Always You

Always You
Episode 4


__ADS_3

“Cukup berikan senyuman kepada orang yang mencaci maki, balaslah mereka dengan prestasi. Yang akan membuatnya sadar diri, bahwa kita berhak mempunyai mimpi yang tinggi.”


Sebulan kemudian, Syahila sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Dengan penuh  rasa percaya diri, Syahila berjalan dengan kepala di balut perban sepenuhnya membentuk seperti turban. Maka masyarakat sekitar sering menyebutnya Bu Haji karena perban yang dikepalanya seperti turban. Setiap harinya, Syahila memang tipikal anak yang ceria dan mudah bergaul dengan semua orang. Ia juga tidak merasa minder dengan kekurangan yang dimilikinya, karena Syahila yakin Allah SWT itu sangat sayang kepadanya. Namun, terkadang Syahila merasa sedih saat adabeberapa hal yang memang ia tidak dapat ikut serta bermain dengan teman teman seusianya karena keterbatasan fisiknya itu. Namun, sejak saat itu Syahila mulai kembali ceria kembali jika dibandingkan saat ia belum melakukan operasi. Lambat laun, Syahila mulai mengerti dan menerima dengan ikhlas keadaannya berbeda


dengan yang lainnya. Walaupun ia seringkali merasakan sakit yang luar biasa dibagian kepalanya.


Setahun kemudian, rambut Syahila sudah mulai panjang sebahu. Saat usianya tepat menginjak tujuh tahun, Syahila langsung di daftarkan ke sekolah dasar oleh orang tuanya. Syahila tidak lagi melanjutkan sekolah taman kanak – kanaknya karena  masa pemulihan pasca operasi. Syahila di daftarkan ke sekolah dasar yang sama dengan para sepupunya. Syahila merupakan anak yang ceria dan mudah bersosialisasi sehingga mudah mendapatkan seorang teman. Syahila tidak merasa malu akan keterbatasan fisiknya yang memang sampai saat ini tangan kanannya masih lumpuh dan jalannya masih sedikit pincang. Syahila tetap bergaul dengan teman – teman yang lainnya. Sampai pada akhirnya, ada beberapa anak laki – laki yang mengejek fisik Syahila. Teman – teman perempuan Syahila membelanya dengan cara memarahi anak – anak yang mengejek Syahila. Namun, yang dilakukan Syahila hanya diam dan tersenyum yang terukir di wajahnya. Ternyata hal itu yang membuat teman – teman perempuan Syahila merasa kesal kepadanya.


“Sya, kamu jangan diem saja. Lawan atau marah gitu. Kamu sudah di ejekin tuh sama slamet dan teman – temannya.” Protes teman – teman perempuan Syahila.


“Kenapa harus marah? Yang dikatakan mereka benar kok, aku memang pincang, aku memang anak cacat. Tapi aku karena kecelakaan, karena Allah sayang sama aku. Allah ingin aku lebih bisa bersabar, jika aku marah itu


tandanya aku tidak sabar.” Jawa Syahila bijak dengan wajah tersenyum, walaupun sejujurnya Syahila merasakan hatinya yang seperti disayat – sayat pisau berkali – kali.


“Tapi Sya...” Ucapan temannya terpotong oleh Syahila.


“Sudah tidak apa – apa, aku yang di ejek kok kalian yang marah. Jika keburukan di balas dengan keburukan, tidak akan habisnya. Senyumin saja, nanti kalau mereka cape juga berhenti sendiri.” Kata Syahila lagi. Ia tidak ingin memperpanjang masalah yang ada, karena Syahila hanya ingin fokus belajar untuk membahagiakan orang tuanya.


Setelah mengatakan hal itu, Syahila berniat ingin ke kamar mandi. Tiba – tiba salah satu tali sepatunya terputus karena terinjak oleh teman lelakinya. Syahila yang bingung karena ia tidak dapat mengikatnya kembali. Ia berniat untuk meminta bantuan teman perempuannya untuk mengikatkan tali sepatunya, tiba – tiba wali kelasnya Bu Ida menghampiri dan langsung berjongkok tepat dihadapan Syahila hendak mengikatkan tali sepatunya yang terlepas. Syahila yang merasa tidak enak langsung mencegahnya.


“Maaf bu, biarkan saja. Nanti saya minta bantuan teman saya saja.” Ucap Syahila, menolak bantuan dari Bu Ida.


“Sudah kamu diam saja.” Ucap Bu Ida. Kemudian beliau berjongkok mengikatkan tali sepatunya.


Syahila bukannya hendak menerima bantuan dari orang lain, ia hanya merasa segan dengan dengan Bu Ida. Syahila menganggap Bu Ida sebagai orang tuanya yang berada di sekolah, bukan hanya Bu Ida, semua gurupun Syahila anggap demikian. Yang mana orang yang Syahila hormati dan segani berjongkok dihadapannya, sedangkan ia berdiri. Syahila merasa hal itu tidak sopan, akan tetapi Bu Ida tetap bersikeras untuk mengikatkan tali sepatunya yang terlepas.


“Makasih bu.” Ucap Syahila.


Bu Ida hanya tersenyum lalu berlalu pergi, tak lama bel berbunyi. Syahila dan teman – temannya langsung berkumpul di lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Pak Didi selaku guru olahraga tiba dan membimbing


anak – anak melakukan pemanasan. Karena keterbatasan fisiknya, Syahila melakukan pemanasan semampunya. Dan saat pelaksanaan olahraga yang sulit ia ikuti, Syahila hanya dapat duduk dan melihat teman – temannya mempraktekan apa yang di contohkan oleh guru. Dalam pikirannya ia bertanya – tanya kepada diri sendiri.


“Ya Allah, aku sudah melakukan operasi, aku sudah rajin terapi. Tapi mengapa aku masih belum bisa hidup normal sepeerti yang lainnya? Apakah aku harus lebih bersabar lagi?”Bathin Syahila, ia terus melihat ke arah dimana teman – temannya sedang berolahraga.


Syahila berusaha untuk tersenyum dan menghibur  diri sendiri, ia berusaha meyakinkan hatinya bila suatu saat dirinya akan normal kembali seperti anak – anak yang lainnya. Yang harus dilakukannya adalah bersabar, karena buah kesabaran pasti akan manis hasilnya. Syahila berusaha selalu mengingat pesan ayahnya, bahwa sesungguhnya Allah SWT bersama orang – orang yang sabar. Selain itu ayahnya pernah berkata bahwa orang sakit jika ia bersabar terhadap penyakitnya maka Allah akan menghapus dosanya sedikit demi sedikit. Sejak itu Syahila tidak lagi memperdulikan omongan orang dan ia tidak lagi mengeluh mempertanyakan mengapa dirinya mengalami hal seperti itu. Yang dilakukan Syahila adalah fokus belajar, ia mempunyai anggapan bahwa jika selama ini selalu di pandang sebelah mata oleh orang lain karena keterbatasan fisiknya, maka ia harus menjadi anak yang berprestasi sehingga orang tidak lagi memandangnya dengan sebelah mata.


Syahilapun membuktikan kepada semuanya bahwa walaupun ia berbeda dengan yang lain, walaupun mempunyai keterbatasan fisik, tapi ia berprestasi. Itu dibuktikannya dengan selama enam tahun berturut – turut Syahila terus menerus mendapatkan peringkat satu bahkan selalu menjuarai berbagai lomba yang diikutinya. Ia juga dipercaya oleh temannya untuk menjadi ketua kelas selama empat tahun berturut – turut. Bahkan karena prestasinya itu


Syahila selalu mendapatkan beasiswa berturut – turut setiap tahunnya. Bahkan, saat ujian nasional ia meraih nilai tertinggi satu kecamatan. Setelah lulus dari sekolah dasar, sebenarnya Syahila ingin memasuki SMPN 1 Cirebon, yang mana menurut Syahila itulah sekolah terbaik yang berada di kotanya saat itu. Sayangnya, ayahnya itu tidak yakin bahwa Syahila dapat lulus masuk ke SMP itu yang memang persaingannya sangatlah ketat. Terlebih lagi dengan kondisi Syahila yang memang sampai sekarangpun masih sering merasakan nyeri dikepalanya, dan


letak sekolah yang cukup jauh dari kediaman Syahila. Tetapi Syahila tetap bersih keras untuk masuk ke SMP yang diinginkannya itu.


“Ayah, teteh yakin bisa lulus ke SMPN 1 Cirebon.” Ucap Syahila masih berusaha membujuk sang ayah.


“Teteh, untuk masuk kesana itu nilai ujian nasional minimal harus 27,00. Lebih baik teteh masuk ke SMP yang dekat rumah saja yaa. Itu juga sekolah favorit kok.” Kata ayahnya mencoba meyakinkan Syahila.


“Aku tidak mau sekolah di sekolah yang favorit ayah, aku mau sekolah di sekolah yang terbaik. Karena jika sekolah favorit banyak orang yang ingin masuk kesana, sedangkan jika sekolah terbaik, memang banyak orang yang ingin masuk kesana, namun lebih banyak lagi siswa yang menghindar darinya karena memang persyaratan untuk masuk kesana sangatlah sulit. Dan aku ingin menjadi bagian dari mereka orang – orang yang dapat merasakan manisnya buah dari perjuangan ayah.” Ucap Syahila dengan sungguh – sungguh kepada ayahnya dengan mata yang menunjukan penuh rasa keyakinan. Ayahnya menatap mata Syahila dalam, mencoba mencari kesungguhan yang dimiliki anaknya itu. Namun, ayahnya Syahila langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan ia langsung mengambil secangkir kopi yang telah disiapkan oleh Ibu Nur, istrinya. Syahila yang tidak mendapat jawaban dari ayahnya itu hanya terdiam lalu memasuki kamarnya dengan mata berkaca – kaca menahan segala rasa yang tercampur dalam dada.


Keesokan harinya, walaupun sekolah sedang bebas karena telah melaksanakan ujian nasional, tetapi Syahila tetap pergi ke sekolah selagi menunggu pengumuman daripada hanya berdiam di rumah. Syahila mengobrol dengan


Dora sahabatnya yang merangkap menjadi rivalnya di sekolah. Dora memberitahukan Syahila bahwa ia akan melanjutkan pendidikannya di salah satu pondok pesantren yang berada di kota Kuningan Jawa Barat.

__ADS_1


“Sya kamu jadi masuk SMP 1 Cirebon?” Tanya Dora kepada Syahila.


“Ayah gak yakin aku bisa lulus kesana, gara – gara untuk masuk kesana itu nilai UN minimal rata – ratanya harus 9.” Jawab Syahila lesu.


“Berarti nilai UN-nya minimal harus 27, 00 ya Sya?” Tanya Dora kemudian. Syahila mengangguk sebagai jawaban. Tiba – tiba Syahila mendadak mendapatkan ide yang cemerlang, iapun tersenyum dibuatnya.


“Dora, daftarin aku yaa, ke pesantren yang sama kaya kamu.” Pinta Syahila kepada Dora dengan senyum yang belum menghilang dari wajahnya.


“Kamu serius? Orang tua kamu gimana?” Tanya Dora terkejut dengan permintaan Syahila yang tiba – tiba.


“Masalah itu nanti saja aku yang bicara dengan orang tuaku, yang penting sekarang daftarin aku dulu yaa.” Jawab Syahila santai.


“Iya sudah, nanti aku bilang ke ibuku untuk mendaftarkan kamu juga.” Kata Dora.


“Makasih Dora.” Ucap Syahila seraya tersenyum.


Sepulang sekolah, ia melihat ayahnya yang sedang duduk di kursi depan dengan di temani secangkir kopi dengan tangan kanannya yang memegang sebatang rokok yang sedang dihisapnya. Sementara tangan kirinya memegang ponsel untuk membaca berita di internet. Syahila melangkahkan kakinya sambil tangan kirinya membuka pagar rumah.


“Assalamu’alaikum.” Ucap Syahila dan ia melangkahkan kakinya mendekat kearah ayahnya.


“Wa’alaikumussalam.”  Jawab ayah dan ibunya bersamaan, yang  mana ibunya baru keluar dari arah dapur dengan membawa sepiring pisang goreng. Bu Nur meletakan pisang goreng itu di meja yang berada di sebelah suaminya, dan setelah itu ia pun duduk di kursi sebelahnya. Syahila langsung menyalami kedua orang tuanya itu dengan penuh penghormatan. Kemudian ia duduk dilantai tak jauh dari kedua orang tuanya.


“Ayah masih tidak setuju jika aku ingin bersekolah di SMPN 1 Cirebon?” Tanya Syahila to the point.


“Bukan tidak setuju, hanya kurang setuju.” Jawab ayahnya yang mencoba mengajak Syahila bercanda karena kini pertama kalinya melihat wajah Syahila yang sangat serius.


“Si ayah tuhh gimana sihh? Kalau begitu mah intinya sama saja kalau ayah tidak setuju.” Kata Bu Nur dengan sedikit logat sundanya yang khas menanggapi ucapan suaminya.


“Tentang apa itu?” Tanya sang ayah penasaran.


“Jika ayah tidak mengizinkanku masuk ke SMPN 1 Cirebon tidak apa – apa, tapi aku mau masuk pesantren saja. Aku sudah mendaftarkan diri ke salah satu pesantren yang ada di Kuningan, dan minggu depan aku tes masuk


pesantren itu.” Kata Syahila hati – hati.


“Kamu serius? Di pesantren itu nantinya nyuci sendiri, masak sendiri Sya. Nanti kamu akan kesusahan sendiri Sya.” Ucap Ibu Nur yang melihat keadaan tangan kanan Syahila yang sampai sekarang belum pulih juga. Sedangkan ayahnya hanya terdiam tidak berkata apa – apa.


“Ayah...” Panggil Syahila.


Dan saat itu juga ayahnya langsung menasehati Syahila tentang bagaimana kehidupan di pesantren. Dari banyaknya kegiatan yang sangat padat, budaya mengantri dimana -  mana, dan semua itu dilakukan sendiri. Mencuci, menyetrika, memasak, semuanya dilakukan sendiri. Ayahnya juga memberitahu Syahila bahwa di pesantren harus disiplin, jika tidak disiplin pasti selalu ada hukumannya. Ayahnya memberitahu tentang kehidupan di pesantren yang diketahuinya. Waktupun berlalu, tak terasa 2 jam sudah ayahnya bercerita tentang kehidupan di pesantren.


“Kamu siap?” Tanya ayahnya kepada Syahila. Syahila memejamkan mata sejenak sambil menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan.


“Aku siap.” Jawab Syahila cepat, karena Syahila yakin kedua orang tuanya tidak akan mengizinkannya untuk masuk pesantren. Sehingga mau tidak mau orang tuanya akan menuruti keinginan Syahila. Namun, tak pernah ada


dalam pikiran Syahila bahwa ayahnya akan menyetujuinya untuk masuk ke pesantren, niat Syahila membicarakan hal ini adalah agar ayahnya lebih memilih memasukannya ke SMP yang diinginkannya, bukan untuk benar – benar masuk pesantren.


Minggu depannya Syahila berangkat ke pesantren yang akan dimasukinya untuk melaksanakan tes tulis sekaligus wawancara. Ia diantar hanya oleh ibunya karena ayahnya harus pergi bekerja. Syahila dan ibunya berangkat bersama dengan Dora teman satu kelasnya, dan Julian anak dari teman ayahnya Dora. Dora diantarkan oleh kedua orang tuanya, sedangkan Julian sama seperti Syahila hanya diantar oleh ibunya karena ayahnya sedang ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan. Sesampainya disana, julian langsung memisahkan diri


dari Syahila dan Dora karena memang dia adalah laki  laki jadi harus ke tempat tes khusus laki – laki. Syahila dan Dora langsung memasuki kelas tempat mereka akan melaksanakan tes tulis setelah mendapatkan kartu yang berisi identitas dan nomor ujian. Setelah menemukan kelas yang dituju, ternyata Syahila dan Dora duduk berdekatan, Dora duduk di kursi tepat dikursi yang ada di belakang Syahila. Selain mereka, dikelas itu juga banyak orang yang akan berjuang untuk dapat lulus masuk ke pesantren ini. Hal itu terpancar dari wajah – wajah mereka, mulut mereka seakan terus menerus memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar di mudahkan untuk mengerjakan ujian. Berbeda dengan Syahila yang memang tidak benar – benar menginginkan untuk masuk ke pesantren ini. Disaat banyaknya orang memanjatkan doa untuk masuk ke pesanren itu, ia malah sibuk memikirkan


bagaimana cara menjawab wawancara nanti agar ia tidak lulus masuk ke pesantren ini. Maka saat lembaran soal dibagikan, Syahila mengerjakannya dengan asal – asalan agar ia tidak lulus masuk ke pesantren ini saat Syahila selesai mengerjakan soal, ia melihat orang – orang yang berada di sekelilingnya sedang mengerjakan soal dengan sangat serius. Dalam pikirannya terlintas bagaimana reaksi orang tuanya saat mengetahui hasil tes ini kelak. Akankah jika ia tidak lulus orang tuanya akan kecewa atau bagaimana Syahila tidak tahu.

__ADS_1


Setelah selesai melaksanakan ujian, elagi menunggu giliran tes wawancara, Syahila dan Dora berkeliling untuk melihat asrama. Dari kelas tempat mereka ujian, ada dua jalan untuk pergi ke asrama. Melalui tangga atau jalan yang berada di bawah tangga. Mereka bingung apakah ingin melewati tangga atau melewati jalan yang berada di bawah tangga.


“Jadi mau lewat mana nihh?” Tanya Dora kepada Syahila.


“Lewat tangga saja dulu, pulangnya baru lewat bawah. Kan sama saja, menuju asrama Jugakan?” awab Syahila santai.


“Iya juga ya? Biar kita tahu semua jalannya.” Ucap Dora.


Akhirnya mereka melewati tangga yang menghubungkan sekolah dengan asrama, saat sedang berada di atas tangga, mereka berhenti sejenak menikmati indahnya gunung Ciremai yang berada di sebelah barat mereka.


Setelah puas menikmati indahnya gunung Ciremai, mereka melangkahkan kakinya untuk menuju asrama. Saat tiba disana, terlihat asrama yang bersih dengan banyaknya tanaman dan pepohonan di sekitar kamar. Tak jauh dari sana, terlihat sebuah mushola tempat para santri menunaikan ibadah sholat. Namun, saat berada disana Syahila merasakan ada yang ganjal. Karena ia melihat sebuah sarung yang terlipat rapi dan peci diatasnya yang diletakkan diatas meja yang terlihat dari luar dari salah satu kamar. Saat Syahila hendak memberitahu Dora mengenai


keganjalan ini, ternyata ada seorang santri putra yang hendak pergi ke mushola menghampiri mereka terlebih dahulu. Melihat dari penampilannya, Syahila menebak bahwa santri putra itu adalah kakak kelas mereka, terlihat dari penampilannya yang sudah terlihat dewasa.


“Assalamu’alaikum.” Ucapnya.


“Wa’alaikumussalam.” Jawab Syahila dan Dora bersamaan.


“Kalian sedang apa disini dek?” Tanya santri itu kepada mereka.


“Sedang melihat asrama kak.” Jawab Dora. Santri itu tersenyum.


Kemudian santri itu memberitahukan mereka bahwa kawasan ini adalah kawasan asrama ikhwan (laki – laki), sedangkan asrama akhwat (perempuan) berada di belakan mushola ini. Santri itu juga menjelaskan bahwa tangga yang tadi mereka gunakan adalah jalan penghubung untuk pergi ke asrama ikhwan sedangkan jalan yang berada di bawah tangga itu adalah jalan penghubung untuk pergi ke kawasa asrama dan sekolah akhwat. Kemudian santri itu mempersilahkan mereka untuk segera meninggalkan area ikhwan.


“Kalau begitu maaf ya kak, kami tidak tahu mengenai hal itu. Dan terimakasih telah menjelaskannya kepada kami.” Ucap Syahila kepada Santri itu. Sedangkan santri itu hanya mengangguk dan tersenyum.


Syahila dan Dora segera pergi dari tempat itu dengan perasaan malu yang teramat sangat. Terlebih Syahila saat itu hanya mengenakan kaos panjang dengan celana jins dan kerudung bergo saja.


Saat mereka kembali ke kelas tempat mereka ujian tadi, tak lama kemudian nama mereka di panggil untuk segera melakukan wawancara. Syahila memasuki kelas yang mana sudah ada seorang ustadzah yang akan mewawancarainya.


“Assalamu’alaikum ustadzah.” Ucap Syahila, seraya tersenyum.


“Wa’alaikumussalam, silahkan duduk.” Jawab ustadzah itu, Syahila pun duduk tepat di hadapan ustadzah itu.


“Syahila Afsheen Myesha dari Cirebon, benar?” Tanya ustadzah itu kepada Syahila memulai wawancara..


“Iya benar ustadzah.” Jawab Syahila.


“Baik Syahila, apa motivasi anti untuk masuk ke pesantren ini?”


“Sejujurnya, ssaya masuk ke pesantren ini hanya untuk membuat orang tua saja mengizinkan saya untuk bersekolah ke sekolah impian saya selama ini. Saya mempunyai anggapan bahwa jika saya ingin masuk pesantren orang tua saya akan menyetujui saya bersekolah di sekolah impian saya.” Jawab Syahila jujur.


“Mengapa anti punya anggapan seperti itu? Bukankah kebanyakan orang tua akan mendukung jika anaknya itu meminta untuk di masukan ke pesantren?”


“Mungkin itu berlaku untuk orang tua pada umumnya, namun berbeda dengan orang tua saya.”


“Alasannya?” Tanya ustadzah itu penasaran.


“Karena saya berbeda dari kebanyakan anak pada umumnya, saya menderita gangguan syaraf yang disebabkan kecelakaan 10 tahun yang lalu. Yang mengakibatkan tangan kanan saya lumpuh dan jalan saya yang pincang.” Kata Syahila, ia menunjukan tangan kanannya kepada ustadzah yang tidak bisa ia gerakan dengan dibantu dengan tangan kirinya.


“Berarti itu kecelakaannya waktu kamu kecil yaa? Saat kejadian, umur kamu berapa?”

__ADS_1


“Saat umur saya 2 tahun.” Jawab Sya cepat. Wawancara itu berlanjut sampai selesai. Kemudian Syahila dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan.


__ADS_2