
"Uhhhh" Lenguhan keluar dari bibir cantik gadis yg terganggu tidur nya karena terpaan matahari. Iya mengerjap-erjap pelan kelopak mata nya, saat sudah jelas kembali penglihatan nya, iya segera beranjak menuju kamar mandi.
"Hufff" Helaan nafas kasar iya hembuskan, memandang pantulan dirinya di cemin kamar mandi, iya menyalakan keran air guna membasuh wajah nya.
Selanjutnya iya segera membersihkan diri nya dengan cepat.
"Ghost? ko ada di rumah gue sih?" Bingung Daifa. Sepertinya iya melupakan kejadian kemarin.
"𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯 𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢" Ucap Ghost membuat Daifa menoleh ke arah nya.
"Kenapa lo ada di rumah gue?" Tanya Daifa sambil mengambil seragam sekolah nya di lemari yang Ghost tempati.
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯?" Cetus Ghost malas.
Daifa berpikir sejenak, iya benar-benar melupakan apa yang terjadi sore kemarin. yang iya ingat hanya waktu iya menangis dan ketiduran.
"Gue ga inget sama sekali Ghost, suerr deh, coba lo ceritain, siapa tau gue inget" Pinta Daifa segera duduk di meja rias nya setelah memakai seragam nya.
"Baiklah. Sebelum kau pulang dari sekolah, kau menyuruhku mengikuti seorang ga__" Penjelasan Ghost segera di potong oleh Daifa karena iya langsung mengingat nya.
"Langsung ke intinya aja, gue udah inget soal itu" Suruh Daifa untuk langsung To the poin pada jawaban nya.
"𝘋𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘩𝘰𝘵𝘦𝘭 𝘹𝘹𝘹, 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘭𝘢𝘬𝘪-𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬 𝘮𝘶, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨!" Ujar Ghost membara, iya juga marah akan niat buruk Aluna.
"Huff, lo ga usah ikut campur, biar gue tangani sendiri, tpi klo gue terdesak lo boleh bantu gue, kita ikuti permainan nya" Smirk Daifa yang di angguki Ghost antusias.
Tok
Tok
Tok
"Sayang, kamu udah bangun?" Tanya Dika dari luar pintu.
Daifa yang di panggil segera berdiri dan berjalan untuk membuka pintu.
"Ayo sarapan" Ajak Dika saat Daifa muncul di balik pintu dengan seragam sekolah nya.
Daifa tidak bicara, iya hanya mengangguk dan keluar setelah menutup pintu.
Jika di mata Dika iya hanya berjalan bedua dengan sang anak.
Namun di mata Daifa mereka bertiga, yah jangan lupakan Ghost yang mengikuti Daifa.
"Morning sayang" Sapa Bunda Lidia saat Daifa dan Dika muncul beriringan.
"Hemm" Dehem Daifa sebagai respon yang mana malah di tatap sedih oleh Bunda Lidia.
"Fa... Jangan diemin bunda dong, bunda minta maaf ga ngomong dulu sama kamu" Sedih Bunda Lidia namun Daifa hanya diam.
"Fafa udah selesai" Ucap Daifa segera beranjak dari meja makan.
"Fa, kamu belum habisin makanan kamu!" Teriak Bunda Lidia yang tidak di hiraukan Daifa, gadis itu terus berjalan hingga iya sampai di halaman depan.
Celingak celinguk, iya mengedarkan pandangan nya ke segala arah.
"Isss, kemana sih nih pak sopir" Gerutu Daifa saat tidak mendapati sopir yang selalu mengantarkan nya.
Melirik arloji yang ada di tangan nya, iya segera mendekati garasi dan memasuki mobil yang biasanya iya pakai. Sebenernya sih iya bisa membawa mobil, hanya saja iya merasa kasihan dengan supir peribadi nya, masa iya jadi supir ga ngapa-ngapain, pasti ngerasa makan gajih buta.
__ADS_1
Iya segera mengeluarkan mobil dari garasi, untung saja kuncinya ada di tempat nya.
Tit
Tit
"Pak satpam bukain gerbang nya!" Suruh Daifa membuat satpam yang sedang santai buru-buru mendekat dan segera membukakan pintu gerbang lebar-lebar.
"Makasih pak" Ucap Daifa sebelum melajukan mobil nya dengan kecepatan biasa.
Baru merasakan berkendara lagi, Daifa bersantai ria sambil bernyanyi.
"Kalu ke gini setiap hari kan enak, gue bisa leluasa jalanin rencana" Gumam Daifa tersenyum riang.
Setelah berkendara cukup lama, kini iya sudah sampai di sekolahan nya, belum terlalu banyak murid, mungkin mereka belum pada berangkat.
Setelah memarkirkan mobil nya di parkiran, iya segera keluar setelah mengunci mobil nya.
Menggendong ransel nya, iya berjalan santai menuju kelas nya. Setelah sampai di kelas nya, iya tidak mendapati siapapun, termasuk kedua sahabat nya.
"Mereka belum datang rupanya" Monolog Daifa menghela napas. Setelah itu iya berjalan menuju meja nya untuk menyimpan tas nya, setelah nya iya segera keluar menuju kantin.
Berjalan sambil memainkan ponsel nya, iya di kagetkan dengan teriakan dari arah depan nya. Segera iya menutup telinga nya. Setelah itu tubrukan di tubuh nya hampir saja membuat iya hilang keseimbangan sebelum menatap tajam sang pelaku.
"Lo apa-apaan sih!, untung gue ga jatuh" Sentak Daifa memarahi Liana yang tengah cengengesan setelah melepaskan pelukan nya.
Orang yang berterika tadi adalah Liana, siapa lagi orang yang suka teriak-teriak selain Liana dan Daifa.
"Mangap deh mangap, lo mau kemana?" Tanya Liana mrnsejejerkan langkah nya dengan Daifa.
"Ke kantin" Jawab Daifa segera berlalu meninggalkan Liana yang menggerutu kesal.
Setelah sampai di kantin, iya segera mencari tempat duduk.
"Hah, hah, lo tega ninggalin gue!" Gerutu Liana setelah sampai di hadapan Daifa dengan napas ngos-ngosan.
"Bodo, gue ga peduli, sanah lo pesen makanan, laper banget gue" Suruh Daifa membuat Liana mendengus. udah di tinggal di suruh-suruh pula.
"Mana uang nya" Cetus Liana menengadahkan tangan nya.
Daifa segera mengeluarkan lembaran dari saku baju nya, setelah itu iya menaruh nya di tangan Liana.
Setelah mendapatkan uang nya, Liana segera pergi menuju stend makanan.
Setelah kepergian Liana, Daifa memfokuskan kembali kepada ponsel nya.
Brak
Tiba-tiba meja yang di tempati Daifa di gebrak keras, membuat sang mpu memekik kaget.
"Anj_, ngapain lo gebar-gebrak meja gue!" Kesal Daifa menatap tajam sang pelaku yang juga tengah menatap tajam dirinya.
"Dasar murahan!, lo udah gue ingetin jangan deketin Darel, kemarin ngapain lo boncengan sama Darel!" Hina Aluna. Yap orang yang menggebrak meja itu Aluna, sepertinya iya melihat Daifa kemarin saat di antar pulang oleh Darel.
"Sapa sih lo ngatur-ngatur gue! " Ketus Daifa mendengus kesal.
"Heh! Gue calon pacar Darel! wajar gue labrak pelakor kaya lo!" Seru Aluna semakin marah. membuat orang yang juga tengah makan di kantin menoleh ke arah mereka.
Daifa tidak minat meladeni ocehan sampah Aluna, iya menyibukan dirinya dengan mencroll beranda ponsel nya membuat Aluna naik pitam karena di kacangi.
__ADS_1
"Lo budeg ya!"Seru Aluna.
"Cek, mulut lo bisa di tutup dulu ga sih?! berisik tau!"Jengah Daifa.
" Ini cabe ngapain di sini Fa?"Tanya Liana yang datang membawa nampan pesanan.
Aluna yang di katai cabe tentu saja naik pitam, hingga iya kembali menggebrak meja.
"Bisa ga sih ga usah gebrak-gebrak meja, rusak ntar!" Kesal Daifa yang langsung menatap tajam Aluna membuat gadia itu sedikit ciut.
Karena situasi yang tidak memungkinkan iya melawan Daifa, Aluna memilih pergi setelah memberikan kata ancaman.
"Awas lo Daifa!"
Mendengar ancaman dari Aluna bukan nya takut Daifa malah tersenyum manis.
"Gue tunggu balesan lo" Seru Daifa yang membuat langkah Aluna terhenti sebentar karena syok, lantas iya buru-buru pergi dari kantin dengan otak yang terus menerka-nerka yang Daifa ucapkan.
"Emang dia punya rencana apa?"Tanya Liana menatap Daifa penasaran.
"Rahasia"Bisik Daifa yang di tatap malas Liana.
Tampa memeperdulikan Daifa yang tengah menatap nya jahil, Liana segera menyantap makanan nya. namun tiba-tiba iya di kagetkan dengan tepukan di pundak nya membuat iya tersedak.
"Uhuk uhuk" Cepat-cepat Liana mengambil minuman nya dan menyedot nya hingga tersisa setengah.
"Hah, hah. anj*** banget si lo, kalo gue mati gimana hah!" Sentak Liana menatap marah orang yang mengagetkan nya.
"Ya naskot" Jawab Erlan santai yang di hadiahi delikan Liana.
Orang yang menepuk pundak Liana adalah Erlan, mereka bertiga datang ke kantin untuk sarapan, melihat keberadaan Daifa dan Liana mereka menghampiri kedua nya. namun karena sifat Erlan yang ngeselin hingga dengan santai nya iya menepuk pundak Liana membuat sang mpu tersedak.
"Udah ga usah di perpanjang"Potong Afifa yang ntah kapan sudah ada di kursi yang masih kosong, dan dengan santai nya iya menyeruput minuman Daifa membuat iya mendelik kesal.
"Minuman gue an__"
"Ga boleh ngomong kasar" Tegur Darel segera memotong ucapan Daifa membuat sangat mpu menggerutu kesal.
"Emang lo siapa pake ngatur-ngatur segala?! mulut mulut gue"Ketus Daifa yang tidak di indahkan Darel.
"Sore gue kerumah lo buat ke toko perhiasan"Ucap Darel membuat yang lain menatap nya penasaran.
"Kalian jadian ya?"Tebak Liana menatap kedua nya penuh selidik.
"Ga, kita mau tu__"Ucap Darel yang langsung di bakap Daifa membuat iya terdiam. namun beda hal nya dengan Liana yang semakin penasaran begitupun yang lain.
"Tu apa?"Tanya Liana lagi.
"Bukan apa-apa, si triplek lemes mulut nya, makanya gue bekep"Kilah Daifa menggeleng dengan cengiran nya. masih dengan tangan yang membekap mulut Darel.
"Tunangan kali"Celetuk Alvin membuat Daifa menengang seketika, namun dengan cepat rileks kembali.
"Tunang pala lo, kita berdua masih sekolah ya!" Kesal Daifa cemberut.
"Ya kan bisa tunangan meski masih sekolah. kaya di novel-novel"Jelas Alvin santai.
"Dasar maniak novel" Cibir Daifa yang di acuhkan Alvin.
Setelah itu Darel menyuruh Erlan untuk memesan makanan. tampa membutuhkan waktu lama Erlan sudah kembali dengan nampan pesanan.
__ADS_1
...******...