
Pagi sudah datang kembali, Daifa sudah bersiap-siap untuk berangkat sekolah, setelah membereskan perlatan sekolah nya, iya segera turun untuk mengisi perut nya.
Menyapa kedua orang tua nya dan sang abang, iya segera melahap sarapan nya dengan santai, sesudah itu iya meminum susu hangat nya dan bersiap pergi, tidak lupa bersalaman dengan sang bunda dan Ayah.
Menggendong tas ransel nya, Daifa memasangkan gantungan kunci yang iya beli di tas nya, setelah itu iya keluar dari rumah nya, namun pandangan nya tertuju pada orang yang membuat iya selalu kesal, siapa lagi jika bukan Darel.
"Ngapain lagi lo di sini?!" Tanya Daifa tak santai yang di tanggapan kerutan dahi oleh Darel.
"Jemput lo" Balas Darel acuh.
"Gue ga miskin harus lo anter jemput!" Ucap Daifa melenggang pergi menuju mobil nya.
Belum sampai membuka pintu mobil, kunci yang iya pegang di rampas oleh Darel membuat iya berseru marah.
"Teriplek s*a*an! balikin kunci mobil gue!"Geram Daifa berusaha merebut kunci mobil nya, namun Darel dengan gesti memasukan nya kedalam saku celana nya.
" S*a*an lo!!"Maki Daifa menginjak kaki Darel membuat iya meringis kesakitan, tanpa memperdulikan Darel iya beralih mendekati motor Darel dan mengambil kunci motor nya.
Melemparkan senyum sinis, iya menggoyang-goyangkan kunci motor tersebut seolah berkata 'Gue juga bisa'
Mendengus pelan, Darel berjalan mendekati Daifa, iya menatap dalam manik cantik mata Daifa, membuat Daifa merasa waspada.
"Mau ngapain lo!" Sentak Daifa gugup, namun Darel tetap melangkah mendekati nya hingga membuat iya bingung, harus maju atau mundur?.
Tanpa menunggu Daifa bereaksi, iya langsung melancarkan aksi nya.
Grep
Diam mematung, Daifa seperti ditarik nyawa nya hingga membuat dia melongo seperti orang bodoh.
Melihat Daifa yang diam mematung, Darel menatap nya intens, sebelum cepat-cepat mengambil kunci motor nya dan melepaskan pelukan nya.
"Ga usah bengong, buruan naik" Ucap Darel menyadarkan Daifa kembali.
"Heh! ngapain lo peluk-peluk adek gue?!" Dengus Helmi yang memperhatikan kedua nya sedari tadi.
"Oppa, teriplek ini ngeselin bangt! patahin aja tangan nya yang udah lancang meluk dongsaeng imut mu ini" Adu Daifa menatap sang kaka dengan ekpresi menyedihkan.
Menatap Darel tajam, sebelum Helmi menghela napas pelan.
"Mana boleh, bisa-bisa oppa mu ini yang di patahin abeoji"
"Iss ga like deh"Gerutu Daifa mengembungkan pipi nya.
" Naik" Suruh Darel segera menyalakan mesin motor nya.
Dengan kesal Daifa menuruti ucapan Darel, setelah iya duduk dengan benar, Darel segera melajukan motor nya meninggalkan rumah Daifa.
"Goodbye brother" Seru Daifa sebelum meleset pergi.
Setelah beberapa jam, kini mereka berdua sudah sampai di sekolahan.
Dengan segera Daifa turun dari atas motor, saat akan berbalik pergi, langkah nya dihentikan oleh tarikan Darel.
"Mau ngapain lagi sih!" Kesal Daifa membalikan badan nya menghadap Darel.
"Gantungan tas lo... "
"Kenapa?! mau lo ambil?"Sahut Daifa berdecak kesal.
" Hemm, buat gue"Pinta Darel dengan ekspresi datar biasanya.
Dengan kasar Daifa melempar gantungan berbentuk boneka kecil itu ke arah Darel, tampa mengucapkan sepatah kata ia langsung berlari pergi.
Menangkap gantungan kecil tersebut, Darel menatap boneka kecil itu dengan senyum tipis. Setelah itu ia memasukan gantungan kunci tersebut ke dalam saku seragam nya, segera ia turun dari atas motor nya. Belum sempat melangkah, teriakan dari kedua temannya mebuat ia menoleh, ahh ralat, hanya Erlan yang berteriak memanggil nama nya, sedangkan Alvin hanya diam saja.
"Hos hos, ayo bareng" Ucap Erlan dengan napas tak beraturan, tampa menunggu napas nya setabil, Erlan segera menyeret Darel di ikuti Alvin.
Di sisi Daifa, iya baru sampai di depan kelas nya. Berhenti di tengah pintu dengan berpegangan, iya merasa sesak napas karena terus berlari, dan juga menahan amarah nya karena Darel.
Setelah di rasa sudah tenang, iya kembali melanjutkan langkah nya kearah meja nya. Meletakkan ransel nya, iya segera duduk setela menyapa kedua temannya.
"Ada tugas?" Tanya Daifa menoleh ke arah Liana.
Menoleh sejenak kearah Daifa, Liana mencoba mengingat-ingat.
"Ngga ada deh" Jawab Liana.
Daifa mengangguk sebagai tanggapan. setelah menghela nafas pelan, iya merebahkan kepala nya di tumpukan tangan nya.
"Lo kenapa dah?" Tanya Liana yang heran dengan kelakuan Daifa.
"Ngga"
Mendengus pelan, Liana pokus kembali dengan kegiatan nya tampa menghiraukan Daifa yang sudah tertidur.
Setelah beberapa saat, bel masuk berbunyi menandakan pelajaran akan segera dimulai.
"Selamat pagi anak-anak" Sapa guru yang memasuki kelas Daifa membuat Liana buru-buru membangunkan Daifa.
"Fa.. Pst... Daifa!, bangun!"
Menggeliat pelan, Daifa membuka mata nya, mengumpulkan kembali nyawa nya yang setengah hilang, barulah iya menyadari bahwa sudah ada sang guru, buru-buru iya mengeluarkan alat tulis nya.
*****
Jam istirahat sudah berbunyi, semua murid sudah stay di tempat pavorit masing-masing. termasuk juga Daifa dan teman nya.
Mencari tempat duduk yang nyaman, sampai salah satu di antara mereka beranjak untuk memesan makanan.
"Ahh, gue baru inget, lo mau ga temenin gue ke suatu tempat?" Tanya Daifa meminta persetujuan dari Afifa.
"Ok" Balas Afifa singkat yang di tanggapi biasa oleh Daifa.
Setelah percakapan singkat di antara mereka, suasana hening kembali sampai kedatangan Darel dan kedua sahabat nya yang datang kearah meja mereka membuat Daifa mendengus kesal.
"Kemana si lilin? tumben amat ga ada?" Tanya Erlan asal yang di hadiahi lemparan sendok dari arah belakang nya.
Mengaduh kesakitan sambil menengok, Erlan menatap tajam orang yang juga menatap tajam dirinya.
"Lo apa-apansih! kalo gue kenapa napa gimana hah?!" Kesal Erlan berdecak.
"Lo yang apa-apaan! ngatain orang di depan orang nya" Serkas Liana menatap nyalang Erlan yang sudah duduk di tempat duduk nya tadi.
"Minggir lo!" Suruh Liana setelah meletakan nampan pesanan.
Mendorong Erlan yang masih ngeyel tidak pindah, Liana mendorong tubuh tegap Erlan dengan kuat sampai akhirnya menyingkir.
Setelah semua nya beres, iya segera menyantap pesanan nya tampa menghiraukan Erlan yang mengumpati nya.
Sama hal nya dengan Daifa, iya sudah kesal di buat berhadapan dengan Darel.
Tampa permisi ia mengambil makanan nya! bahkan sebelum iya menyentuh nya.
Tapi satu yang membuat nya heran, mengapa iya malah di suapin?.
"Balikin makanan gue, gue ga cacat sampe harus lo suapin" Kesal Daifa berusaha merebut makanannya.
Namun usaha nya harus gagal karena Darel bahkan tidak peduli.
Merasa tidak berhasil, Daifa mengembungkan pipi nya marah, membuang muka nya ke arah lain, iya tidak menghiraukan sodoran sendok yang Darel berikan.
Tentu nya hal itu membuat Darel menghela nafas, sangat kekanakan dan keras kepala. Begitu lah pikir nya.
__ADS_1
"Buka mulut lo" Ucap Darel berusaha lembut, namun Daifa tetap tidak menoleh.
"Ya udah, nih gue balikin" Putus Darel menurut.
Mendengar keputusan Darel barulah Daifa menoleh, namun sebelum sempat membalas, perhatian nya teralih karena gosip yang sedang di bicarakan di sekitar nya.
Mengerutkan kening saat salah satu di antara nya menyebutkan nama nya.
Gue ga nyangka banget sama si Daifa.
Bunga sekolah? Heh! bahkan lebih menjijikan daripada sampah!.
Kasian banget ya Darel, harus di tempelin kuman kaya dia!
Gosip yang sangat tidak enak di dengar itu membuat Daifa mendatarkan ekpresi nya.
Dengan segera iya menghampiri meja perempuan-perempuan yang hobi menggosip itu, meski iya tidak akan peduli dengan gosip-sosip yang beredar, namun kata-kata mereka sangat menginjak harga diri nya, bukan karena takut reputasi nya sebagai bunga sekolah hancur, hanya saja iya merasa terhina dikatai sampah.
"Apa yang lagi kalian omongin?" Tanya Daifa dingin yang mengagetkan ke empat orang itu.
Namun dengan cepat mereka kembali menampilkan ekspresi jijik mereka yang membuat Daifa muak.
"Tadi aja mulut kalian nyinyir banget, kenapa sekarang diem?, bisu?" Ucap Daifa yang menohok membuat ke empat orang itu marah.
"Lo...!!, dasar sampah!" Decih salah satu di antara mereka yang terpancing dengan kata-kata nya.
Puas membuat mereka marah, iya segera berjalan kembali, ahh tidak, Daifa tidak kembali ke meja nya dan teman-temannya tapi iya berjalan pergi dari area kantin.
Melihat Daifa pergi tampa peduli, Darel segera mengejar nya dan ikut berjalan bersama nya.
Daifa juga tidak peduli, sekarang iya hanya ingin tahu sumber gosip yang di bicarakan di sepanjang jalan sampai iya menghentikan seorang siswi cupu yang langsung ketakutan.
Saat melihat reaksi siswi cupu itu, iya langsung tahu bahwa siswi itu sering di bully.
"Apa lo tau sumber gosip gue?" Tanya Daifa sesantai mungkin.
Siswi cupu itu takut-takut menjawab pertanyaannya.
"Itu... itu.. Itu di papan meding"Jawab nya tergagap.
Mengangguk singkat, Daifa mengucapkan terimakasih sebelum berjalan pergi.
Menghela nafas berkali-kali, iya berusaha menenangkan diri, takut saja iya lepas kendali.
Setelah sampai di sana, benar saja, banyak orang-orang yang berkerumun di depan papan mading.
Cepat-cepat iya menyerobot kerumunan.
Dan terpangpang lah sebuah poto yang membuat iya emosi.
Dengan segera iya mengambil kertas yang di tempel itu, hingga surakan dan cibiran siswa-siswi terdengar berdengung di telinga nya, namun ekpresi nya tetap sama datar dan dingin.
Tampa memperdulikan cacian dan hinaan lain nya, iya tetap berjalan menuju suatu tempat. Darel pun tidak ketinggalan, iya terus mengikuti Daifa.
Sampai di depan kelas IPA 2 alias kelas Darel, iya langsung menyerobot masuk tampa permisi, segera menghampiri meja yang di tempati Aluna dan teman nya. Tampa peduli tatapan di sekitar nya.
Melemparkan kertas tersebut tepat kearah wajah Aluna membuat sangmpu kaget.
"Itu pasti ulah lo kan?" Tanya Daifa acuh tak acuh.
Aluna yang di tanya mengangkat alis nya heran, sebelum melirik kertas yang di lemparkan Daifa, barulah iya paham.
"Maksud lo apa?" Tanya Aluna pura-pura tidak tau.
"Bodoh, lo bisa liat kan?" Ucap Daifa memberikan tatapan mengejek.
Mengepalkan tangan nya kuat-kuat, Aluna menatap seksama poto yang terpangpang nyata di depan nya, iya menutup mulut nya dengan telapak tangan seolah-olah kaget.
"Lo..., ini bukan lo kan Fa?"Ucap Aluna yang tidak percaya. tepat nya pura-pura.
"Lo!" Geram Aluna marah.
"Apa?! kesindir?" Sinis Daifa melirik Aluna yang semakin marah.
Aluna terdiam dengan kemarahan tercetak jelas di wajah bedak nya.
Tersenyum penuh kemenangan.
Saat hendak berbalik pergi, dengan sengaja teman Aluna menjegat kaki nya hingga membuat iya oleng, namun sebelum menyentuh lantai iya merasa tubuh nya di tangkap seseorang.
Membuka mata nya yang tadi terpejam, Daifa terdiam, iya masih menatap wajah di depan nya dengan pandangan kosong, sebelum kewarasan nya kembali dan segera mendorong tubuh kekar itu.
Berbalik kearah teman Aluna, iya menatap tajam sang pelaku yang berkeringat dingin.
Tampa aba-aba iya melayangkan tamparan di pipi gadis itu.
Plak
"Lo...! Hiks" Seru nya dengan isakan yang keluar dari mulut nya. Tentu dengan air mata yang sudah turun dari pelupak mata nya.
"Jangan main tangan Fa" Ucap Darel memperingati Daifa, namun iya tidak memperdulikan nya.
"Itu pelajaran kecil buat lo biar ga cari masalah sama gue"Ucap Daifa penuh penekana.
Saat akan berlalu pergi iya sudah diseret terlebih dahulu oleh Darel.
Tampa membantah iya menurut, meski kesal karena Darel menggenggam tangan nya terlalu kuat, tangannya sakit karena menampar wajah teman Aluna yang sekeras batu.
" Lo bisa pelan dikit ga sih, sakit tangan gue"Ucap Daifa menahan ringingisan.
Darel melepaskan genggaman tangan nya, dengan segera Daifa melihat telapak tangan nya yang memerah dan panas. Memperhatikannya sebentar sebelum mengacuhkan nya, itu bukan masalah besar.
Tiba-tiba Darel meraih kembali tangan nya membuat iya berusaha melepaskan nya, namun iya tertegun saat Darel meniup-niup tangan nya.
Dengan serius Darel meniup-niup tangan nya, bahkan mengusapnya pelan, menatap orang menyebalkan itu dengan intens, Daifa selalu dibuat bingung dengan kelakuan nya, kadang nyebelin yang selalu bikin iya kesal, kadang perhatian seperti sekarang, tindakan nya selalu membuat Daifa tertegun.
"Makasih, makasih juga tadi lo udah nolongin gue" Tutur Daifa tersenyum kecil.
Melihat senyum yang Daifa terbitkan, Darel membalasnya dengan senyum tipis. Meski dalam hati nya tersenyum senang, tidak biasanya Daifa memberikan senyum seperti itu, apalagi kepadanya, Daifa selalu berwajah ketus.
"Biar gue obati di UKS" Ucap Darel menarik kembali Daifa agar mengikutinya, namun sekarang menarik nya dengan lembut.
"Ga usah, gue mau ke kelas aja" Tolak Daifa.
"Ga"
Menghela nafas pasrah, Daifa memilih diam mengikuti langkah Darel.
Setelah sampai di UKS Darel segera menyuruh Daifa duduk di atas ranjang UKS sementara dia mencari salep untuk mengobati tangan Daifa.
Menunggu Darel kembali, Daifa mengedarkan pandangan nya, iya jarang masuk UKS, karena lebih sering masuk BK, jadi iya merasa asing dengan pemandangan seperti ini, dengan bau obat yang khas, itu sedikit membuat nya pusing.
Tak lama Darel datang dengan salep dan kapas ditangan nya.
"Buka tangan lo" Suruh Darel yang dituruti oleh Daifa.
Setelah selesai mengobati tangan nya, Daifa segera kembali kekelas nya di antarkan Darel, enatah kenapa, Daifa sudah menolak nya namun Darel tetap memaksa mengantarkan nya.
"Duduk" Suruh Bu Mega yang ternyata sudah ada di dalam kelas.
Tampa banyak kata iya segera duduk di tempat nya, setelah itu ikut mengikuti pelajaran.
Pelajaran selesai dengan cepat, setelah memasukan alat-alat tulis nya, Daifa bersiap untuk pergi bersama kedua sahabat nya.
__ADS_1
"Daifa, kamu disuruh keruang BK sebentar" Ujar Bu Mega sebelum pergi dari kelas.
"Masalah itu ya Fa?" Tanya Liana yang tahu gosip terending di sepenjuru sekolah.
Daifa hanya mengangguk sebagai tanggapan.
"Kita temenin ya?" Ujar Liana ikut berjalan keluar kelas dengan Afifa.
"Ngga usah, gue bisa tanganin sendiri" Tolak Daifa melambaikan tangan nya.
"Tangan lo kenapa di perban?" Tanya Liana meraih tangan Daifa yang tadi di kibaskan kearah mereka berdua.
"Itu, tadi ga sengaja nabok batu" Jawab Daifa asal. Iya malas menjelaskan jadi hanya menjawab asal.
"Masa sih?" Ucap Liana tapercaya sambil masih memperhatikan tangan Daifa.
"Kapan ini di kasih salep?"
"Beberapa menit yang lalu, udah deh lo jangan banyak tanya, yang ada gue di marahin lagi telat datang sama pak botak" Tukas Daifa menarik tangannya yang masih dilihat Liana.
Tampa memperdulikan Liana yang cemberut, Daifa segera pergi menuju ruang BK.
Tok tok tok
"Masuk" Sahut dari dalam ruangan.
Dengan segera Daifa masuk dan duduk di depan pak Agus.
Pak Agus mengangkat kepala nya untuk melihat Daifa. Hela'an nafas keluar dari mulutnya sebelum membuka suara.
"Apa yang kamu lakukan Daifa?, kalo orang tua kamu tau kelakuan kamu di sekolah seperti ini, mereka pasti malu!" Ucap pak Agus.
"Emang saya ada salah apa pak?"Tanya Daifa santai.
Segera pak Agus mengeluarkan selembar poto yang Daifa kenali, hanya saja ini persi poto Copy.
" Apa ini Daifa?!"Tanya Pak Agus menatap Daifa minta penjelasan.
Memutar bola mata nya malas, Daifa menatap pak Agus tampa takut.
"Bapa masih bisa liat kan? itu jelas editan" Jawab Daifa santai.
"Editan apa nya?! jelas-jelas itu kamu! jika masalah ini tersebar keluar, apa kamu akan bertanggung jawab untuk sekolah ini?!reputasi bisa hancur gara-gara kamu"Pak Agus benar-benar marah saat ini.
" Terus, bapak dapat laporan jika kamu main pisik sama teman kamu? apa benar?"Lanjut Pak Agus semakin menatap Daifa tajam.
"Bapak jangan khawatir, bukan kah sekolah ini terkenal? apa tidak mampuh membayar media? setidak nya selidiki terlebih dahulu sebelum menuduh" Tenang Daifa dengan penekana.
"Huh! saya tau kamu anak orang kaya, tapi itu tidak adil jika saya memaafkan kamu, kamu harus saya hukum untuk mengurangi tuntutan para siswa yang ingin kamu keluar dari sekolah ini"
" Scor 1 minggu, surat undangan kedua orang tue"Putus pak Agus tampa perasaan.
"Terserah"Acuh Daifa.
Iya mengeluarkan ponsel nya saat merasakan getaran notifikasi, setelah melihat nya sebentar, Iya menyodorkan ponsel nya kedepan pak Agus yang menatap nya kebingungan.
"Apa ini?" Bingung Pak Agus menatap Daifa tidak mengerti.
"Masalah sepela" Sahut Daifa segera berdiri tampa mengambil kembali ponsel nya.
Segera iya membuka pintu dan keluar, baru saja berbalik iya dibuat kaget dengan kedua sahabat nya yang berdiri menatap nya penuh tanya.
"Ngagetin aja!" Kesal Daifa mengelus dadanya sabar.
"Maaf deh, gimana Fa? Pak botak ngomong apa sama lo? ko kaya tegang gitu?"Tanya Liana beruntu hingga dengan kesal Daifa menabok mulut nya.
Plak
"Akhh, lo apa-apa sih, sakit tau" Gerutu Liana mengusap-usap bibir nya yang cenat-cenut.
"Lagian lo ngomong kaya kereta, terobos mulu" Cetus Daifa tampa rasa bersalah.
Mendengus sebal, Liana membuang pandangan nya kearah Afifa yang diam saja.
"Gimana?" Tanya Afifa buka suara, meski istilah nya sedikit, namun karena sudah terbiasa, Daifa mengerti maksud nya.
"Scor 1 minggu, pemanggilan orang tua" Jawab Daifa santai.
"What?!"
"Ko bisa sih lo di scor?, ayah, bunda lo bakal marah Fa?" Ucap Liana menatap Daifa ta percaya.
Sedangkan si mpu nya hanya menghela napas pasrah.
"Ya gimana lagi, gue ga bisa kabur dari masalah ini"
"Yahh bakal sepi dong kalo ga ada lo, ga ada yang bisa gue ajak ribut" Keluh Liana so menyedihkan.
"Itu sih penderitaan lo, huyy gue bakal bebas rebahan di rumah" Seru Daifa tersenyum lebar.
"Ayo kita pulang" Ajak Daifa segera menarik tangan keduanya.
"Bukan nya mau ke suatu tempat"
Daifa menghentikan langkahnya dan menepuk kening nya, sedangkan Liana menatap bingung.
"Kemana? kenapa kalian ga kasih tau Gue?" Tanya Liana dengan perotesannya.
"Ikut aja ga usah banyak cincong, sekalian mampir dulu ke Mall" Ujar Daifa kembali berjalan.
Menuruti ucapan Daifa, kini ketiga nya tengah berjalan menuju parkiran. Sekolahan lumayan sepi karena sudah pulang, namun yang mengikuti ekskul masih ada.
"Mau pada kemana?"
Menoleh keasal suara, ternyata 3 sekawan yang selalu mengganggu mereka, siapa lagi jika bukan Darel dan teman nya.
"Bukan urusan lo" Ketus Liana yang tidak pernah akur dengan Erlan.
"Gue ga nanya sama lo" Balas Erlan memutar bola matanya malas.
"Udah ga usah di ladenin, buruan kita pergi" Ucap Daifa segera menarik tangan Liana yang akan beradu mulut dengan Erlan.
Darel yang sedari tadi diam kini bergerak, menghampiri Daifa yang berjalan bersama Liana dan Afifa.
"Gue mau ngomong sama lo" Tahan Darel saat Daifa akan memasuki mobil.
"Ngomong apa?" Tanya Daifa menatap nya malas.
"Ikut gue" Suruh Darel menarik Daifa.
"Ga mau, disini juga bisa kali" Tolak Daifa meronta yang mana malah membuat tangan nya sakit.
"Diem, tangan lo bisa sakit lagi" Tegas Darel dengan aura dingin nya membuat Daifa diam.
Membawa Daifa menjauh Dari orang-orang, Darel melepaskan pegangan tangan nya agar tidak menyakiti tangan Daifa.
"Bunda gue nyuruh kita beli cincin tunangan" Ucap Darel membuat Daifa melotot.
"Ga, ga, ga, gue ga mau nikah muda" Tolak Daifa menggeleng tegas.
"Ga ada yang mau nikah muda, kita cuman tunangan" Sahut Darel kesal dengan tingkah Daifa yang tidak dewasa.
"Ya tapi gue ga mau, gue masih mau sekolah yang baik, lanjut kuliah, ga mau cepet-cepet nikah"Jujur Daifa.
__ADS_1
"Yakin? sekolah lo aja di scor, lo bisa tenagin amarah tante Lidia dengan nerima perjodohan ini, gue cuman kasih saran aja, bukan maksa lo buat mau" Ucap Darel yang membuat Daifa terdiam.
Daifa menimang-nimang ucapan Darel, lagi pula ini cuman tunangangan yang tidak langsung ke pernikahan, iya masih bisa melanjutkan sekolah nya hingga kuliah, tapi bisa aja Bunda nya memaksa nya untuk menikah secepat nya, sepertinya iya harus membuat kesepakatan.