Always You

Always You
Episode 39


__ADS_3

Setelah terdiam lama, Daifa mulai membuka suara.


"Tapi gue bakal bikin kesepakatan, gimana?" Ucap Daifa menatap langsung netra Darel yang selalu dingin.


"Tida masalah" Angguk Darel.


"Oke, besok gue bakal bawa surat kesepakatan nya"


Setelah itu, Daifa melangkah pergi dari hadapan Darel, kembali masuk kedalam mobil Afifa yang sudah di isi oleh Liana dan Afifa.


Afifa yang sering menyetir segera melajukan mobil keluar sekolahan.


Sesuai permintaan Daifa, mobil di hentikan di halaman Mall yang sering Daifa kunjungi.


Turun dari dalam mobil, Daifa segera masuk dan mencari apa yang ingin iya beli, kedua sahabat nya iya suruh tunggu di dalam mobil, iya akan membeli keperluan yang iya butuh sendiri.


Setelah dirasa cukup, Daifa segera membawa belanja'an nya ke kasir.


Setelah menaruh semua di atas meja kasir untuk di hitung, Daifa segera mengeluarkan kartu kredit nya.


"Totalnya 330,000 mbak" Ucap kasir memberitahu Daifa.


Menyodorkan kartu nya, setelah di bayar, iya segera keluar dengan kantong plastik di tangan nya, meski susah iya akhirnya sampai di bagrasi mobil, memasukan belanjaan nya, iya segera menutup kembali dan masuk kedalam mobil.


"Ayo lanjut" Ucap Daifa yang langsung di turuti oleh Afifa.


Setelah berkendara beberapa jam, mobil yang di tumpangi ketiga nya sampai di hutan yang pernah Daifa singgahi.


"Lo ngapain sih Fa kehutan?, mana serem lagi"Gerutu Liana memeluk dirinya sendiri dengan pandangan ngeri.


" Diem deh lo, bentar lagi keluar juga"sahut Daifa menanggapi Liana.


Setelah beberapa saat terus malaju di jalan hutan, kini mobil berhenti karena jalan yang tidak bisa di lalui kendaraan mobil, dengan terpaksa ketiga nya turun meski perjalanan masih lumayan.


"Yah, harus jalan"Keluh Liana.


" Ngeluh mulu sih lo, jalan bentar apa susah nya coba"Ucap Daifa segera membuka bagrasi mobil nya untuk mengambil barang-barang nya.


Setelah mengeluarkan nya, iya menyuruh Liana dan Afifa membantu membawa nya.


Setelah semua siap, ketiga nya mulai berjalan, melewati jembatan kayu, di depan sudah terlihat perkampungan yang bersih dan asri.


Berjalan menghampiri salah satu bapak-bapak yang sepertinya ingin mengambil rumput, Daifa berhenti untuk bertanya rumah kepala desa.


"Permisi pak" Ucap Daifa menghentikan langkah sang bapak-bapak itu.


"Iya ada apa dek" Tanya bapak itu.


"Rumah kepala desa nya di mana ya?" Tanya Daifa sopan.


"Ohh, lurus aja dek, disitu ada rumah warna biru, nah itu rumah nya" Jelas bapak itu sambil menunjuk kedepan.


Setelah mengucapkan terimakasih, Daifa segera manuju rumah kepala desa, dengan Liana yang terus menggerutu.


Setelah sampai, Daifa segera mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Eh, ada apa ya adek-adek ke rumah saya?" Tanya pak kepala desa setelah memperbolehkan masuk.


"Hehe ini pak, saya mau bagi-bagi buat anak-anak desa, keliatannya di sini kesulitan pendidikan ya?" Ujar Daifa tertawa canggung.


Pak kepala desa mengangguk terharu, kebetulan memang anak-anak di desa nya tidak bersekolah, bahkan kebanyakan buta hurup, karena akses jalan yang tidak memungkinkan, mereka hanya sesekali di ajarkan oleh anak pak kepala desa yang belajar di luar kota. Itu pun jika anak nya mendapat libur panjang.


"Makasih nak mau membantu di desa ini, di desa ini memang tidak ada sekolahan, karena kampung yang terpencil, mereka paling akan menerima pendidikan dari anak saya 1 tahun sekali" Jelas pak kepala desa tidak berdaya.


"Sangat di sayangkan, bagaimana jika kita bertiga membantu di desa ini? apakah di perbolehkan?" Tanya Daifa menawarkan bantuan nya.


"Iya Pak, sangat disayangkan jika generasi muda di desa ini tidak belajar" Sahut Liana yang ikut merasa perihatin.


"Terimakasih, terimakasih" Haru pak kepala desa penuh semangat.


"Boleh kumpulin semua warga pak?" Tanya Daifa yang di angguki pak kepala desa.


"Oh iya, kita belum berkenalan pak, nama bapak siapa?, biar kami lebih sopan" Ucap Daifa menahan kepergian pak kepala desa yang hendak memanggil warga nya.


Seketika pak kepala desa berbalik dengan senyum malu, segera iya memperkenalkan nama nya.


"Nama saya Mulyadi, warga di sini biasanya memanggil saya pak Mul"


"Baik pak Mul, nama saya Daifa" Balas Daifa berjabat ramah.


"Nama saya Liana"

__ADS_1


"Afifa" Sahut Afifa memperkenalkan nama nya meski singkat.


"Baiklah nak Daifa, nak Liana, nak Afifa, mari ikut saya ke lapangan" Ajak Pak Mulyadi yang di angguki ketiga nya.


Setelah berjalan sesaat, sampailah mereka di lapangan yang cukup luas, di sana juga sudah ada warga-warga beserta anaknya.


Kedatangan mereka bertiga ditatap penasaran oleh mereka.


"Selamat sore semua, kalian pasti penasaran dengan ketiga kaka-kaka ini kan?, kenalin, mereka dari kota, mereka bertiga ingin memberikan bantuan pada desa kita, semoga kalian bisa menerima kehadiran mereka dengan baik"Jelas pak Mulyadi selaku kepala desa dengan aura tegas nya.


Seketika semua warga ricuh, beberbisik-bisik.


"Hay adik-adik" Sapa Daifa tersenyum ramah.


"Ayo kesini, kaka punya sesuatu buat kalian, tapi kalian baris yang tertib ya"


Segera anak-anak yang sudah bisa berjalan mendekat, mereka tidak takut atau ragu-ragu.


Melihat mereka menurut, Daifa mengelurakan belanjaan nya dari mall.


Ternyata iya membeli buku-buku pelajaran serta buku tulis, tidak lupa pensil dan pulpen serta perlengkapan lain nya.


Membagikan disetiap antrian, Daifa membagikan masing-masing dua barang, mulai dari buku tulis hingga pensil dan lain nya.


Buku paket belajar nya iya serahkan kepada pak Mulyadi, setelah itu iya membrikan anak-anak makanan ringan.


"Sekarang kalian sudah punya perlengkapan sekolah" Ucap Daifa masih tersenyum lebar.


"Terimakasih kaka-kaka" Seru semua kompak.


Setelah itu mereka kembali keorang tua masing-masing.


"Udah sore banget nih Fa, ayo pulang" Ajak Liana setelan dirasa selesi.


"Bentar, gue mau ngomong dulu sama pak Mul" Sahut Daifa menghampiri pak Mul yang tengah memperhatikan warga nya.


"Permisi pak, bisa kita ngobrol di tempat lain dulu"Kata Daifa setelah tiba di samping pak Mulyadi.


" Silahkan"Angguk pak Mulyadi segera pergi ketepian.


"Ada apa ya?" Tanya pak Mulyadi penasaran.


"Gini pak, anak-anak kan udah saya kasih perlengkapan sekolah, Kira-kira siapa yang bakal menjadi guru mereka?, apa di sini ada yang bisa membantu?" Bingung Daifa.


"Memangnya anak pak Mul di mana?" Tanya Daifa.


"Dia sekolah di kota"


Daifa mengangguk mengerti, namun iya masih sedikit ragu istri pak Mulyadi bisa menangani ini, jadi iya berisiatip untuk datang setiap waktu luang.


Setelah berbincang-bincang, Daifa pamit pulang, sudah pasti iya akan di marahi saat tiba di rumah.


Setelah berpamitan kepada semua nya, Daifa dan kedua sahabat nya segera berjalan menuju mobil yang terparkir di hutan.


Setelah masuk mobil, mereka akhirnya meninggalkan hutan dengan suasana hening.


Setelah di antarkan Afifa hinga sampai di depan gerbang rumah nya, Daifa


Membuka pintu perlahan, iya ingin segera pergi kekamar nya untuk segera mandi, namun keinginan nya harus urung saat netra nya melihat penghuni rumah tengah duduk di kursi menatap nya seolah ingin menelan nya bulat-bulat.


Sudah menebak apa yang salah, Daifa santai saja, iya berjalan kearah Bunda nya yang menatap tajam dirinya.


"Asalamualaikum Bunda" Salam Daifa meraih tangan sangat Bunda.


"Kamu ini Daifa! Bunda ga pernah ngajarin kamu jadi perempuan kasar ya! Kamu juga sering bohongin Bunda! Bunda ga nyangka kelakuan kamu seperti ini selama ini!" Marah Bunda Lidia hingga berdiri dari duduk nya.


"Udah Bun jangan emosi" Sahut Helmi mengusap bahu Bunda Lidia agar menenangkan amarah nya.


Sementara Daifa hanya bisa menghela napas pelan, tidak tau harus apa.


Bunda Lidia menarik napas dalam-dalam sebelum menghebuskan nya perlahan.


"Sanah keatas, setelah ayah kamu pulang, kamu turun ke ruang tamu"Suruh Bunda Lidia tegas.


Daifa hanya menurut dan bergegas pergi kekamar nya tampa mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah meletakan tas nya, iya bersiap untuk mandi, namun sebelum sampai di depan pintu kamar mandi, Tiba-tiba Ghost muncul.


"𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘍𝘢? 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘉𝘶𝘯𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘰𝘩? 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩? 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘰𝘯𝘨?" Ucap Ghost penasaran akut.


"Diem lo! nambah pusing aja!" Kesal Daifa segera masuk dan menutup pintu kamar mandi sedikit kencang membuat Ghost kaget.

__ADS_1


"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢" Gerutu Ghost pergi melayang keatas lemari nyaman nya.


Setelah beberapa menit, Daifa keluar dengan ekpresi segar, berjalan menuju lemari, iya mentap kesal Ghost yang masih nangkring di atas.


"Udah gue bilang jangan di atas lemari, bandel, di pohon mangga tetangga sana" Usir Daifa memarahi Ghost yang memelas.


"𝘈𝘺𝘰𝘩 𝘭𝘢𝘩 𝘍𝘢, 𝘥𝘪 𝘱𝘰𝘩𝘰𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘯𝘨𝘦𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘯𝘪 𝘯𝘺𝘢, 𝘪𝘫𝘪𝘯𝘪𝘯 𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪" Mohon Ghost turun dari atas lemari dengan tangan menangkup satu sama lain.


Daifa menghiraukan Ghost dan mulai mengambil pakayan nya, kembali ke kamar mandi.


Setelah semua beres, Daifa bersiap untuk turun dan mendengarkan kemarahan orang tua nya, namun iya menaruh terlebih dahulu ransel yang iya letakan sembarangan, setelah menyimpan nya di atas meja belajar, iya jadi teringat perjanjian yang akan iya tulis jika iya menerima perjodohan dengan Darel.


"Ntar aja lah, gue ga mood" Ujar Daifa segera pergi.


Sampai di ruang tamu, benar saja sang Ayah sudah duduk di sopa dengan koran di tangan nya.


"Good night Ayah" Sapa Daifa segera duduk di sebelah sang Ayah.


Menutup koran nya, Ayah Dika menatap Daifa dengan ekpresi lelah.


"Buat masalah lagi?" Tanya Ayah Dika menatap putri satu-satunya. Sementara Daifa hanya diam, bingung harus jawab apa, iya paling takut jika berhadapan dengan Ayah nya.


"Huff, jangan pikir Ayah ga tau apa aja kasus kamu di sekolah, membuat guru marah, masuk ruang BK langganan, bolos, sekarang kamu nampar orang?, kamu itu disekolahin buat belajar tatakrama, tapi kamu malah bikin onar" Ucap Ayah Dika membuat Daifa semakin terdiam.


"Ayah ngga terlalu marah sama kamu, tapi ngga tau gimana sama Eoma mu" Ucap Ayah Dika meletakan koran nya di atas meja, setelah itu iya mengangkat cangkir kopi yang tinggal setengah.


"Yah, Fafa bakal nurutin apa pun permintaan Bunda" Pasrah Daifa.


"Huh! benerakah?"Sahut Bunda Lidia tidak percaya.


Segera Daifa menoleh kearah sang Bunda yang masih menatap nya tajam, iya hanya bisa mengangguk pelan.


" Apapun?"Tanya Bunda Lidia meyakinkan.


"Yah, apapun" Angguk Daifa yakin.


"Jangan nolak besok keluarga Darel datang melamar"Pungkas Bunda Lidia membuat Daifa membulatkan mata nya.


" Lamaran?!? Kenapa ngga tunangan aja Bunda?"Syok Daifa menggeleng tidak percaya.


"Kenapa? bukan nya bakal nurutin kemauan Bunda? Bunda pengen kamu cepet nikah sama Darel, ga ada tunangan-tunangan dulu"Tukas Bunda Lidia ngotot.


" Huff.. terserah, Fafa mau istirahat, cape"Ujar Daifa beranjak pergi meninggalkan kedua orang tua nya.


Sepeninggalan Daifa, kedua suami istri itu saling pandang sejenak, sebelum terbit senyum di bibir sang istri.


"Yess, berhasil! ga sia-sia Bunda marh-maran ga jelas" Girang Bunda Lidia bertepuk tangan pelan.


Sedangkan Ayah Dika, iya hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah istri nya.


"Terserah kamu aja deh Bun, entar kalo Fafa marah tanggung sendiri"


"Iss ko kamu gitu?! Ga mungkin Fafa marah, Darel pasti bakal bikin Fafa ga mau pisah"Gerutu Bunda Lidia beranjak pergi meninggalkan Ayah Dika sendirian.


Ayah Dika hanya bisa tersenyum tak berdaya sebelum ikut beranjak menyusul sang istri.


****


Di kamar Daifa, sang pemilik kamar tengah sibuk berpikir kerasa apa yang akan iya jadikan kesepakatan.


Selain jangan melakukan hal-hal yang di lakukan pasangan sah, iya tengah berpikir jangan berdekatan dengan lawan jenis? atau di perbolehkan? iya pusing sendiri memikirkan kontrak apa yang akan iya buat.


"Jika semisal jangan mencampuri urusan peribadi, tapi dalam novel-novel yang sering gue baca, pelakor suka ada di setiap hubungan, jadi harus membuat benteng terlebih dahulu agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan, tapi berdampak juga sama gue dong? masa iya ada oppa cogan deketin, gue minggat?! No No No, tidak bisa, haiss apa yang harus gue lakuin"Keluh Daifa meremas rambut nya hingga berantakan.


"𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘈𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩? " Tanya Ghost yang muncul di samping nya hingga Daifa refleks melempar pulpen nya kesamping.


"Setan sialan! Untung ga gue bunuh lagi lo! " Kesal Daifa memelototi Ghost.


"𝘈𝘬𝘩𝘩, 𝘮𝘢𝘢𝘧, 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘶𝘱𝘢"Ucap Ghost dengan ekspresi tertekan. Ghost lupa jika Daifa pernah memarahi nya karena iya datang mengangetkan nya.


" Huhh"Daifa mendengus kesal, iya pokus kembali kearah kertas yang iya coret-coret.


Melihat Daifa mengabaikan nya, Ghost penasaran dengan apa yang Daifa lakukan, sekilas iya mengintip kertas di depan Daifa sebelum menganguk-anggukan kepala nya seolah paham.


"𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘸𝘦 𝘤𝘦𝘯𝘵𝘪𝘭, 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘱𝘰𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢" Ghost memberikan pendapat nya dengan tenang membuat Daifa menoleh ke arah nya.


"Bagus juga ide lo, baik lah gue coba" Setuju Daifa mulai menuangkan ide yang tersangkut di otak nya.


Beberapa saat, Daifa tersenyum puas setelah menyelesaikan kalimat nya.


"Akhirnya selesai"Gumam Daifa menghembuskan nafas lega.

__ADS_1


Segera iya membereskan barang yang iya pakai tadi, setelah selesai iya segera menaiki kasur empuk nya dan segera menutup mata nya bersiap menuju alam mimpi.


****


__ADS_2