Always You

Always You
Episode 11


__ADS_3

“Tuhan punya cara yang unik untuk mendamaikan hamba-Nya


yang sedang berselisih. Sekeras apapun kamu memungkiri, jika Tuhan telah


menetapkannya maka akan terjadi juga.”


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini sudah memasuki tahun ajaran baru, dan otomatis kamarpun dirubah. Syahila berpindah ke kamar lantai satu nomor delapan belas. Sedangkan Yasmin pindah ke kamar lantai dua nomor dua puluh tiga. Saat perpindahan kamar para santri saling membantu dalam memindahkan barang menuju kamar barunya. Begitupun dengan Syahila dan Yasmin, mereka saling membantu membawakan barang masing – masing ke kamar baru mereka.


“Yahh... Syahila dan Yasmin sudah tidak sekamar lagi yaa. Sekarang kalian terpisah.” Kata wali asrama mereka yang dulu saat masih satu kamar, yang tidak sengaja berpapasan di depan asrama. Dengan keadaan Syahila dan Yasmin yang sedang membawa box berisikan buku – buku pelajaran semester kemarin.


“Iya nihh Mi, kita kepisah juga.” Kata Yasmin menanggapi. Namun tangannya masih berusaha untuk mengangkat box yang sedang dibawanya bersama Syahila.


“Padahal waktu awal masuk ummi sampe gak bisa bedain yaa, mana Yasmin dan mana Sya. Karena kalian terlalu mirip, ummi kira kalian itu kakak adik kandung.” Ucap ustadzah Dini.


“Iya ummi, sebelumnya afwan yaa ummi, kita mau angkut barang – barang dulu ya ummi. Berat ini soalnya.” Ucap Syahila jujur. Terlebih Syahila hanya mengangkatnya dengan satu tangan.


“Oh, iya iya silahkan.” Kata ustadzah Dini, lalu pergi ke kamarnya. Sedangkan Yasmin dan Syahila melanjutkan


perpindahan kamarnya. Setelah semuanya beres, Syahila langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya Yasmin untuk mengajaknya makan siang bersama.


“Assalamu’alaikum.” Ucap Syahila seraya membuka pintu kamar Yasmin yang baru.


“Wa’alaikumussalam, masuk aja Kak.” Sahut Yasmin dari dalam.


“Eh, gak ada orang? Kemana semua?” Tanya Syahila.


“Ada yang makan di mat’am (tempat makan) dan ada juga yang ke kantin jajan.” Jawab Yasmin.


“Kamu gak makan?” Tanya Syahila lagi.


“Males.” Jawab Yasmin cepat.


“Kak minta uang dong, aku mau jajan.” Lanjut Yasmin.


“Males.” Jawab Syahila cepat. Hal itu membuat Yasmin menatapnya tak percaya, melihat ekspresi Yasmin yang seperti itu, Syahila langsung mengajaknya duduk dilantai dan mengajaknya makan sama – sama.

__ADS_1


“Kamu boleh jajan, tapi harus makan dulu yaa. Kamu dari pagi belum makan, nanti kalau kamu gak makan lagi mag-mu kambuh, kamu jugakan yang sakit.” Ucap Syahila sambil membuka makanan yang dibawakan ibunya tadi saat ibunya datang sebentar.


“Iya, bawel banget.” Kata Yasmin sambil cemberut, Syahila yang melihat itu hanya tersenyum.


“Udah, ayo makan saja, ini mamahku masak ongseng cumi. Enak dehh, tuhh nasinya.” Ajak Syahila kepada Yasmin.


“Kak Sya, kakak satu kamar sama Kak Nisa yaa?” Tanya Yasmin saat mereka sedang makan.


“Iya, kenapa?”Tanya Syahila lagi.


“Untung Kak Sya kakak kelasnya yaa, coba kalau aku? Gak bakal betah di kamar kali aku jadinya.” Kata Yasmin.


“Rencana Allah SWT itu lebih baik kok, mungkin akan ada hikmah dengan aku satu kamar dengannya.” Jawab Syahila bijak.


“Iya, iya dehh. Mungkin buat nakut – nakutin Kak Nisa biar gak ngirimin aku surat ancaman lagi kali yaa? Kan Kak Sya itu juteknya minta ampun.” Kata Yasmin bercanda.


“Emang aku jutek sama kamu?” Tanya Syahila dan ia memperagakan orang yang pura – pura imut dengan memajukan sedikit bibirnya dan mengedip – ngedipkan matanya beberapa kali.


“jijik!” Ucap Yasmin yang melihat Syahila seperti itu sambil menahan tawanya.


“enggak, siapa bilang aku ketawa?” Yasmin berusaha mengelak.


“Yaudah.” Kata Syahila pura – pura marah.


“Tuh, kan? Baper?” Ucap Yasmin.


“Maaf dehh ya kak, maafin aku yaa?” Kata Yasmin lagi, dan sekarang dia yang berlagak imut di depan Syahila.


“Dihh... jijik!” Kata Syahila cepat. Akhirnya Yasmin terdiam dan memilih menghabiskan makanannya, karena ia tahu


berdebat dengan Syahila adalah hal yang sia – sia. Karena bagaimanapun caranya, tetap saja dirinya akan kalah debat dengan Syahila. Kecuali jika Yasmin sedang membahas Jay, Syahila cenderung menghindar.


Selesai makan bersama di kamar Yasmin, Syahila kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena besok kegiatan sudah dimulai seperti semula. Saat ia tiba di kamarnya, Syahila mendapati Nisa yang sedang tidur – tiduran di ranjangnya. Nisa yang melihat Syahila masuk ke kamar raut mukanya langsung berubah, Syahila mengangkat alisnya sebelah melihat ekspresi wajah Nisa. Dan sebenarnya, Syahila tahu sebabnya mengapa Nisa seperti


itu saat melihat dirinya. Dalam hatinya Nisa sedang resah dan takut jika Yasmin itu cerita kepada Syahila mengenai surat – surat yang telah ia kirimkan kepada Yasmin. Untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka, Syahila sengaja mencairkan suasana.

__ADS_1


“Santai aja kali Nis liatinnya, biasa aja. Aku gak bakal makan kamu juga kok.” Ucap Syahila.


“Owhh, iya kak.” Jawab Nisa dengan terbata – bata, kemudian Syahila sedang mempersiapkan peralatan yang akan dibawanya ke sekolah esok hari. Ia sesekali membuka buku paket yang baru di dapatkannya itu.


“hhmm... Kak Sya, aku boleh tanya sesuatu  gak?” Tanya Nisa ragu.


“Ada apa? tanyain  aja, gak usah sungkan.” Jawab Syahila yang masih membaca – baca bukunya.


“hhmm... itu... Kak Sya beneran deket sama kakaknya Yasmin?” Tanya Nisa dengan sangat hati – hati. Seketika Syahila berhenti membaca karena mendengar pertanyaan Nisa tadi. Syahila masih terdiam, menatap kosong kearah bukunya yang tadi ia baca, dan hal itu membuat Nisa merasa tidak enak.


“Kalau deket kenapa? Kalau enggak juga kenapa? Memang apa untungnya buat kamu?” Tanya Syahila balik kepada Nisa. Wajah Nisa pun semakin tegang karena pertanyaan Syahila.


“Ya enggak apa – apa, hanya ingin tahu saja. Karena kayaknya kabar yang beredar dari setahun yang lalu itu awet yaa sampai sekarang. Sampai – sampai satu pesantren tahu loh kak.” Jawab Nisa.


“Dan yang aku lihat juga Kak Sya cocok kok sama kakaknya Yasmin, kakaknya Yasmin ganteng lohh kak.” Kata Nisa lagi berusaha menggoda Syahila.


“Owhh...  iya, kakaknya Yasmin memang gantengkan?” Ucap Syahila dengan mata yang berbinar – binar, Nisa yang melihat itu senyum sumringah.


“Terus kenapa kamu menyuruh aku dekat dengan kakaknya Yasmin yang kata kamu ganteng itu, sedangkan sudah menjadi rahasia umum bahwa kakakmu Kak Shofi menyukai kakaknya  Yasmin, Jay Prasetya. Mengapa kamu tidak mendukung kakakmu saja yang jelas – jelas sudah menyukai Jay? Apakah kamu tidak tahu jika Kak Shofi tahu kamu lebih mendukungku dari pada dia untuk dekat dengan Jay akan menyakiti hatinya?” Syahila menjelaskan kepada Nisa sedikit mengebu – ngebu, walau ia tetap dapat mengontrol nada suaranya agar tetap


normal.


“Ya aku lebih setuju aja Kak Sya dengan kakaknya Yasmin, karena menurutku kalian cocok kok. Kalian sama – sama berkulit putih, dan Kak Sya juga sudah dekat dengan adek dan orang tuanya kan? Dan lagi, Ustadzah Dini sampai sekarang masih belum bisa membedakan antara Yasmin dan Kak Sya karena kalian mirip.” Ucap Nisa mencoba mencari alasan.


“Nisa, dengarkan baik – baik yaa. Warna kulit itu bukan sebagai media seseorang akan menyukai orang lain. Kalau masalah dekat dengan adek atau keluarganya mungkin orang – orang saja yang melihat itu secara berlebihan, padahal diantara kita itu biasa saja, tidak terlalu dekat. Aku menganggap Yasmin sebagai teman, sahabat dan adek kelas tentunya. Oleh karena itu, aku juga menganggap Jay hanya sebagai teman. Jika masalah dengan orang tuanya, kamu sendiri juga belajar tentang bagaimana seharusnya berprilaku dengan orang yang lebih tua bukan? Dan masalah kemiripan, itukan hanya persepsi orang lain, kita tidak bisa melakukan apa – apa.” Syahila menjelaskan kepada Nisa dengan sabar agar ia mengerti.


"Ya intinya aku lebih setuju kalau kakaknya Yasmin itu dekat dengan Kak Sya dibanding kakakku.” Kata Nisa masih


keras kepala. Syahila menarik nafasnya dalam dalam, lalu ia membuangnya secara perlahan. Ia mencoba lebih bersabar menghadapi Nisa yang memang agak sulit untuk diberikan pengertian.


“Nisa, aku hanya mengingatkan satu hal padamu. Tujuan kita datang ke pesantren inikan untuk belajar, bukan untuk main – main, apalagi mencari pacar. Karena pacaran sebelum menikah itu dilarang dalam islam, kamu juga tahukan? Lalu, jangan terlalu mencampuri kehidupan orang lain yaa, karena jika kehidupanmu sendiri di campuri orang lain juga kamu tidak akan suka bukan? Maka, berhentilah mengurus urusan orang lain, dan belajarlah


yang rajin. Untuk masalah aku dan Jay kedepannya hanya Allah yang tahu.” Kata Syahila menasehati Nisa dengan hati – hati.


‘Oh iya satu lagi, aku bukan tipe orang perusak hubungan orang yaa. Jadi kakakmu tidak perlu khawatir akan kedekatan aku dengan Yasmin. Karena aku hanya dekat dengan Yasmin, bukan kakaknya. So please! Jangan bawa – bawa aku lagi dalam masalah ini. Dan untuk kamu Nisa, berhentilah menyebarkan gosip yang tidak benar.” Kata – kata Syahila menjadi penutup pembicaraan panjang hari itu antara Syahila dan Nisa.

__ADS_1


“Kalau saja aku tidak memikirkan Yasmin, aku sudah membongkar semua rahasianya dan sudah berbicara lebih kasar padamu Nisa.” Bathin Syahila, ia memutar kedua bolannya. Namun Syahila tidak melakukan hal itu karena memikirkan dampak yang akan diterima Yasmin nanti kedepannya. Karena dalam surat – surat yang dikirimkan oleh Nisa kepada Yasmin tertulis jelas bahwa Yasmin dilarang memberitahu Syahila mengenai hal itu. Yang Syahila takutkan, jika dirinya mengatakan bahwa dirinya tahu semua tentang surat – surat itu akan membuat Yasmin semakin  tertekan, dan Syahila tidak ingin itu terjadi.


__ADS_2