
"Lo tadi kemana aja Fa? " Tanya Liana memecah ke heningan.
Daifa mengalihkan pandangan nya dari gaway yang iya pegang. Iya menatap Liana dengan alis terangkat sebelah, sebelum kemudian iya menjawab.
"Nih ngambil nih buah" Tunjuk Daifa pada buah mangga yang iya keluarkan.
Liana menatap mangga tersebut penun minat. Sebelum menggerutu.
"Lo ga ngajak-ngajak!, nana kan mau juga! " Kesal Liana dengan gaya alay nya.
"Iss alay tau ga! " Gidig Daifa mengalihkan pandangan nya dari Liana yang tengah mencabikan bibir nya.
"Yaudah mau"Pinta Liana memaksa Daifa.
Daifa menatap Liana datar, iya sudah menduga jika iya menunjukan buah tersebut pasti akan kena tekor Liana.
iya jadi sedikit menyesal.
" Iya deh iya. Ntar Fafa bagi"Ujar Daifa dengan ogah-ogahan. Iya mengalihkan pandangan nya ke Afifa yang pokus menyetir.
"Fifi, kita ke Alfa_tihah dulu ya" Pintar Daifa memutuskan untuk membeli cemilan terlebih dahulu sebelum menuju rumah Afifa.
Afifa meng'iya kan saja, dan memelankan laju mobil nya karena sebentar lagi sampai di depan Alfamart. Iya sudah tahu jika sebutan' Alfa_tihah adalah nama lain Alfamart.
"Alfa_tihah apa an? " Tanya Liana yang penasaran dengan kata-kata aneh yang di ucap kan Daifa.
"Alfamart Na, Alfamart" Jelas Daifa.
"Oh" Angguk Liana mengerti.
Iya tida heran dengan ucapan-ucapan Daifa yang kadang nyimpang dari asli nya.
Kini mobil itu berhenti di parkiran Alfamart. Daifa turun lebih dulu, lalu masuk kedalam untuk memilih cemilan yang iya suka. Liana dan Afifa iya suruh menunggu saja di dalam mobil.
Tengah asik memilih-milih cemilan, iya tida sengaja tertabrak seseorang yang menyebabkan cemilan nya berserakan.
Iya menatap cemilan nya dengan sedih sebelum menatap tajam orang yang menabrak nya.
"Eh jalan tuh pake mata! Liat nya pake kaki! " Ngegas Daifa, tampa mengoreksi ucapan nya. Yang malah kebalik.
"Bukan nya kebali ya ka? " Tanya gadis tersebut heran.
Daifa hanya menatap datar, gadis yang berdiri tampa rasa bersalah sedikit pun pada nya, apa lagi dengan tampang polos yang minta di templeng, padahal jelas-jelas dia yang salah. Ohh, iya harus sabar. kasian jika di bikin nangis. Masih bocah SMP lagi.
"Terserah!. Lo harus ganti rugi!" Jawab Daifa tidak mau berdebat.
Gadis itu mengerjap polos, seperti nya iya masih bingung harus melakukan apa?.
"Emm aku meski ganti rugi apa ya kak?, soal nya aku cuman ada uang segini"Bingung gadis itu, tida lupa juga iya menunjukkan uang yang iya keluarkan dari tas gendong kecil nya.
Daifa menatap horor uang yang ada di genggaman anak tersebut. Uang itu hanya senilai 15 Ribu, ohh, mungkin itu hanya cukup membeli tisu saja, jika di belikan di Alfa_tihah. Iya tida bermaksud untuk sombong, cuman iya heran saja, uang jajan satu hari nya saja 200 Ribu. Itu pun uang yang termasuk hemat, meski iya orang kaya, namun orang tua nya mengajarkan untuk hidup hemat, karena tida tau kapan musibah menimpa.
Iya langsung merubah raut wajah nya menjadi senyum canggung. tida lupa juga iya menolak uang tersebut karena tida enak hati.
"Udah simpen aja" Tolak nya halus.
Gadis yang tida di ketahui siapa nama nya pun hanya menganggukan kepala nya dan menyimpan kembali uang tersebut.
"Maaf ya ka aku udah nabrak kaka" Ucap nya dengan rasa bersalah di ekspresi nya.
Daifa menatap gadis tersebut dengan senyum manis nya, sebelum membalas ucapan gadis tersebut.
"Ga papa, oh, iya, kamu siapa nama nya? " Ucap Daifa. Menanyakan nama gadis tersebut.
"Dania ka" Balas gadis tersebut yang ternyata bernama Dania.
Daifa mengangguk dengan mulut berbentuk O.
"Nama kaka siapa? " Tanya balik Dania.
"Panggil aja ka Fafa" Jawab Daifa ramah.
Mereka masih di posisi yang sama, Daifa yang belum beranjak dari jongkok nya di depan cemilan yang berserakan, dengan Dania yang berdiri di depan nya.
"Aku beli susu dulu ya ka" Pamit Dania melambaikan tangan nya kepada Daifa.
Daifa hanya menatap ke pergian Dania dengan wajah kesal, tida lupa juga umpatan yang menyertai nya.
__ADS_1
"Dasar bocil!, bukan nya merasa bersalah, atau ga nawarin bantuan ke, ini mah, malah nyelonong pergi! huh" Gerutu Daifa sebelum pergi ke kasir untuk membayar belanjaan nya.
Bruk
Liana menoleh ke bangku belakang, iya menatap Daifa heran, mengapa muka nya terlihat kesal?.
"Nape lo? " Tanya Liana.
Daifa membuang napas nya kasar jika ke ingat ke jadian tadi, iya sempat jadi tontonan karena masih jongkok di depan cemilan, sampai-sampai kena tegur juga lagi.
"Tau ah, gue lagi kesel!" Nah kan, kembali sifat alami nya. Tadi saja menggunakan nama panggilan mereka, sekarang udah 'lo_gue' lagi.
Liana yang penasaran kenapa Daifa bisa kesel pun, bertanya.
"Kesel kenapa? "
"Gara-gara bocil yang nabrak gue, abis itu dia cuman nunjukin uang 15 Ribu buat ganti rugi, kan mana cukup buat gue" Kesal Daifa. Masih dengan tampang cemberut nya.
"Udah sih ngapain di ributin" Tegur Afifa yang menyahut percakapan mereka.
Daifa memilih menurut saja, ketimbang makin kesel meski nyeritain kejadian yang membuat nya kesal.
Beberapa jam sudah terlewat, kini mobil yang di kendarai Afifa, telah sampai di pekarangan rumah nya.
Mereka turun dari dalam mobil. Tida lupa juga Afifa menyuruh penjaga rumah nya untuk memarkirkan mobil nya ke garasi.
Tut
Tut
Suara dering dari smarphon Daifa, iya tengah menelepon Bunda nya, untuk memberi tahu bahwa iya akan menginap di rumah Afifa.
"Bun, fafa nginep ya di rumah fifi, mau mulai rencana yang semalam di ceritain, bunda ga usah khawatir, fafa bakal baik-baik aja" Ucap Daifa memberitahu dengan beruntu setelah sambungan telepon tersambung, bahkan tampa mengucapkan salam. Iya juga langusng mengakhiri telepon setelah mendengar jawaban sanga bunda.
"Ayo" Ajak Afifa berjalan menuju rumah nya.di ikuti Daifa juga Liana.
"Ehh, pada main ya?" Tanya Alfi bunda Afifa, yang datang dari dapur.
Mereka secara serempak menoleh ke sumber suara, bunda Alfi berjalan mendekat, mereka bersaliman saat bunda Alfi sudah berdiri di antara mereka.
"Iya bun" Jawab Daifa, menjawab pertanyaan bunda Alfi.
"Udah pada makan belum? " Tanya bunda Alfi menatap mereka.
Liana yang mendengar pertanyaan tersebut menjawab dengan cepat, karena sedari tadi perut iya keroncongan minta di isi.
"Belum bun" Jawab Liana.
Bunda Alfi tersenyum, sebelum mengajak mereka untuk makan bersama.
"Yaudah yu, makan, tante baru aja selesai masak" Ajak bunda Alfi.
Tampa memperdulikan ke dua sahabat nya, Liana dengan antusias berjalan mengikuti bunda Alfi.
Daifa menatap Liana malas, gini nih kalo dah ke rumah orang, ke kurang kalo ga numpang makan. Pikir nya.
Iya pun mengikuti langkah Liana yang sudah hilang ke dalam dapur.
Kini tampak makana-makana yang menggiurkan untuk di santap.
Mereka semua memakan makanan dengan khidmat.
"Bunda denger-denger, kalian mau pada cari tau siapa pelaku peneroran? Menurut bunda ga usah, bahaya" Ucap Bunda Alfi di tengah menyantap makanan nya.
Daifa mengangkat pandangan nya, iya tengah menimang-nimang apa yang akan iya jawab.
"Iya bun, tapi kita bisa jaga diri ko"Terang Daifa.
" Tapi kalian harus tetap hati-hati"Nasehat Bunda Alfi kepada mereka.
"Iya bun" Sahut Daifa dan Liana berbarengan.
Mereka melanjutkan makan siang tersebut dengan tenang, tampa membuka suara lagi.
Kini mereka bertiga tengah bersantai di ruang keluarga dengan cemilan yang di hidangkan oleh bunda Alfi.
"Bunda tinggal di rumah baik-baik aja kan? " Tanya Bunda Alfi tiba-tiba dari arah tangga.
__ADS_1
"Emang bunda mau pergi ke mana? " Tanya Afifa heran, meski iya tida terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
Bunda Alfi mengela napas pelan, sebelum menjawab pertanyaan anak nya.
"Bunda harus ke kantor papah kamu Fi, sepertinya ada masalah sama urusan kantor" Terang Bunda Alfi.
"Ohh, yaudah ga papa, hati-hati di jalan Bun" Saut Daifa yang merasa aman-aman aja.
"Yaudah, kalian hati-hati ya di rumah, inget kalo ada apa-apa kabarin bunda, kalo ngga cari bodigart papah kamu di depan" Pesan bunda Alfi, menasehati mereka.
Mereka hanya mengaguk tanda mengerti, setelah itu mereka bersalaman dengan bunda Alfi, sebelum pergi meninggalkan rumah.
"Ayo kita ke atas" Ajak Afifa berdiri dari duduk nya.
"Mau ngapain?" Tanya Daifa ikut berdiri.
"Kita cek situasi dari lantai atas" Terang Afifa tenang.
Tampa menunggu lama-lama mereka bertiga berjalan menuju lantai atas, lebih tepat nya kamar Afifa.
Ckrek
Pintu balkon di buka oleh Afifa, sedangkan Daifa dan Liana hanya memperhatikan apa yang akan di lakukan sahabat nya itu.
"Kalian tolong cariin kamera kecil di laci meja belajar gue" Suruh Afifa setelah selesai membuka pintu balkon kamar nya.
"Buat apa?" Tanya Liana yang penasaran.
"Cari aja" Suruh Afifa tampa menjawab pertanyaan Liana.
"Nih" Daifa memberikan kamera yang di inginkan sahabat nya, tampa bertanya apa-apa.
Afifa menerima kamera yang berjumlah 3 buah dengan ukuran yang sama.
Sebelum nya iya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk memulai pencaritahuan yang akan mereka lakukan, termasuk dengan kamera kecil yang ta lain SCTV berbentuk kecil.
"Bantu pasang ini di luar, deket jendela" Kata Afifa menyarahkan satu kamera kecil ke tangan Liana.
"Di tempat paling sembunyi" Suruh Afifa, takut saja malah di depan pintu, Liana kan kadang ngaco.
"Gue bantu apa?" Tanya Daifa yang masih berdiam diri.
Afifa mengalihkan pandangan nya ke arah Daifa, iya lupa memberi tahu tugas yang akan Daifa kerjakan.
"Fafa diem aja dulu" Ucap Afifa, melanjutkan kembali kerja nya.
"Iss masa gitu sih" Kesal Daifa, masa iya iya tida melakukan apa pun, padahal iya juga ingin kerja.
Afifa tampak berpikir sebentar sebelum membalas ucapan Daifa.
"Fafa pasang SCTV ini satu di belakang rumah" Suruh Afifa memberikan satu lagi SCTV yang masih tersisa.
Difa berlalu pergi melakukan tugas nya, iya berjalan menuju halaman belakang, takut-takut aja ada yang dari belakang.
"Duhh, dimana ya masang nya" Bingung Daifa melihat-lihat tempat sekeliling nya.
"Di situ aja kali ya?" Putus nya, mengarah ke pot gantung yang tersusun rapi.
Iya menyimpan di tempat yang tersembunyi namun bisa memantau tempat dengan jelas.
Kini mereka sudah berkumpul kembali di kamar Afifa, dengan laptop di atas kasur.
Afifa yang pokus menyambung kan SCTV yang telah mereka pasang di tempat berbeda-beda.
"Apa sudah ada pergerakan yang mencurigakan?" Tanya Daifa yang penasaran.
"Belum" Jawab singkat Afifa tampa mengalihkan pandangan nya.
Sedangkan Liana, iya tengah berbaring menghadap laptop dengan masker di wajah nya.
Meski Afifa terkesan acuh dan pendiem, namun iya juga masih memperhatikan sekincer untuk wajah nya, termasuk maskeran yang di pake Liana, itu juga milik nya.
Waktu menjelang sore, namun Bunda Alfi masih belum kembali, mereka juga sudah menunggu dengan bosan di dalam kamar.
Bahkan paling sesekali mereka memanggil pelayan untuk membawakan cemilan atau minuman untuk menemani rasa bosan.
"Eh itu ada orang" Seru Liana tiba-tiba, hingga membuat atensi Daifa dan Afifa teralih ke arah laptop.
__ADS_1
Memang terpangpang di layar benda persegi tersebut seseorang, namun tidak terlalu mencurigakan.