
“Akankah kau tahu bagaimana rasanya membendung rindu?
Rindu yang telah lama terbendung dalam hatimu. Namun kau hanya bisa mengadu,
kepada Rabb-Mu yang Maha Besar itu.”
Hari yang sangat ditunggu – tunggu oleh setiap santri adalah liburan, dimana liburan adalah hari dimana mereka dapat berkumpul dengan keluarga tercinta. Mengobati kerinduan yang telah terbendung selama kurang lebih enam bulan. Kesempatan para santri untuk pergi refreshing sekedar untuk mengistirahatkan otak, setelah banyaknya pelajaran yang harus dihafal dan ayat suci Al – Qur’an yangsudah di target setiap harinya. Sejak shubuh tadi parkiran mulai dipenuhi oleh mobil para wali santri yang akan menjemput anaknya masing – masing. Setelah dibagikan surat perpulangan kepada setiap santri, maka tepat pukul delapan pagi hari ini semua santri resmi
memulai liburan yang sangat ditunggu – tunggunya. Syahila sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya, namun liburan kali ini Syahila pulang sendiri dikarenakan kedua orang tuanya tidak bisa menjemputnya karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Saat Syahila berada di depan asrama, karena terlalu banyaknya orangyang berlalu lalang tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang yang langsungmenggenggam tangannya erat.
“Afwan bu, saya tidak sengaja.” Kata Syahila sopan sambil tersenyum, dan ia sendiri sedikit terkejut saat melihat
__ADS_1
orang yang ada dihadapannya itu ternyata ibunya Yasmin.
“Iya, gak apa – apa kak. Kak Sya pulang?” Tanya ibu Farras kepada Syahila.
“Kebetulan orang tua saya tidak bisa jemput bu, karena ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.” Jawab Syahila.
“Jadi kak Sya pulang sendiri?” Tanya bu Farras lagi, dan Syahila mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.
“Terima kasih banyak bu, tapi saya bisa pulang sendiri,” Tolak Syahila halus.
“Sudah tidak apa – apa, saya akan berbicara dengan mamah ( ibunya Syahila) yaa.” Kata bu Farras masih berusaha membujuk Syahila. Saat bu Farras sedang menelpon Bu Nur ibu dari Syahila, Yasmin baru keluar dari asrama dan menghampiri Syahila yang berdiri tidak jauh dari ibunya.
__ADS_1
“Nah... ini dia anaknya, ya sudah ayoo de, Kak Sya, tadi kata mamah boleh kok.” Ajak Bu Farras. Yasmin dan Syahila mengikuti langkah Bu Farras dari belakang, namun Syahila hanya bisa menunduk karena entah mengapa ia merasa banyak mata yang melihat ke arahnya. Yasmin yang melihat Syahila berjalan tertunduk seakan mengerti situasi karena bukan hanya Syahila yang merasa diperhatikan namun juga dirinya merasa banyak mata memandang ke arahnya.
“Tenang saja kak Sya, aa gak ikut kok. Yang ikut jemput aku kesini nenek aku, tenang saja.” Kata Yasmin.
“Bukan itu masalahnya Min.” Ucap Syahila semakin menundukkan kepalanya.
Walaupun hari ini adalah hari pelepasanperpulangan, namun masih banyak pula santri yang belum pulang pada hari itu. Ada yang memang belum dijemput orang tuanya, atau memang konsulatnya membeli tiket pesawat atau kereta bukan pada hari itu. Dan memang ada beberapa santri yang sengaja ingin bermain terlebih dahulu di daerah sekitar pondok pesantren. Karena pesantren yang terletak di kaki gunung, tidak sedikit santri yang pada saat liburan tidak langsung pulang ke rumah karena mereka mendaki gunung terlebih dahulu, atau sekedar menaiki paralayang. Karena gosip mengenai Syahila dan Jay yang tak lain adalah kakak kandung dari Yasmin, maka beberapa santri
yang melihat Syahila berjalan bersama Yasmin dan ibunya mengira bahwa Syahila memang benar – benar ingin mendekati Jay.
Syahila, Yasmin serta ibunya telah sampai di tempat mobilnya terparkir. Disana ada ayahnya Yasmin dan juga neneknya, dan Syahilapun langsung mengucapkan salam dan menyalami sang nenek. Sedangkan kepada ayahnya Yasmin ia hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil tersenyum, dan dibalas serupa oleh ayahnya Yasmin. Bu Farras memperkenalkan Syahila kepada suami dan ibu mertuanya. Bu Farras mengaku sering menceritakan tentang Syahila di rumahnya karena salut kepadanya. Seorang Syahila yang mengalami musibah yang sangat berat diusianya yang masih balita, menjalani hari – hari hanya dengan tangan satu yang berfungsi, terlebih Syahila hidup di pesantren. Syahila di sambut baik oleh ayah dan neneknya Yasmin, hal itu
__ADS_1
membuat Syahila merasa senang dan tidak canggung. Setelah itu barulah mereka meninggalkan pondok pesantren tempat Syahila dan Yasmin menuntut ilmu.