Always You

Always You
Episode 19


__ADS_3

“Pelangi selalu datang setelah hujan, namun tidak semua orang dapat melihatnya.”


            Hari ini merupakan hari yang sangat istimewa  bagi Syahila, yang mana akhirnya ia berhasil mendapatkan gelar S1-nya. Syahila berhasil membuktikan kepada semua orang bahwa orang yang mempunyai keterbatasan pun bisa mendapatkan gelar sarjana. Orangtua Syahila yang saat itu menyaksikan wisudanya merasa bangga campur haru. Mereka tak menyangka Syahila yang sempat koma dan nyaris di suntik mati itu kini berdiri di depan mereka dengan wajah yang tersenyum berseri – seri. Saat Syahila melihat orangtuanya ia langsung menghampirinya.


“Ayah, mamah.” Ucap Syahila, ia menyalami kedua orangtuanya. Setelah itu, Fahmi menyalaminya dan Syahila tersenyum melihatnya. Untungnya, Fahmi mondok di pesantren yang sama dengan Syahila. Sehingga saat Syahila wisuda ia dapat turut hadir dihari yang sangat berharga bagi Syahila. Namun, pandangan Syahila kearah lain, seakan mencari seseorang. Padahal orang tua dan adiknya telah berada dihadapannya, ibunya yang menyadari hal itu tersenyum penuh arti.


  “Cari siapa sihh Sya? Tenang, gak bakal hilang kok.” Ucap Bu Nur sambil tersenyum.


  “Putri mana Mah?” Tanya Syahila.


 “Cari Putri atau cari kakak?”  Kata Fahmi menggoda Syahila. Syahila langsung melirik Fahmi dengan tatapan tajam.


“Heran aku tuh, masih galak aja.” Ucap Fahmi.


Senyum Syahila mengembang saat melihat orang yang bejalan kearahnya. Sosok laki – laki tinggi memakai kemeja berwarna biru dongker dan celana hitam panjang dilengkapi dengan jas hitam menambah kesan gagah namun rapi itu berjalan dengan tegapnya bersama Putri adik bungsu Syahila. Laki – laki itu membawa bucket bunga berupa mawar merah, bunga kesukaan Syahila. Senyum Syahila pun semakin mengembang saat laki – laki itu sudah berada di hadapannya.


“Selamat ya, akhirnya kamu lulus juga.” Ucap lelaki itu lalu mencium kepala Syahila yang ditutupi kerudung. Syahila


segera mencium tangan lelaki itu sebagai rasa hormat dan baktinya kepada suami tercinta. Lelaki itu memberikan mawar yang dibawanya kepada Syahila, senyum Syahila semakin mengembang diwajahnya.


“Kita foto yuk.” Pinta Putri yang sudah tidak tahan ingin berfoto keluarga. Setelah selesai foto keluarga, Syahila


meminta Fahmi untuk memfotonya bersama sang suami tercinta. Saat Syahila melihat foto itu, Syahila meneteskan air mata menangis bahagia. Ia bersyukur atas apa yang telah Allah SWT berikan kepadanya. Ia juga tak menyangka, ketika dirinya wisuda telah ada yang mendampinginya. Syahila menatap suaminya lekat – lekat, memastikan bahwa ini benar – benar nyata, bukan mimpi.

__ADS_1


“Ya Allah... aku bersyukur karena Engkau telah melimpahkan rasa bahagia ini kepadaku. Aku bersyukur atas segala Ridho-Mu mengiringi jalan hidupku, dan aku sangat bersyukur karena Engkau hadirkan dia dalam hidupku. Satria, suamiku.”Ucap Syahila dalam hati.


“Assalamu’alaikum makmumku.” Bisik Satria tepat ditelinga Syahila.


“Wa’alaikumussalam imamku.” Jawab Syahila tersadar dari lamunannya.


“Lagi mikirin apa sih sayang sampe gak sadar aku datang?” Tanya Satria.


“Bukan apa – apa, mau makan? Nanti aku siapkan.” Tanya Syahila.


“Nanti saja selepas isya yaa.” Jawab Satria.


“Di kantor ada kabar apa?” Tanya Syahila lagi.


“Udah tua masih gombal saja, gak malu sama umur?” Tanya Syahila.


“Loh? Kok gombal? Memang bener kok, kalian itu yang paling spesial dihidupku yang pernah Allah kasih padaku.”


“Ya ya ya.” Ucap Syahila pura – pura setuju.


“Hhmm.... kak aku belum kasih kado yaa waktu kemarin kakak ulang tahun?”


“Kamu sampai kapan mau manggil aku kakak? Sayang, kita sudah 5 tahun lamanya membina rumah tangga. Dan kamu masih memanggilku kakak?” Tanya Satria dengan menatapnya tak percaya.

__ADS_1


“Terus aku harus panggil apa? sudah untung aku gak panggil nama. Kitakan seumuran.” Jawab Syahila asal.


“Owh... gitu. Mulai berani yaa sekarang.” Ucap Satria sambil menggelitiki perut istrinya.


“Kak maaf dehh, udah berhenti. Disini ada anak – anak kak, malu.” Kata Syahila memperingatkan. Tapi Satria masih saja menggelitiki istrinya tersebut.


“Kakak mau tahu kado dari aku gak? Tapi berhenti dulu please!” Pinta Syahila.


“Aku gak minta kado dari kamu sayang, yang penting kamu selalu ada disisiku itu sudah cukup bagiku.” Kata Satria, ia sudah tidak menggelitiki istrinya lagi.


“Yakin?” Tanya Syahila memastikan. Satria mengangguk mantap.


“Sekalipun kadonya adalah seorang anak?” Tanya Syahila lagi.


“Iy... eh, wait! Kamu bilang apa? anak?” Satria balik bertanya, Syahila hanya mengangguk sambil tersenyum.


“Kamu hamil lagi sayang?” Tanya Satriabtakut – takut. Syahila tersenyum dan mengangguk, lalu ia memberikan sebuah amplop yang berisi hasil USG yang telah dilakukannya.


“Subhanallah, Alhamdulillah, Masya Allah. Terima kasih Ya Allah, ini merupakan kado terindah yang pernah aku dapatkan. Makasih ya sayang.” Kata Satria memeluk dan mencium kepala istrinya. Lalu Satria melihat kearah kedua putrinya yang sedang bermain.


“Keisha, Kenisha, kalian sedang apa nak?” Tanya Satria menghampiri kedua putrinya. Satria bergabung dengan kedua putrinya yang sedang bermain rumah – rumahan tersebut. Sedangkan Syahila hanya menatapnya, melihat raut wajah Satria yang sedang berbinar – binar yang sedang bermain bersama kedua putrinya.


“Aku bersyukur ternyata itu adalah kamu yang menjadi imamku dan ayah dari anak – anakku. Terima kasih karena telah memilihku umtuk menjadi pendamping hidupmu. Terima kasih karena dirimu bersedia menjadi pelengkap hidupku. Awalnya aku tak percaya bahwa itu kamu, namun seiring berjalannya waktu, aku menyadarinya. Sampai aku tak sadar telah bergantung padamu. Ya, selalu kamu, imamku.”

__ADS_1


~Syahila~


__ADS_2