Always You

Always You
Episode 6


__ADS_3

“Semakin banyak cobaan menerpa,ingatlah! Kasih sayang Allah lebih banyak kepada kita, para hamba-Nya.”


Hari itu Syahila dan ibunya pulang dengan wajah yang terlihat bahagia, dirumahnya ayah Syahila telah menanti akan surat kelulusan Syahila. Syahila melihat ayahnya sedang memberi makan burung peliharaannya, setelah


sang ayah menyadari bahwa istri dan anaknya sudah kembali. Beliau langsung menanyakan hasil dari belajar Syahila kurang lebih satu setengah tahun di sekolah tempat Syahila belajar kini. Bu Nur menyerahkan surat kelulusan Syahila yang masih disegel itu kepada suaminya. Sang ayah langsung membuka dan membaca


surat itu lalu ia menggaruk – garuk pelipisnya yang tidak gatal. Sesekali ayahnya juga melihat ke arah Syahila.


“Wah, Sya, kalau melihat nilaimu seperti ini kamu lulus banget masuk SMP 1 Cirebon.” Ucap ayahnya.


“Kan Sya sudah bilang ayah, Sya bisa masuk kesana. Ayahnya saja yang tidak mempercayai Sya.” Ucap Syahila pada ayahnya.


“Tapi tidak apa – apa, kamu masuk pesantren saja. Biar belajar agamanya lebih daripada di sekolah umum.” Kata Sang ayah. Syahila menundukan kepalanya, tatapan matanya meredup memancarkan kekecewaan, dan itu


tertangkap oleh pandangan ayahnya.


“Tapi Sya mau masuk ke SMP 1 Cirebon ayah.” Ucap Syahila lirih.


Ayahnya yang melihat putri sulungnya sedih itu merasa tidak tega, ayahnya berencana untuk memasukan Syahila ke SMP yang selama ini diinginkannya itu. Karena Syahila sudah membuktikan bahwa dirinya dapat mencapai nilai rata – rata untuk masuk ke sekolah impiannya, bahkan lebih. Namun ayahnya berfikir akan biaya yang telah dikeluarkannya untuk mengurus daftar ulang yang memang tak sedikit ke pesantren tempat Syahila mendaftar, belum lagi barang – barang yang memang wajib dibawa ke pesantren. Bukan maksud ayahnya hitung – hitungan, namun ayahnya juga memikirkan bagaimana dengan kedua adiknya Syahila yang juga membutuhkan biaya sekolah. Karena Syahila terlahir dari keluarga yang sederhana, sehingga harus menggunakan uang dengan sangat


bijak agar dapat mencukupi semua kebutuhan. Ayahnya Syahila hanyalah seorang karyawan swasta sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga, sehingga penghasilan keluarga kecil mereka hanyalah dari ayahnya. Saat Bu Nur mengetahui niat suaminya itu, Bu Nur langsung menasehati Syahila agar masuk ke pesantren saja. Karena agar Syahila mendapatkan ajaran agama yang lebih daripada orangtuanya, selain itu untuk mengurangi pengeluaran keluarga mereka karena sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mendaftarkan Syahila ke


pesantren. Ingin rasanya Syahila menolak akan hal itu, tapi Syahila mengingat bagaimana perjuangan ayahnya yang kerja siang dan malam berusaha untuk menghidupi keluarganya. Maka Syahilapun mencoba menerima dengan lapang dada, karena hal ini merupakan dampak ulahnya sendiri yang meminta orang tuanya untuk


mendaftarkan dirinya ke pesantren.


“Ini namanya senjata makan tuan.” Rutuknya dalam hati.


Niat Syahila meminta orang tuanya untuk mendaftarkannya ke pesantren adalah hanya untuk membuat ayahnya agar mengizinkan dirinya untuk memasuki sekolah impiannya. Saat mengikuti tespun, ia sangat yakin bahwa


dirinya tidak akan di terima di pesantren tersebut. Tapi nyatanya, sekarang dirinya akan benar – benar masuk pesantren. Ia sekarang baru membayangkan bagaimana nanti saat dirinya telah di pesantren, akankah ia bisa menjalani kehidupan yang super padat di pesantren? Dengan kondisi tangan kanannya yang tidak berfingsi, sedangkan di pesantren itu semuanya dilakukan sendiri? Akankah ia bisa melewati itu semua? Syahila mulai meragukan dirinya sendiri saat sebentar lagi ia berangkat ke pesantren untuk menuntut ilmu. Untuk menenangkan


pikirannya, saat waktu dzuhur tiba Syahila langsung mengambil air wudhu dan menunaikan sholat dzuhur. Setelah itu ia menyalakan televisi untuk menonton acara laptop si unyil. Diwaktu yang sama adik laki – lakinya meminta izin


kepada ibunya untuk main.


“Mah, aa mau main yaa.” Ucap Fahmi kepada ibunya dari luar.


“Jangan a, panas. Nanti sore saja.” Jawab ibunya dari dalam rumah.


“Sebentar saja ya mah, nanti aa langsung pulang lagi kok.” Bujuk Fahmi kepada ibunya. Syahila melihat ibunya jalan keluar rumah untuk menghampiri adiknya.

__ADS_1


“Terserah kamu sajalah a, gak usah pulang saja sekalian.” Kata Bu Nur, yang sudah mulai kesal karena anaknya tidak dapat dinasehati.


Fahmipun mengeluarkan sepedanya keluar pagar, dan ia langsung melesat entah kemana. Ayahnya Syahila sedang tidur karena beliau sudah kerja lembur semalaman, sedangkan Bu Nur sedang berada di dapur memasak untuk makan siang. Sementara Syahila masih setia di depan televisi sambil menunggui adek bungsunya yang sedang tidur. Syahila dan Fahmi memang mempunyai sifat yang sedikit berbeda, mungkin karena gender mereka juga berbeda. Fahmi yang lebih suka main bersama teman – temannya diluar, sedangkan Syahila lebih memilih


untuk diam di rumah melakukan hal ia sukai. Saat berada dirumah, terkadang Syahila menulis kegiatan yang telah dilakukannya pada hari itu. Atau tidur siang sampai waktu ashar, kebetulan Syahila beberapa bulan ini kurang istirahat karena mengikuti berbagai bimbel persiapan ujian nasional. Semenjak ujian nasional selesai, seakan Syahila ingin mengistirahatkan otaknya sejenak dan mempersiapkannya untuk ke jenjang yang lebih tinggi. Tak lama setelah adiknya pergi bermain, tiba – tiba beberapa teman Fahmi datang ke rumah memanggil ibunya. Bu Nur yang sedang berada di dapur langsung menemui teman – teman Fahmi.


“Ada apa? loh, Fahminya mana?” Tanya Bu Nur kepada teman – temannya Fahmi.


“Itu mah Fahmi, Fahminya jatuh dari sepeda. Fahminya masih ada di deket jembatan.” Jawab salah satu temannya memberitahu.


“Fahminya disana sama siapa?” tanya Bu Nur lagi dengan nada panik.


“Sendiri. Kita kesini disuruh Fahmi bilang ke mamahnya.” Jawab teman Fahmi lagi.


“Owh ya sudah makasih.” Ucap Bu Nur. Setelah itu teman – teman Fahmi pergi.


Bu Nur tidak langsung menghampiri Fahmi ke tempat dimana anak keduanya jatuh, beliau berfikir Fahmi adalah anak laki – laki yang kuat, sehingga jika jatuh dari sepeda ia akan mampu pulang sendiri ke rumah. Namun saat ditunggu – tunggu Fahmi belum datang juga.  Maka selesai memasak Bu Nur berencana untuk menyusul fahmi, tapi saat beliau baru berada di depan pagar Fahmi sudah terlihat dari kejauhan menangis sambil memegang lengan kirinya. Bu Nur sudah siap memarahi Fahmi karena tidak mendengarkan perkataan orang tua.


“Tadikan mamah sudah bilang mainnya nanti sore saja, aa gak nurut sih, jadi jatuhkan?’ Bu Nur memarahi Fahmi dari jauh, sedangkan Fahmi terus menangis sambil memanggil ibunya. Tiba – tiba Bu Nur pingsan tepat dihadapan Fahmi, yang nangisnya makin keras. Hal itu mengundang perhatian tetangga sekitar, Syahila yang sedang menonton televisi keluar karena mendengar keributan untuk melihat keadaan sekitar. Saat Syahila sedang mencari tahu penyebab keributan tersebut, para tetangga masuk ke dalam rumahnya dengan membopong ibunya yang pingsan.


“Awas, hati – hati.” Kata beberapa orang yang membopong Bu Nur.


“Pelan – pelan.” Kata mereka lagi.


“Ayah, ayah.... bangun ayah. Mamah pingsan.” Kata Syahila membangunkan ayahnya, ia sudah mulai mau menangis, tapi ia tahan. Ayahnya sudah bangun, namun kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya.


“Ayah mamah pingsan, Fahmi jatuh, tetangga pada ribut diluar ayah...” Setelah ayahnya sadar dengan sepenuhnya, ayahnya langsung keluar dan mencari istrinya yang pingsan.


“Pak Agus, itu bawa Fahmi ke rumah sakit saja, biar Bu Nur saya yang nunggu sama Syahila.” Ucap Bu Riris sambil menggendong Putri, adik bungsu Syahila yang terbangun karena mendengar keributan di luar. Pak Agus


langsung berlari keluar dan menghampiri anak keduanya yang sedang di temani oleh bapak – bapak yang sedang memeriksa tangannya.


“Owh, ini Pak Agusnya sudah datang, Pak sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit pak. itu tulang lengannya patah.” Kata salah satu tetangga yang telah memeriksa keadaan Fahmi. Pak Agus langsung menggendong


Fahmi yang masih menangis karena kesakitan.


Sementara itu Syahila bersama Bu Riris tetangga terdekatnya menunggu Bu Nur sadar dari pingsan. Syahila diminta oleh ibu Riris untuk membuatkan teh hangat untuk ibunya, maka Syahila langsung pergi ke dapur dan membuat teh hangat. Saat Syahila selesai membuat teh hangat untuk ibunya, Putri, adik bungsu Syahila yang masih berumur 8 itu menangis sehingga Bu Riris membawanya keluar untuk menenangkannya. Syahila hanya berdua dengan ibunya yang pingsan, ia mendekatkan minyak angin ke arah hidung ibunya dengan harapan


ibunya cepat sadar dari pingsan. Tak lama kemudian, ibunya mulai sadar. Namun ibunya langsung menangis, Syahila melihat air mata ibunya mengalir deras jatuh kepipinya. Syahila melihat raut keputus asaan dari mata sang ibunda, Bu Nur yang saat itu merasa bahwa beliau sudah tidak kuat lagi untuk menghadapi cobaan yang terus menerpa.


“Ya Allah Sya, mamah tuh dosa apa? dosa besar apa yang pernah mamah lakukan? Allah terus memberi cobaan tanpa henti. Dulu kamu ketiban kelapa, hampir di suntik mati, mau dibawa dokter ke amerika, terapi, tapi sampai sekarang tangan kanan kamu masih lumpuh dan berjalan juga masih sedikit pincang. Padahal kamu terlahir normal, masa sekarang adek kamu tulang tangan kirinya juga patah? Mamah salah apa Sya? Mamah sudah tidak kuat lagi.” Bu Nur meluapkan semua hal yang selama ini mengganjal dihatinya kepada Syahila.

__ADS_1


Tiba – tiba kenangan buruk masa lalu terlintas dalam pikiran Bu Nur, kenangan tentang Syahila kepalanya tertimpa kelapa, Syahila  koma begitu lama dan hampir di suntik mati, Syahila yang akan di bawa oleh dokter spesialisnya ke Amerika untuk melakukan pengobatan sampai kembali normal dan tidak akan lagi pulang ke Indonesia. Syahila yang terus terusan mengonsumsi obat – obatan dan menjalankan segala macam terapi. Syahila yang diajari kembali bagaimana caranya berbicara dan berjalan. Kemungkinan saat Syahila dioperasi akan menjadi anak yang memiliki gangguan mental. Bayangan itu semua hadir kembali di pikirannya Bu Nur membuat air matanya turun semakin deras membasahi pipi. Mendengar semua keluhan ibunya Syahila hanya bisa menangis, ia juga


merasa sangat bersalah kepada ayah dan ibunya. Karenanya, hidup kedua orangtuanya menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Disaat seperti ini Syahila teringat bahwa orang tuanya pernah bercerita mengenai dirinya akan di bawa oleh ke dokter Andre ke Amerika untuk menjalani pengobatan. Dalam pikirannya, jika memang saat itu orang tuanya menyetujui dokter Andre membawanya ke Amerika beban orang tuanya akan menjadi ringan.


Ketika waktu ashar telah tiba Syahila segera mengambil air wudhu dan menunaikan sholat ashar, di tengah hati yang sedang gundah gulana ia berdoa kepada Allah SWT untuk kesembuhan Fahmi, adiknya. Saat melihat ibunya


menangis, ia merasa hatinya tersayat – sayat. Rasa bersalah menggelayuti hatinya, ia merasa bahwa dirinya hanya menjadi untuk keluarganya saja, karena tidak bisa melakukan apa – apa. bahkan menjaga adiknya sendiripun tidak bisa. Dan di waktu yang sama, ia mendapat kabar dari ayahnya yang berada di rumah sakit tempat Syahila dirawat dahulu, bahwa tangan adiknya harus menjalani operasi karena tulang tangan kirinya patah dan kondisinya lumayan parah.


“Ya Allah, aku tahu Engkau Maha Mendengar, aku tahu Engkau Maha Mengetahui, aku tahu Engkau Maha Melihat, aku tahu Engkau Maha Besar, aku tahu Engkau Maha Segala – galanya. Maka, dengarkanlah doaku, lihatlah


kesungguhan hatiku, aku memohon Kepada-Mu untuk mengabulkan doaku. Sembuhkanlah adikku, demi ibuku yang hampir putus asa itu. Aku tak kuasa melihat air mata berharganya yang terbuang sia – sia itu. Aku tak dapat membayangkan jika nasib adikku sama sepertiku, aku tak menginginkan hal itu. Maka aku memohon kepada-Mu untuk menyembuhkan adikku, aku ikhlas jika aku harus cacat seumur hidupku, yang terpenting adikku dapat hidup normal kembali. Biarlah aku yang menanggung semua rasa malu akan kekuranganku, biarlah aku yang merasakan pahitnya dipandang sebelah mata dan dihina. Biarlah aku saja yang merasakan kesulitan akan melakukan sesuatu karena kelumpuhan tangan kananku. Aku ikhlas merasakan semua ujian-Mu, namun jangan biarkan adikku merasakan itu. Aku tak kuasa jika harus melihat adiku kesulitan dalam menjalani kehidupan yang semakin keras dengan satu tangan. Aku tak ingin melihat mimpi adikku terhambat karena keterbatasan fisiknya sama sepertiku. Aku tak ingin melihat adiku dipandang sebelah mata dan dihina oleh banyak orang. Biarlah aku saja yang merasakan semua itu. Tunjukanlah kepadaku setitik kekuasaan-Mu untuk kesembuhan adikku. Walau aku tahu, Engkau telah memberikan Segala Kekuasaan dan Kebesaran-Mu kepadaku sehingga aku masih bisa bernafas sampai hari ini. Namun, jika aku tak memohon kepada-Mu, kepada siapa lagi aku mengadu? kepada siapa lagi aku dapat memohon pertolongan jika bukan kepada Engkau Wahai Tuhanku Dzat yang Maha Esa. Karena aku tahu hanya Engkau-lah tempat bergantung, hanya kepada Engkau-lah aku dapatmemohon pertolongan, karena  aku tahu Engkau akan mengabulkan doaku. Maha Suci Engkau Ya Allah, Tuhan Semesta Alam. Kabulkanlah doaku, demi ibuku dan adiku.”Syahila berdoa sambil terisak memohon kepada Tuhan yang Maha Segala – galanya.


Kesedihan keluarganya pun berlanjut saat Fahmi, adik Syahila hendak memasuki ruang operasi. Namun ia histeris karena kesakitan dan seakan tidak dapat menerima keadaan bahwa tangan kirinya tidak dapat ia gerakan. Hal itu membuat seluruh anggota keluarga yang hadir menatapnya miris.Terlebih lagi Bu Nur yang merasa khawatir dan panik akan anak lelaki satu –satunya itu. Karena masih saja menangis saat akan memasuki ruang operasi, dokter dan para perawatnyapun sampai kewalahan. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena dokter segera menyuntikan obat bius agar Fahmi segera tidur.


“Ya Allah yah, Fahmi gimana ya. Mamah takut yah, Fahmi bukan Sya. Saat Sya memasuki ruang operasi Sya tersenyum menenangkan hati kita semua yah, karena ia tidak akibat apa yang akan terjadi setelah operasi.  NamunSya optimis ia akan sembuh yah, karena ia kecelakaan waktu ia masih sangat kecil yah. Tapi Fahmi? Dia sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan kedua tangannya, bagaimana jika kemungkinan terburuk terjadi? Kasihan Fahmi yah, ayah lihat sendirikan reaksi Fahmi histeris saat masuk ruang operasi?” Bu Nurmengeluarkan  semua rasa kekhawatirannya kepada suaminya.


“Makanya mamah doa saja minta yang terbaik untuk Fahmi, Sya saja bisa bangun dari komanya setelah koma 2 bulan lamanya, operasinyaberhasil dan alhamdulillah Sya tidak idiot seperti yang diprediksikan oleh dokter. Sebaliknya, Sya tumbuh menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya,karena prestasinya itu juga ia mendapat  uang beasiswa berturut – turut dari tempat kerja ayah mah. Fahmi juga akan kuat dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, karena Fahmi adalah anak kita, karena Fahmi adalah adiknya Sya. Syahila kakaknya kuat, adiknya akan lebih kuat. Kita harus selalu ingat bahwa Allah selalu memberi cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Pasrahkan saja semuanya kepada Allah SWT, karena setiap kejadian pasti ada hikmahnya, jangan


pernah bosan untuk bersabar.” Kata Pak Agus  berusaha menenangkan hati istrinya.


Keadaan Fahmi sudah membaik, Fahmi sudah diperbolehkan pulang dari 2 minggu yang lalu. Fahmi pun sudah bisa menggerakan tangan kirinya perlahan yang masih dibalut perban. Saat Fahmi sedang fokus dengan kesembuhan tangan kirinya, Syahila disibukan dengan persiapannya ke pondok pesantren yang akan menjadi rumah kedua baginya. Ia sedang mengecek satu persatu barangnya yang akan dibawa ke pesantren , tentunya dengan bantuan sang ibunda. Aku melihat ibunya itu bagai tangan kananya sendiri, maksud tangan kanan disini


bukanlah arti sebagaimana kebanyakan orang pahami. Namun, tangan kanan disini adalah arti tangan kanan yang sebenarnya. Karena sampai saat ini, tangan kanan Syahila mengalami kelumpuhan, sehingga semua aktifitas kehidupan dilakukannya hanya dengan tangan kirinya. Sulit memang, maka dari itu ibunya selalu ada untuk membantunya. Tangan ibunya bagai tangan kanan baginya. Tapi terkadang ada dimana saat ibunya tidak selalu bersamanya, seperti di sekolah atau saat Syahila main di rumah temannya. Syahila yang memang menulis dengan tangan kiri menjadi pusat perhatian saat ia pertama kali masuk sekolah. Syahila yang tidak bisa mengikuti beberapa pelajaran olahraga karena kondisi tangan dan kaki kanannya yang mengalami gangguan syaraf, bahkan sebenarnya Syahila itu tidak bisa mengenakan sandal jepit yang biasa orang gunakan. Maka dari itu orang tuanya selalu membelikannya sandal yang ada tali dibelakangnya. Agar sandal yang ia pakai tidak mudah terlepas. Setelah mengecek berulang kali barangnya, Syahila berangkat ke pesantren diantar oleh kedua orangtuanya.


Hari – hari pertama Syahila di pesantren pastilah mengalami kesulitan karena belum terbiasa. Terlebih lagi, karena keterbatasan fisik Syahila sehingga ia harus memutar otak untuk melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan dua tangan menjadi dapat dilakukan dengan satu tangan. Seperti sekarang, ia sedang berusaha memakai jilbab peniti yang mana itu adalah jilbab wajib untuk pergi ke sekolah. Ini adalah kali pertama ia memakai jilbab berpeniti, biasanya ia langsung menggunakan jilbab langsungan agar lebih mudah. Namun karena aturan pondok mengharuskannya maka mau tidak mau Syahila harus memakainya. Hal itu membuat perhatian orang – orang yang berada di sekitarnya, antara ingin membantu serta penasaran apakah Syahila dapat melakukannya dengan satu tangan atau tidak. Teman sekamarnya ada yang menawarkannya bantuan, tapi di tolak oleh Syahila.


“Jika aku terus menerima bantuan dari orang lain kapan aku bisa mandiri? Semangat Sya, kamu pasti bisa!”Kata Syahila dalam hatinya.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya jilbab putih itu sukses menutupi rambut Syahila dengan sempurna. Ia nampak anggun dan terlihat lebih rapi dari sebelumnya, Syahila menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia berhasil memakai jilbab itu dengan benar, ia bersyukur kepada Allah SWT yang selalu membantunya saat ia mengalami kesulitan. Setelah memastikan bahwa jilbabnya sudah terpasang rapi menutupi seluruh rambut dan dadanya, ia menoleh ke belakang dan terkejut apa yang dilihatya. Karena banyak orang di kamar maupun depan pintu kamarnya hanya untuk melihat Syahila memakai jilbab.


“Astagfirullah, rame banget  yaa.” Kata Syahila. Teman – temannya malah bertepuk tangan, melihat itu Syahila semakin bingung.


“Kita penasaran bagaimana kamu memakai jilbab dengan tangan satu, ternyata kamu bisa yaa.” Ucap Nisa.


“Hebat ya, kita aja yang pake tangan dua kadang masih kesusahan. Kamu kayanya mudah banget yaa pakenya walau tangan satu.” Kata Lia teman satu kamar Syahila.


“Kalian ini ada – ada saja, orang pake jilbab kok jadi tontonan?” Tanya Syahila kepada semua temannya.


“Karena disini gak ada tv sihh.” Jawab Lia cepat, sontak hal itu membuat semua orang tertawa. Setelah itu Syahila dan teman – temannya pergi ke sekolah bersama.


Karena ini kali pertama Syahila duduk di bangku sekolah menengah pertama, para ustadz dan ustadzah yang mengajar sempat terkejut akan keterbatasan fisik Syahila. Mereka tak menyangka dengan semangat belajar

__ADS_1


Syahila yang tinggi, ia bahkan memutuskan untuk belajar di pesantren yang jauh dari orang tua dan untuk orang seperti Syahila mungkin akan banyak menemukan berbagai kesulitan. Namun, segala kekhawatiran itu telah Syahila lenyapnya dengan lulusnya Syahila dari pondok pesantren itu. Bahkan Syahila memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah atasnya di pesantren yang sama.


__ADS_2