Always You

Always You
Episode 30


__ADS_3

Sesuai janji, kini Afifa, Daifa dan Liana, berisap untuk pergi ke luar dengan Ayah Indra.


"Udah siap?" Tanya Ayah Indra menatap mereka bertiga.


"Udah yah" Angguk ke tiga nya mantap.


Melajukan mobil keluar rumah, mereka berencana untuk mampir ke taman kota, karena cuaca sore yang cerah, makanya mereka berniat ke sana.


Sepanjang perjalanan di isi oleh celetohan mereka ber dua, bahkan sampai memperdebatkan sesuatu yang tida penting.


"Aduh, udah dong, ga usah debat gitu" Tegur Ayah Indra menatap Daifa dan Liana lewat kaca spion.


"Tuh Nana yang mulai yah!" Adu Daifa mentap Liana sebal.


Liana yang merasa di tuduh melayangkan perotesan nya tidak terima.


"Enak aja, Fafa yang mulai!" Sanggah Liana menatap Daifa sengit.


"Udah, baikan aja, kaya anak kecil aja" Suruh Ayah Indra menenangkan mereka berdua.


"Iya yah" Sahut kedua nya memilih menurut.


Ayah Indra tersenyum sambil menggelengkan kepala nya lelah, iya merasa menjadi ayah yang memiliki 3 anak, yang satu si pemancing emosi, yang satu si emosian, yang satu si pendiem, untung nya anak kandung nya anak yang jinak.


Mobil tiba di taman kota, suasana yang ramai karena di isi muda-mudi dan family yang tengah bersantai ria menikmati suasana sore yang cerah, setelah menepikan mobil di tempat aman, Daifa dan Liana keluar dengan antusias, sedangkan Afifa, iya santai saja mengikuti ke dua nya.


"Ayo Na kita ke sana!" Ajak Daifa menunjuk keday eskrim yang terlihat ramai oleh anak-anak yang mengantri untuk membeli eskrim.


Mengangguk antusias, Liana mengikuti Daifa dengan langkah riang, setelah itu mereka ikut mengantri dengan bocil-bocil, menunggu dengan sabar Daifa tiba-tiba mendengar tangisan anak kecil.


"Huaa!" Tangis salah seorang bocah di antara kerumunan bocah-bocah yang asik bermain, tangisan nya menarik perhatian Daifa, ntah karena berisik atau kasihan, yang pasti Daifa berjalan menghampiri bocah itu.


Berjalan mendekat, Daifa berjongkok di depan bocah itu, mengusap kepala nya lembut, Daifa bertanya apa penyebab iya menangis.


"Kenapa nangis dek?" Tanya Daifa sambil mendudukan diri nya di samping bocah itu.


"Aku kesasal ka" Ucap bocah itu sambil menghapus air mata nya yang terus bercucuran.


"Ngapain ke sasar?, orang tua kamu kemana? terus kesini sama siapa?" Tanya Daifa beruntu menatap bocah tersebut penasaran.


Bocah tersebut mendongak menatap Daifa dengan pipi mengembung, iya kesal dengan pertanyaan Daifa yang tampa jeda.


"Nanya nya catu-catu dong ka!" Kesal bocah tersebut dengan suara cadel nya.


"Hehe maaf cil, abis lo ngapain nangis sendirian di sini?"Kekeh Daifa tampa ngerasa bersalah.


"Tadi aku sama kaka aku kak, kalena aku haus, kaka aku beli minum di penjual seblang, kalena aku bosen, aku liat-liat taman, telus aku kesasal di sini" Cerita bocah itu sedikit sedih di akhir ucapan nya.


"Salah lo sendiri, ngapain bandel cil"Saut Daifa membuat bocah tersebut berkaca-kaca.


"Aku kan tuman bosen doang, bukan bandel!" Cela bocah tersebut marah.


"Sama aja lah cil, kalo lo ga bandel mungkin... " Kata Daifa terpotong teriakan seseorang.


"Aril!"


Bocah tersebut menoleh ke asal suara, membuat Daifa ikut menoleh juga.


"Abang" Seru bocah tersebut yang di ketahui bernama Aril, berhambur memeluk orang tersebut yang di yakini Daifa kaka nya.


"Kamu kemana aja, abang nyari'in kamu tau" Tanya sang abang cemas sambil menggendong Aril.


"Aku bosen, telus jalan-jalan, abis abang lama!" Pungkas Aril dengan nada kesal di akhir.

__ADS_1


"Maaf'in abang ya, kamu ga papa kan?" Tanya abang Aril mengecek seluruh badan Aril hingga membuat Aril berdecak kesal.


"Aku ngga papa bang! untung tadi aku di temenin kaka itu" Tunjuk Aril ke arah Daifa yang masih setia menatap interaksi kedua nya dengan santai.


Abang Aril menoleh ke arah Daifa, iya sedikit terkejut saat Daifa yang adik nya maksud.


"Daifa!, lo lagi ngapin di sini?" Tanya Abang Aril yang ternyata Abi sambil berjalan mendekat ke arah Daifa.


"Refresing" Jawab Daifa santai.


Abi menganguk mengerti sebelum mengucapkan Terima kasih ke pada Daifa.


"Makasih ya Fa udah nemenin adek gue" Tutur Abi menatap Daifa lekat.


"Sama-sama, makanya kalo punya adek di jaga!" Ujar Daifa mengingatkan.


"Iya, ngga gue ulangi lagi deh, sekali lagi makasih ya" Ucap Abi berterimakasih kembali.


"Abang kenal sama kaka celewet ini?" Tanya Aril bingung sekaligus penasaran.


"Siapa yang cerewet!" Decak Daifa sebal.


"Kaka kan emang celewet, kaya mamah" Seloroh Aril menatap Daifa polos.


"Huss, gaboleh gitu Ril, ga sopan, ka Daifa kan udah baik nemenin kamu, kamu harus sofan dong" Tegur Abi menatap Aril lembut, Aril menatap kaka nya sebal, namun iya tidak perotes, iya menatap Daifa sebelum mengucapkan kata maaf.


"Maaf ka Fafa, Alil udah ngatain kaka celewet" Sesal Aril merasa bersalah.


"Iya kaka maaf'in, lain kali jangan gitu ya" Pesan Daifa menatap Aril hangat.


"Siap ka Fafa!" Ujar Aril dengan gaya hormat bendera, membuat Daifa dan Abi tertawa dengan tingkah Aril, tawa Daifa terhenti saat nama nya di panggil.


"Fafa! lo di mana?"Panggil Liana dari arah keday eskrim.


" Disini na!"Sahut Daifa melambaikan tangan nya.


"Lo ngapain di sini Fa?"Tanya Liana menatap Daifa heran, semakin heran juga saat melihat Abi menggendong Aril.


" Nemenin si Aril" Ujar Daifa santai.


"Aril? saiapa Fa? anak kecil yang ada di gendongan Abi kah?" Tanya Liana menatap Aril yang juga tengah mengamati interaksi kedua nya.


"Hemm" Gumam Daifa mengengukan kepala nya.


"Kaka ciapa?" Tanya Aril mencela obrolan kedua nya.


"Temen nya ka Fafa, nama nya ka Liana"Terang Abi menimpali pertanyaan Aril, sekaligus memperkenalkan Liana.


"Hay Aril" Sapa Liana melambaikan tangan nya tanda perkenalan.


"Hay" Balas Aril ikut melambaikan tangan kecil nya.


"Kalian lagi pada ngapin di sini?" Tanya Liana menatap Abi penasaran.


"Jalan-jalan sore" Ujar Abi.


"Yaudah gabung aja sama kita" Ajak Liana penuh harap.


Menatap Liana dan Daifa bergantian, sebelum membuka suara penuh tanya.


"Emang boleh?"Tanya Abi.


" Boleh ko, iya kan Fa?"Tanya Liana menatap Daifa memohon.

__ADS_1


Mengerjapkan mata nya lucu, Daifa mengangguk pelan, anggukan Daifa membuat Liana tersenyum senang.


"Tuh, Fafa aja ijinin" Ucap Liana, yang di angguki Abi.


Aril pun ikut senang, segera iya turun dari gendongan Abi, iya mendekat ke arah Daifa dengan tangan terangkat minta di gendong.


Abi membulatkan mata nya melihat tindakan Aril, segera iya memprotes tindakan Aril.


"Ga boleh gitu Ril, kasian ka Fafa, kamu kan berat!"Ucap Abi menatap Aril tajam.


" Abang"Rengek Abi dengan mata berkaca-kaca.


Daifa yang melihat rengekan Aril jadi tidak tega, yang awal nya ingin menolak, iya jadi mengiya kan.


"Ayo ka Fafa gendong" Tawar Daifa merentangkan tangan nya.


Dengan senang hati Aril menyambut uluran Daifa, dan kini Aril sudah bermanja manis di gendongan Daifa dengan tangan memainkan rambut gelombang Daifa.


"Ayo kita temui ayah" Ajak Liana setelah sekian lama diam.


"Yo" Sahut Daifa, setelah itu mereka ber empat berjalan meninggalkan tempat itu.


Terlihat Ayah Indra yang tengah duduk di kursi taman dengan cemas, di sisi nya Afifa yang tengah menenangkan ayah nya untuk jangan panik.


"Tenang yah, Fafa sama Nana ga bakal jauh dari sini ko" Tutur Afifa mengusap punggung ayah nya menenangkan.


"Tapi Fi, dari tadi mereka belum keliatan, ayah cemas mereka di culik sama orang yang neror keluarga kita"Cemas Ayah Indra sambil menengok ke segala arah berharap melihat ke beradaan Daifa dan Liana.


" Ga mungkin yah, mereka kan punya kemampuan bela diri, lagian kan ini di keramayan, mereka pasti teriak lah"Ucap Afifa memberi penjelasan dengan sabar.


"Tapi... "


"Tuh mereka" Potong Afifa sambil menunjuk ke arah Daifa dan lain nya yang tengah berjalan ke arah mereka.


Ayah Indra menengok mengikuti arah yang di tunjuk Afifa, iya segera berdiri dari duduk nya bergegas menghampiri dengan perasaan cemas juga bahagia.


"Kalian abis dari mana?!, pergi ga ijin dulu, bikin ayah panik tau ga!"Beber Ayah Indra menatap Daifa dan Liana tajam.


" Maaf yah, kita tadi ke keday eskrim " Cicit Daifa tampa berani menatap Ayah Indra yang tengah menatap nya tajam.


"Harus nya kalian ijin dulu sama Ayah, Ayah kan jadi ga perlu khawatir, kalian tahu kan kalo kita lagi ga bisa santai tanpa waspada!? " Tegas Ayah Indra.


"iya yah, maafin kita" Imbuh kedua nya dengan kepala menunduk.


"Kacian om, jangan malahin ka Fafa" Celetoh Aril yang ada di gendongan Daifa.


Mengalihkan tatapan nya ke arah Aril, Ayah Indra baru menya dari kehadiran ke dua nya.


"kalian siap?"Tanya Ayah Indra menatap penuh selidik.


" Saya temen sekolah nya Daifa om"Terang Abi memperkenalkan diri nya, setelah itu memperkenalkan Adik nya.


"Yang di gendong Daifa adek saya om, Aril sini!"Panggil Abi setelah mengenalkan Aril.


Aril yang nyaman di dalam gendongan Daifa menurut, dengan enggan iya turun dan menghampiri Abi.


"Om jangan malahin ka Fafa ya" Pinta Aril menatap Ayah Indra memohon.


Melihat tingkah Aril, ayah Indra tersenyum gemas.


"Iya, ngga om marahin ko, cuman di nasehatin aja"Tutur Ayah Indra mengusap kepala Aril.


"Om pulang dulu ya"Pamit Ayah Indra mengajak Afifa, Daifa dan Liana pergi menuju mobil yang di parkir di tempat parkir.

__ADS_1


Abi dan Aril hanya mengangguk, setelah Ayah Indra menjauh, Abi pun ikut meninggalkan taman dengan Aril yang kembali iya gendong.


Bersambung...........


__ADS_2