Always You

Always You
Episode 16


__ADS_3

“Aku tak dapat memungkiri bahwa aku sangat peduli kepadanya, namun aku juga ingin membuatnya lebih dewasa. Maka aku menunjukan jalan yang berbeda dari sebelumnya.”


Syahila masih kepikiran masalah Yasmin yang lagi – lagi di panggil ke kantor pengasuhan. Tapi ia juga sudah merasa lelah karena berkali – kali menghadap kepada kepala pengasuhan atas nama keluarga Yasmin. Sejujurnya, Syahila merasa malu karena dia bukan siapa – siapanya Yasmin, ia hanya sebatas kakak kelas yang dekat dengannya namun sudah berlagak seperti keluarganya. Padahal, ia masih mmpunyai kakak yang mungkin bisa di minta bantuan. Syahila yakin, jika Yasmin meminta bantuan Jay secara baik – baik pasti ia akan membantunya, terlebih ia adalah adik kandungnya. Walaupun Syahila tahu Yasmin dan Jay itu sama – sama bergengsi tinggi, namun sebenarnya mereka saling menyayangi walau rasa sayang itu tersembunyi. Yang dibutuhkan mereka hanyalah waktu untuk saling menyadadiri. Setelah menimbang – nimbang, Syahila memutuskan untuk memberitahukan Jay perihal Yasmin tersebut. Maka saat orangtuanya datang menjenguk Syahila menghubungi Jay melalui chat di whattshap.


“Kok bisa sihh de? Lagian itu anak ngapain mainan musik box, sudah tahu dilarang, masih saja melanggar. Ya udah, nanti kalau saya ada waktu saya kesana. Nanti saya kabarin kamu saja ya de kalau saya kesana.” Balas Jay saat itu juga, Syahila terkejut membaca balasan dari Jay. Ia langsung mengetik balasan kepada Jay dengan cepat.


“Sebelumnya afwan kak, sepertinya kakak tidak dapat menghubungi saya nanti. Karena handphone saya mau dibawa pulang oleh orang tua saya. Ini kebetulan saja orang tua saya datang menjenguk.”Syahila menekan


tanda send pada layar di handphone-nya. Tak lama kemudian handphone Syahila berkedip menandakan pesan baru telah masuk.


“Kalau begitu saya minta tolong adek sajaya yang pergi ke kantor pengasuhan mewakili saya. Sebelum itu nanti saya menghubungi terlebih dahulu ke ustadzahnya, bahwa orang tua dan saya tidak dapat datang kesana karena ada beberapa hal yang tidak dapat ditinggalkan, jadi di wakili sama kamu. Begitu saja ya dek, saya minta tolong dan maaf Yasmin sudah sering merepotkan kamu.”Syahila menghembuskan nafasnya kasar setelah mendengar balasan dari Jay.


“Ini sihh aku lagi yang maju.”Keluh Syahila dalam hati.


Tiba – tiba bayangan dirinya yang selalu maju untuk menyelesaikan masalah – masalah Yasmin dari hal terkecil maupun masalah yang sangat serius berputar bagai dokumenter yang diputar ulang. Mulai dari gelang Jay yang Yasmin bawa ke pesantren disita bagian keamanan, Yasmin ketahuan kabur dari pesantren, ketahuan membawa handphone di asrama dan kali ini membuat musik box temannya disita. Itu semua Syahila yang membantu mengatasi semuanya, selain itu sebenarnya masih banyak ulah Yasmin yang ujung – ujungnya Syahila yang akan maju membereskannya. Karena Yasmin tidak ingin orang rumah tahu bahwa dia sering bermasalah di pesantren. Menurut sebagian orang mungkin itu adalah hal – hal yang sepele, namun berbeda di pesantren. Membawa alat elektronik adalah termasuk pelanggaran berat. Sebenarnya untuk kali ini Syahila bersedia saja jika ia lagi yang menghadap kepala pengasuhan, namun ia berpikiran bahwa mau tidak mau orang tuanya harus tahu bagaimana Yasmin di pesantren. Selain itu, Syahila juga sudah bosan mendengar perkataan orang yang sering mengatakan


bahwa dirinya adalah wali Yasmin di pesantren. Awalnya Syahila memang tidak mengugubris hal – hal yang seperti itu, namun lama – lama ia juga merasa jenuh.


“Oh iya kak, In Syaa Allah nanti saya yang menghadap ustadzah.”Balas Syahila kepada Jay pada akhirnya.


“Terima kasih.” Pesan baru masuk dan kini Syahila hanya membacanya saja.


Pada akhirnya Syahila juga yang menghadap kepala pengasuhan sebagai wali Yasmin. Saat Syahila ditanya oleh ustadzahnya mengapa setiap Yasmin membuat masalah selalu dia yang maju Syahila hanya dapat tersenyum. Kemudian Syahila menjelaskan bahwa orang tua Yasmin telah mempercayakan Yasmin kepadanya, sehingga jika ada terjadi sesuatu dengan Yasmin ia yang membantunya jika memang orang tua Yasmin tidak dapat hadir ke pesantren. Ustadzah tersebut hanya mengangguk – anggukkan kepalanya, namun Syahila ragu bahwa ustadzahnya percaya akan penjelasannya. Tapi setelah itu ustadzahnya menjelaskan pelanggaran – pelanggaran Yasmin yang telah dilanggarnya, termasuk pelanggaran yang baru – baru ini Yasmin lakukan. Ustadzahnya juga menjelaskan hukuman apa yang harus di tanggung oleh Yasmin akibat perbuatannya itu. Syahila mendengarkannya dengan seksama, sesekali ia mengangguk – anggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah urusan dengan ustadzah selesai, Syahila kembali ke kamarnya. Tak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu dari luar.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam, masuk saja.” Jawab Syahila.


“Afwan kak Sya, Yasmin sudah 2 minggu belum bayar kas kelas. Kata Yasmin langsung minta saja sama kakak, soalnya uang dia dititipin sama kakak.” Kata temannya Yasmin memberi penjelasan kepada Syahila.


“Iya, berapa?” Tanya Syahila.


“Totalnya 20 ribu kak.” Jawabnya.


Temannya Yasmin itu kemudian pergi setelah Syahila memberinya uang 20 ribu kepadanya. Syahila menghela nafas, karena ternyata telah dibohongi oleh Yasmin, padahal setiap minggu Yasmin meminta uang lebih yang katanya untuk membayar kas kelas, namun nyatanya ia tidak membayarkannya. Dan pada saat Syahila menanyakan perihal itu kepada Yasmin, dia hanya tersenyum memasang muka memelas agar tidak dimarahi. Padahal sebenarnya, jika Yasmin bilang kepada Syahila bahwa sebenarnya uang itu dipakainya untuk jajan juga tidak masalah, karena itu adalah haknya. Yang Syahila inginkan hanyalah Yasmin dapat jujur kepadanya, agar jika dirinya ditanya perihal Yasmin oleh orangtuanya Syahila dapat menjawabnya dengan baik.


“Kalau aku bilang jujur sama Kak Sya, nanti kakak gak ngasih aku uang lebih. Terus aku gak mau mamah tahu kalau aku boros di pondok.” Kata Yasmin membela dirinya saat di tegur Syahila.


“Sekarang aku tanya sama kamu, pernah kamu denger mamah kamu membahas kenakalan – kenakalan kamu di pondok? Enggak kan? Aku juga kalau orang tuamu atau kakakmu tanya Yasmin di pesantren gimana aku selalu jawab yang baik – baik kok. Aku cuma minta satu Min, jujur sudah itu saja.” Kata Syahila. Dan kata – kata itu membuat Yasmin terdiam seribu bahasa.


Keesokan harinya, sepulang sekolah temannya Yasmin datang lagi ke kamar Syahila. Ia memberitahu bahwa Yasmin menginjak paku dan pakunya itu sudah mulai berkarat. Mendengar itu Syahila langsung mengambil antiseptik, kapas, obat merah, serta kasa. Ia bersyukur karena ibunya selalu  Sedangkan temannya Yasmin Syahila memintanya untuk mengambilkan air hangat. Syahila segera berlari ke kamarnya Yasmin yang tak jauh dari kamarnya. Setibanya disana, Syahila melihat Yasmin yang hendak menempelkan plester pada telapak kakinya yang terkena paku.


“Iya, tempelin langsung aja Min plesternya.” Kata Syahila menyindir.


Yasmin yang menyadari bahwa ada Syahila di kamarnya cepat – cepat menyembunyikan plester yang hendak ia gunakan dan langsung menutupi kakinya dengan selimut. Ia melihat Syahila yang berdiri di dekat pintu kamarnya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Yasmin melihat tangan kiri Syahila yang penuh seperti kotak obat karena memang tangan kanan Syahila lumpuh, tidak dapat digerakan. Yasmin mengerutkan keningnya, merasa heran dengan kedatangan Syahila yang tiba – tiba ke kamarnya dengan membawa isi kotak obat di tangan kirinya.


“Loh, Siapa yang sakit kak?” Tanya Yasmin pura – pura tidak tahu.

__ADS_1


“gak usah pura – pura gak tahu dehh.” Jawab Syahila malas.


Dan temannya Yasmin yang di minta Syahila untuk mengambil air hangat sudah datang. Ia memberi air hangat itu kepada Syahila, Yasmin yang baru menyadari apa yang sedang terjadi langsung memberi tatapan mengintimidasi kepada temannya itu. Sedangkan temannya hanya tersenyum dan keluar meninggalkan Syahila dan Yasmin. Syahila membuka selimut yang menutupi kaki Yasmin, namun Yasmin menahannya.


“Selimutnya jangan di tarik kak, aku dingin.” Pinta Yasmin.


“Aku sudah tahu kamu terkena paku, gak usah pura – pura lagi. Mau di obatin gak?” Tanya Syahila, kemudian Yasmin membiarkannya untuk membuka selimut yang menutupi kaki Yasmin.


“Astagfirullah, Min! Kaki kamu udah bengkak begini Min, lukanya udah dibersihin belum?” Tanya Syahila lagi.


“Udah.” Jawab Yasmin singkat.


“Udah kok bentukannya masih kaya gini?” Tanya Syahila sambil memperhatikan luka di kaki Yasmin.


“Udah kok tadi waktu cuci kaki.” Jawab Yasmin.


“Berarti belum di sterilin.” Ucap Syahila.


“Udah dicuci kak pake air.” Kata Yasmin bersikeras.


“Iya, iya, serah!” Ucap Yasmin malas.


Syahila langsung membersihkan luka Yasmin menggunakan air hangat, ia mengusapnya sangat pelan karena khawatir Yasmin akan kesakitan dan menolak untuk diobati. Setelah membersihkannya dengan air hangat, Syahila memberinya antiseptik menggunakan kapas pada luka Yasmin. Dan ia juga memberinya obat merah, serta meraih kasa yang dibawanya yang ia berikan obat merah lalu menempelkan kasa itu pada luka Yasmin. Terakhir, ia menempelkan plester dengan meminta bantuan Yasmin karena ia tidak dapat memasangkannya karena tangan kanannya tidak berfungsi. Maka Syahila meminta Yasmin untuk memegangi kasa yang menutupi lukanya agar tetap pada tempatnya, kemudian barulah ia memasangkan plester di telapak kaki Yasmin. Walaupun Syahila memiliki keterbatasan fisik, namun ia terlihat sangat telaten saat mengobati Yasmin. Saat melihat plester yang sudah terpasang sempurna, Syahila tersenyum puas.


“Aku memang gak terlalu mengerti masalah seperti ini, tapi setidaknya hal ini dapat mencegah infeksi sampai kamu diperiksa ke dokter.” Kata Syahila sambil membereskan barang – barang yang tadi dipakainya untuk mengobati Yasmin.


“Makannya, lain kali hati – hati yaa.” Ucap Syahila sambil tersenyum lalu pergi dari kamar Yasmin.


Malam harinya, saat Syahila sedang mengerjakan tugas yang akan dikumpulkannya besok. Tiba – tiba ia mendengar suara bagian informasi mengumumkan bahwa Syahila di tunggu orang tuanya


sekarang  di lobi. Syahila terkejut mendengar namanya dipanggil, karena orang tuanya minggu depan barubisa datang kesini menjenguknya. Makanya, Syahila membiarkan saja pengumuman tersebut karena ia mengira bagian informasinya itu salah menyebutkan nama. Namun, lagi – lagi namanya di panggil sampai pada akhirnya Nabila datang ke kamarnya.


“Sya, kamu denger gak sih pengumuman kamu dijenguk tuh.” Kata Nabila memberi tahu.


“Emang beneran dijenguk yaa?” Tanya Syahila polos.


“Lah itu apa? nama kamu berkali – kali di panggil juga.” Tanya Nabila balik.


“Ya aku kira itu salah nyebutin nama atau iseng aja, kaliankan suka gitu.” Jawab Syahila. Tiba – tiba Sasha, Nasywa, dan Sari datang dengan terburu – buru.masih sangat terlihat jelas nafas mereka yang terengah – engah.


“Kalian kenapa?” Tanya Syahila.


“Pake nanya kenapa lagi, itu kamu ditungguin nohh sama mamah mertua kamu.” jawab Sari asal.


“Mamah mertua? Siapa?” Tanya Syahila Yasmin.


“Itu Sya, kamu dari tadi ditungguin sama ibunya Yasmin di lobi.” Nasywa memberitahu.

__ADS_1


“Hah? Beneran? Mau ngapain malem – malem begini?” lagi – lagi Syahila bertanya.


“Mending kamu cepetan ke lobi, kasihan Sya ibunya Yasmin.” Ucap Sasha.


“Iya, dari tadi nanya terus.” Kata Nabila. Syahila langsung berlari ke arah lobi untuk menemui Bu Farras.


“Assalamu’alaikum mah, afwan ya mah tadi Sya kira itu bagian informasinya salah nyebutin nama.” Kata Syahila sambil menyalami Bu Farras, ia tahu saat itu banyak yang memperhatikan dirinya dan Bu Farras namun ia biarkan.


“Wa’alaikumussalam, iya gak apa – apa kak. Mamah loh yang harusnya minta maaf ganggu malem – malem.” Ucap Bu Farras.


“Ya Allah, enggak ganggu kok mah. Oh iya, ada apa ya mah? Mau ke ade? Emang ade gak ada di kamarnya? Tanya Syahila kepada Bu Farras.


“Enggak kok, ade ada di kamarnya. Mamah mau minta tolong sama Kak Sya boleh?” Tanya Bu Farras balik.


“Selama Sya bisa bantu, In Syaa Allah Sya


akan bantu.” Jawab Syahila cepat.


“Kak Sya bisa anterin mamah ke bagian kedisiplinan? Mamah mau izin bawa ade pulang.” Kata Bu Farras.


“Oh iya mah, bisa kok.” Jawab Syahila dan langsung menunjukan jalannya. Saat berada tepat disamping mushola, Bu Farras tiba – tiba berhenti. Syahila bingung mengapa Bu Farras tiba – tiba berhenti, namun ternyata ia sedang berbicara dengan seseorang yang sedang duduk disamping mushola itu.


“Aa tunggu bentar yaa disini, ini mamah baru ketemu sama Sya. Sekarang mamah sama Sya mau ke bagian kedisiplinannya dulu.” Ucap Bu Farras memberitahu Jay. Jay hanya mengangguk, sedangkan Syahila hanya menunduk menatap tanah tidak berani bertatapan dengan Jay entah mengapa. Setelah itu barulah Syahila dan Bu Farras menghadap bagian kedisiplinan.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam, silahkan masuk bu. Ucap Ustadzah Ella mempersilahkan Bu Farras dan Syahila masuk.


“Ini ibunya Syahila yaa? Pantesan Syahila cantik, ibunya juga cantik.” Kata Ustadzah Ella tersenyum. Syahila dan Bu Farras saling berpandangan.


“Afwan Ustadzah, ini bukan ibu ana. Ini ibunya Yasmin Tazahara.” Kata Syahila memberitahu.


“Oh, maaf Bu, saya kira ibunya Syahila. Mirip soalnya.” Kata Ustadzah Ella.


“Tidak apa – apa Ustadzah, memang banyak yang bilang Syahila itu lebih mirip sama saya dari pada Yasmin.” Kata Bu Farras tersenyum. Kemudian Bu Farras memyampaikan maksud dan tujuan ia datang kesana. Syahila hanya terdiam menyimak mendengarkan pembicaraan Bu Farras dengan Ustadzah Ella. Setelah semua urusan selesai, Yasmin akhirnya diperbolehkan pulang ke rumah. Saat Yasmin sedang bersiap untuk pulang dengan orang tuanya,


Bu Farras tiba – tiba memeluk Syahila dengan sangat erat.


“Makasih ya Kak Sya, kakak sudah jagain Yasmin.” Ucap Bu Farras. Sedangkan Syahila hanya bisa tersenyum sopan. Lalu Syahila mengantar Yasmin dan Bu Farras sampai ke samping musholla. Di samping mushola, Jay masih setia menunggu ibu dan adiknya. Ia melihat Syahila dan tersenyum, kemudian Syahila membalas senyumnya demi kesopanan.


“Mamah pulang dulu ya Kak, jaga kesehatan. Yasminnya pulang dulu.” Ucap Bu Farras.


“Iya, hati – hati ya Mah.” Kata Syahila.


“Kamu cepet sembuh Min, jangan keenakan di rumah. Nanti ketinggalan pelajaran, bentar lagi ujian.” Kata Syahila kepada Yasmin.


“Iya, bawel.” Kata Yasmin menanggapi. Bu Farras tersenyum melihat kelakuan Yasmin dan Syahila. Ia bersyukur karena orang itu adalah Syahila, orang yang selalu membantu Yasmin. Setidaknya Bu Farras dapat sedikit tenang membiarkan Yasmin di pesantren karena ada Syahila.

__ADS_1


__ADS_2