Always You

Always You
Episode 28


__ADS_3

Setelah melakukan pembelajaran, Daifa dan kedua sahabat nya kini tengah berjalan menuju kantin.


Berjalan santai dengan candaan yg di lontarkan Daifa, sungguh mengisi ke ramayan yang semakin ramay.


"Na" Panggil Daifa, Liana pun menengok menatap Daifa.


Mengangkat alis nya sebelah, sebelum membuka suara nya.


"Apa?".


" Lo Cantik deh"ucap Daifa dengan kedipan mata nya.


"Gue tau!" Jawab Liana menatap malas Daifa.


"Cantik....kalo diliat dari pohon toge" Lanjut Daifa lagi dengan tawa ngakak nya.


Liana mendengus kesal, iya sudah tau sahabat nya tida akan tulus memuji orang.


"Lo juga imut, kaya peliharaan tetangga gue" Balas Liana enteng, padahal peliharaan yang iya maksud tidak alain Monyet tetangga nya yang sering di sebut Pufa oleh pemilik nya.


Sedangkan Daifa dengan bodoh nya malah bertanya.


"Siapa Na?" Tanya nya antusias, tentu saja iya pikir anak tetangga nya Liana yang imut menggemaskan menurut persi nya.


Dengan senyum manis nya Liana menjawab.


"Monyet peliharaan tetangga gue".


Jawaban tersebut membuat Daifa kesal, tampa merasa bersalah, Daifa menarik rambut Liana. Hingga Liana memekik kesakitan.


"Akhh, sakit Fa, lepasin!"seru Liana dengan tangan yang memegang rambut nya yang di tarik Daifa.


Setelah puas Daifa melepas kan nya, meski iya tida menarik nya dengan kuat, tapi tampak nya Liana sangan kesakitan.


Afifa hanya bisa menggeleng kepala, sepertinya tiada hari tanpa bertengkar, apa lagi itu hanya hal sepele.


"Udah deh, ga malu apa? ini kan di tengah jalan"Lerai Afifa menghentikan pertengkaran mereka berdua.


Daifa dan Liana menurut, mereka juga memperhatikan sekitar yang ternyata ada beberapa siswa-siswi yang memperhatikan perdebatan mereka.


Namun mereka berdua acuh saja, seperti tidak merasa malu sedikit pun, atau memang tidak memiliki malu? ntah lah.


Mempercepat langkah yang sedaritadi santai, tanpa sengaja Daifa menabrak seseorang.


Bruk


"Aiss!, apa hidup gue di takdirin meski nabrak-nabrak orang?!"Desis Daifa dengan muka kesal nya, iya heran kenapa bisa iya sering menabrak atau tertabrak orang, untung bukan dengan mobil atau lain nya.


Liana pun menahan tangan Daifa agar tida jatuh, iya juga heran, bisa-bisa nya Daifa sering nabrak-nabrak orang, bisa bonyok lama ke lama'an kan?


"Fa, ke nya hidup lo meski banyak nabrak deh" Tutur Liana memandang Daifa.


Daifa yang sedang menggosok hidung nya pun menoleh.


"Lo muji apa ngehina?" Dengus Daifa.


Iya mendongak menatap orang yang juga menatap nya dengan pandangan datar?.


Ohh, iya tidak menyangka ternyata Darel sang pemilik muka datar itu.


"Minggir!"Cetus Daifa.


Darel tida bergeming, iya masih tetap berdiri di sana menatap Daifa datar.


Hal itu membuat Daifa kesal.


" Lo budeg ya? Gue bilang minggir!"Seru Daifa tak sabaran, bahkan iya sampai mengepalkan tangan nya.

__ADS_1


Tampa memperdulikan ke marahan Daifa Darel malah menyeret Daifa mengikuti nya.


"Woy! Lepasin!" Brontak Daifa berusaha melepaskan cekalan Darel, Namun Darel, seolah tuli, iya tetap menarik Daifa berjalan bersamanya.


"Gimana tuh Fafa?" Tanya Liana menengok ke arah Afifa yang hanya menampilkan ekspresi cuek.


"Paling di kantin" Jawab Afifa se adanya, iya yakin Daifa tida akan kenapa-kenapa.


Liana hanya mengengguk saja, mereka berdua melanjutkan langkah nya menuju kantin.


Sementara Daifa, iya sudah lelah memberontak, toh tenaga nya masih kalah jauh, jadi iya hanya akan menggunakan otak nya saja, makanya kini ekpresi nya berubah santai.


"Gini ke dari tadi" Cetus Darel tampa menoleh.


Daifa mendengus kesal, rasa nya iya sangat ingin membogem orang di depan nya, yang se'enak jidat menyeret nya.


Masuki area kantin, mereka berdua, lebih tepat nya Darel saja, mencari tempat duduk di meja paling pojok.


"Bilang ke mau ngajak makan!" Gerutu Daifa setelah duduk di sana.


"Ga minat, salah lo sendiri yang nabrak gue" Acuh Darel masih dengan pandangan Datar nya.


Tak lama teman-teman Darel pun datang dengan gerutuan nya, apalagi Erlan yang sifat nya lebih bawel.


"Wah, wah, wah, ninggalin kita ternyata malah berdua'an di sini!" Ucap Erlan dengan tampang kesal nya.


Darel orang yang menyeret Daifa hanya diam tampa menjawab, berbeda pula dengan respon Daifa.


"Gue di culik sama ni triplek!" Sungut Daifa, memasang ekpresi seolah iya sudah di aniyaya.


Mengerutkan kening nya ta mengerti, Erlan dan Alvin ikut duduk di sana, siap bertanya tanya.


"Ko bisa? trus kedua sahabat lo kemana?" Tanya Erlan menatap Daifa heran.


"Mereka pasti panik nyariin gue" Ucap Daifa sedih.


"Tuh mereka ke sini" Celetuk Alvin tatkala iya melihat Liana dan Afifa berjalan bersama dari arah pintu masuk kantin.


Celetukan Alvin membuat Erlan ikut menoleh juga.


"Ko mereka ke ga keliatan panik ya?" Heran Erlan.


"Ya mana panik, orang si Daifa di culik ke kantin" Saut Alvin santai.


Nampak Erlan termenung sebentar sebelum menepuk jidat nya dengan tangan.


"Oh, iya, ya, si Daifa kan lagi duduk-duduk aja ya" Ucap Erlan sambil memperhatikan Daifa yang kini sedang melambay-lambay ke arah sahabat nya.


"Sini woy, sini!" Seru Daifa, hingga Liana dan Afifa yang baru memasuki area kantin menoleh, setelah nya mereka mendekat.


"Gue kira lo bakal di buang ke rawa-rawa" Celetuk Liana setiba nya di sana.


Mendengus kesal, Daifa menarik tangan Liana hingga terduduk di sisi nya.


"Lo pikir gue apa!, bukanya khawatir sahabat nya di seret orang, malah ngatain!" Gerutu Daifa kesal.


Liana memutar bola mata nya malas, masa iya iya harus panik-panikan nyari Daifa, toh orang nya duduk santai di sini.


"Sana pesen makanan" Suruh Daifa santai.


"Dih! belagu amat lo, dah ke ratu aja!" Cetus Liana menempleng kepala Daifa kesal.


"Emang gue nyuruh ke lo doang apa?!, noh masih banyak babu yang lain" Ucap Daifa sambil mengusap kepala nya yang di tempeleng Liana.


Orang yang ada di meja Daifa mendengus sebal, masih aja ngeselin.


Tampa berdebat lagi, Alvin dan Erlan beranjak membeli pesanan mereka.

__ADS_1


Tak berselang lama mereka pun kembali dengan nampan di tangan mereka.


Menyambut nya dengan semangat, Daifa mengambil pesanan nya dengan antusias, tampa berbasa-basi iya langsung melahap nya dengan hidmat.


Tampa berselang lama, ketenangan Daifa lenyap seketika, apa lagi setelah kedatangan Aluna, si biang masalah.


Bruk


Semua orang menoleh ke arah meja Daifa dkk, termasuk Liana yang menutup mulut nya kaget.


"Sory, ga sengaja" Ucap santai Aluna sambil bersidekap dada.


Daifa yang tertumpahi minuman yang di bawa Aluna nampak biasa saja, sambil merapihkan rambut nya yang lengket karena jus, Daifa menoleh menatap Aluna lekat-lekat seolah sedang memberi tanda bahwa orang itu tida akan lepas dengan mudah jika iya ketemu kembali.


"Gawat Fi, Fafa pasti lepas kendali!" Bisik Liana di samping Afifa yang juga menampilkan sedikit kekhawatiran di dalam sorot mata nya.


"Ada urusan apa lo sama gue?" Ucap Daifa dengan suara dalam nya yang menekan.


"Lo ngapain deket-deket sama mereka ber_tiga!, lo itu ga pantes!" Ucap Aluna berani, meski iya kaget dengan sikap Daifa yang tida terpancing emosi, karena iya sengaja menyiramkan jus nya ke arah Daifa.


"Terus siapa yang pantes?" Tanya Daifa memiringkan kepala nya dengan seringai tipis di bibir nya.


"Gue!, gue lebih pantes jalan sama Darel dibanding lo b***t!" Tutur Aluna dengan kepedena tingkat akut.


Daifa menutup mulut nya menahan tawa, begitu pun yang lain.


"PD banget lo, ngaca dong, muka kebanyakan tepung aja so-soan scincer 50 Ribu dapet 4 aja belagu" Cetus Daifa menatap Aluna malas, semua orang yang ada di kantin tertawa terbahak-bahak, begitupun dengan Liana dan yang lain nya.


Setelah mengatakan itu Daifa kembali menyantap makanan yang masih tersisa, setelah selesai iya menyeruput minuman nya, lalu berdiri dari duduk nya menghadap Aluna yang masih mematung.


"Nih, gue gantiin minuman lo yang tumpah di kepala gue" Ucap Daifa menyodorkan minuman nya ke arah Aluna.


Pita, sang sahabat Aluna, yang malu pun menepis gelas yang di sodorkan Daifa.


π˜‰π˜Ίπ˜Άπ˜³


"Ups, sory" Ucap Daifa menutup mulut nya seolah merasa bersalah. padahal iya sengaja, Daifa sudah menangkap gerak-gerik Pita yang diam saja di samping Aluna.


"Keterlaluan banget si lo!" Sentak Aluna berekting seolah iya tengah di bully oleh Daifa.


"Apa nya yang keterlaluan sih?!" Tanya Liana yang mulai jengah.


"Temen j***ng lo itu keterlaluan!" Sentak Aluna dengan jari telunjuk mengerah ke arah Daifa.


Kesal muka nya di tunjuk-tunjuk, Daifa menepia tangan Aluna kasar hingga si empu meringis.


"Tangan lo abis megang apa sih? ko bau? pasti abis bersihin gigi ya?" Tuding Daifa dengan tangan menutup hidung nya seolah-olah benar-benar bau, tuduhan Daifa membuat penghuni kantin tertawa seketika.


Sudah kesal di permalukan Daifa dkk, Aluna berlalu di ikuti Pita yang basah oleh tumpahan minuman Daifa.


Aluna berjalan cepat hingga menghilangkan di pintu kantin.


Dirasa pengganggu sudah hilang, Daifa menoleh ke arah sahabat nya yang juga tengah menatap nya.


"Ayo balik kelas" Ajak Daifa sambil berlalu pergi.


Liana dan Afifa hanya mengikuti saja, hingga mereka benar-benar tidak terliahat lagi, baru semau orang sadar, dan kembali melanjutkan kegiatan mereka.


"Mereka ga bayar?" Celetuk Erlan.


"Eh iya kah?" Linglung Alvin sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Daifa biar gue yang bayar" Ucap Darel menimpali, iya mengeluarkan uang dari saku baju nya, setelah itu iya beranjak pergi.


Erlan dan Alvin terdiam cukup lama, barulah mereka sadar setelah Darel sudah menghilang dari kantin, mereka berdua membayar makanan yang sudah mereka pesan dengan ogah-ogahan, setelah membayar barulah mereka pergi.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2