
SMA Negeri Jaya telah selesai melakukan aktivasi pembelajaran, semua murid berbondong-bondong keluar dari gerbang sekolah termasuk Daifa dkk.
"Hay Fa" Sapa Abi dari arah gerbang.
Daifa dan ke dua teman nya yang tengah berjalan menuju parkiran menoleh ke arah suara.
"Kenapa?" Tanya Daifa menghentikan langkah nya.
"Mau pulang ya?" Tanya Abi sambil berjalan mendekati ke arah Daifa dkk.
"Iya" Saut Daifa singkat.
"Boleh gue anterin?" Pinta Abi ragu.
Daifa terdiam sebentar, iya menimang-nimang ajakan Abi, iya menoleh ke arah Liana dan Afifa meminta pendapat.
"Ngga deh, gue masih punya urusan" Tolak Daifa saat iya mengingat akan ke rumah Afifa kembali.
Abi hanya mengengguk, walau iya sedikit kecewa namun masih tetap mempertahankan senyum ramah nya.
"Oh, ga papa, kalo gue boleh tau, lo punya urusan apa? gue boleh ikutan ga?" Tanya Abi penuh harap, iya sangat ingin dekat dengan mereka bertiga, terutama Daifa.
Daifa menautkan alis nya berpikir keras, iya heran mengapa ada orang seperti Abi yang ingin ikut campur urusan orang.
"Ngapain lo ingin ikutan urusan orang lain?" Tanya Daifa menatap Abi penuh selidik.
Menggaruk tengkuk nya canggung, Abi membuka suara nya untuk menjelaskan.
"Gue ga ada niat apa-apa ko, gue cuman mau temenan aja sama kalian, boleh kan?" Ucap Abi sedikit kaku.
"Hah?, masa lo temenan sama cewe? lo waria ya?!" Celetuk Daifa sepontan.
Menggeleng kan kepala nya cepat-cepat, Abi menyangkal tuduhan Daifa ke padanya dengan senyum kecut.
"Bukan gitu, gue cuman pengen temenan aja, gue kan masih baru, gue ngerasa masih asing aja" Jelas Abi memberi alasan.
"Bukan nya lo sekelas sama Darel? kenapa ga temenan aja" Heran Liana ikut menimpal.
"Gue ga nyaman aja sama Darel, dia kaya kaku gitu" Tutur Abi.
"Terserah deh" Aucuh Daifa yang sudah malas meladeni Abi.
Jawaban Daifa membuat Abi tersenyum lebar, iya sangat antusias saat di terima di dalam pertemanan ke tiga nya.
"Beneran? makasih ya!" Ucap Abi antusias.
Daifa hanya mengangguk saja, iya merasa tida ada salah nya mengijinkan Abi berteman dengan mereka ber tiga, siapa tau saja iya bisa di andalkan.
Daifa, Liana dan Afifa kembali melanjutkan langkah mereka ke arah mobil, setelah masuk, mobil pun mulai keluar dari parkiran, sebelum keluar melewati gerbang, Daifa melongokan kepala nya ke luar.
"Lo ga mau ikut?" Tanya Daifa sedikit teriak agar Abi mendengar suara nya.
Abi tersentak kaget, sebelum iya mengangguk dan bergegas mengambil motor nya, melajukan motor nya mengikuti mobil Daifa dkk.
Mobil Daifa dan motor Abi sudah hilang melaju di jalan raya, mereka tida menyadari beberapa tatapan dari orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan sulit di artikan.
"Lo liat aja nanti!" Geram seseorang dengan tangan terkepal, setelah itu iya berlalu pergi dengan kebencian yang bertambah.
Di sisi Daifa dkk, suasana dalam mobil yang tenang, di ikuti motor di belakang mobil mereka, mobil dan motor tersebut berhenti di sebuah keday baso di pinggir jalan.
__ADS_1
Daifa dan kedua teman nya keluar dari dalam mobil di ikuti Abi yang turun dari motor nya setelah memarkirkan di tempat yang pas.
"Makan dulu ya Bi"Pinta Daifa. Abi hanya menurut saja dan mengekori mereka bertiga.
Memasuki keday baso yang tida terlalu besar itu, Daifa segera memesan makanan.
"Bang mau baso nya 4 mangkok ya" Pesan Daifa, setelah nya iya berjalan menuju tempat di mana terdapat teman nya dan Abi yang tengah duduk di salah satu meja.
"Kenapa ke sini?" Tanya Abi yang sudah terlanjur penasaran.
Mendudukan diri nya di kursi sebelum menjawab pertanyaan Abi.
"Anggap aja ngerayain pertama kita, tapi lo yang bayar" Tutur Daifa santai.
"Wah, bagus tuh, gimana Bi?" Setuju Liana.
Abi hanya meng iya kan saja, toh daripada perotes, yang ada iya di usir dari pertemanan Daifa dkk.
"Ini neng pesanan nya" Ucap sang penjual baso yang datang dengan nampan pesanan, sesudah menyusun baso di atas meja, sang penjual berlalu untuk membuatkan pesanan pelanggan lain nya.
"Ayo makan!" Seru Daifa antusias.
Mereka memakan baso tersebut dengan antusias, bahkan Abi yang tadi terlihat kecut pun nampak berbinar, Abi baru merasakan makanan se enak itu, biasanya iya makan di restoran atau cafe.
Setelah menghabis kan baso tersebut, Abi beranjak untuk membayar pesanan, setelah nya mereka keluar dan melanjutkan perjalan.
"Lo pulang aja" Suruh Daifa sebelum membuka pintu mobil.
Abi yang siap menghidupkan motor nya terhenti, menatap Daifa heran sebelum membuka suara.
"Emang kalin mau pada kemana? gue ga boleh ikut ya?" Tanya Abi sedikit berharap Daifa mengatakan 'bukan' namun sepertinya itu angan belaka.
"Oh... gitu ya" Angguk Abi, setelah nya tampa bertanya-tanya lagi iya melajukan motor nya terlebih dahulu meninggalkan mobil Daifa dkk.
Setelah kepergian Abi, mobil yang di isi Daifa dkk pun meluncur meninggalkan keday.
Cukup lama berkendara, kini mobil sudah memasuki pekarangan rumah Afifa.
Pagar yang menjulang tinggi itu di bukan oleh sang satpam. Setelah nya Daifa turun di ikuti ke dua teman nya.
"Tolong parkirin ya mang" Pinta Afifa kepada penjaga rumah nya.
Sang penjaga yang di suruh majikan nya berjalan mendekat, setelah nya masuk ke dalam mobil dan memarkirkan nya sesuai titah.
"Asalamualaikum" Salam mereka bersamaan, tak lama pintu besar tersebut terbuka menampilkan sang Bunda.
"Udah pada pulang ya" Sapa Bunda Alfi saat Afifa menyalimi nya di ikuti Daifa dan Liana.
"Iya bun" Ucap Afifa membalas sapapan Bunda nya.
"Sana pada mandi, abis itu makan ya" Perintah Bunda Alfi kepada mereka bertiga.
Mengangguk mengerti, mereka bergegas menaiki lantai atas, saling bergiliran untuk mandi, setelah mengganti pakayan dengan baju rumahan, mereka bertiga segera turun untuk makan siang.
"Cuci tangan dulu" Ucap Bunda Alfi mengingatkan.
Setelah mencuci tangan, mereka mulai menyantap makanan dengan lahap, setelah nya berlalu ke ruang tamu untuk ngobrol-ngobrol ringan.
"Bun, apa ayah udah nangkep pelaku peneror itu?" Tanya Liana yang penasaran.
__ADS_1
Bunda Alfi menoleh sebentar, sebelum menganggukan kepala nya.
"Udah ketauan sih, emang kenapa Na?" Tanya Bunda Alfi menatap Liana penasaran.
"Emm.. ngga papa sih Bun, nanya aja" Jawab Liana santai.
"Fi, lo dah kasih tau Bunda belum soal surat nya?" Tanya Daifa sambil menatap Afifa.
"Belum" Jawab Afifa tampa menoleh.
"Kenapa ga sekarang aja Fi?" Heran Daifa.
"Ok" Ucap Afifa berdiri dari duduk nya, berjalan menuju kamar nya.
Bunda Alfi yang hanya menyimak semakin penasaran, daripada kelamaan penasaran iya memutuskan untuk bertanya.
"Surat apa yang kalian maksud?" Tanya Bunda Alfi.
"Ntar kita jelasin" Sahut Daifa tampa berniat menjelaskan, iya hanya merasa itu bukan terlalu jadi urusan nya, jadi iya membiarkan Afifa yang menjelaskan semua.
Tak lama Afifa kembali dengan selembar kertas di tangan nya, setelah duduk kembali, iya menyerahkan kertas tersebut ke Bunda Alfi.
Bunda Alfi yang sudah terlanjur penasaran langsung membuka nya, membaca nya dengan seksama, iya mengerutkan alis nya bingung, setelah iya melipat kembali kertas tersebut, Bunda Alfi menatap mereka meminta penjelasan.
Afifa yang sudah paham situasi, mulai menjelaskan dengan singkat namun mudah di pahami.
"Itu teror bisnin juga perasaan Bun, kaya nya dulu Bunda pernah di sukai seseorang, tapi Bunda udah punya Ayah, jadi orang tersebut sakit hati, terus sekarang kaya nya orang tersebut saingan bisnis ayah deh" Jelas Afifa sedikit kurang yakin, namun Bunda Alfi memahami nya dengan benar.
"Tapi dulu Bunda ga ngerasa pernah di deketin seseorang deh, ayah kamu juga ga pernah cerita apa-apa" Terang Bunda Alfi mengangkat bahu nya.
"Mungkin ayah ga cerita karena takut Bunda ga nyaman" Ucap Daifa memberi pendapat.
"Bener kata Fafa, mungkin ayah sengaja rahasiain" Angguk Liana setuju.
"Coba aja Bunda tanya kalo ayah udah pulang" Usul Afifa yang di iya kan kedua teman nya.
"Ok, Bunda coba nanti" Setuju Bunda Alfi.
Tak lama terdengar suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah, Afifa dan Bunda nya saling menatap seolah sedang berkomunikask dengan kontak mata, setelah itu Bunda Alfi bernajak dari duduk nya untuk menyambut kepulangan suami nya.
"Asalamualaikum" Salam Ayah Indra setelah membuka pintu.
"Waalaikumsalam" Jawab mereka serentak termasuk Bunda Alfi yang menyalami tangan suami nya.
"Lagi pada ngapin nih?" Tanya Ayah Indra berjalan mendekat.
"Ngga ngapa-ngapin sih"Ucap Liana.
" Gimana kalo kita jalan-jalan sore? daripada gabut di rumah"Ajak Ayah Indra.
"Boleh tuh" Saut Daifa antusias.
"Eh, Eh, Ayah mandi dulu sana, masa main ajak aja" Sela Bunda Alfi menatap tajam suami nya.
"Hehe, maaf bun kelupaan" Ucap Ayah Indra nyengir, tampa berlama-lama iya langsung beranjak ke lantai atas untuk segera mandi.
Bersambung.....
Maaf untuk up nya, saya hanya kasih 2 Bab sekali up, untuk yg udah mampir makasih🤗
__ADS_1