut Liana menatap kesal Daifa dan Darel yang acuh tak acuh saja.
"Diem Na" Tegur Afifa yang sudah duduk sandaran di bawah pohon.
Melihat Afifa yang santai seperti itu membuat Liana ikut-ikutan bersandar.
Dan jadilah perkumpulan mereka yang kelewat betah hingga tidak mendengar suara bel masuk hingga membuat mereka ber enam bolos.
BERSAMBUNG............
Wahh part ya panjang, semoga suka ya, akan saya usahakan untuk up lebih rajin.
__ADS_1