Always You

Always You
Episode 32


__ADS_3

Setelah shoping di mall biasanya, kini kedua wanita beda usia itu sedang dalam perjalanan pulang, bahkan Daifa yang tadi masih semangat kini sudah pulas ke alam mimpi karena kelelahan.


"Fa bangun dah sampe"Ucap Bunda Lidia menepuk pipi chubby Daifa membuat sang mpu membuka mata nya meski masih mengantuk.


"Hoamm" Menutup mulut nya yg menguap, Daifa bergegas turun dari mobil walau masih sedikit sempoyongan.


Daifa segera bergegas ke kamar nya untuk kembali melanjutkan mimpi yang terganggu, namun langkah nya terhenti karena teguran sang Bunda.


" Eh, ga boleh tidur lagi, segera siap-siap!"Tegur Bunda Lidia membuat Daifa berdecak sebal.


"Iss, ngantuk bun!" Keluh Daifa kembali menguap.


"Iya tau, tapi mandiin aja biar ga ngantuk"Timpal Lidia menyerahkan dres yang iya belikan untuk Daifa pakai malam ini.


Menerima paperbag dengan ogah-ogahan, Daifa segera berlalu ke kamar nya dengan muka kusut.


" Ngapa lo cil? muka kusut ke gitu, ileran lagi"Pungkas Helmi sedikit mengejek saat secara tak sengaja berpapasan dengan Daifa di tangga.


Mencabikkan bibir nya kesal, Daifa tidak mengharukan sang abang, iya terus berjalan hingga menghilang ke dalam kamar nya.


Menggeleng heran dengan kelakuan sang adik, Helmi melanjutkan langkah nya ke arah sang Bunda berada.


"Si bocil kenapa Bun? ko muka nya ke baju ga di setrika" Tanya Helmi setelah mendudukkan tubuh nya di sofa.


"Oh itu, Bunda larang dia tidur lagi, abis nya udah sore, ga baik"Sahut Bunda Lidia menjelaskan.


" Abang ga ikut ya bun, abang ada tugas kelompok buat besok"Ujar Helmi membuat Lidia menoleh ke arah nya dengan pandangan heran.


"Kalo darurat banget ga papa bang, lagian bunda udah paksa Daifa buat ikut, abang selesain aja dulu tugas nya, kapan-kapan kita ketemu lagi" Imbuh Bunda Lidia menatap anak suluang nya dengan senyum lembut.


"Makasih bun, kapan-kapan abang usahain ada waktu deh"Balas Helmi membalas senyum sang bunda.


*****


Sore sudah berganti malam, Daifa sudah siap dengan dres yang di beli sang Bunda, meski iya malas memakai dres, tapi demi sang Bunda tersenyum senang iya akan usahakan.


Tok


Tok


Tok


" Fa, Bunda boleh masuk?"Tanya Lidia setelah mengetuk pintu kamar Daifa.


Daifa yang di panggil nama nya segera membalas.


"Masuk aja Bun, ga di kunci" Sahut nya sedikit teriak.


Lidia yang mendapat sahutan dari sang anak segera membuka pintu untuk melihat apa Daifa sudah siap apa belum.


"Cantik sekali kamu Fa" Puji Lidia mendekat ke arah Daifa yang tengah memoleskan lipstik di bibir nya.


"Bunda kaya ga pernah liat Fafa cantik aja!"Decak Daifa membalikan badan nya yang semula menghadap meja rias, kini menghadap sang Bunda yang tengah membenarkan tataan rambut nya.


"Becanda Fa, abis nya kamu cocok pake dres nya"Kekeh Lidia sambil menatap kagum.


(Ilustrasi dres yang di pakai Daifa)



Setelah percakapan singkat, kedua nya segera turun menuju lantai bawah, hingga decakan kagum Helmi mengalihkan atensi mereka berdua.


" Wow! si bocil bisa berubah jadi anggun juga ternyata"Kagum Helmi tatkala Lidia dan Daifa turun dari arah tangga dengan Lidia menggandeng tangan Daifa.


"Iss! abang pikir aku ga bisa feminim apa!" Kesal Daifa menatap sang abang sengit.


"Abisnya, biasanya kan kamu bar-bar ga kaya cewe lain"Celetuk Helmi membuat Daifa tambah kesal.


" Abangke jncok!"Seru Daifa membuat Lidia sang Bunda melarai kedua nya.


"Mulut nya Fa!"Tegur Lidia saat Daifa tampa sengaja mengeluarkan kata-kata bar-bar nya.


Memalingkan muka nya dari pandangan sang abang, Daifa segera bergegas menuju sang Ayah yang hanya memperhatikan perdebatan mereka berdua, tampa niat melerai.

__ADS_1


"Tuh kan mulai bar-bar nya, baru aja di bilang peminim" Celetoh Helmi kembali bersuara membuat Daifa menoleh sekilas memandang sinis.


"Ayo kita berangkat" Ajak Dika sang Ayah menggandeng tangan Daifa lembut di ikuti sang istri di belakang.


Setelah itu mobil meninggalkan pekarangan rumah dengan cepat, termasuk juga Helmi yang mengendarai motor besar nya, untuk ke rumah teman nya.


Perjalanan cukup lama di tempuh karena sedikit macet, Daifa baru ingat jika sekarang malam minggu.


"𝘗𝘢𝘯𝘵𝘦𝘴 𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘢𝘤𝘦𝘵"Batin Daifa tatkala melihat pasangan muda yang tengah malming.


" 𝘕𝘢𝘴𝘪𝘣 𝘫𝘰𝘮𝘣𝘭𝘰!"Lanjut Daifa malas, tatkala pasangan yang tengah berboncengan menyelip kendaraan nya dengan santai, apa lagi dengan si cewe yang berpegangan erat di pinggang si cowo, sungguh miris bagi para jomblo.


Sesudah beberapa jam menit terlewat, mobil keluarga Daifa berhenti di sebuah restoran terkenal di Indonesia.


Turun dari mobil bersama sang bunda, Daifa memasuki ruangan VIP yang sudah di pesan oleh sang Ayah.


"Maaf membuat tuan Dimas menunggu lama"Ucap Ayah Dika saat sudah memasuki ruangan yang sudah terdapat pasangan keluarga yang sedang menunggu nya.


" Tidak apa-apa pak Dika, pasti karena macet kan?"Balas orang tersebut yang bernama Dimas Arkatsa, tidak lupa juga mereka bersalaman sebagai tanda pertemuan.


"Iya, biasalah hari anak muda" Jawab Ayah Dika dengan canda nya.


"Eh, kenalin, ini istri dan anak terakhir ku" Ucap Ayah Dika memperkenalkan Lidia dan Daifa yang berdiri di sisi nya.


Setelah itu mereka berjabat tangan sebagai perkenalan, termasuk juga Dila istri Damar.


"Hay jeng, kemana si sulung ga ikut ya?" Sapa Dila sekaligus menanyakan akan ke tidak hadiran Helmi.


"Ngga, dia lagi di rumah temen nya, Eh si cantik juga ikut toh, yaampun Daifa pasti seneng ada temen nya" Sahut Lidia antusias tatkala iya melihat ke hadiran Dania yang tengah duduk mempernatikan interaksi keluarga nya.


"Iya, dia maksa mau ikut, jadi biarin aja" Ujar Dila duduk kembali ke sisi Dania.


"Ayo Fa, kenalan sama anak tante Dila, dia ceria loh orang nya"Panggil Lidia kepada Daifa yang lumayan jauh dari keberadaan nya.


Daifa menoleh ke arah sang bunda, iya berjalan mendekat dan segera duduk di dekat Lidia, setelah nya iya menatap Dania yang tersenyum manis ke arah nya.


" Dah kenal bun"pungkas Daifa membuat Lidia menatap nya terkejut.


" Pernah ketemu sekali, iya kan Nia?"Jelas Daifa bertanya ke pada Dania yang hanya mengangguk sebagai balasan.


"Ohh, bagus lah kalo gitu, semoga kalian akur ya" Sahut Dila penuh semangat.


"Anak kamu mana satu lagi Dil?" Tanya Lidia menanyakan ke hadiran Darel yang tidak ada di sana.


"Biasa, keluar angkat telepon dari temen nya" Jawab Dila menyedot minuman yang sudah tersaji di atas meja.


"Ko tadi ga ketemu di jalan?" Heran Lidia. Namun Dila hanya mengangkat bahu nya acuh.


"Noh, tu orang nya" Ujar Dila menunjuk dengan ekor mata nya.Lidia ikut menoleh ke arah yang di tunjuk Dila.


Darel berjalan dengan muka datar nya, bahkan iya sampai lupa tidak menyapa Bunda atau ayah nya, iya langsung duduk begitu saja di kursi yang masih tersedia, dan sial nya kursi tersebut di samping Daifa.


"Kamu yang sopan dong bang" Tegur Dila tegas, padahal iya sudah mewanti wanti untuk bersikap sopan, namun Darel malah nyelonong aja, bahkan iya tidak melirink Daifa sedikit pun.


"Gapapa Dil, mungkin dia lagi ga mood" Sahut Lidia memberi pengertian. Dila hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Ayo kita mulai makan malam nya" Ucap Dika memulai acaraacara setelah berbincang-bincang dengan Dika.


Mereka semua mulai menyantap hidangan dengan hidmat, bahkan Daifa sangan antusias hingga membuat Dania tidak mau kalah.


"Pelan-pelan Fa makan nya, ntar keselek loh" Tegur Lidia namun Daifa hanya acuh saja membuat Lidia menggeleng.


Uhuk


Uhuk


Nah kan, baru juga di tegur, Daifa langsung keselek, kena karma ini mah.


Lidia langsung cepat-cepat mengambilkan minum yang ada di dekat nya, namun terhenti tatkala Darel sudah menyodorkan minum ke arah Daifa.


Dengan cepat iya langsung meminum nya bahkan hingga tandas tak tersisa.


"Hahh.. lega"Ucap Daifa menghela nafas lega, setelah itu iya menyandarkan punggung nya ke sandaran kursi.

__ADS_1


" Makasih minum nya"Ucap Daifa menatap Darel sekilas.


"Hemm" Dehem Darel sebagai respon.


Daifa tidak melanjutkan makan lagi, iya hanya sandaran di kursi dengan tangan mengipas-ngipas wajah nya.


"Ka fafa kena karma dari tante" Celetuk Dania membuat mereka menatap ke arah nya.


"Mungkin iya" Angguk Lidia membuat Daifa mendengus kesal.


"Au ah! Ngeselin" Gerutu Daifa bangun dari duduk nya, iya segera melangkahkan kaki nya keluar restoran.


"Mau kemana Fa?" Seru Lidia,bertanya saat Daifa sudah mencapai pintu keluar ruangan.


"Keluar cari angin!" Cetus Daifa tampa menoleh.


Tingkah nya itu membuat Lidia geleng kepala, iya hanya membiarkan Daifa pergi, toh ga akan berani ke mana-mana juga.


"Susul Rel natra ngilang lagi" Suruh Dimas kepada Darel yang menatap malas sang ayah.


Beranjak dari duduk nya, iya segera pergi menyusul Daifa yang sudah menghilangkan keluar restoran.


"Biar mereka deket" Ujar Dimas saat sang istri menyorot ke arah nya dengan tanda tanya di sorot mata nya.


Setelah nya Dila hanya mengannguk saja dan melanjutkan makan nya.


Di sisi Daifa, iya tengah menikmati angin malam di bawah pohon yang tertanam di sisi restoran.


Walalu niat nya ingin nangkring di atas tapi iya tidak bisa manjat menggunakan sepatu hak tinggi, yang ada iya nyungsreb.


"Iss, dingin bet dah, nyesel gue ga bawa jaket" Keluh Daifa mengusap-usap lutut nya yang tidak tertutup apa pun.


"Lo nya aja bodoh, ngapain pergi ke luar"Tukas Darel yang tiba-tiba sudah berdiri di sisi nya membuat Daifa kaget.


" Lo sendiri ngapain ngikutin gue!?"Timpal Daifa menatap Darel kesal.


"Bokap gue yang nyuruh, kalo bukan dia mana mau gue" Jawab Darel datar, namun iya menyodorkan jaket yang iya kenakan ke arah Daifa.


Daifa tidak menanggapi ucapan Darel, sebaliknya iya memasangkan jaket yang Darel berikan ke pada nya.


Darel ikut duduk di samping nya dengan pandangan lurus ke depan.


Suasana hening di antara mereka berdua bahkan jangkrik pun tidak bersuara, mungkin takut merusak suasana.


"Kita pulang" Ucapan Darel beranjak berdiri membuat Daifa mengkerutkan kening nya heran.


"Ortu gue aja belum keluar, masa maen pulang aja" Ucap Daifa heran.


"Lo mau nunggu mereka sampe sakit" Cetus Darel menatap Daifa datar.


"Ya ngga sih, yaudah yo" Sahut Daifa berdiri dari duduk nya.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran, Darel segera menaiki motor nya, iya pergi sendiri ke restoran dengan motor kesayangan nya.


"Buruan naik" Suruh Darel setelah mengeluarkan motor nya dari area parkiran.


"Iya iya" Ucap Daifa malas, iya segera menaiki motor tersebut.


"Pegangan" Suruh Darel datar.


"Lo mau modus ya!" Sungut Daifa yang tidak di hiraukan Darel.


Sebaliknya Darel langsung menarik tangan Daifa untuk berpegangan di pinggang nya, Walau sebenarnya iya tidak suka di sentuh siapapun, bahkan termasuk Dania sang adik sendiri.


Namun ntah kenapa iya malah tak suka saat Daifa membantah nya, itu membuat iya kesal.


Segera melajukan motor nya dengan kecepatan di atas rata-rata, iya tidak menghiraukan umpatan Daifa yang terus memaki nya.


"DAREL SETAN! GUE GA MAU MATI MUDA!" Teriak Daifa membuat pengendara lain melirik mereka dengan pandangan aneh.


"HUAA BUNDAA" Jerit Daifa tatkala Darel semakin mempercepat laju motor nya membuat Daifa mengeratkan pelukan nya di pinggang Darel, yang membuat Darel tersenyum tipis.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2