Always You

Always You
Episode 18


__ADS_3

Singkat cerita, hari ini merupakan hari kelulusan Syahila dan Yasmin. Namun sayang, Yasmin tidak dapat mengikuti hari kelulusannya karena pada hari yang sama Yasmin dan orangtuanya mengantar Jay ke Bandung untuk mengikuti tes kepolisian tahap berikutnya. Sejujurnya, Syahila merasa sedih karena dihari yang istimewanya Yasmin tidak turut hadir padahal mereka akan segera berpisah. Namun, Syahila mencoba mengerti kondisi yang mana sebenarnya Yasmin sendiripun ingin mengikuti hari wisudanya tersebut. Syahila yang memakai gaun berwarna dastypink yang sekumpulan mutiara yang melingkari bagian pergelangan tangannya dipadukan dengan warna kerudung yang serupa tampak anggun dan elegan. Syahila berjalan memasuki gedung dengan mengikuti arah karpet merah yang tergelar sampai ke dalam gedung utama. Syahila kemudian duduk di tempat yang sudah disediakan oleh panitia penyelenggara yang tertulis namanya. Rangkaian acara demi acara Syahila ikuti dengan khidmat, sampailah namanya disebut untuk naik ke panggung untuk menerima tanda kelulusan. Ketika ia hendak menuruni panggung, Syahila hatinya sempat digelayuti rasa takut jatuh dari panggung karena gaunnya yang lumayan sampai menutupi kakinya. Namun, Syahila meyakinkan hatinya dan mulai turun secara perlahan, sampai pada akhirnya ia berhasil. Lalu ia bersalaman dengan para ustadzahnya.


“Ya Allah Sya, selamat yaa. Kamu telah berjuang selama 6 tahun ini, ummi bangga sama kamu Sya. Tetap semangat yaa, kejar cita – citamu. Jangan pernah ragu ataupun malu, kamu bisa lebih berprestasi daripada disini.” Ucap Ustadzahnya sambil bercucuran air mata. mengingat Syahila yang memang berbeda dari yang lainnya.

__ADS_1


Walaupun ia memiliki keterbatasan fisik yang mana banyak orang yang meragukan Syahila akan dapat bertahan di pesantren, ternyata sekarang ia resmi menjadi alumnus salah satu pesantren yang ada di kota tersebut. Ustadzahnya  memeluk Syahila sangat erat seakan ia tidak ingin melepaskannya, walaupun Syahila sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Namun apa daya, akhirnya air matanya turun juga. Ia meminta maaf pada seluruh ustadzahnya jika selama ia disini selalu menyusahkan dan membuat kenakalan – kenakalan kecil. Setelah itu barulah ia menikmati kelulusan bersama teman – teman seperjuangannya.


Seusai acara, Syahila langsung pulang ke rumah dijemput oleh sang ibunda. Ia tersenyum puas dan bersyukur karena telah menyelesaikan pendidikannya selama 6 tahun di pesantren. Ia pun mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian masuk ke perguruan tinggi. Setelah melakukan sholat istikharah setiap malam, Syahila akhirnya memantapkan hatinya untuk mengikuti ujian masuk di sebuah universitas pesantren yang ada di Indonesia. Alasan Syahila ingin masuk kesana adalah untuk belajar filsafat disana karena Syahila berpandangan bahwa jika dirinya masih dalam lingkungan pesantren, sudah pasti aqidahnya akan terus terjaga karena memang di pesantren itu sangat di jaga segala aspeknya. Mulai dari rohani sudah pasti, olah pikir, akhlaq dan lainnya. Selain itu juga, Syahila memang masih belum puas dengan ilmu agama yang telah di dapatkannya di pesantren. Masih banyak pertanyaan – pertanyaan yang belum terjawabkan. Maka dari itu, Syahila memilih untuk mengambil program studi filsafat untuk menjawab setiap pertanyaan yang belum terjawab.

__ADS_1


Untuk masuk ke universitas pesantren tersebut, Syahila harus melakukan ujian tulis dan ujian lisan. Dimana dalam ujian lisan anak akan dites mengaji serta sholat, dalam ujian lisan juga Syahila dites kemampuan bahasa arab dan bahasa inggrisnya. Karena memang disana bahasa resminya adalah bahasa arab dan bahasa inggris. Saat ujian lisan, ada kejadian lucu yang Syahila alami. Saat namanya dipanggil, Syahila gugup bukan main saat memasuki ruangan tes lisan. Di dalam sana, telah duduk dengan tegapnya menunggu calon mahasiswi berikutnya. Tiba – tiba saja Syahila merinding disebabkan aura ketegasan dan wibawa yang terpancar dari wajah beliau. Ustadz tersebut mengajukan beberapa pertanyaan kepada Syahila yang langsung dijawab olehnya tanpa kesulitan. Sampai pada akhirnya, Syahila diminta untuk mempraktekan sholat maghrib.


“Sholat maghrib kok sunnata?” Tanya Ustadz tersebut. Syahila langsung menyadari kesalahannya.

__ADS_1


“Afwan ustadz, ana gugup jadi kurang konsentrasi.” Ucap Syahila, iapun langsung mengulanginya sampai selesai. Setelah selesai ujian lisan, Syahila keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk. Ia tertunduk bukan berarti ia tidak percaya diri akan akhirnya, namun ia sangat malu karena kejadian tadi.


“Aduhh..... tadi malu banget tadi, aku gugup banget sihh tadi. Semoga itu tidak mempengaruhi nilai aku.” Batin Syahila

__ADS_1


__ADS_2